NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 SWMU

Angin laut yang asin menerpa wajah Nadia, menerbangkan beberapa helai rambutnya. Di bawah sorot lampu mobil yang menyilaukan, bayangan Bramantya tampak memanjang, menelan sosok Adrian dan Yudhistira dalam kegelapan yang sama. Polisi memang sudah mengepung tempat itu, namun keberadaan mereka terasa semu di hadapan aura intimidasi yang dipancarkan oleh Bramantya.

Bramantya berjalan mendekat, setiap ketukan sepatunya di atas lantai beton gudang terdengar seperti lonceng kematian. Ia berhenti tepat di batas cahaya temaram, membuang cerutunya ke lantai dan menginjaknya hingga padam.

"Bram... kau tahu semuanya?" suara Nadia bergetar, namun ia tetap berdiri tegak, menolak untuk terlihat hancur di depan pria yang telah membelinya dengan mahar kemewahan.

Bramantya terkekeh, suara yang berat dan kering. "Nadia, sayangku. Kau pikir aku bisa membangun imperium ini dengan menjadi buta dan tuli? Aku tahu setiap napas yang kau ambil di rumah itu. Aku tahu setiap pesan yang kau kirim melalui ponsel murah itu."

Ia melirik ke arah Adrian yang kini tampak seperti harimau yang terpojok. "Dan adikku yang tercinta, Adrian. Kau terlalu terburu-buru. Kau menggunakan Nadia sebagai pion untuk mencuri dariku, tanpa menyadari bahwa akulah yang membiarkan pintu brankas itu sedikit terbuka."

Adrian mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Jika kau tahu, kenapa kau membiarkannya? Kenapa membiarkan aku membawa Nadia sejauh ini?"

"Karena aku ingin melihat sejauh mana kesetiaan istrimu bisa diuji," jawab Bramantya dingin. "Dan ternyata, dia lebih suka bermain detektif dengan saudaraku yang cacat mental ini," ia menunjuk Yudhistira dengan dagunya.

Yudhistira tertawa sinis, meski ia tampak kesakitan saat mencoba berdiri tegak. "Cacat mental? Aku hanya satu-satunya orang di keluarga ini yang masih punya nyali untuk mengatakan bahwa kau adalah monster, Bram! Kau membunuh Maya karena dia tahu Adrian mencuri darimu, dan kau membiarkan Adrian melakukannya agar kau punya alasan untuk melenyapkannya saat waktunya tepat. Kau menjebak kami semua!"

Nadia menoleh ke arah Yudhistira, lalu ke Adrian, dan terakhir ke suaminya. Kepalanya berdenyut hebat. Kebenaran di keluarga Mahendra bukan seperti bawang yang dikupas selapis demi selapis, melainkan seperti cermin yang pecah—setiap serpihannya tajam dan memantulkan wajah yang berbeda.

"Jadi, Maya..." Nadia berbisik, suaranya tercekat. "Siapa yang sebenarnya membunuhnya?"

Adrian diam. Yudhistira menunjuk Adrian. Namun Bramantya hanya tersenyum tipis.

"Siapa yang membunuhnya tidak lagi relevan, Nadia," ucap Bramantya. "Yang relevan adalah siapa yang akan memegang kendali atas narasi ini besok pagi di berita utama. Apakah ini akan menjadi kisah tentang seorang istri yang diculik oleh dua saudara suaminya yang gila harta, atau kisah tentang pengkhianatan massal yang berakhir dengan tragedi?"

Bramantya memberi isyarat kepada komandan polisi yang berdiri di luar garis kuning. "Komandan, silakan amankan adik-adik saya. Mereka tampaknya sedang mengalami delusi hebat akibat tekanan bisnis."

"Tunggu!" teriak Nadia. Ia melangkah ke depan, berdiri di antara ketiga pria itu. "Kau tidak bisa melakukan ini, Bram. Aku punya rekamannya. Semua pengakuan Adrian, semua ancamanmu... semuanya tersambung ke pusat data luar yang tidak bisa kau sentuh."

Bramantya menghentikan langkahnya. Matanya menyipit, menatap Nadia dengan intensitas yang baru. "Pusat data luar? Kau belajar banyak dari Adrian, rupanya."

"Aku belajar dari kalian semua," sahut Nadia, suaranya kini lebih stabil. "Aku belajar bahwa di dunia ini, cinta adalah fiksi dan kekuasaan adalah satu-satunya bahasa yang kalian pahami. Jika kau membiarkan Yudhistira dan Adrian pergi ke penjara dengan tuduhan palsumu, aku akan memastikan seluruh dunia tahu apa yang ada di dalam rekening rahasia yang disimpan Adrian untukmu."

Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Adrian menatap Nadia dengan pandangan tak percaya. Ia tidak menyangka wanita yang ia anggap naif itu bisa melakukan gertakan sebesar itu.

"Nadia, kau tidak tahu apa yang kau lakukan," bisik Adrian. "Jika kau membuka itu, kau juga akan terseret. Kau adalah istri sah Bramantya. Secara hukum, kau terlibat dalam setiap sen yang masuk ke rumah itu."

"Aku tidak peduli lagi soal penjara, Adrian," balas Nadia tanpa menoleh. "Aku lebih baik membusuk di sel daripada terus hidup di dalam istana kaca yang penuh dengan mayat."

Bramantya tertawa pelan, kali ini terdengar hampir seperti kekaguman yang tulus. "Luar biasa. Istriku ternyata punya taring."

Ia berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa inci. Bramantya mengangkat tangannya, membelai pipi Nadia dengan jari-jarinya yang kasar. Nadia tidak mundur, meski ia merasa mual.

"Tapi kau lupa satu hal, Sayang," bisik Bramantya di telinga Nadia. "Rekaman itu... hanya berguna jika kau punya waktu untuk mengunggahnya. Dan polisi-polisi di luar sana? Mereka tidak bekerja untuk negara. Mereka bekerja untukku."

Darah Nadia terasa membeku. Ia menatap ke arah kerumunan polisi di luar. Mereka berdiri diam, tidak melakukan pergerakan apa pun untuk meringkus Adrian atau Yudhistira. Mereka hanya menunggu perintah dari satu orang.

"Kau pikir kenapa aku datang sendirian dengan satu mobil?" Bramantya melanjutkan. "Karena aku tidak butuh bantuan untuk membereskan sampah di keluargaku sendiri."

Bramantya berbalik ke arah anak buah Adrian yang tadi menodongkan senjata. Dengan satu anggukan kecil dari Bramantya, kedua pria itu segera menurunkan senjata mereka dan membungkuk hormat kepada Bramantya.

Adrian terperangah. "Kalian... aku yang membayar kalian!"

"Uangmu berasal dari rekeningku, Adrian," sahut Bramantya datar. "Mereka tahu siapa tuan yang sebenarnya."

Bramantya kemudian menatap Yudhistira. "Dan kau, Yudhis. Kau ingin menjadi pahlawan bagi Maya? Maya sudah mati karena dia terlalu serakah. Dia mencoba memeras Adrian, dan Adrian yang panik melakukan apa yang seharusnya dilakukan terhadap parasit. Aku hanya merapikan jejaknya."

Yudhistira jatuh terduduk, matanya kosong. Harapan terakhirnya untuk menghancurkan Bramantya musnah seketika.

Nadia merasa seperti berada di tengah badai yang tidak memiliki jalan keluar. Ia melihat ke arah gerbang gudang. Cahaya lampu polisi masih berputar, namun kini terasa seperti lampu panggung untuk eksekusi mereka.

"Jadi, apa rencanamu sekarang, Bram?" tanya Nadia dengan nada pasrah yang getir. "Membunuh kami bertiga di sini?"

Bramantya menggeleng. "Tidak. Itu terlalu berisik. Dan aku masih membutuhkanmu, Nadia. Kau adalah wajah dari yayasan kemanusiaan Mahendra. Citramu terlalu berharga untuk dibuang."

Ia mengulurkan tangannya kepada Nadia. "Ikutlah pulang. Kita akan melupakan malam ini. Adrian akan pergi ke luar negeri untuk 'mengelola cabang baru' yang tidak akan pernah ada, dan Yudhistira... dia akan kembali ke rehabilitasi tempat dia seharusnya berada."

Nadia menatap tangan suaminya. Tangan yang memberikan perhiasan mahal, tangan yang menandatangani kontrak jutaan dolar, dan tangan yang mungkin saja telah mencekik kebenaran selama bertahun-tahun.

Lalu ia menatap Adrian. Pria itu menatapnya dengan pandangan memohon, seolah-olah Nadia adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra. Dan Yudhistira, yang kini tampak seperti rongsokan manusia.

"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Nadia.

Bramantya tersenyum, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya. "Kau tidak akan menolak, Nadia. Karena jika kau menolak, aku akan memastikan Bi Inah dan keluarganya di desa mengalami... kesulitan yang tidak diinginkan. Kau sangat menyayangi wanita tua itu, bukan?"

Nadia memejamkan matanya. Kekejaman Bramantya tidak mengenal batas. Pria ini tahu persis di mana titik terlemahnya. Bukan uang, bukan nyawanya sendiri, tapi orang-orang tak berdosa yang terjebak dalam pusaran konflik ini.

"Kau monster," bisik Nadia.

"Aku adalah realitas yang harus kau hadapi," balas Bramantya.

Nadia menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya di tengah kekacauan ini. Ia menyadari bahwa untuk mengalahkan monster, ia tidak bisa melakukannya dengan cara yang bersih. Ia harus merayap di dalam lumpur yang sama.

"Baiklah," ucap Nadia akhirnya. Ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Bramantya. "Aku akan ikut pulang."

Adrian berteriak, mencoba menerjang Bramantya, namun anak buahnya segera meringkusnya dengan kasar dan menyeretnya keluar dari gudang. Yudhistira hanya bisa menangis dalam diam saat ia pun dibawa pergi.

Bramantya menuntun Nadia menuju mobilnya. Saat mereka berjalan melewati garis polisi, para petugas itu hanya memberikan hormat, seolah-olah tidak ada hal luar biasa yang baru saja terjadi.

Di dalam mobil yang kedap suara, suasana terasa sangat dingin. Bramantya menuangkan minuman ke dalam gelas kristal dan menyerahkannya kepada Nadia.

"Kau melakukan hal yang benar, Nadia," ucapnya sambil menyesap minumannya. "Besok, kau akan tampil di gala dinner bersamaku. Kau akan memakai gaun merah itu, dan kau akan tersenyum seolah-olah kau adalah wanita paling bahagia di dunia."

Nadia menerima gelas itu, namun ia tidak meminumnya. Ia menatap ke luar jendela, melihat pelabuhan yang semakin menjauh. Di dalam benaknya, ia mulai menyusun rencana baru. Sebuah rencana yang tidak melibatkan Adrian atau Yudhistira.

Jika kau ingin menghancurkan Mahendra, pikir Nadia, kau tidak bisa melakukannya dari luar. Kau harus menjadi jantungnya, lalu berhenti berdetak di saat yang paling kritis.

"Bram," panggil Nadia pelan.

"Ya, Sayang?"

"Boleh aku meminta satu hal?"

Bramantya menoleh, tampak sedikit terkejut dengan nada suaranya yang tenang. "Apa pun untukmu."

"Aku ingin akses penuh ke arsip digital lama perusahaan. Aku ingin belajar lebih banyak tentang bagaimana kau membangun semua ini. Jika aku harus menjadi istrimu yang sempurna, aku harus mengerti duniamu."

Bramantya menatapnya lama, mencoba mencari tipu muslihat di mata Nadia. Namun Nadia telah belajar cara memakai topeng yang sempurna—topeng yang ia pelajari dari Adrian dan Bramantya sendiri.

"Tentu," ucap Bramantya akhirnya. "Aku akan memberikan kodenya besok pagi. Senang melihatmu akhirnya dewasa, Nadia."

Nadia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung racun yang belum terdeteksi. Ia tahu bahwa ia baru saja memasuki babak paling berbahaya dalam hidupnya. Ia bukan lagi pion, bukan lagi Ratu yang lari ketakutan.

Ia adalah pemain yang baru saja memulai langkah pertamanya.

Malam itu, saat mereka sampai di mansion, Nadia berjalan melewati lorong-lorong megah yang kini terasa seperti koridor penjara. Ia masuk ke kamarnya, melepaskan jaket kulitnya, dan menatap pantulan dirinya di cermin.

Gaun merah darah itu sudah tergantung di sana, menunggunya untuk besok malam.

Nadia menyentuh kalung berlian yang masih melingkar di lehernya. Ia teringat kata-kata Yudhistira: Maya sudah damai.

"Aku akan mencari tahu di mana mereka menguburmu, Maya," bisik Nadia pada bayangannya sendiri. "Dan aku berjanji, mereka tidak akan pernah damai setelah aku selesai dengan mereka."

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja rias. Bukan ponsel rahasianya, tapi ponsel resminya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

“Pilihan yang bagus, Ratu. Tetaplah dekat dengannya. Kunci brankas yang sesungguhnya ada di balik lukisan ibunya di ruang kerja. Jangan cari aku, aku yang akan mencarimu. - Y”

Nadia segera menghapus pesan itu.

1
Nisa Fatimah
penuh teka teki...🧐🤨💪💪
MomSaa: 🤭Biar greget
total 1 replies
Nisa Fatimah
ngeri2 sedap kak 👍🥲
MomSaa: Hihi iya🤭
total 1 replies
Nisa Fatimah
semangat kk 💪💪💪
MomSaa: Siap kak😍
total 1 replies
Nisa Fatimah
baru hadir ni kak...💪💪💪
itsmeiblova
good
Midah Zaenudien
aku binggung blum ketemu alur x
Han*_sal
seru uuuuu ini
Han*_sal
lanjut
MomSaa: Siap kak
total 1 replies
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!