Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHILANGAN BONEKA KELINCI
Hari Minggu pagi yang cerah, Caca bersiap untuk pergi ke klub menggambar yang telah mereka dirikan bersama Rafi.
Dia sedang mencari boneka kelinci putihnya yang bernama “Kiki” – hadiah spesial dari Rafi saat ulang tahunnya yang lalu – untuk dibawa bareng, karena anak-anak di klub sangat menyukainya dan sering memintanya untuk menunjukkan boneka itu.
Namun setelah mencari di setiap sudut kamar, bahkan di bawah tempat tidur dan di dalam lemari, Caca tidak menemukan jejak Kiki sama sekali.
Dia mulai merasa cemas dan mencari ke seluruh rumah – di ruang tamu, dapur, bahkan di halaman belakang, tapi tetap saja tidak ada.
“Ibu, apakah kamu melihat Kiki kemarin?” tanya Caca dengan suara sedikit gemetar kepada ibunya yang sedang membersihkan dapur.
Ibu Caca menggelengkan kepalanya dengan khawatir. “Aku tidak melihatnya sayang. Kamu terakhir kali membawanya kemana?”
Caca berpikir keras. “Kemarin sore aku membawanya ke taman bermain bersama Rafi dan Dika. Kami bermain di ayunan dan kemudian duduk di bawah pohon besar untuk makan camilan. Setelah itu aku tidak ingat lagi dimana aku meletakkannya.”
Tanpa berpikir panjang, Caca berlari cepat keluar rumah menuju taman bermain yang terletak tidak jauh dari kampung.
Hatinya berdebar kencang dengan harapan bisa menemukan boneka kesayangannya. Namun ketika dia tiba di taman, tidak ada jejak Kiki di mana pun – tidak di ayunan, tidak di bawah pohon, bahkan tidak di sekitar tempat mereka duduk kemarin.
Caca merasa mata mulai berkaca-kaca. Kiki bukan hanya boneka biasa baginya – boneka itu adalah bukti cinta dan persahabatan dari Rafi, dan selalu menemani dia setiap kali dia merasa sedih atau kesepian.
Dia duduk di bawah pohon besar tempat mereka bermain kemarin dan mulai menangis pelan.
Tidak lama kemudian, Rafi datang dengan membawa alat tulis untuk klub menggambar. Dia langsung menyadari bahwa ada yang salah ketika melihat Caca sedang menangis di bawah pohon.
“Caca, apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?” tanya Rafi dengan penuh kekhawatiran sambil duduk di sisinya.
“Aku kehilangan Kiki, Rafi,” ujar Caca sambil mengusap air mata dengan lengan bajunya. “Aku sudah mencari kemana-mana tapi tidak bisa menemukannya. Aku sangat sayang pada boneka itu karena itu adalah kado dari kamu.”
Rafi merasa hatinya terasa sakit melihat Caca menangis. Dia mengelus punggungnya dengan lembut. “Jangan menangis ya, Caca. Kita pasti bisa menemukan Kiki bersama. Kita akan mencari dengan seksama ke setiap sudut taman ini.”
Mereka mulai mencari dengan cermat – di balik pagar taman, di antara semak-semak, bahkan di belakang bangunan kecil yang digunakan sebagai tempat istirahat penjaga taman. Namun setelah hampir satu jam mencari, mereka masih tidak menemukan jejak Kiki.
Saat itu Dika datang berlari dengan membawa kantong plastik kecil. “Pak Rafi! Bu Caca! Aku menemukan sesuatu di dekat sungai!”
Mereka segera mengikuti Dika ke tepi sungai yang terletak tidak jauh dari taman bermain. Di sana, mereka melihat Kiki yang kotor dan sedikit sobek terletak di atas rerumputan kering. Caca langsung berlari dan mengambil boneka itu dengan hati-hati.
“Kiki! Akhirnya aku menemukanmu!” teriak Caca dengan campuran rasa senang dan sedih melihat kondisi boneka kesayangannya yang sudah tidak seperti dulu. Kaki kanan Kiki sobek, bulunya penuh dengan lumpur dan daun kering, dan salah satu matanya mulai lepas.
Rafi mengambil kain bersih dari saku bajunya dan membantu membersihkan Kiki dengan lembut. “Jangan khawatir, Caca. Kita bisa memperbaikinya. Mama pasti bisa menjahit bagian yang sobek dan membersihkan bulunya sampai kembali bersih seperti dulu.”
Mereka langsung pulang ke rumah Rafi. Mama Lila melihat kondisi Caca dan Kiki dengan penuh rasa sayang. “Tidak apa-apa sayang,” ujarnya dengan senyum hangat. “Kita akan membuat Kiki kembali seperti baru. Kamu bisa membantu aku menjahitnya ya, jadi kamu bisa belajar cara merawat boneka kesayanganmu sendiri.”
Siang itu, mereka duduk bersama di teras rumah. Mama Lila mengajari Caca cara menjahit dengan jarum dan benang dengan aman, bagaimana membersihkan bulu boneka dengan lembut menggunakan sampo lembut, dan cara memperbaiki mata boneka yang lepas.
Rafi membantu dengan membawa air hangat dan kain bersih, sementara Dika duduk di samping mereka dengan penuh minat melihat proses perbaikan.
Setelah beberapa jam bekerja dengan cermat, Kiki akhirnya kembali terlihat cantik seperti dulu. Bulu putihnya bersih dan lembut lagi, bagian yang sobek sudah terjahit dengan rapi, dan matanya sudah terpasang dengan kuat kembali. Caca memeluk boneka itu dengan erat dan merasa sangat bersyukur.
“Terima kasih banyak, Mama Lila,” ujar Caca dengan suara penuh rasa syukur. “Dan juga terima kasih kepada Rafi dan Dika yang membantu aku menemukan Kiki.”
Rafi mengangguk dengan senyum. “Kiki adalah bagian dari kenangan kita berdua, Caca. Jadi aku juga tidak mau kehilangan dia. Tapi dari sekarang ini, kita harus lebih hati-hati ya dalam menyimpan barang-barang penting kita.”
Mama Lila kemudian mengambil sebuah kotak kayu kecil yang indah. “Ini untukmu, Caca. Kamu bisa menyimpan Kiki dan barang-barang penting lainnya di sini agar tidak hilang lagi. Kotak ini dulu milik Rafi saat dia masih kecil lho.”
Caca menerima kotak dengan hati yang penuh kebahagiaan. Dia meletakkan Kiki dengan hati-hati di dalamnya dan menutupinya dengan rapat.