"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 - Takut Gagal
Sudah sebulan berlalu sejak hari itu. Hidup Giselle berjalan dengan pola yang sama, berulang, dan melelahkan. Sekolah, belajar, tidur dengan kepala penuh, dan bangun dengan rasa takut yang tidak pernah hilang.
Sesekali, di sela-sela rutinitas itu, Giselle masih mencuri waktu. Pergi diam-diam bersama Libra. Tentu saja dengan bantuan Abram. Entah ke taman sebentar, atau sekadar membeli minuman lalu duduk di pinggir jalan sambil mengobrol ringan. Tidak lama. Tidak pernah lama. Hanya cukup untuk bernapas sejenak dari lelahnya aktivitas Giselle. Namun, sebagian besar waktunya tetap dihabiskan di kamar.
Beberapa minggu lagi, ujian kenaikan kelas akan dilaksanakan. Dan sejak saat itu, tekanan Atika semakin menjadi-jadi.
Giselle benar-benar dipaksa untuk belajar ekstra. Membaca buku lebih banyak dari biasanya. Menonton video penjelasan di YouTube sampai matanya perih. Sesekali belajar bersama Libra lewat panggilan video, walaupun sering kali pikirannya melayang ke mana-mana.
Libra selalu berusaha sabar. Menjelaskan ulang materi yang sama berkali-kali. Menunggu Giselle kembali fokus setiap kali gadis itu terdiam terlalu lama. Tapi tetap saja, rasanya sulit. Bukan karena Giselle tidak mau berusaha. Ia hanya terlalu lelah untuk terus dipaksa.
Malam-malamnya diisi dengan buku terbuka dan layar ponsel yang menyala. Namun, kepalanya terasa penuh. Bukan oleh rumus atau teori, melainkan oleh ketakutan yang terus berputar.
Ia takut gagal.
Ia takut mengulang cerita yang sama.
Ingatan itu kembali muncul. Kembali ke beberapa hari yang lalu. Saat ibunya menekan Gisella terus-menerus.
“Ibu gak mau kejadian tahun lalu keulang lagi.” Suara ibunya terdengar dingin, seperti biasa. Giselle menunduk, kedua tangannya saling menggenggam. Meja makan yang seharusnya penuh dengan canda tawa, kini terasa begitu mencekam, setidaknya itu yang Giselle rasakan.
“Nilai kamu itu malu-maluin, Giselle. Kamu pikir ibu gak capek ngadepin kamu?”
Giselle diam. Dadanya terasa sesak. Ia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa ia sudah berusaha. Tapi setiap kata terasa sia-sia.
“Kali ini kamu harus bisa. Ibu gak mau dengar alasan. Kamu harus belajar lebih keras. Jangan main. Jangan keluyuran gak jelas. Fokus sama sekolah.”
Nada suara Atika meninggi, tajam, dan menekan. Sama sekali tidak ingin dibantah.
“Tahun lalu aja kamu bikin ibu kecewa. Masa iya tahun ini mau ngulang lagi?”
Kalimat itu menghantam kepala Giselle begitu saja. Ia menelan ludah, matanya mulai panas.
“Ibu cuma mau kamu jadi anak yang bener,” lanjut Atika. “Bukan anak yang bikin orang tuanya malu.”
Giselle mengangguk pelan. Tidak berani membantah. Tidak berani menangis. Ia hanya diam di sana, merasa dirinya semakin kecil.
Giselle membuka mata. Ia masih duduk di depan meja belajarnya. Buku terbuka, video YouTube terhenti di tengah penjelasan. Tangannya sedikit bergetar. Ia mengusap wajahnya pelan. Menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia kembali menatap layar ponselnya. Wajah Libra muncul di sana, terlihat menunggu.
“Pen? Lo dengerin gak?” tanya Libra lembut.
“Iya,” jawab Giselle cepat, meskipun itu bohong. Ia ingin mengatakan bahwa ia lelah, ia takut. Ia belajar sekarang bukan lagi soal nilai, tapi soal bertahan. Namun, semua itu hanya ia simpan sendiri.
Giselle kembali menunduk, memaksakan diri membaca baris demi baris. Ia harus bisa. Ia tidak mau mengecewakan lagi. Ia tidak mau mendengar kalimat itu sekali lagi. Dan malam itu, di tengah sunyi kamarnya, Giselle belajar bukan karena ingin pintar, melainkan karena terlalu takut untuk gagal.
...***...
20 Januari 2026