Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Malam itu, Restoran L’Aurore tampak begitu megah dengan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya keemasan ke setiap sudut ruangan. Musik jazz instrumen mengalun rendah, menciptakan atmosfer kelas atas yang biasanya hanya dinikmati oleh kalangan elit.
Jenny turun dari mobil Jonathan dengan bantuan tangan pria itu. Malam ini, Jenny tampak luar biasa. Ia mengenakan dress berwarna soft pink yang membalut tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan elegan namun tetap mempertahankan sisi manisnya. Rambutnya yang biasa dikuncir kuda kini terurai indah dalam gelombang besar.
"Kamu cantik sekali, Jen," ucap Jonathan dengan nada datarnya yang khas. Meski terdengar kaku, bagi Jenny yang sedang jatuh cinta, itu adalah pujian tertinggi.
"Makasih, Jon. Kamu juga kelihatan gagah pakai jas ini," balas Jenny sambil merapikan kerah jas hitam Jonathan.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam restoran, menuju meja besar di pojok ruangan yang sudah dipesan khusus. Di sana, orang tua Jonathan sudah menunggu. Namun, yang membuat jantung Jenny sedikit mencelos adalah kehadiran Claudia.
"Claudia? Kamu di sini juga?" tanya Jenny terkejut namun tetap dengan nada sopan.
Claudia bangkit dari kursinya, mengenakan dress hitam slim-fit yang membuatnya terlihat sangat dewasa. "Hai, Jen! Iya, orang tua kita kan rekan bisnis. Papa ajak aku tiba-tiba tadi, aku nggak sempat kasih tahu kamu. Maaf ya?"
Jenny tersenyum lega. "Oh, syukurlah kalau ada kamu. Aku jadi nggak terlalu tegang."
Makan Malam yang Sempurna (Secara Visual)
Meja itu penuh dengan hidangan mewah—dari appetizer hingga main course. Percakapan mengalir seputar bisnis antara kedua orang tua mereka. Jonathan duduk tepat di samping Jenny, sementara Claudia duduk tepat di seberang mereka.
"Jonathan memang putra yang membanggakan," ujar ayah Claudia sambil menyesap wine-nya. "Ketua OSIS, peringkat satu di 12 IPA 1. Sangat serasi dengan Jenny yang aktif di kegiatan sekolah."
Jonathan mengangguk sopan. "Terima kasih, Om. Saya hanya berusaha menjalankan kewajiban saya dengan disiplin."
Jenny merasa bangga. Di sekolah, mereka dikenal sebagai power couple kelas kakap. Jonathan dari IPA 1 yang jenius dan kaku, dan dia dari IPA 3 yang populer. Namun, di tengah pujian itu, pikiran Jenny melayang pada gantungan kunci perak yang diberikan Romeo tadi siang.
Gantungan kunci itu ada di mobil Jonathan.
Jenny melirik ke arah Jonathan yang sedang fokus memotong steaknya dengan gerakan presisi. Tidak mungkin, pikirnya. Jonathan terlalu disiplin untuk berbohong.
Apa yang tidak diketahui Jenny adalah apa yang terjadi di bawah taplak meja putih yang menjuntai panjang itu.
Claudia, dengan wajah yang tetap tenang dan sesekali melempar tawa manis saat mengobrol dengan ibu Jenny, perlahan menurunkan tangan kirinya. Di bawah meja, ia menggerakkan jemarinya menuju paha Jonathan.
Jonathan tidak terkejut. Ia tidak menjauh. Seolah ini adalah rutinitas yang sudah biasa mereka lakukan.
Claudia meraih tangan Jonathan dari bawah. Ia menggenggam jemari pria itu, menautkannya dengan erat. Sementara tangan kanan Jonathan tetap tenang memegang garpu, tangan kirinya di bawah meja membalas genggaman Claudia dengan tekanan yang sama kuatnya.
Jenny, yang duduk tepat di sebelah Jonathan, sama sekali tidak menaruh curiga. Ia sedang sibuk mendengarkan cerita ibu Claudia tentang masa kecil mereka.
"Jen, kamu nggak makan saladnya? Enak lho," ucap Claudia sambil menatap langsung ke mata Jenny.
Gadis itu sedang memegang tangan pacar sahabatnya sendiri dengan erat di bawah meja, sambil melemparkan senyum paling tulus kepada korbannya. Itu adalah puncak dari permainan "main cantik" Claudia. Ia menikmati adrenalin dari pengkhianatan ini. Ia menikmati fakta bahwa ia bisa menyentuh Jonathan di depan mata Jenny tanpa ketahuan.
"
Tiba-tiba, ketenangan itu terusik. Di pintu masuk restoran, muncul sosok yang sangat tidak terduga. Romeo.
Ia tidak memakai jas. Ia hanya mengenakan jaket kulit hitam di atas kaus putih, dengan celana jeans robek di bagian lutut. Di sampingnya, Lisa tampak menggandeng lengannya dengan posesif, memakai gaun merah menyala yang terlalu mencolok untuk restoran setenang ini.
"Oh, lihat siapa yang ada di sini. Pertemuan keluarga besar?" suara Romeo menggema, membuat beberapa tamu menoleh.
