sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 :
4 tahun lalu .
Dengan kegagalan ku pertahan di amok selama 20 menit, suka atau tidak, aku harus berangkat sekolah. Lantas bagaimana aku akhirnya bisa menjadi tukang pukul di keluarga tong ?
Kopong yang menjadi jalannya .
Setelah menyaksikan amok malam itu, esoknya kopong menemui tauke besar. Iya bilang tauke akan menyia-nyiakan bakatku jika hanya menyuruhku sekolah . Aku mengetahui pembicaraan mereka setelah luka-luka lebangku sedang diperiksa oleh dokter , terpisah satu daun pintu dari ruangan kerja tauke.
"biarkan aku yang memikirkan siapa harus jadi siapa di rumah ini, kopong. Itu bukan tugas kau." tauke berseru ketus kepada kopong.
Tapi kopong tidak menyerah , dia memberikan jalan tengah .
"tauke , aku minta maaf jika ini berbeda pendapat . Tapi anak itu menginginkan menjadi seperti basir, seperti pemuda-pemuda lain . Sepanjang siang , anak itu tetap akan sekolah , tauke . Malamnya biarkan aku yang mengajarinya menjadi tukang pukul . Kita buat perjanjian kepadanya . Jika nilai-nilainya bagus , dia boleh terus berlatih denganku . Itu akan membuatnya semangat sekolah , tidak merasa terpaksa ."
Tauke besar terdiam sebentar, menatap kopong.
"ini hanya usul sederhana, tauke. Aku harap tauke memikirkannya. Apapun keputusan tauke adalah perintah bagiku " kopong mengganggu , undur diri .
2 hari kemudian , pukul 07 , aku dijemput kopong di mes sayap kanan . Wajah sangarnya tetap saja terlihat sangar meski sedang tersenyum . Ia menepuk bahuku "kau sudah siap, Kenzy?"
Aku mengganggu . Aku sudah siap sejak tadi siang ketika pelayan memberitahu aku boleh berlatih bersama kopong . Malam itu , resmi sudah latihanku menjadi tukang pukul keluarga tong .
mengendarai sendiri mobil jeep , opong membawaku pergi ke lokasi amok . Aku segera tahu kalau bangunan dengan kontainer bertumpuk itu memang tempat berlatih para tukang pukul . Di pojok bangunan dengan luas ruangan 8 x 8 meter, terdapat banyak peralatan berlatih . Hampir setiap sore ruangan itu dipenuhi tukang pukul . Hingga gelap tiba mereka baru kembali ke benteng
Wajah sangar kopong terlihat semakin sangar saat dia mulai melatihku . Mengajakku berlatih di dalam ruangan . Di pantai dia menyalakan 2 api unggun kecil dari pelepah kering pohon nyiur dengan jarak 500 meter 1 sama lain . Kemudian dia menyuruhku lari bolak-balik dari dua titik ke api unggun itu .
2 jam berlalu , hanya itu yang kulakukan . Lari di atas pantai .
"lebih cepat, Kenzy!" kopong berseru setiap kali aku tiba di titik api unggun tempatnya berdiri . Bersidekap mengamatiku
Aku mengangguk , nafasku menderu
"lebih cepat Kenzy. Bahkan kerbau bisa menyusul lari kau" kopong membentuk gemas saat aku tiba lagi di titik api unggun tempatnya berdiri
Pakaianku basah kuyup oleh keringat . Entah sudah berapa kali aku bolak-balik lari , dan entah kapan latihan lari ini selesai . Setiap kali aku mempercepat langkah kakiku , kopong terus mendesakku lari lebih kencang . Kakiku mati rasa saat api unggun padam dengan sendirinya .
"Cukup latihan malam ini Kenzy" kopong berseru . Dia melangkah santai menuju mobil Jeep .
Aku tertunduk memegangi pinggang . Nafasku tersengal .
"pulang atau bermalam di pantai Kenzy? Aku tidak punya waktu menunggu ." kopong meneriaki ku dari kejauhan .
Aku mengangguk , bergegas menuju mobil .
