NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Pagi di Kota Qinghe datang dengan cara yang sopan.

Tidak ada genderang istana, tidak ada teriakan pejabat, hanya suara sapu bambu menyentuh tanah, aroma bubur panas dari warung ujung jalan, dan sinar matahari yang menyelinap malas di sela atap-atap kayu.

Yun Ma membuka Toko Obat Feng Ling seperti biasa.

Ia menggantung papan Buka, mengikat rambutnya sederhana, lalu mulai menyortir ramuan kering. Gerakannya ringan, tidak terburu-buru, tidak juga lesu. Ayin yang berdiri di sampingnya beberapa kali melirik nonanya dengan ekspresi ragu bukan karena curiga, melainkan karena… Yun Ma terlalu tenang.

Terlalu normal.

“Nona…” Ayin akhirnya tak tahan. “Apakah setelah mempelajari Api Sunyi… orang biasanya jadi lebih santai?”

Yun Ma mengangkat alis. “Kau mengharapkan apa? Aku berjalan sambil tertawa jahat?”

“Bukan begitu!” Ayin buru-buru menggeleng. “Hanya saja… nona sekarang seperti… sudah berdamai.”

Yun Ma tersenyum kecil. “Karena aku memang sudah.”

Ayin terdiam, lalu mengangguk pelan. “Itu… bagus.”

Hari itu berlalu tanpa hal aneh. Bahkan Mo Zhen tidak muncul. Yang ada hanya pelanggan biasa

petani dengan sakit pinggang, ibu muda dengan anak demam, dan seorang pemuda yang datang hanya untuk bertanya apakah ramuan penumbuh jenggot benar-benar ada.

“Tidak ada,” jawab Yun Ma jujur.

Pemuda itu pergi dengan wajah kecewa.

Menjelang sore, saat matahari mulai condong, Yun Ma menutup toko lebih awal.

Ayin menatapnya heran. “Nona mau ke mana?”

“Ke hutan,” jawab Yun Ma santai.

Ayin langsung panik. “Hutan?! Kenapa mendadak?! Apakah ada ramuan langka yang habis?!”

Yun Ma menggeleng. “Tidak. Shen Yu yang menyuruh.”

Ayin semakin pucat. “Penjaga ruang itu… menyuruh nona masuk hutan?”

“Iya.” jawab Yun Ma

“…Apakah beliau tidak suka nona?” tanya Ayin khawatir

Yun Ma tertawa kecil. “Tenang. Aku juga tidak tahu kenapa.”

Begitu malam tiba dan kesadarannya masuk ke ruang dimensi, Yun Ma langsung menatap Shen Yu dengan tatapan curiga, “Kau menyuruhku ke hutan untuk apa?"

“Ya,” jawab Shen Yu singkat.

“Untuk apa?” tanya Yun Ma lagi

“Berjalan.” jawab Shen Yu

Yun Ma berkedip. “Hanya… berjalan?”

“Ya.” jawab Shen Yu lagi

“Tidak ada latihan?” tanya Yun Ma lagi.

“Ada.” ujar Shen Yu

“Apa?” tanya Yun Ma penasaran

“Berjalan lebih jauh.” jawab Shen Yu tenang

Yun Ma memijat pelipis. “Kau serius?”

Shen Yu menatapnya tenang. “Kau terlalu lama hidup dengan tujuan besar. Api Sunyi telah membersihkan masa lalu. Sekarang kau harus belajar hidup tanpa selalu mencari.”

Yun Ma menatap Shen Yu kesal“Jadi… aku disuruh ke hutan tanpa tujuan?”

“Tanpa tujuan yang kau tahu,” koreksi Shen Yu. “Sesuatu akan datang sendiri.”

Yun Ma menghela napas panjang. “Kalau aku pulang membawa jamur beracun dan keracunan?”

Shen Yu tersenyum kecil“Kau tidak sebodoh itu.”

Yun Ma menatap Shen Yu sinis “Penilaianmu terlalu tinggi.”

Shen Yu mengabaikannya. “Pergilah besok pagi. Jangan bawa apa pun selain pisau kecil dan air.”

Yun Ma mengangkat tangan. “Boleh bawa bekal?”

“…Boleh.” jawab Shen Yu singkat

“Bagus. Aku tidak mau mati kelaparan sebelum takdir datang.” ujar Yun Ma

Keesokan paginya, Yun Ma benar-benar berjalan ke arah hutan di luar Kota Qinghe.

Hutan itu tidak terkenal angker. Justru sering dimasuki pemburu dan pencari kayu. Pohonnya tinggi, rimbun, dan tanahnya lembap oleh dedaunan gugur.

Yun Ma melangkah santai, sesekali berhenti untuk mengamati tanaman.“Oh, ini akar qi-ling…” gumamnya sambil jongkok. “Di sini tumbuh liar?”

Yun Ma memotong sedikit dan memasukkannya ke kantong. “Lumayan. Gratis.” beberapa langkah kemudian, ia menemukan jamur dengan bentuk aneh.

“Hm… bukan beracun,” kata Yun Ma setelah mengendus. “Tapi rasanya pahit.” Ia memotong juga. “Bisa dijual murah.”