Wajah Jonathan mengeras. "Romeo. Ini restoran privat. Sopan santunmu ketinggalan di lapangan voli?"
Romeo tertawa kecil, melangkah mendekati meja mereka tanpa diundang. Matanya tidak beralih dari Jenny, lalu melirik ke arah Claudia, dan berakhir pada posisi duduk Jonathan yang tampak terlalu kaku.
"Gue cuma mau makan malam sama pacar gue yang rewel ini," kata Romeo sambil melirik Lisa. "Tapi kayaknya suasana di meja ini lebih seru. Terlalu banyak... rahasia di bawah meja, ya?"
Claudia tersentak. Ia segera melepaskan genggaman tangannya dari Jonathan secepat kilat. Jonathan berdehem pelan, memperbaiki posisi duduknya.
"Romeo, jangan bikin malu," bisik Lisa sambil menarik lengan Romeo. Meski Lisa problematik, ia tahu bahwa berurusan dengan orang tua pemilik yayasan sekolah (orang tua Jonathan) di tempat umum adalah ide buruk.
"Gue nggak bikin malu, Lis. Gue cuma mau kasih peringatan ke seseorang," Romeo menatap Jenny tajam. "Dress lo bagus, Jen. Sayang kalau harus kena noda yang nggak bisa hilang."
Jenny tertegun. "Maksud lo apa?"
"Tanya aja sama si kaku di sebelah lo. Kenapa dia kelihatan tegang banget pas gue dateng? Padahal dia kan 'Ketua OSIS Teladan'," Romeo menyeringai, lalu menarik Lisa menuju meja di ujung lain restoran.
Suasana makan malam itu tidak pernah sama lagi setelah kedatangan Romeo. Jenny menjadi lebih pendiam. Ia memperhatikan gerakan Jonathan. Ia menyadari satu hal: Jonathan terus-menerus menghindari kontak mata dengan Claudia setelah Romeo pergi.
Saat makan malam berakhir dan mereka sedang menunggu mobil di lobi, Claudia pamit ke toilet.
"Jon, aku mau tanya sesuatu," ucap Jenny pelan saat mereka hanya berdua.
"Apa, Jen? Aku harus segera mengantarmu pulang, sudah jam sembilan lewat lima menit," jawab Jonathan sambil melihat jam tangannya.
"Gantungan kunci Claudia yang hilang... kenapa bisa ada di mobil kamu?"
Pertanyaan itu membuat udara di sekitar mereka seolah membeku. Jonathan terdiam selama tiga detik—sebuah jeda yang terlalu lama bagi pria sepertinya.
"Oh, itu. Kemarin Claudia menumpang sampai depan gerbang karena kakinya terkilir setelah latihan pemandu sorak. Mungkin jatuh di sana. Aku lupa memberitahumu karena itu hal kecil yang tidak penting," jawab Jonathan dengan nada suara yang sangat meyakinkan. Sangat logis. Sangat... kaku.
"Tapi Claudia nggak bilang apa-apa soal kakinya terkilir," gumam Jenny.
"Mungkin dia tidak ingin membuatmu khawatir. Kamu tahu sendiri dia tipe sahabat yang tidak mau merepotkan," Jonathan mengelus rambut Jenny dengan lembut. "Jangan biarkan ucapan Romeo merusak malam kita. Dia hanya ingin menghancurkan apa yang tidak bisa dia miliki."
Jenny ingin percaya. Ia sangat ingin percaya. Namun, bayangan senyum sinis Romeo dan tatapan aneh Claudia malam ini terus berputar di kepalanya.
Sementara itu, di meja lain, Lisa sedang menginterogasi Romeo.
"Lo sengaja kan ke sini buat liatin Jenny?" tanya Lisa dengan nada tinggi.
"Gue ke sini buat makan, Lis. Berhenti jadi drama queen," balas Romeo cuek sambil mengunyah makanannya.
"Gue nggak buta, Romeo! Lo selalu ikut campur urusan dia. Lo tahu nggak kalau Claudia itu licik? Dia sering kirim pesan ke gue, bilang kalau lo sering liatin Jenny pas latihan. Dia mau kita putus!"
Romeo berhenti mengunyah. Matanya menyipit. "Claudia kirim pesan ke lo?"
"Iya! Dia bilang dia kasihan sama gue karena punya pacar yang terobsesi sama sahabatnya sendiri."
Romeo meletakkan garpunya. Sekarang ia paham. Claudia bukan cuma selingkuh dengan Jonathan, dia juga sedang mengadu domba semua orang agar posisinya aman. Claudia bermain di dua sisi: menjadi malaikat di depan Jenny, dan menjadi kompor di depan Lisa.
"Claudia emang ular," gumam Romeo. "Dan si robot itu... dia bener-bener nggak punya nyali."
Romeo menoleh ke arah lobi, melihat Jenny masuk ke mobil Jonathan dengan wajah yang tidak lagi secerah saat ia datang. Ada rasa pahit yang muncul di hati Romeo. Ia benci melihat Jenny yang bodoh, tapi ia lebih benci lagi melihat orang-orang "suci" itu menginjak-injak ketulusan Jenny.
"Gue bakal hancurin permainan mereka," janji Romeo dalam hati.