NovelToon NovelToon
Miranda Istri Yang Diabaikan

Miranda Istri Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIA 11

Miranda masuk ke kamar tamu dengan langkah gontai. Tubuhnya lelah, hatinya lebih lelah lagi. Sejak tadi ia terus disalahkan, seakan ia manusia paling tak berguna di rumah itu. Ia duduk di tepi kasur, memandangi kedua tangannya yang masih gemetar. Perlahan ia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.

Perih. Nyeri. Panas.

Namun semua itu kalah oleh sakit di dadanya.

Tadi semua terjadi begitu saja. Bukan rencana. Bukan keberanian yang disengaja. Hanya refleks. Naluri bertahan hidup. Sepuluh tahun hidup di jalanan telah mengajarinya satu hal, jika lengah, ia akan hancur lebih dulu.

Miranda memejamkan mata, menarik napas panjang. Air mata akhirnya jatuh juga, satu demi satu, tanpa bisa ia tahan.

Tak lama kemudian ponselnya berdering.

Nama di layar membuatnya terdiam.

Karman Wijaya.

Ia menghapus air mata dengan punggung tangan, menata napas, lalu mengangkat panggilan itu.

“Iya, ada apa, Paman?” ucapnya pelan.

“Hei, anak nakal, kenapa kamu jarang menghubungi lelaki tua ini?” suara Karman terdengar hangat, setengah bercanda.

“Paman ini sibuk, pengusaha besar. Aku takut mengganggu,” jawab Miranda lirih.

“Kamu itu sudah kuanggap anak sendiri. Mana ada kamu menggangguku,” balas Karman ringan.

Ada sesuatu yang menghangat di dada Miranda. Kalimat sederhana itu terasa seperti pelukan. Bahkan orang yang tak punya ikatan darah pun masih mau menyebutnya anak.

“Miranda, kamu masih terhubung denganku?” suara Karman kembali terdengar.

“Maaf, Paman,” ucap Miranda. “Tadi aku tersanjung dipanggil anak.”

“Kamu ada masalah, Mir?” tanya Karman, pelan, seolah bisa menebak kegelisahan di seberang sana.

“Tidak ada, Paman. Aku baik-baik saja. Paman menghubungiku pasti bukan cuma karena rindu, kan?” jawab Miranda mencoba tersenyum.

“Kamu ini selalu terlalu formal,” kata Karman. “Tapi memang aku ingin bertanya. Kenapa kamu mengundurkan diri dari Sanjaya Grup?”

“Aku ingin fokus pada rumah tanggaku, Paman. Lagipula perusahaan sudah keluar dari krisis. Aku tidak terlalu dibutuhkan lagi di sana,” jawab Miranda jujur.

“Baiklah,” ucap Karman. “Satu hal lagi. Mereka minta suntikan dana untuk proyek di Sentul. Menurutmu bagaimana?”

Miranda terdiam. Dulu ia pernah menolak proyek itu. Lokasinya rawan bencana.

“Sebaiknya Paman bentuk tim independen untuk survei lapangan. Pendapatku bisa saja salah, tapi proyek itu perlu dikaji ulang,” katanya hati-hati.

“Singkat saja. Kamu setuju atau tidak?”

“Ini menyangkut modal besar dan risiko besar. Lebih baik Paman lakukan survei dulu.”

“Baik, Mir. Terima kasih sarannya. Kalau ada waktu, datanglah ke perusahaan Paman bersama suamimu.”

“Baik, Paman.”

Sambungan terputus.

Sementara itu, di ruang makan yang masih berantakan, Bi Mirna sibuk membereskan piring dan gelas yang berserakan. Tangannya gemetar, wajahnya pucat, namun ia berusaha tetap bekerja seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa beberapa menit lalu.

Di ruang tengah, Anton, Rizki, Raka, dan Saras berkumpul dalam suasana yang tegang.

“Miranda sudah keterlaluan,” ucap Anton dengan suara bergetar menahan amarah. “Kamu harus menceraikannya, Rizki.”

“Tidak bisa, Yah,” jawab Rizki pelan.

Hati Saras mendadak menghangat. Inilah yang sejak lama ia dambakan. Dulu, saat Rizki berada di ambang kehancuran, ia memilih menjauh. Saras wanita rasional. Mendekati lelaki hampir bangkrut hanya akan membuang waktu. Sekarang keadaan sudah berbalik. Perusahaan kembali bangkit, nama Rizki kembali diperhitungkan. Dan kini, kesempatan itu terasa semakin dekat.

“Kenapa kamu tidak mau menceraikan Miranda?” Anton mendengus. “Apa kamu mencintainya?”

Rizki terdiam.