Latihan lari ekstrem itu membuat kakiku melepuh . Aku tidak bisa memakai sepatuku Beberapa hari kemudian . Tapi latihan terus dilakukan , bahkan kopong menyuruhku lari tanpa alas kaki , selama berbulan-bulan hanya itu berlari dari satu titik api unggun ke api unggun lainnya hingga api unggun itu padam
jalan tinggal di rumah keluarga Tong aku mulai menyaksikan betapa mahalnya perebutan kekuasaan . Siang itu gerimis membungkus kota . Saat aku sedang Berlatih mengerjakan soal bersama Frans , terdengar seruan seruan dari parkiran depan bangunan utama . Aku meletakkan buku lalu beranjak ke depan , diikuti Frans . Saat pintu gerbang baja dibuka 6 mobil Jeep masuk . Halaman segera ramai oleh anggota keluarga
Cari mobil jeep diturunkan 8 tubuh orang yang telah membeku . Darah menggumpal di sekujur tubuh mereka . Pakaiannya robek dan compang-camping . 8 tukang pukul tewas diserang kelompok lain saat bertugas di pelabuhan
Sore itu juga 8 orang itu dikuburkan . Tauke besar memimpin sendiri penguburannya . Seluruh anggota keluarga hadir . Termasuk aku , melupakan pelajaran sekolah , segera mengikuti yang lain . Gerimis menderas, membuat basah seluruh tubuh. Wajah wajah suram menyiratkan kesedihan yang menggantung di lokasi pemakaman keluarga tong saat delapan tubuh kaku itu telah selesai dikuburkan.
"kita akan membalasnya!" tauke berseru, mengepalkan tangan ke udara.
Anggota keluarga yang lain berteriak semangat. "balas! Balas!"
"kematian mereka tidak akan sia sia. Mereka mati demi keluarga kita. Keluarga Thong!" suara tauke tercekat, tangannya kembali teracung.
"keluarga Thong! Hidup keluarga Thong" yang lain balas berteriak.
Ini adalah proses pemakaman pertama bagiku, untuk kemudian, berminggu-minggu lagi, aku mulai terbiasa menyaksikannya. Nisan nisan baru bermunculan. Selain dicatat dalam hati kami, nama mereka yang gugur juga dipahat di dinding pualam ruangan tauke besar, sebagai penghormatan.
Latihan malamku juga semakin sibuk , lebih panjang . Setelah berlari bolak-balik 20 kali titik api unggun selama 6 bulan , saat aku berpikir jangan-jangan kopong hendak melatiku menjadi atlet lari olimpiade , kopong akhirnya menambah jadwalku dengan pelajaran berkelahi . sesuatu yang sudah ku tunggu-tunggu . kopong ahli bertinju gaya ortodoks, kekuatan tangan kanannya mengagumkan. Tangan kanannya bisa memukul KO orang dengan tubuh lebih besar dari nya. dengan sarung tinju seadanya , aku mulai berlatih bersamanya hingga larut malam. Terjatuh di pasir, tersungkur berkali kali, kopong tidak pernah main-main menghadapiku. Dia memukulku sekuat tenaga
Kemudian kami akan menghabiskan waktu duduk di pinggir pantai , beristirahat sebentar sebelum kembali ke rumah .
Perbulan-bulan aku berlatih tinju dengan kopong , saat aku berhasil memukul dagunya dan membuat kopong terhentak ke belakang-hampir KO jika aku tidak menyambar tangannya , latihanku selesai
"kau tidak apa apa?" aku bertanya cemas
Kopong menggeleng, "aku baik baik saja. Itu pukulan yang bagus, Kenzy. Sama sekali tidak terduga. Sayangnya, itu berarti kau membutuhkan guru lain."
Saat aku bertanya tanya siapa guru baruku, seminggu kemudian di pinggir pantai hadir orang ketiga. Kopong memperkenalkannya. Namanya Bushi, aku harus memanggilnya dengan guru Bushi. Usianya lebih dari lima puluh tahun. Rambutnya beruban dan mengenakan pakaian tradisional berbentuk jubah dengan ikat pinggang lebar. Dua katana terselip di pinggangnya. Cahaya api unggun menimpa wajahnya yang masih nampak gagah. Dia jelas bukan orang negeri ini.
Aku membungkuk memberikan hormat. Sebagai balasan, guru Bushi melemparkan salah satu katana kepadaku. Aku terkesiap menerimanya. Aku sudah lama tidak memegang katana. Guru Bushi berseru menyuruhku bersiap. Belum habis kalimatnya, belum sempat aku memasang kuda-kuda, dia sudah menebaskan katananya ke depan. Tanpa ampun seolah kami bertarung sungguhan