seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERASAAN KAYLA
Hening yang mencekam di ruangan itu segera pecah oleh suara napas Aris yang berat dan rintihan tertahan. Kayla, yang masih gemetar karena trauma menyaksikan penyiksaan tadi, mencoba merangkak mendekati Aris. Namun, langkahnya terhenti oleh dentingan rantai yang kencang.
"Jangan mendekat!" bentak Aris tiba-tiba. Suaranya serak dan penuh amarah.
Kayla tersentak. "Aris, aku cuma mau lihat luka kamu. Kamu berdarah..."
"Untuk apa?! Hah?!" Aris menatap Kayla dengan tatapan yang tajam, penuh dengan rasa frustrasi yang memuncak. "Gara-gara kamu, rencana kita gagal! Kalau saja kamu tidak lambat membuka baut itu, kalau saja kamu tidak ragu, kita sudah keluar dari sini! Sekarang lihat? Kita berdua terjebak dalam satu lubang kematian!"
Kayla terdiam, air matanya kembali jatuh. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik manapun. "Aku... aku sudah berusaha, Aris. Aku bukan teknisi sepertimu. Aku ketakutan!"
"Ketakutanmu itu yang akan membunuh kita!" Aris memalingkan wajah, mencengkeram dadanya yang terbalut perban kasar. "Aku sudah di sini setahun, Kayla! Setahun aku menunggu celah, dan dalam satu malam, kamu menghancurkan semuanya. Kamu itu beban!"
Kata-kata itu bagaikan pisau yang mengiris hati Kayla. "Beban? Aku tidak pernah minta diculik ke sini! Aku tidak pernah minta kamu menolongku! Kalau kamu merasa aku beban, kenapa tidak biarkan saja aku terkubur di pasir itu?!" teriak Kayla, emosinya meledak.
Pertengkaran hebat terjadi di antara dua orang yang sama-sama hancur itu. Mereka saling melempar tuduhan, meluapkan segala rasa frustrasi, ketakutan, dan keputusasaan yang selama ini terpendam. Ruangan beton itu bergema dengan suara teriakan dan tangisan. Mereka saling menjauh ke sudut ruangan masing-masing yang dibatasi oleh panjang rantai, saling membelakangi dalam kesunyian yang penuh kebencian.
Jam demi jam berlalu. Lampu di ruangan itu meredup, menciptakan suasana remang yang menekan. Aris mulai menggigil hebat. Luka sayatan di dadanya bukan hanya menyakitkan, tapi tampaknya mulai menimbulkan demam. Suara napasnya berubah menjadi suara sengal yang mengkhawatirkan.
Kayla, meskipun masih sakit hati, tidak bisa membiarkan hatinya mati. Ia melihat Aris yang tampak sangat rapuh. Amarahnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa iba yang mendalam.
"Aris..." panggil Kayla lirih.
Aris tidak menjawab. Tubuhnya merosot ke lantai, kepalanya bersandar pada dinding yang dingin.
Dengan hati-hati, Kayla menyeret tubuhnya, mendekati Aris sejauh rantai di kakinya mengizinkan. Kali ini, Aris tidak membentaknya. Pria itu tampak tidak punya tenaga lagi untuk marah.
Kayla meraih kotak P3K yang disediakan si penculik. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka perban kasar di dada Aris. Ia meringis melihat sayatan panjang yang masih memerah. Dengan lembut, Kayla mulai membersihkan luka itu menggunakan cairan antiseptik.
"Maafkan aku," bisik Kayla sambil mengusap peluh di kening Aris. "Aku memang lemah, aku memang merusak segalanya. Tapi aku tidak mau kamu mati."
Aris membuka matanya perlahan. Tatapan amarah yang tadi menyala kini telah padam, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa. Ia menatap wajah Kayla yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Ia melihat ketulusan di mata gadis itu—sebuah cahaya di tengah kegelapan tempat ini.
"Bukan salahmu," gumam Aris dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Aku yang salah. Aku hanya frustrasi... aku takut gagal lagi melihat seseorang mati di depanku."
Aris mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh pipi Kayla yang basah oleh air mata. Sentuhan itu terasa sangat hangat di tengah dinginnya ruangan tersebut.
"Jangan menangis lagi, Kayla. Kalau kamu menangis, dia menang..." ucap Aris lembut.
Dalam keputusasaan yang sama, di dalam penjara yang mengerikan itu, dua jiwa yang terluka ini saling menemukan pegangan. Kayla merasa jantungnya berdegup berbeda. Bukan karena takut pada pria bertopeng, tapi karena kedekatan dengan Aris. Di tengah bau darah dan semen, ia merasakan sebuah rasa yang tidak seharusnya tumbuh di tempat seperti ini.
Kayla menyandarkan kepalanya di bahu Aris yang sehat, sementara Aris merangkulnya erat dengan satu tangan. Di balik dinding, pria bertopeng itu mungkin sedang menonton mereka, tapi bagi Kayla, saat ini Aris adalah satu-satunya dunia yang ia miliki. Rasa takut itu perlahan memudar, berganti menjadi sebuah perasaan baru yang lebih kuat: keinginan untuk melindungi Aris, apa pun harganya.
Kayla menyadari satu hal: ia tidak hanya ingin keluar dari sini demi nyawanya sendiri, tapi ia ingin keluar bersama pria yang kini mendekapnya .