Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Suasana ruang ICU yang tadinya mencekam mendadak terasa dipenuhi harapan. Namira menahan napas, matanya tak lepas dari kelopak mata Ayyan yang bergerak-gerak gelisah. Genggaman tangan Namira semakin erat, seolah ia sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatannya ke dalam tubuh suaminya.
"Iya, Mas... ini aku. Namira di sini. Mas bangun ya?" bisik Namira tepat di telinga Ayyan, air matanya jatuh mengenai bantal rumah sakit.
Perlahan, sangat perlahan, mata Ayyan terbuka. Pandangannya masih kosong dan sayu, terhalang oleh rasa sakit yang luar biasa dan pengaruh obat bius yang masih tersisa. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya matanya fokus pada wajah sembab Namira.
Ayyan mencoba menggerakkan bibirnya yang kering. "Ka... mu... tidak... apa-apa?"
Suara itu sangat parau, hampir hilang ditelan bunyi mesin pendeteksi jantung, tapi bagi Namira, itu adalah suara terindah yang pernah ia dengar seumur hidupnya.
"Aku nggak apa-apa, Mas! Aku selamat karena Mas..." Namira terisak lagi, tapi kali ini isak tangis bahagia. "Harusnya Mas jangan pikirin aku, Mas harusnya selamatin diri sendiri juga!"
Ayyan tersenyum sangat tipis, nyaris tak terlihat di balik masker oksigennya. Tangannya yang lemah berusaha mengusap punggung tangan Namira.
"Tugas... imam... jaga... makmumnya," bisiknya terbata.
Namira tertawa kecil di tengah tangisnya. "Mas ini ya, lagi kritis pun masih sempet-sempetnya ceramah! Udah, Mas jangan banyak gerak dulu. Dokter bilang Mas harus istirahat."
Ayyan memejamkan mata sejenak, menahan rasa nyeri di dadanya, lalu kembali menatap Namira. "Jurumiyah... sudah... sampai mana?"
Namira tertegun, lalu ia menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya suaminya baru saja sadar dan hal pertama yang ditanyakan adalah hafalannya. "Mas! Mas beneran Gus Kulkas paling rajin sedunia ya! Baru bangun udah nanyain hafalan! Iya, Mas, aku udah hafal bab Af’al. Nanti kalau Mas udah pindah ke ruang biasa, aku setoran lima bab sekaligus!"
Mendengar itu, garis wajah Ayyan tampak lebih rileks. Ia merasa tenang mengetahui istrinya baik-baik saja dan masih menjadi Namira yang ia kenal—yang masih bisa protes dan berbicara tanpa henti.
Beberapa jam kemudian, kondisi Ayyan dinyatakan stabil dan ia dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Abah Kyai, Umi Fatimah, dan orang tua Namira berkumpul di sana dengan wajah penuh syukur.
Saat suasana mulai tenang, Bunda Namira mendekat ke arah tempat tidur Ayyan.
"Ayyan, terima kasih ya, Nak. Kamu sudah menjaga putri Bunda dengan nyawamu sendiri. Bunda tidak tahu harus bilang apa lagi."
Ayyan menggeleng pelan. "Namira itu amanah dari Allah untuk Ayyan, Bun. Sudah kewajiban Ayyan."
Tiba-tiba, ponsel Namira yang tergeletak di meja samping bergetar. Sebuah notifikasi pesan internasional muncul di layar. Nama pengirimnya membuat Namira tertegun: Randi (Mesir).
Namira ragu sejenak, namun akhirnya ia membuka pesan itu di depan Ayyan.
"Ra, aku dengar kabar kecelakaan itu dari berita. Aku benar-benar syok. Aku minta maaf atas semua kegaduhan yang pernah aku buat. Melihat apa yang Gus Ayyan lakukan untukmu, aku sadar... aku tidak akan pernah bisa mencintaimu sedalam itu. Cepat sembuh untuk Gus Ayyan. Salam dari Kairo."
Namira membacakan pesan itu pelan di depan suaminya. Ayyan mendengarkan dengan tenang, lalu menghela napas lega.
"Alhamdulillah... sepertinya dia benar-benar sudah menemukan jalannya di sana," ucap Ayyan tulus.
Namira meletakkan ponselnya, lalu duduk di kursi samping ranjang Ayyan. Ia mengambil sebuah jeruk dan mulai mengupasnya dengan serius.
"Mas, mulai sekarang, aku nggak mau Mas banting stir buat aku lagi ya. Kita harus sehat bareng, tua bareng, sampai lihat cucu kita hafal Alfiyah bareng," ucap Namira dengan nada yang kembali jenaka namun penuh penekanan.
Ayyan menatap istrinya dengan penuh kasih. "Insyaallah, Namira. Tapi sebagai gantinya, karena Mas sudah bangun..."
"Apa? Mau hadiah?"
"Iya. Hadiahnya... jangan panggil Mas 'Gus Kulkas' lagi di depan umum. Malu sama santri."
Namira nyengir lebar, lalu menyuapkan potongan jeruk ke mulut Ayyan. "Deal! Tapi kalau di rumah aja, aku panggil 'Gus Microwavenya Namira' boleh ya? Biar anget terus!"
Ayyan hanya bisa pasrah, membiarkan istrinya kembali menguasai suasana dengan keceriaannya yang selama ini sangat ia rindukan.
