"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Sebuah Percakapan dari Hati ke Hati
Dua Pria dan Satu Amanah
Bukan lagi sekadar sahabat dalam menuntut ilmu,
Kini kau adalah penjaga dari separuh jiwaku.
Adik kecilku kini telah kau ambil alih tanggung jawabnya,
Dalam ikatan suci yang takkan lekang oleh masa.
Jagalah ia, sebagaimana kau menjaga hafalanmu,
Cintailah ia, sebagaimana kau mencintai Tuhanmu.
Sebab bagiku, kebahagiaannya adalah harga mati,
Yang kini kutitipkan sepenuhnya di dalam tanganmu yang bakti.
Setelah menutup telepon dengan Bungah, Gus Zidan keluar dari kamar dengan wajah yang jauh lebih segar. Namun, di depan pintu, ia sudah dihadang oleh Mas Azam yang sedang bersedekap dada sambil bersandar di tembok. Mas Azam menatap adik iparnya itu dengan tatapan menyelidik, namun penuh binar kebahagiaan.
"Lama sekali 'istirahatnya', Gus? Sampai-sampai Bunda tidak enak mau minta ponselnya kembali," sindir Mas Azam sambil terkekeh..
Zidan berdehem, sedikit salah tingkah. "Maaf, Mas. Tadi... Bungah baru bangun, jadi kami bicara sebentar."
"Sebentar? Dua jam itu bukan sebentar, Zidan," puji Azam sambil merangkul pundak sahabatnya itu dan mengajaknya berjalan menuju taman belakang yang lebih sepi.
Suasana menjadi sedikit lebih serius saat mereka duduk di kursi kayu jati di bawah pohon mangga. Mas Azam menghela napas panjang, menatap langit pagi yang cerah.
"Gus... sekarang status kita sudah berubah. Kamu bukan hanya sahabatku, tapi juga adik iparku. Aku titip Bungah ya," ucap Mas Azam dengan nada yang sangat tulus. "Kamu tahu sendiri bagaimana perjuangan dia di Kairo. Dia itu keras kepala, tapi hatinya sangat lembut. Dia terlihat kuat, tapi sebenarnya sangat manja kalau sudah merasa nyaman."
Zidan mengangguk mantap. "Nggih, Mas. Tanpa Mas minta pun, saya sudah mewakafkan sisa hidup saya untuk menjaganya. Saya tahu saya belum sempurna, tapi saya akan berusaha jadi imam yang baik untuk Mentari kita itu."
"Aku percaya padamu," sahut Azam. "Tapi ingat satu hal, Gus. Bungah itu kalau lagi libur dan halangan seperti sekarang, manjanya bisa berkali-kali lipat.
Jangan kaget kalau nanti dia sering menelepon hanya untuk hal-hal sepele. Sabari dia ya?"
Zidan tersenyum teringat kejadian "Mas ikut ke kamar mandi" tadi pagi. "Sepertinya saya sudah mulai merasakannya, Mas."
Tiba-tiba ponsel di saku Zidan bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Bungah.
Bungah: "Mas Zidan... tadi Adek masak mi instan, tapi kepedesan. Lidah Adek sakit. Mas tanggung jawab pokoknya!"
Zidan memperlihatkan pesan itu pada Mas Azam. Mas Azam hanya tertawa terbahak-bahak sambil menggelengkan kepala.
"Lihat? Belum ada satu jam sudah mulai kan? Selamat menikmati indahnya jadi suami Bungah, Gus Zidan!"
Zidan pun ikut tertawa. Baginya, setiap rengekan Bungah adalah melodi yang paling ia nantikan. Ia segera mengetik balasan dengan jempolnya yang lincah:
Zidan: "Ditiup dulu atuh, Sayang. Nanti kalau Mas sudah di Kairo, Mas belikan es krim yang paling banyak biar lidahnya adem lagi. Sekarang, minum air putih yang banyak ya? Mas lanjut menemani tamu dulu."
