NovelToon NovelToon
Berondongku Suamiku

Berondongku Suamiku

Status: tamat
Genre:Berondong / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:592k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kirana harus menerima kenyataan bahwa calon suaminya meninggalkannya dua minggu sebelum pernikahan dan memilih menikah dengan adik tirinya.

Kalut dengan semua rencana pernikahan yang telah rampung, Kirana nekat menjadikan, Samudera, pembalap jalanan yang ternyata mahasiswanya sebagai suami pengganti.

Pernikahan dilakukan dengan syarat tak ada kontak fisik dan berpisah setelah enam bulan pernikahan. Bagaimana jadinya jika pada akhirnya mereka memiliki perasaan, apakah akan tetap berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Dua

Semua mata menatap ke arah Dipta. Seakan waktu berhenti sesaat, membiarkan nama besar itu menggema di dalam kepala setiap orang yang hadir. Tidak ada yang tidak mengenal pria itu, pengusaha sukses, pemilik beberapa perusahaan besar, nama yang sering muncul di majalah bisnis, seminar, dan televisi. Sosok yang selalu tampak teguh dan berpengaruh.

Kini orang itu berdiri di depan ruangan acara akad nikah keluarga Kirana, dengan aura yang seolah mampu merubah arah angin.

Kirana menelan ludah, pandangannya sulit lepas dari pria paruh baya yang sangat karismatik itu. Ia terkejut setengah mati. Ia tahu Samudera orang yang misterius, tidak suka pamer, tetapi ia tidak pernah menyangka ayahnya adalah Dipta.

"Jadi Pak Dipta dan Bu Vania orang tuanya Samudera?" tanya Kirana dalam hatinya.

Di samping sang pengusaha, berdiri wanita cantik berwibawa dengan senyum lembut namun tegas. Mama Samudera yang bernama Vania, dokter kandungan terkenal, pemilik rumah sakit dan universitas ternama. Nama yang sering Kirana dengar, tapi tidak pernah ia hubungkan sedikit pun dengan keluarga Samudera.

Ruangan hening sampai suara gesekan kecil air conditioner terdengar jelas. Vania melangkah maju dengan elegan, lalu berdiri tepat di samping Dipta.

Dengan suara teduh namun penuh otoritas, Vania menatap Papa Kirana dan berkata,

“Anak kami bukan pengangguran, Pak. Insyaallah tidak akan menyusahkan Kirana.”

Nadanya sopan, tetapi tegas. Lembut, tetapi tidak memberi ruang untuk meremehkan.

“Justru,” lanjut Vania sambil menatap Kirana hangat, “Kami datang untuk meminang putri Bapak secara resmi, agar dia dapat menikah dengan putra kami.”

Beberapa tamu yang masih bertahan terkejut. Ada yang hampir menjatuhkan ponselnya. Sebagian lagi langsung bisik-bisik:

“Calon suaminya Kirana anaknya Dipta?”

“Duh, pantesan auranya beda .…”

“Ya ampun, Kirana ternyata bakal jadi menantu keluarga itu?”

Papa Kirana yang tadi begitu lantang meremehkan, kini terpaku. Wajahnya pucat, matanya bergerak tak percaya dari Samudera ke Dipta lalu ke Vania. Ia tampak mencoba menyusun logika yang tiba-tiba buyar dalam sekejap.

Dipta melangkah maju, menatap Papa Kirana dengan tatapan yang stabil dan penuh wibawa.

“Apa Bapak keberatan,” tanya Vania lembut, “jika Kirana menikah dengan putra kami?”

Papa Kirana menggeleng kecil refleks. “Tentu saja tidak .…”

Suaranya terdengar serak, seperti seseorang yang baru saja ditarik dari mimpi buruk yang berubah jadi mimpi indah. Vania kemudian tersenyum, senyum yang membuat suasana tegang seketika mulai mencair.

“Kalau begitu,” katanya, “izinkan kami membawa Bapak dan tentunya putra kami ke gedung yang sudah kami siapkan. Menikah di sana saja. Tempatnya sudah lengkap. Semua sudah disusun.”

Ia beralih menatap Kirana dengan lembut.

“Kirana, apa kamu mau mengikhlaskan tempat ini untuk adik tirimu, Tissa?”

Pertanyaan itu seperti tamparan halus bagi Tissa, yang membuat seluruh ruangan menahan napas.

Kirana menoleh perlahan pada adik tirinya itu. Tissa tampak memucat, tidak menyangka momen pernikahannya bisa terguncang begitu keras hanya karena kedatangan Samudera.

Meskipun hatinya penuh luka dan dendam yang mungkin sulit hilang dalam semalam, Kirana tetap mengangguk pelan.

“Iya, Tante. Aku mengikhlaskan semuanya. Kasihan juga nanti kalau mereka tak jadi menikah hanya karena sang pria tak memiliki uang buat sewa gedung!”

Suaranya lembut. Tidak menuntut. Tidak memamerkan kemenangan.Justru itulah yang membuat sebagian tamu semakin memandang Kirana dengan rasa kagum.

Keluarga Irfan tampak menahan malu mendengar ucapan Kirana. Mereka ingin memberontak dan membantah, tapi semua kenyataan. Gedung ini dibayar pakai uang Kirana.

Vania menepuk pelan tangan Kirana. “Terima kasih, Nak.”

Lalu ia mengumumkan dengan suara tegas, "Bagi siapa pun tamu yang ingin menyaksikan pernikahan Samudera dan Kirana, silakan datang ke Hotel A. Kami sudah siapkan transportasi di luar.”

Kata-kata itu seperti komando yang membuat ruangan langsung riuh. Para tamu mulai berdiri, saling bersiap, beberapa bahkan berlari kecil menuju pintu. Ada yang mengangkat tasnya, ada yang sibuk menggandeng pasangannya.

“Aduh, ini lebih menarik dari drama!”

“Pernikahan adiknya aja jadi kosong begini?”

“Kasihan sih … tapi ya gimana…”

“Rame banget di hotel nanti!”

Samudera yang sedari tadi ingin protes, karena semuanya terjadi terlalu cepat baru membuka mulutnya.

“Mami, tapi .... ”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Dipta memotong dengan tatapan ayah yang tidak bisa dibantah.

“Sam. Diam. Ikuti saja apa yang mami bilang.”

Samudera langsung menutup mulut. Kirana hampir tersenyum melihatnya jarang sekali pria itu patuh seperti anak kecil. Dalam hatinya berkata, "Apa ya yang telah papi dan mami rencanakan? Kapan dia mempersiapkan semua ini?"

Sementara itu, Tissa yang duduk di pelaminan seperti patung marmer, tiba-tiba bangkit panik ketika melihat tamu-tamu berbondong keluar ruangan. Bahkan sebagian keluarga dekatnya sendiri sibuk mengambil tas dan meninggalkan tempat pesta akadnya.

“Eh? Eh!? Mau ke mana? Ini akad aku!” teriaknya frustasi.

Tapi tidak ada yang menjawab. Semua sibuk ingin menjadi saksi drama besar hari itu, pernikahan Kirana dan Samudera.

Tissa mencoba menahan beberapa tamu yang lewat, tapi mereka tersenyum canggung dan berkata,

“Maaf ya, Tissa … nanti kami balik lagi. Cuma mau lihat bentaran.”

Tissa hanya bisa mematung, napasnya memburu. Semua yang tadinya fokus pada dirinya, kini pindah ke Kirana. Dan semakin banyak tamu keluar, semakin ia merasa dunianya runtuh.

Di tempatnya berdiri, Irfan memandangi semua dengan perasaan yang tak menentu. Dia tak ingin percaya dengan semua yang dilihat. "Apa benar Kirana akan menikah dengan anak seorang pengusaha ternama itu?" tanyanya dalam hati.

Papa Kirana berjalan keluar gedung dengan langkah cepat, menyusul Dipta dan keluarga mereka. Melihat itu, Tissa semakin frustasi. Ia berlari kecil, memanggil papanya.

“Pa! Papa mau ke mana!? Ini akad aku! Kenapa Papa pergi!?”

Papa menoleh sebentar, wajahnya dingin dan jelas-jelas berubah. Pernyataannya begitu menusuk, membuat Tissa seketika berhenti bernafas.

“Kamu itu cuma anak tiri.”

Seketika, seluruh dunia Tissa terasa runtuh. Papa melanjutkan dengan nada datar bukan marah, bukan benci, tetapi seperti seseorang yang baru sadar sesuatu selama ini.

“Aku nggak bisa jadi walimu. Aku harus menikahkan putri kandungku dulu.”

Mamanya Tissa yang dari tadi diam ikut bicara. "Pa, kamu nggak bisa tinggalkan tempat ini, Tissa dan Irfan akan menikah. Bukankah kamu salah satu saksinya!"

"Maaf, Ma. Nanti aku akan kembali setelah menikahkan Kirana. Kehadiranku di sini juga tak terlalu penting."

“Pa … Papa serius? Jadi Papa … milih Kirana…?”

Papa tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan langkahnya, meninggalkan Tissa berdiri sendirian di lorong luar gedung.

Rok pengantin Tissa bergesekan dengan lantai, berat seolah menahan seluruh penyesalan yang muncul mendadak. Air matanya menetes tanpa ia sadari.

"Tak mungkin ... tak mungkin Kak Kirana menikah dengan anaknya Pak Dipta dan Bu Vania, pasti semua ini hanya sandiwara," ucap Tissa dalam hatinya.

Ia memegang pinggiran kursinya untuk menopang tubuhnya yang hampir roboh, tapi tak ada siapa pun yang menghampirinya.

Ruangan itu kini kosong. Hanya tersisa keluarga dekat mamanya Tissa dan Irfan serta sahabat mereka dan beberapa panitia yang masih bingung, dan fotografer yang kebingungan harus memotret siapa.

Kirana menoleh sebelum keluar dari ruangan, ia menoleh sekali lagi ke arah Tissa.

Dan untuk sesaat, Kirana merasakan sesuatu yang campur aduk, kasihan, lega, dan sakit dari luka lama yang belum sembuh.

Ia tidak dendam. Ia hanya kecewa.

Dan setelah hari itu, mungkin ia tidak akan kembali ke rumah itu sebagai orang yang sama.

Samudera mendekati Kirana, menyentuh pelan punggungnya. “Ayo, sayang. Kita pergi.”

Tatapannya lembut namun mantap, seolah memberi jaminan bahwa apa pun yang terjadi setelah ini, ia ada di sisi Kirana.

Kirana mengangguk.

Dalam hatinya, ia berbisik pelan, "Terima kasih sudah datang … Sam."

1
echa purin
👍🏻
syh 03
rata2 novel selalu bayi kembar
syh 03
cuma di dunia novel org jahat dpt karma...klo real mh yg jahat makin bahagia dan panjang umur
syh 03
knpa nama nya Mika kya nama cewe 😆
syh 03
aku wkt ngidam anak pertama sukanya mkn sayur g suka mkn lauk..sampai hamil besar cuma mkn sayur..mkn lauk itu pun cuma telur dan harus di campur sayur klo di dadar...dan pas lahiran anakku cewe dan dia g suka sayur ampe dewasa g suka sayur...anak kedua ngidam bakso jd g bs makan klo ga mkn bakso..itu pun harus di makan di tempatnya..jd tiap hari mkn bakso ampe abang yg jual hapal wajahku..dan anak kedua cowok..dan dia ga suka makan bakso..lika liku ibu ngidam mmng kadang aneh2 😅
Mama Reni: Lah 😭😭🤣🤣
total 3 replies
Irma Windiarti
/Good//Good/
Rahma Inayah
akhirnya yg bahagia
Rahma Inayah
semoga dilncrkn lahirannya aamiin
Rahma Inayah
tisa GK takut cerai dr km Krn SDH GK ada ank LG diantara kalian
Rahma Inayah
stlh ank meninggal br nyesel dan nangis GK guna
Rahma Inayah
krm mmg Irfan pantas mendptkn tamapran dr papa Kirana
Rahma Inayah
suami GK punya rasa tanggung jwb jgn2 Irfan punya wanita simpenan lgi ..
Rahma Inayah
ank yg km pilihnkasih ternyata JD dewa penolong mu ..papa.kirana baru sadr stlh usia yg hampir sepuh..atas apa yg dia lakukan PD Kiran di masa lalu
Rahma Inayah
gula lo Irfan satu juta 1 bulan ..GK mirk otak nya SDH konslet ckp apa uang segitu
Rahma Inayah
setlh. GK punya br sadr papa nya Kirana ank yg dia Anggo beban skrg membantu nya dlm kesusuhan
Rahma Inayah
orng yg km hina GK guna GK PNY kerjaan berandalan skrg JD dewa penolong BG ank mu .kira saya mama Kirana Mash hidup tau nya Mak trii nya .LP klu mama Kirana meninggal 🤭🤭.gengsi Irfan digedein tp nyata nya GK mampu byr biaya operasi ank nya lbh tepat nya syg uang nya dr pada nyawa ank nya
Rahma Inayah
kirain mama Kirana meninggal tau nya cerai hidup dr papa nya
Rahma Inayah
bnr Kirana utg Irfan GK JD nikah SM km dia nikah SM tisa yg mn utk ngidam aja GK BS penuhi perhitungan padhl dia katanya manager
Rahma Inayah
mami lbh syg SM mantu ketimbang ank sendri 🤭🤭yg
Rahma Inayah
nah Sam saat nya km nuriti ngidam bumil yg random SPT kata papi mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!