Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Naura tersentak, namun matanya tidak beralih dari Arkan. Ia segera menoleh kembali ke arah celah jendela, tetapi suara geseran sepatu Arkan di lantai semen yang kasar rupanya telah memberikan peringatan bagi orang di dalam sana.
Kring!
Bunyi botol kaca yang beradu dan suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari dalam gudang. Naura mencoba mengintip lagi, namun ruangan itu sudah kosong. Pintu belakang gudang yang berkarat tampak berayun terbuka, menandakan targetnya telah melarikan diri lewat jalur tikus di belakang area olahraga.
Kesempatan untuk mendapatkan bukti kunci hilang begitu saja.
Naura berdiri tegak, napasnya memburu bukan karena lelah, tapi karena amarah yang tertahan. Ia berbalik dan menatap Arkan dengan tatapan yang bisa membekukan air.
"Puas?!" desis Naura. Suaranya tidak lagi lembut atau gemetar seperti saat di koridor.
Arkan mengerutkan kening, bingung melihat perubahan drastis pada gadis di depannya. "Apa maksud lo? Gue cuma balikin tas lo yang lo 'titipin' ke gue tadi."
"Tas? Lo peduli sama tas ini sampai harus ngikutin gue ke sini?!" Naura menyambar tas pastelnya dari tangan Arkan dengan kasar.
"Lo tahu nggak sih apa yang baru aja lo lakuin? Lo itu pengganggu, Arkan! Benar-benar pengganggu yang nggak tahu tempat!"
Arkan tertegun. Ia terbiasa melihat Naura yang tenang, Naura yang manipulatif, atau Naura yang berpura-pura polos. Tapi ia belum pernah melihat Naura yang meledak-ledak marah seperti ini.
"Gue cuma mau minta penjelasan soal tugas kita," Arkan mencoba membela diri, meski nada suaranya sedikit menurun karena bingung. "Dan kenapa lo ada di gudang ini? Tadi katanya sakit perut, sekarang malah..."
"Gue mau cari udara segar! Gue mau sendirian! Apa itu susah dimengerti sama otak jenius lo?!" potong Naura dengan nada tinggi, sengaja mengalihkan topik agar Arkan tidak mencurigai apa yang sebenarnya ia lakukan. "Lo pikir dunia ini cuma muter di sekitar lo? Lo pikir semua orang harus tunduk sama jadwal lo? Gara-gara lo, mood gue hancur total!"
Naura menghentakkan kakinya ke tanah, wajahnya memerah. Ia bahkan sengaja menabrak bahu Arkan saat berjalan pergi meninggalkan area gudang.
"Jangan pernah deketin gue kalau nggak ada urusan penting! Dan jangan pernah sok tahu tentang apa yang gue lakuin!" teriak Naura sekali lagi tanpa menoleh ke belakang.
Arkan berdiri mematung di depan gudang yang sunyi itu. Ia menatap telapak tangannya yang sempat bersentuhan dengan tas Naura tadi. Perasaan bingung, kesal, dan penasaran bercampur jadi satu.
"Marah-marah nggak jelas cuma karena tas?" gumam Arkan tidak percaya. Namun, matanya yang tajam menangkap sesuatu di lantai semen tepat di tempat Naura berdiri tadi.
Arkan berjongkok dan melihat sebuah tisu yang terlipat rapi, namun tampak ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya. Saat ia membukanya sedikit, kilatan logam dari silet yang dipungut Naura tadi mengintip keluar.
Arkan terdiam. "Sakit perut, udara segar, dan... silet?"
......................
Ketegangan antara Arkan dan Naura benar-benar menjadi tontonan tak kasat mata namun terasa sangat nyata bagi orang-orang di sekitar mereka. Atmosfer di kelas mendadak berubah menjadi medan perang dingin yang membuat siapa pun enggan mendekat.
Nadira berkali-kali mencuri pandang ke arah Naura yang duduk di sampingnya. Naura hanya diam, mencoret-coret bukunya dengan kasar sampai kertasnya hampir robek.