"Terserah ya? Kalau gitu Mas anggap ini lampu hijau buat bikin kamu makin sibuk di sini," gumam Ayyan dengan nada bercanda yang masih terdengar lemah.
Keesokan paginya, pemandangan di ruang VIP rumah sakit berubah menjadi arena "perjuangan" baru bagi Namira. Di depannya, tersedia semangkuk bubur putih rumah sakit yang tampak pucat dan tidak menggugah selera, didampingi sayur bening yang isinya hanya dua potong wortel kesepian.
"Ayo Mas, pesawatnya mau mendarat! Aaaaak..." Namira menyodorkan sendok dengan gerakan meliuk-liuk di udara, mencoba menghibur suaminya yang masih tampak kaku di atas ranjang.
Ayyan menatap sendok itu dengan dahi berkerut. "Namira, Mas ini cuma cedera rusuk, bukan anak TK. Mas bisa makan sendiri."
"Nggak boleh! Kata dokter Mas harus minim gerakan. Tangan Mas kan masih dipasang infus, nanti kalau bengkak gimana? Udah, cepetan buka mulutnya, mumpung buburnya belum jadi semen," paksa Namira dengan mata melotot yang dibuat-buat.
Ayyan akhirnya menyerah dan membuka mulutnya. Begitu bubur itu tertelan, wajahnya langsung berubah datar. "Rasanya... sangat jujur ya."
"Jujur gimana?"
"Jujur hambar. Seperti air yang dibekukan," keluh Ayyan.
Namira tertawa kecil. Ia kemudian merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi serbuk berwarna kemerahan. "Tenang! Istri Mas ini kan selalu sedia payung sebelum hujan. Ini dia... abon cabe level pedas nampol! Aku taburin dikit ya biar Mas semangat hidup lagi."
"Namira, jangan! Nanti kalau suster lihat, Mas bisa kena marah," cegah Ayyan, tapi terlambat. Namira sudah menaburkan sedikit abon itu di atas bubur putihnya.
Baru saja Ayyan hendak menyuap kembali, pintu kamar diketuk dengan keras.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum, Gus! Ning!"
Pintu terbuka dan rombongan santri senior dari Jawa Timur masuk dengan wajah penuh haru sekaligus antusias. Mereka membawa keranjang buah besar dan satu termos berisi—tentu saja—lodeh buatan Umi dari pesantren yang dibawa dengan perjalanan kereta api.
"Ya Allah, Gus! Kami khawatir banget pas denger kabar kecelakaan itu!" seru Kang santri sambil menyalami tangan Ayyan dengan takzim.
Namira segera menyembunyikan botol abon cabenya di balik punggung. "Eh, kalian sudah sampai? Wah, rame banget ya!"
"Iya Ning, ini titipan dari santri-santri di pondok. Mereka bikin khataman Al-Qur'an khusus buat kesembuhan Gus Ayyan," lapor salah satu santriwati sambil memberikan tumpukan surat doa dari para santri.
Melihat antusiasme dan ketulusan para santri, Ayyan tampak sangat tersentuh. Ia mencoba duduk sedikit lebih tegak meski harus meringis kecil. "Terima kasih semuanya. Maaf sudah membuat kalian khawatir. Berkat doa kalian, saya masih bisa melihat wajah Ning kalian yang bawel ini lagi."
Para santri tertawa kompak, sementara Namira hanya bisa mencibir pelan.
"Oh iya, Gus. Ada satu titipan lagi," Kang santri mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. "Ini dari ibu penjual seblak depan pondok. Katanya, dia sedih banget pas tahu pelanggan setianya kena musibah. Ini dikasih kerupuk seblak mentah dua kilo buat Ning Namira."
Namira langsung berteriak girang tanpa sadar.
"WAAAA! IBU SEBLAK MEMANG PENGERTIAN!"
Ayyan hanya bisa memejamkan mata sambil memijat keningnya. "Namira... kita masih di rumah sakit. Tolong simpan kerupuk itu sebelum baunya memenuhi ruangan ini."
Para santri yang melihat interaksi mereka merasa lega. Meskipun Gus mereka sedang terluka, dinamika "Kulkas dan Seblak" ini membuktikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Malam Harinya
Setelah para santri pulang, suasana kembali hening. Ayyan menatap Namira yang sedang tertidur di sofa kecil di samping ranjangnya, masih memeluk bungkusan kerupuk seblak dan mushaf kecil.
Ayyan tersenyum tipis. Ia merasa sangat beruntung. Kecelakaan itu memang menyakitkan, tapi itu memberinya kesempatan untuk melihat betapa besarnya cinta Namira di balik segala tingkah konyolnya.
"Terima kasih sudah bertahan di samping Mas, Namira," bisiknya pelan agar tidak membangunkan istrinya.
Tiba-tiba, mata Namira terbuka sedikit. "Sama-sama, Mas. Tapi besok jangan lupa ya, kalau udah boleh pulang, janji es krim yang kemarin belum lunas."
Ayyan tertawa kecil hingga rusuknya sedikit nyeri. "Ternyata kamu tidak benar-benar tidur ya?"
"Hehe, aku cuma nungguin Mas bilang makasih aja biar aku tidurnya nyenyak. Selamat tidur, Gus Sayang!"