Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Materialistis
Fauzan Arfariza menutup panggilan itu perlahan. Beberapa detik ia terdiam, seolah dunia di sekelilingnya membeku. Di sudut bibirnya terukir senyum tipis yang getir, senyum yang lebih menyerupai ejekan bagi dirinya sendiri daripada tawa yang lahir dari kegembiraan.
Selama ini ia selalu meyakini bahwa cinta yang ia jaga adalah sesuatu yang murni, bening, tidak ternodai debu duniawi, tidak terguncang oleh gemerlap Rupiah dan godaan materi. Ia percaya bahwa perasaan yang ia berikan dan terima berdiri di atas ketulusan, bukan di atas timbangan harta. Namun kenyataan justru menamparnya dengan keras. Akhir dari hubungan itu datang bukan karena perbedaan hati, bukan karena takdir yang saling menjauh, melainkan karena uang—karena Rupiah yang dipuja seolah dewa.
Hal paling menggelikan sekaligus paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa Natasya Dermawan memutuskannya demi uang. Padahal Fauzan Arfariza adalah pewaris ajaran Dokter Leluhur Tua, pemegang warisan terdalam dari Sekte Medis Kuno yang bersumber pada Energi Vital, pada keseimbangan antara Keseimbangan dan Kestabilan. Bagi dirinya, menghasilkan Rupiah bukanlah perkara sulit, bahkan bisa dikatakan hanya soal hitungan menit. Dunia mungkin belum mengenal kekuatannya, tetapi langit dan bumi telah lama mengakuinya.
Tangannya merogoh saku, mengeluarkan dua lembar cek bernilai dua juta. Cek itu semula ia siapkan dengan niat tulus: satu untuk ibunya, satu lagi untuk Natasya Dermawan, perempuan yang pernah ia cintai dengan segenap jiwa. Kini, cek yang satu terasa tak lagi memiliki makna. Kertas itu seolah kehilangan ruhnya.
Dalam keheningan, Fauzan akhirnya memahami sesuatu. Ini bukanlah malapetaka, melainkan anugerah yang terselubung. Ia diberi kesempatan untuk melihat wajah asli seorang penyembah Rupiah sebelum semuanya terlambat. Jauh lebih baik mengetahui sekarang daripada hidup bertahun-tahun dalam kebohongan yang dibungkus senyum manis.
Setelah pikirannya tenang, ia bangkit. Peralatan dapur yang baru dibelinya ia susun rapi. Di tempat sederhana itulah ia bersiap meracik Obat Herbal yang akan menjadi pijakan awal jalannya: Pil Pendirian Dasar. Meramu obat dengan peralatan dapur jelas jauh dari ideal bila dibandingkan dengan tungku alkimia sejati, namun bagi Fauzan, selama fondasi ilmu dan Energi Vital tetap terjaga, segalanya masih mungkin. Pil Pendirian Dasar bukanlah obat tingkat tinggi, sehingga masih dapat disempurnakan dengan cara ini.
Waktu berlalu perlahan, dua jam terasa seperti perjalanan panjang melintasi senyap. Ketika proses itu berakhir, di telapak tangannya terbaring tiga butir Pil Pendirian Dasar berwarna hitam legam. Bentuknya tak sempurna, permukaannya tak sehalus pil yang diracik dengan tungku sejati, tetapi khasiatnya tetap utuh, tak jauh berbeda dari standar tertinggi.
Tanpa ragu, Fauzan menelan satu pil. Ia duduk bersila, menenangkan napas, lalu mengalirkan Energi Vital yang kacau dalam tubuhnya keluar. Begitu pil itu melebur di dalam mulut, Energi Murni-nya bergejolak hebat, bagaikan air mendidih yang tak lagi bisa dibendung. Energi Vital di dalam tubuhnya menguat, mengalir deras, menyapu bersih tujuh meridian utama dan delapan meridian cabang. Di bawah kendali kesadaran ilahinya, aliran itu menyerupai sungai besar yang mengamuk, menerobos setiap sudut raga.
Sedikit demi sedikit, Energi Vital itu menjadi semakin murni, semakin padat, hingga seluruh tubuhnya terasa penuh. Tekanan yang muncul membuatnya merasa seakan tubuhnya akan meledak. Namun tepat saat batas itu tercapai, tekanan mendadak mereda. Di dalam energi murni-nya muncul setetes cairan kecil, sebesar biji kacang.
Kesadarannya menangkap perubahan itu dengan jelas. Energi Vital yang sebelumnya berbentuk gas kini berubah menjadi cairan. Itulah tanda Pendirian Dasar telah tercapai. Ia berhasil melangkah ke tahapan baru.
Setelah beberapa waktu menstabilkan kondisi, tiga tetes Energi Vital cair akhirnya menetap di Energi Murni-nya. Fauzan membuka mata perlahan. Kekuatan yang ia rasakan kini melonjak lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan saat ia masih berada di tahap pemurnian. Jangkauan kesadarannya pun meluas, dari dua meter menjadi lima meter, cukup untuk menangkap setiap gerak di ruangan sebelah.