Wajahnya yang biasa ramah kini sedingin es.
"Ra... lo beneran marah sama Arkan gara-gara tadi?" bisik Nadira hati-hati. "Maksud gue, Arkan emang agak nyebelin, tapi tadi dia kayaknya beneran merasa bersalah pas nyariin lo ke gudang."
Naura tidak menoleh. "Gue nggak mau bahas dia, Nad. Gue lagi mau fokus."
Nadira hanya bisa menelan ludah. Ia tahu ada yang tidak beres, tapi ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di gudang belakang tadi. Baginya, Naura yang "ngambek" seperti ini jauh lebih menakutkan daripada Naura yang sedang marah besar.
Di sudut lain, Arkan terlihat seperti orang linglung. Ia berkali-kali mencoba mendekati meja Naura dengan alasan menanyakan perihal Ethical Clearance tugas mereka, namun setiap kali ia baru berdiri, Naura langsung memakai earphone atau sengaja mengajak bicara teman yang lain.
Bimo dan Rio yang memperhatikan dari belakang hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Baru kali ini gue liat Arkan kayak ayam sayur," celetuk Rio sambil menyedot es tehnya.
"Biasanya cewek yang mohon-mohon minta maaf sama dia, ini kebalikannya. Dan parahnya... dia dikacangin total."
Bimo mengangguk setuju. "Si Naura kalau udah bad mood ngeri juga ya. Padahal tadi pagi masih manis banget lambaian tangannya. Kayaknya si Arkan beneran bikin kesalahan fatal."
Arkan yang mendengar itu hanya bisa mendengus. Ia kembali duduk dan memijat pelipisnya. Rasa bersalah karena merusak penyelidikan Naura meskipun ia belum tahu pasti apa yang diselidiki bercampur dengan rasa gengsi karena permintaan maafnya diabaikan secara terang-terangan di depan umum.
Saat pelajaran terakhir usai, Arkan kembali mencoba keberuntungannya. Ia sengaja berdiri di ambang pintu sebelum Naura keluar.
"Naura, tunggu sebentar. Gue cuma mau kasih ini," ucap Arkan sambil menyodorkan sebuah cokelat dan secarik kertas kecil yang berisi daftar buku referensi yang sempat ia janjikan.
Naura berhenti. Ia menatap cokelat itu, lalu menatap Arkan dengan tatapan datar yang menusuk. Tanpa sepatah kata pun, Naura hanya menggeser tubuhnya melewati Arkan, seolah pria itu hanyalah benda mati yang menghalangi jalan.
"Gila... dingin banget," gumam Bimo yang berdiri di belakang Arkan. "Sabar ya, Kan. Perjalanan lo masih panjang."
Arkan hanya bisa mengepalkan tangannya yang masih memegang cokelat.
......................
Lonceng di atas pintu kafe berdenting nyaring, namun suara itu kalah saing dengan entakan sepatu Naura yang menghantam lantai kayu dengan penuh emosi. Ia langsung menuju meja pojok tempat Risa biasanya duduk memantau laporan keuangan kafe.
Tanpa menyapa, Naura membanting tas pastelnya ke atas meja, hingga beberapa pelanggan di meja sebelah menoleh kaget.
"Gila! Benar-benar gila!" Naura menggeram, lalu menjatuhkan dirinya ke kursi dengan kasar.
Risa yang sedang menyesap Americano-nya hampir tersedak. Ia menurunkan cangkirnya perlahan, menatap sahabatnya yang tampak seperti gunung berapi yang siap meletus kapan saja. Rambut Naura sedikit berantakan, dan yang paling mencolok adalah matanya yang berkilat penuh amarah yang jarang sekali ia tunjukkan di tempat umum.
"Oke... halo juga buat kamu, Naura," ucap Risa dengan nada tenang yang kontras. "Mau pesan minum dulu sebelum kamu meledakkan kafe aku?"
