Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Surabaya tidak pernah memberikan toleransi soal suhu udara. Pagi itu, SMK Pamasta sudah riuh oleh ratusan siswa baru yang mengenakan seragam SMP asal masing-masing—putih biru yang masih bersih untuk hari pertama MPLS.
Sarendra berdiri di barisan jurusan Akuntansi. Sesekali ia merapikan rambut belah tengahnya yang tertiup angin. Meskipun ia menyandang status sebagai lulusan berprestasi dengan segudang piala sejak SD maupun SMP, Rendra tetap merasa kecil. Bahunya secara refleks membungkuk, seolah ingin bersembunyi di balik tubuhnya sendiri. Ia mengenakan tas punggung hitam yang sudah mulai menipis warnanya—tas yang sudah menemaninya sejak kelas 7 demi menghemat pengeluaran keluarganya yang sedang sulit.
"Rendra! Gila, rapi banget lu. Rambut nggak boleh miring dikit apa?" celetuk Bagas, teman barunya yang berperawakan bongsor.
Rendra hanya tersenyum tipis. "Cuma biar enak dilihat aja, Gas."
Di sisi lain lapangan, barisan jurusan TKJ tampak lebih santai namun sibuk. Vema berdiri di sana. Rambut pendeknya yang rapi bergoyang tipis setiap kali ia menoleh, memberikan kesan gadis yang mandiri dan cekatan. Di tangannya, ia memegang buku sketsa kecil.
"Vem, please... bantuin gambar logo di papan namaku dong! Kamu kan the best kalau soal ginian," rengek salah satu siswi di sampingnya.
Vema sebenarnya ingin menolak. Semalam ia tidak bisa tidur karena suara ritual ibunya di ruang tengah yang penuh bau kemenyan, ditambah trauma dibentak mantan pacarnya yang membuatnya takut berkata 'tidak'.
"Eh... iya, sini aku buatin," jawab Vema pelan. Tangannya mulai menari di atas kardus papan nama temannya. Hanya dalam hitungan detik, sebuah gambar estetik terbentuk dari jemarinya yang berbakat.
"Wah! It's so beautiful! Thank you so much, Vema!" seru teman itu dalam bahasa Inggris.
Vema hanya membalas dengan senyum kecil. "You're welcome," jawabnya singkat dengan aksen yang sangat fasih.
Mata Rendra tidak sengaja menangkap sosok Vema dari kejauhan. Ia melihat bagaimana Vema dengan sabar membantu orang lain, meskipun tatapan mata gadis itu tampak menyimpan sesuatu yang berat. Rendra merasa ada sesuatu yang berbanding terbalik di antara mereka; ia yang berasal dari keluarga harmonis namun berjuang dengan ekonomi, dan gadis itu yang tampak berkecukupan namun seolah memikul beban dunia di bahunya.
"Semuanya, harap tenang! Barisan Akuntansi dan TKJ silakan bergabung untuk pengarahan!" suara kakak senior dari pengeras suara memecah lamunan Rendra.
Saat barisan mulai bergeser, Rendra Mengambil tepak alat tulis dari tasnya lalu Rendra dan Vema berpapasan. Jarak mereka hanya satu meter. Rendra terburu buru dan sangat grogi dan langsung berlari kearah barisannya. Rendra yang bungkuk mencoba menegakkan tubuhnya sedikit, namun justru malah tersandung kakinya sendiri karena gugup.
Brak!
Kotak pensil yang ia pegang jatuh, isinya berhamburan. Rendra langsung panik, wajahnya memerah sampai ke telinga.
"Eh, pelan-pelan..."
Sebuah tangan cekatan membantu memunguti pulpen-pulpen Rendra. Vema. Saat gadis itu mendekat dan menunduk sehingga rambut pendeknya menyampir di sisi wajah, aroma samar sabun bayi tercium oleh Rendra—wangi yang begitu tenang di tengah panasnya Surabaya.
"Ini," ucap Vema sambil menyerahkan pulpen terakhir. Matanya menatap nama di dada Rendra. "Sarendra, ya? Akuntansi? Pintar hitung-hitungan dong?"
Rendra hanya bisa mengangguk kaku sambil merapikan rambut belah tengahnya yang berantakan. "I-iya. Makasih ya, Vema."
Vema tersenyum—senyum tulus yang jarang ia perlihatkan di rumah. "Sama-sama. Don't be so nervous, Sarendra."
Pertemuan singkat di tanggal 14 Januari itu menjadi titik nol bagi Sarendra. Ia tidak tahu bahwa di balik senyum itu, Vema sedang berjuang melawan kegelapan keluarganya yang berbau hal ghaib. Dan Vema tidak tahu, bahwa cowok bungkuk yang ceroboh ini mungkin salah satu cahaya yang akan ia miliki di masa depan?.
ada apa dgn vema
lanjuuut...