Jika ada orang lain melihatnya, mereka mungkin mengira Yun Ma hanya tabib muda yang sedang mencari bahan obat. Tidak ada aura menakutkan, tidak ada niat balas dendam, tidak ada tekanan.

Hanya seorang gadis dengan keranjang kecil.

Sekitar satu jam berjalan, Yun Ma berhenti di dekat sungai kecil. Ia duduk di batu, membuka bekalnya nasi kepal sederhana dan telur asin.“Kalau sesuatu mau datang,” gumamnya sambil mengupas telur, “datanglah cepat. Aku tidak mau menunggu sambil kelaparan.”

Tiba tiba angin bertiup pelan, daun bergeser dan tidak ada apa-apa.Yun Ma mengunyah sambil menatap air sungai. “Atau mungkin Shen Yu hanya ingin aku piknik.”

Di dalam kesadarannya, Shen Yu tidak menjawab.

Setelah makan, Yun Ma berjalan lebih dalam.

Hutan mulai berubah. Pohon-pohon lebih besar, cahaya lebih redup, dan udara terasa… bersih. Terlalu bersih.

Yun Ma berhenti, “Shen Yu,” katanya pelan. “Apakah aku sudah masuk wilayah yang aneh?”

“Kau baru menyentuh tepinya,” jawab Shen Yu.

“Wilayah apa?” tanya Yun Ma

“Wilayah yang masih memilih.” jawab Shen Yu

Yun Ma mengerutkan kening. “Memilih apa?”

“Manusia.” jawab Shen Yu

Yun Ma menatap sekeliling. “Aku tidak merasa dipilih.”

Begitu kata itu keluar, sesuatu melompat dari semak.

“KYAA—!” Yun Ma refleks mengangkat keranjang sebagai tameng.

Makhluk kecil berbulu abu-abu mendarat di depannya. Ia… seekor hewan.

Mirip rubah, namun telinganya sedikit lebih panjang, ekornya bercabang dua, dan di dahinya ada tanda kecil seperti bara hitam tidak menyala, hanya ada.

Makhluk itu menatap Yun Ma dan Yun Ma menatap balik.

Hening.

Beberapa detik berlalu, makhluk itu mengeluarkan suara kecil. “Krrk?”

Yun Ma berkedip. “…Kau?”

Makhluk itu memiringkan kepala.

Yun Ma menurunkan keranjang. “Kau… lucu.”

Shen Yu: “……”

Makhluk itu mendengus, seolah tersinggung, lalu melompat ke batu di samping Yun Ma tanpa izin.

Ia mengendus keranjang.

“Eh, jangan—!” Yun Ma terlambat.

Makhluk itu sudah mencuri jamur pahit dan menggigitnya.

Ekspresinya langsung berubah.

Ia memuntahkannya.

“Krrk! Krrkrrk!!”

Yun Ma tertawa terbahak. “Sudah kukatakan pahit.”

Makhluk itu menatap Yun Ma dengan mata bulat penuh tuduhan.

“Jangan salahkan aku,” Yun Ma mengangkat tangan. “Kau yang makan.”

Makhluk itu mendengus lagi, lalu… duduk.

Di pangkuan Yun Ma.

Yun Ma membeku. “…Hei?”

Makhluk itu meringkuk, ekornya melilit pergelangan tangan Yun Ma.

Hangat.

Tenang.

Shen Yu akhirnya bersuara. “Ia memilihmu.”

Yun Ma menatap makhluk kecil itu. “Ini… sesuatu yang kau maksud?”

“Ya.” jawab Shen Yu

“Ini hewan ilahi?” tanya Yun Ma ragu.

“Belum dewasa,” jawab Shen Yu. “Masih sangat malas.”

Makhluk itu menguap lebar, lalu tidur.

Yun Ma menatapnya lama, lalu tertawa kecil. “Kita cocok.”

Shen Yu mendengus. “Kau memang menarik hal-hal merepotkan.”

“Namanya apa?” tanya Yun Ma.

“Ia belum punya.” jawab Shen Yu

Yun Ma berpikir sejenak. “Kalau begitu… kupanggil Hui.”

Makhluk itu membuka satu mata, lalu menutupnya lagi, seolah setuju.

Di saat itu, benang halus Api Sunyi berdenyut lembut.

Kontrak tidak dibuat dengan darah.

Tidak dengan sumpah.

Hanya dengan keputusan diam-diam.

Saat matahari mulai condong, Yun Ma berjalan pulang dengan Hui di bahunya.

Ayin hampir menjerit ketika melihatnya. “Nona membawa… hewan?!”

Yun Ma tersenyum. “Ya. Ia ikut.”

Hui mengangkat kepala dan mendengus bangga.

Ayin menatapnya lama, lalu… tersenyum kecil. “Lucu.”

Malam itu, Yun Ma tidur lebih nyenyak dari biasanya.

Dan di ruang dimensi, Shen Yu berdiri memandang langit perak.

“Api Sunyi tidak hanya membakar,” gumamnya. “Ia juga menarik.”

Di luar, dunia terus berjalan.

Tenang.

Namun benang-benang takdir telah bergeser, sedikit demi sedikit.

Tanpa nyala.

Tanpa suara.

Namun pasti.

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!