"Enggak perlu! Kasih gue air es segalon kalau bisa!" Naura menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada dengan sangat kencang. "Gue nggak habis pikir, Ris. Ada ya orang yang dikasih otak jenius tapi nggak punya nalar sama sekali? Dia itu definisi 'pengganggu' paling hakiki yang pernah diciptakan di muka bumi ini!"
Risa mengernyitkan kening. Ia menutup laptopnya, menyadari bahwa pekerjaan bisa menunggu, tapi drama Naura adalah prioritas keamanan kafenya saat ini.
"Arkan lagi?" tebak Risa singkat.
"Siapa lagi kalau bukan dia?! Gara-gara dia, target gue lepas! Padahal gue udah tinggal selangkah lagi buat dapet bukti siapa yang mainin bahan laboratorium di belakang sekolah. Gue udah di sana, gue udah liat pintunya kebuka, dan tiba-tiba..." Naura menjerit tertahan, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tiba-tiba dia muncul sambil nenteng-nenteng tas gue kayak orang ilang! Suara sepatunya itu, Ris... kalau gue bisa muter waktu, gue bakal lempar sepatu itu ke mukanya!"
Risa mencoba menahan senyum, meski ia tahu Naura sedang sangat serius. "Dia kan nggak tahu kalau kamu lagi 'investigasi', Ra. Mungkin dia beneran cuma mau balikin tas kamu."
"Itu dia masalahnya! Dia itu terlalu ikut campur! Sok peduli!" Naura memukul meja pelan. "Dan yang bikin gue makin kesel, dia tadi di kelas sok-sokan mau minta maaf pake kasih cokelat segala di depan pintu. Dia pikir gue anak SD yang bisa disogok pake Kit-Kat?!"
Risa mengangkat alis. "Tunggu, Arkan... si jenius yang sombong itu... ngasih kamu cokelat di depan kelas? Di depan anak-anak lain?"
Naura hanya mendengus keras sebagai jawaban.
Risa terdiam sejenak, mencoba mencerna situasi. Ia mengenal Naura sebagai orang yang sangat terencana dan penuh kontrol.
Baginya, kemarahan Naura kali ini bukan sekadar soal target yang hilang, tapi karena ada seseorang yang berhasil mengacak-acak ritme hidupnya.
"Ra," panggil Risa lembut, "Kamu marah karena rencana kamu gagal, atau kamu marah karena ternyata Arkan punya pengaruh sebesar itu buat bikin kamu kehilangan ketenangan kayak gini?"
Naura terdiam. Ia menatap Risa dengan tajam, namun kali ini ada sedikit keraguan di matanya. "Gue cuma benci kalau ada yang merusak rencana gue, Ris. Titik. Nggak ada alasan lain."
"Tapi sampai bawa-bawa emosi ke sini?" Risa menghela napas, lalu memanggil pelanggannya untuk membawakan Passion Fruit Tea dingin. "Minum ini. Dan tolong, berhenti cemberut. Pelanggan aku pikir aku lagi nindas karyawan kalau mukamu seseram itu."
Naura menerima minuman itu dengan kasar, namun segera meminumnya hingga separuh. Rasa dingin dan asam sedikit menurunkan suhu di kepalanya, meski di dalam hatinya, ia masih merutuki silet di dalam tisu yang kini entah ada di mana ia baru sadar tisu itu tertinggal di gudang.
"Tunggu," gumam Naura tiba-tiba, matanya membelalak. "Tisu gue..."
"Kenapa lagi?" tanya Risa bingung.
"Tisu yang isinya silet itu... kayaknya jatuh di depan gudang pas gue marah-marah tadi." Naura memijat pelipisnya. "Kalau Arkan nemuin itu..."
Risa hanya bisa menggelengkan kepala melihat kegaduhan pikiran sahabatnya. "Nah, itu baru alasan yang masuk akal buat panik. Sekarang pilihannya cuma dua kamu samperin dia buat ambil lagi, atau kamu berdoa dia cukup bodoh buat nggak nanyain itu."
"Dia Arkan, Ris," bisik Naura frustrasi. "Dia nggak pernah bodoh soal hal-hal kecil."