Di kejauhan, Khadijah memanggil suaminya untuk bergabung kembali. Keluarga besar itu kini telah lengkap. Meski satu anggotanya masih berada di seberang samudera, namun doa-doa yang terjalin telah membuat jarak itu terasa tak berarti.
Mas Azam menepuk-nepuk bahu Zidan dengan mantap. Ada raut lega yang terpancar dari wajah sang Doktor Al-Azhar itu. Baginya, menyerahkan Bungah kepada Zidan adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil dalam hidupnya.
"Satu lagi, Gus," tambah Azam dengan nada yang sedikit lebih rendah. "Bungah itu paling suka diperhatikan hal-hal kecilnya. Dia mungkin tidak minta, tapi dia senang kalau ditanya sudah makan apa belum, atau sekadar disemangati belajarnya. Apalagi sekarang dia di sana sendiri tanpa aku. Dia pasti merasa sepi di asrama itu."
Zidan terdiam sejenak, meresapi setiap kata Mas Azam. "Nggih, Mas. Saya paham. Terkadang saya memang kaku kalau bicara, tapi demi Bungah, saya akan belajar untuk lebih... apa istilahnya anak zaman sekarang? Effort."
Azam tertawa mendengar istilah itu keluar dari mulut seorang Gus yang biasanya hanya bicara soal kitab kuning. "Nah, itu tahu! Ya sudah, ayo masuk. Bunda sudah mencari-cari menantu kesayangannya ini. Katanya mau dikenalkan ke sanak saudara dari Jombang."
Sementara itu, di Kairo, Bungah sedang asyik memakan mi instannya sambil membaca balasan pesan dari Zidan. Pipinya masih terasa panas setiap kali membaca kata "Sayang" yang diketik oleh suaminya.
"Es krim ya? Awas saja kalau bohong," gumam Bungah sambil tersenyum-senyum sendiri menatap layar ponsel.
Tiba-tiba, pintu kamar asramanya diketuk. Itu adalah Fatimah, teman sekamarnya yang baru saja kembali dari swalayan.
"Bungah! Kamu kenapa senyum-senyum sendiri depan mi instan? Habis dapet kiriman dari Jawa ya?" tanya Fatimah heran sambil meletakkan belanjaannya.
Bungah segera menyembunyikan ponselnya. "Eh, nggak kok! Ini... mienya enak banget, Fat."
Fatimah menyipitkan mata. "Masak sih? Eh, omong-omong, kamu sudah dengar kabar belum? Katanya ada senior kita yang baru saja menikah lewat telepon semalam. Kabarnya heboh banget di grup WhatsApp persatuan mahasiswa. Namanya siapa ya... Azam atau siapa gitu."
Bungah tersedak kuah mi yang pedas. Ia batuk-batuk hingga wajahnya memerah.
"Lho, pelan-pelan dong! Kamu tahu nggak siapa orangnya? Katanya yang menikah itu adiknya Doktor Azam yang baru pulang itu," lanjut Fatimah tanpa dosa.
Bungah mengusap bibirnya dengan tisu, jantungnya berdegup kencang. Ia belum siap mengumumkan status barunya kepada teman-temannya. Ia masih ingin menikmati rahasia manis ini sendirian, setidaknya untuk beberapa hari ke depan.
"Nggak tahu, Fat. Mungkin cuma gosip," jawab Bungah berbohong kecil, sambil dalam hati ia berbisik, Maaf ya Fat, orang yang kamu bicarakan itu lagi duduk di depanmu sambil makan mi instan.
Bungah pun kembali menatap ponselnya. Ia mengirimkan pesan terakhir untuk Zidan sebelum ia memutuskan untuk tidur siang.
Bungah: "Mas, Adek mau tidur siang dulu ya. Jangan kangen-kangen banget, nanti Mas nggak konsen salaman sama tamu. Assalamu'alaikum, Suamiku."
Di Jawa, Zidan yang sedang menyalami tamu mendadak terhenti sejenak saat merasakan getaran di sakunya. Ia membaca pesan itu, lalu tersenyum sangat tipis—senyum yang hanya dimengerti oleh hatinya sendiri.