Raka yang sejak tadi diam akhirnya angkat suara. “Ayah, kenapa Ayah tidak mencoba menerima Miranda saja? Bagaimanapun, dia sudah banyak membantu keluarga ini.”

“Diam kamu,” bentak Anton. “Orang yang terlalu berjasa justru akan menjadi ancaman. Kamu fokus saja bekerja dan mengurus anakmu.”

Raka kembali terdiam. Sejak Wina meninggal, ia memang berubah. Ia bekerja sekadar menjalankan kewajiban, mengikuti semua perintah ayahnya, tanpa banyak bertanya, tanpa banyak berharap.

“Dari dulu aku tidak mencintai Miranda, Ayah juga tahu itu,” ucap Rizki akhirnya.

“Kalau begitu, kenapa kamu belum juga menceraikannya?” desak Anton.

Rizki menghela napas panjang. “Karena Pak Karman belum juga menyuntikkan dana, Yah. Setiap aku bertemu dengannya, dia selalu menanyakan kabar Miranda. Dia sudah menganggap Miranda seperti anak sendiri. Kalau dia tahu aku bercerai, aku takut investasi itu batal.”

Anton terdiam. Jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi. “Sepertinya dugaan Ayah benar.”

“Maksud Ayah?” tanya Rizki.

“Miranda memang cantik, tapi keras kepala dan tidak punya pendidikan resmi. Tapi dia bisa menyelamatkan perusahaan. Jangan-jangan dia memakai tubuhnya untuk menjalin kerja sama dengan investor.”

Rizki menelan ludah. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa Miranda memang punya kemampuan, punya kecerdasan. Tapi egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya.

“Ya… mungkin memang begitu,” ucapnya akhirnya. “Kalau saja dia tidak memberi manfaat untuk perusahaan, sudah lama aku meninggalkannya.”

“Baik,” kata Anton tegas. “Pertahankan dulu Miranda. Mulai sekarang jaga sikapmu padanya. Sampai Karman Wijaya benar-benar berinvestasi. Setelah itu, kita singkirkan dia.”

“Baik, Yah,” jawab Rizki singkat.

Anton bangkit, lalu menoleh ke arah Saras. “Saras, buatkan Ayah teh panas. Antarkan ke kamar.”

Saras sempat merengut, namun segera mengganti wajahnya dengan senyum lembut. “Baik, Paman.”

Anton masuk ke kamarnya. Rizki melangkah pergi ke kamar sendiri. Saras menuju dapur untuk membuat teh. Tinggallah Raka seorang diri di ruang tengah.

Ia mengambil sebungkus rokok, menyalakan sebatang, lalu mengisapnya dalam-dalam. Dahinya berkerut beberapa kali. Dadanya terasa sesak, panas, seperti ada sesuatu yang mengganjal tapi tak bisa ia keluarkan.

Setelah rokoknya habis, Raka berdiri dan masuk ke kamarnya, mengganti pakaian, lalu melangkah menuju kamar Amora. Ia tahu Miranda sedang marah. Ia yakin malam ini Miranda tidak akan mengurus anak itu.

Saat hendak masuk, ia melihat Saras keluar dari kamar Anton sambil membawa gelas kosong. Raka hanya menggeleng pelan, lalu mengepalkan tangannya.

Ia masuk ke kamar Amora.

Bayi itu tidur tenang di dalam boks. Napasnya teratur, wajahnya damai. Raka tersenyum tipis, membelai pipi Amora dengan sangat lembut, lalu membetulkan selimut kecil yang hampir tersingkap.

Ia menggelar kasur lipat di lantai, merebahkan tubuhnya di sana.

Matanya menatap langit-langit kamar.

“Wina… kenapa kamu cepat sekali pergi?” gumamnya lirih.

Air mata perlahan jatuh.

“Maafkan aku tidak menemani kamu melahirkan. Maafkan aku tidak ada di saat terakhir kamu.”

Waktu itu ia sedang bertugas ke luar kota. Kabar kematian Wina justru datang dari Miranda. Kalau bukan karena Miranda, mungkin ia bahkan tidak tahu istrinya sudah pergi.

Ia masih ingat kemarahannya pada sang ayah saat itu.

Dan jawaban Anton yang dingin, “Ayah hanya ingin kamu tenang. Tidak baik berbisnis dengan banyak pikiran.”

Raka meraih ponselnya, membuka foto Wina. Ia memandangi wajah istrinya lama, lalu mengecup layar ponsel itu dengan penuh rindu.

1
partini
beguna lah banyak video itu
partini
wow bisa bela diri teryata Very good 👍👍👍👍
partini
OMG mau eksekusi
Ma Em
Miranda makanya kamu hrs pintar dan cerdas jgn mau di manfaatkan .
partini
good story
partini
OMG kadal semua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!