Ia membersihkan diri dengan mandi air dingin, lalu bersiap. Setelah itu, ia turun menuju bank, menukarkan cek dua miliar menjadi Rupiah yang sah dan menyimpannya di kartu. Dari sana, langkahnya menuju Restoran Pasar Baru Jakarta yang telah disebutkan oleh Nora Ananta.
Keluarga Baskara dikenal memiliki pengalaman unik dalam dunia kuliner. Restoran Herbal Pasar Baru yang baru berdiri itu segera menjadi legenda baru di Kota Jakarta, menyedot perhatian banyak orang. Arsitekturnya bergaya klasik, megah, memancarkan kemewahan yang anggun tanpa kehilangan nuansa kuno.
Para pelayan di dalamnya tinggi semampai, berparas menawan. Balutan cheongsam mempertegas keanggunan mereka, menjadikan suasana semakin memesona. Begitu Fauzan melangkah masuk, seorang pelayan segera menyambut dengan senyum profesional.
“Apakah Tuan memiliki reservasi?”
“Ruang Privat Nomor Satu,” jawab Fauzan tenang.
Pelayan itu mengangguk hormat dan membimbingnya ke lantai atas. Ruang privat itu luas, berlapis kemewahan yang nyaris berlebihan untuk jamuan dua orang. Sofa kulit, peralatan makan perak murni, semuanya memancarkan dunia yang asing bagi Fauzan yang sejak kecil hidup dalam keterbatasan. Hatinya bergumam lirih, menyadari betapa jauh jarak antara dunia orang kaya dan rakyat jelata.
Telepon di sakunya berdering. Nama Tianda Baskara tertera di layar.
“Dokter Fauzan, di mana Anda sekarang? Bukankah saya berjanji akan memberikan sebuah restoran? Berkasnya sudah selesai, saya sedang menuju ke sana.”
“Saya di Ruang Privat Nomor Satu, Restoran Pasar Baru Jakarta,” jawab Fauzan.
Tawa kecil terdengar dari seberang. “Kebetulan sekali. Restoran Pasar Baru itulah yang hendak kami serahkan kepada Anda. Saya segera tiba.”
Panggilan berakhir. Fauzan terdiam, diliputi perasaan campur aduk. Gedung semewah ini bernilai puluhan miliar Rupiah, dan kini akan menjadi miliknya. Beberapa hari lalu ia bahkan kesulitan mendapatkan seribu Rupiah. Takdir benar-benar berputar dengan cara yang ironis.
Saat tenggelam dalam lamunan, ia tak sengaja menyenggol gelas air di meja. Air tumpah membasahi permukaan. Dengan kebiasaan lamanya, ia segera mengambil tisu dan membersihkannya sendiri, tanpa memanggil pelayan.
Pintu ruang privat terbuka. Dua sosok melangkah masuk. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun dengan setelan jas rapi dan jam emas mencolok, serta seorang perempuan bergaun merah muda, membawa tas bermerek, pergelangan tangannya dihiasi Bacan hijau.
“Itu kamu? Mengapa kamu ada di sini?” suara perempuan itu terdengar, penuh keterkejutan.
Fauzan menoleh. Perempuan itu adalah Natasya Dermawan, mantan kekasihnya. Takdir mempertemukan mereka kembali begitu cepat, di tempat yang paling tak terduga.
“Tentu saja aku makan di sini,” kata Natasya dengan nada meremehkan. “Tapi kamu? Bagaimana bisa masuk ke tempat seperti ini?”
Pria di sampingnya menyeringai. “Apa lagi? Pasti dia pelayan di sini. Tasya, kau mengenalnya?”
“Dia mantanku,” jawab Natasya sambil memeluk lengan pria itu. “Namanya Fauzan Arfariza. Sudah lama kutinggalkan.”
Pria itu menatap Fauzan dengan hina. “Mantan? Aku benar-benar tak mengerti seleramu dulu. Mengapa memilih pria semiskin ini?”
Indah mendesah. “Aku dulu bodoh, tertipu kata-katanya.”
Nada Fauzan dingin. “Tasya, kita berpisah baik-baik. Kapan aku pernah menipumu?”
“Kalau bukan karena rayuanmu, mana mungkin aku mau dengan pria yang sakunya lebih bersih dari wajahnya?”
Amarah Fauzan bergejolak. “Bukankah kamu yang mengejarku dulu?”
Pria itu mendengus. “Diam! Kau hanya pelayan. Sepatuku kotor. Bersihkan.”
Kata-kata itu jatuh seperti tamparan. Namun di balik tatapan tenang Fauzan, tersembunyi badai yang siap mengamuk, badai Energi Vital yang lahir dari martabat yang diinjak, dari jiwa yang tak lagi sudi direndahkan oleh penyembah Rupiah.
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT