Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Apartement di Milan
Di kabin helikopter yang sempit, Bianca mulai melancarkan godaannya dengan berpindah ke pangkuan Simon. Jemari merayap nakal, menyusuri kancing kemeja pria itu.
"Kau sepertinya kegerahan, biar kulonggorkan sedikit dasimu," bisik Bianca. Ia mendaratkan kecupan lembut di ceruk leher Simon, membuat pria itu mengerang tertahan. Kegelisahan Simon memuncak saat tangan Bianca mulai beralih berani ke pangkal pahanya.
"Kita akan sampai dalam empat puluh menit," suaranya parau, berusaha menjaga sisa kewarasannya. "Sebaiknya kita nikmati pemandangan Roma dari ketinggian ini sebelum kau benar-benar menghancurkan pertahananku, Bianca."
"Aku sudah tidak sabar lagi, Daddy," bisik Bianca seraya menarik telapak tangan besar Simon ke pinggangnya. Ia terus menghujani pipi Simon dengan kecupan, hingga akhirnya Simon tak tahan lagi. Pria itu menangkap bibir Bianca, membalas tautan itu dengan lumatan yang menuntut.
Satu jam kemudian, helikopter mendarat di atas tebing Isola del Giglio. Namun, gairah yang sudah tersulut di ketinggian tak lagi bisa dibendung. Begitu pintu vila terbuka, Simon langsung menyudutkan Bianca ke dinding marmer. Mereka tak sempat lagi mencapai ranjang; keduanya telah mabuk, tenggelam dalam badai gairah yang panas di bawah temaram lampu aula, membiarkan pakaian mereka berserakan di lantai tanpa memedulikan apa pun lagi.
"Lebih cepat dan dalam, Daddy," titah Bianca seraya menumpukan sikunya di atas meja kayu yang dingin. Simon menghantamnya dari belakang dengan tempo yang kuat dan bertenaga.
"Ini hukuman untuk gadis nakal yang berani kabur dariku, Bianca," geram Simon. Tangan besarnya mencengkeram erat pinggang ramping Bianca, memacu ritme yang memburu tanpa ampun.
Bianca terengah dengan napas menderu, rambut pirang yang semula tertata rapi kini berantakan total. Pipinya merah padam oleh rona gairah. "Aku suka hukumanmu, Daddy."
Simon berbisik parau tepat di telinga Bianca, "Nikmati setiap sentuhanku, Sayang. Aku akan memastikan kau tidak akan bisa berjalan lurus besok pagi setelah kuhabiskan seluruh isimu malam ini."
Saat Bianca mencapai puncak, tubuhnya bergetar hebat di atas tumpuan meja. Otot-otot kakinya seketika melumpuh, nyaris tak mampu lagi menopang berat badannya sendiri hingga ia hampir terjatuh.
"Simon... aku tak kuat berdiri lagi," rintihnya dengan suara parau yang nyaris habis.
Simon menyeringai puas melihat kehancuran manis di depannya. Tanpa melepaskan tautan mereka sepenuhnya, ia menyambar pinggang Bianca dan mengangkat tubuh gadis itu dengan satu sentakan mudah. Ia membopongnya menuju ranjang king-size di tengah ruangan, seolah Bianca tak lebih berat dari sehelai bulu.
"Permainan baru saja dimulai, Bianca. Aku belum mengizinkanmu istirahat," bisik Simon seraya menjatuhkan tubuh Bianca ke tumpukan bantal empuk, sebelum kembali mengurungnya dengan dominasi yang tak tertandingi.
Setelah badai gairah itu mereda, Simon menarik Bianca ke dalam pelukannya, membiarkan kulit mereka bersentuhan di balik selimut sutra. Napas mereka masih menyisakan sisa-sisa kelelahan yang nikmat.
"Kau benar-benar monster, Simon," bisik Bianca, menyandarkan kepalanya di dada bidang Simon yang masih hangat.
Simon terkekeh, jemarinya membelai bahu Bianca yang polos. "Aku sudah memperingatkanmu, bukan? Kau yang memilih untuk memancing sang predator."
Pria itu kemudian meraih sebuah kotak beludru hitam dari laci nakas dan meletakkannya di telapak tangan Bianca. Di dalamnya, melingkar sebuah kunci dengan gantungan emas bertuliskan sebuah alamat di pusat kota Milan.
"Apartemen di Quadrilatero della Moda," ujar Simon lugas. "Dekat dengan butik-butik yang kau sukai. Itu milikmu sekarang, lengkap dengan akses tanpa batas ke layanan pramutamu pribadiku."
Bianca menatap kunci itu, matanya berkilat. "Hadiah yang sangat mahal untuk satu malam."
Simon mengecup keningnya dengan posesif. "Itu bukan sekadar hadiah. Itu tanda kau milikku secara mutlak sekarang. Aku tidak suka berbagi, Bianca. Ingat itu baik-baik."
Bianca menatap kunci emas itu dengan bimbang, mengalihkan pandangannya ke cermin besar di meja rias. Di sana, ia seolah melihat bayangan Lora yang memberikan isyarat tetap tenang.
"Tapi aku harus kembali ke Paris, Simon. Aku tidak bisa selamanya di Italia," jawab Bianca, suaranya menyiratkan keresahan. Ia merasakan niat posesif Simon yang ingin mengurungnya dalam sangkar emas, sementara hasratnya untuk menjelajahi dunia masih membara.
Simon menarik dagu Bianca, memaksanya menatap mata sehitam jelaga itu. "Paris hanya satu jam dengan jetku, Bianca. Apartemen itu adalah markasmu di Italia, bukan penjara. Aku memberimu kunci untuk datang padaku, bukan borgol untuk menghentikan langkahmu."
Pria itu mengecup pundak Bianca yang terbuka. "Berkelilinglah dunia sesukamu, habiskan uangku di mana pun kau mau. Namun, pastikan setiap kali kau merindukan tempat untuk pulang, hanya aku yang ada di pikiranmu. Kau bebas, tapi kau milikku. Paham?"
Di dalam cermin, Lora tampak menyeringai licik—satu lagi pria perkasa telah bertekuk lutut di bawah kendali mereka.
"Kau bebas? Maksudmu.. kita menerapkan open relationship, kita bisa dengan yang lain... tapi aku bingung, katamu kau tak suka berbagi." Bianca mengoreksi ucapan Simon agar diperjelas kembali rule itu.
Simon tertawa rendah, namun terdengar berbahaya juga memikat. Ia menarik Bianca lebih rapat ke pelukannya, hingga tak ada sisa.
"Jangan salah paham, cara mia," peringat Simon dengan nada posesif "Maksudku, kau bebas pergi ke mana pun di dunia ini, tapi kau hanya boleh disentuh olehku. Aku tidak berbagi tubuhmu, tidak juga hatimu."
Ia mengusap bibir Bianca dengan ibu jarinya. "Sedangkan untukku? Aku sudah menemukan apa yang kucari. Selama kau bisa memuaskanku seperti malam ini, aku tidak punya alasan untuk melirik yang lain. Ini bukan open relationship. Ini adalah kepemilikan mutlak."
Bianca melirik ke arah cermin meja rias, di mana bayangan Lora tampak mengamati dengan tatapan tajam.
"Jadi aku bebas berkeliling dunia, tapi aku harus selalu kembali padamu?" tanya Bianca menantang.
"Tepat. Kau bisa pergi ke ujung bumi sekalipun, tapi jet pribadiku akan selalu siap menjemputmu untuk membawamu kembali ke ranjangku," jawab Simon seraya memberikan ciuman menuntut di leher Bianca.
Tiba-tiba rasa kantuk menyerangnya, entah karena pengaruh lelah atau karena sihir Lora.
"Aku lelah, Bianca. Aku ingin tidur sekarang. Besok pagi, kita akan berenang telanjang," gumam Simon sebelum terlelqp
Di pantulan cermin meja rias, Lora muncul. Ia menggerakkan tangannya, melepaskan sihir halus yang membuat Simon seketika terlelap sangat dalam.
"Cepat tinggalkan dia. Kita bicara di kamar sebelah, sekarang" perintah Lora tanpa suara, namun bergema jelas di kepala Bianca, Bianca pun mengangguk patuh.
Bianca perlahan melepaskan diri dari dekapan Simon. Tanpa menimbulkan suara, ia menyambar jubah sutranya dan melangkah keluar menuju ruangan sebelah, meninggalkan Simon yang sudah tak sadarkan diri mungkin karena pengaruh Lora.
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?