Genre: Dark Romance • CEO • Nikah Paksa • Obsesi • Balas Dendam
Tag: possessive, toxic love, kontrak nikah, rahasia masa lalu, hamil kontrak
“Kamu bukan istriku,” katanya dingin.
“Kamu adalah milikku.”
Nayla terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Alveron — CEO muda yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Awalnya, Nayla mengira kontrak itu hanya demi kepentingan bisnis.
Tiga bulan menjadi istri palsu.
Tiga bulan hidup di rumah mewah.
Tiga bulan berpura-pura mencintai pria yang tidak ia kenal.
Namun semuanya berubah saat Arka mulai menunjukkan sisi yang membuat Nayla ketakutan.
Ia mengontrol.
Ia posesif.
Ia memperlakukan Nayla bukan sebagai istri —
melainkan sebagai miliknya.
Dan saat Nayla mulai jatuh cinta, ia baru menyadari satu hal:
Kontrak itu bukan untuk membebaskannya.
Kontrak itu dibuat agar Nayla tidak bisa kabur.
Karena Arka tidak sedang mencari istri.
Ia sedang mengurung obsesinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jensoni Ardiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Masih Mengintai
Pagi datang tanpa cahaya yang hangat.
Nayla berdiri di depan jendela apartemennya, memandangi jalan yang mulai ramai. Ia tahu — setelah pesan Arka tadi malam, hari ini bukan hari biasa. Ada sesuatu yang bergeser. Sesuatu yang mulai bergerak.
Ia membuka ponselnya. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan.
Itu justru yang paling mengganggu.
Arka bukan tipe yang diam tanpa tujuan.
Ia mandi lebih lama dari biasanya, memilih pakaian sederhana, lalu memasukkan flashdisk Mira ke dalam saku terdalam tasnya. Hari ini ia punya janji dengan seorang konsultan hukum independen — langkah kecil, tapi cukup untuk mengubah banyak hal.
Namun sebelum ia sempat melangkah keluar, bel apartemennya berbunyi.
Satu kali.
Pelan.
Terkontrol.
Nayla menahan napas.
Ia mengintip melalui lubang pintu.
Bukan Arka.
Seorang pria muda berdiri di sana, mengenakan jaket kurir. Helm tergantung di lengan.
Ia membuka pintu setengah.
“Ada paket untuk Nayla,” katanya.
Ia menandatangani penerimaan. Kotaknya kecil. Ringan.
Saat pintu tertutup kembali, Nayla menatap kotak itu beberapa detik sebelum membukanya.
Di dalamnya hanya ada satu benda.
Sebuah ponsel lama.
Tidak ada kartu ucapan.
Tidak ada logo pengirim.
Tapi ketika ia menyalakannya, layar menyala otomatis — dan satu pesan sudah terbuka.
Gunakan ponsel ini untuk urusan yang ingin kamu sembunyikan.
Aku lebih suka kamu aman…
daripada kamu berpikir kamu aman.
Tidak ada nama.
Tapi Nayla tahu.
Ini bukan hadiah.
Ini pagar tak kasatmata.
Ia menutup ponsel itu perlahan.
Di tempat lain, Raka menerima laporan pagi dari tim kecilnya.
“Nayla sudah mulai kontak saksi. Kita deteksi satu jalur baru komunikasi,” lapor seorang teknisi.
“Siapa yang bikin jalur itu?” tanya Raka.
“Bukan kita. Bukan juga platform umum.”
Raka menatap layar.
“Arka,” gumamnya.
Ia berdiri.
“Dia sedang bikin kandang baru.”
Nayla keluar apartemen satu jam kemudian. Ia memilih rute berbeda dari biasanya. Di setiap kaca gedung, ia melihat bayangannya sendiri — dan mulai bertanya, berapa banyak dari langkahnya yang benar-benar miliknya?
Di lobi, seorang satpam menyapanya terlalu ramah.
“Pagi, Bu Nayla. Bapak Arka titip pesan. Katanya, hati-hati di jalan.”
Jantung Nayla berdegup lebih keras.
Ia mengangguk dan melangkah pergi.
Di luar, kota terasa sama — tapi baginya, udara terasa lebih berat.
Ia menggenggam tasnya.
Flashdisk itu masih ada di sana.
Dan untuk pertama kalinya, Nayla benar-benar menyadari:
Arka tidak lagi hanya mengawasi.
Ia sedang membangun sangkar baru.
Dan sangkar itu…
tidak terlihat.
Kedai kopi tempat Nayla janjian dengan konsultan hukum berada di lantai dua sebuah ruko tua. Tangga sempitnya berderit tiap kali diinjak, seolah mengingatkan bahwa tempat ini sudah berdiri jauh sebelum Ark Group menjadi raksasa.
Nayla memilih duduk di dekat jendela kecil yang menghadap ke gang. Dari sana ia bisa melihat siapa pun yang naik ke lantai dua. Ia membuka tasnya sedikit, memastikan flashdisk itu masih ada, lalu menutupnya kembali.
Sepuluh menit berlalu.
Dua puluh.
Seorang pria paruh baya akhirnya muncul di puncak tangga. Rambutnya beruban, kemejanya rapi, matanya tajam tapi tidak mengintimidasi.
“Kamu Nayla?” tanyanya pelan.
“Iya.”
“Saya Adrian. Kita tidak punya banyak waktu.”
Ia duduk, membuka map tipis, lalu meletakkannya terbalik di meja — gestur kecil yang menunjukkan kehati-hatian.
“Kamu paham risikonya?” tanya Adrian. “Kalau kamu bergerak sebagai pusat saksi, kamu bukan lagi sekadar korban. Kamu target.”
Nayla menelan ludah. “Saya sudah siap.”
Adrian menatapnya lama, lalu mengangguk.
“Kita mulai dengan satu hal: tempat aman. Bukan fisik dulu — tapi digital. Kalau mereka bisa membaca ponselmu, emailmu, bahkan rutinitasmu, kamu buta.”
Ia menyodorkan secarik kertas berisi beberapa langkah awal.
“Sederhana, tapi penting. Kamu akan buat identitas digital baru. Nomor baru. Email baru. Dan kita pakai penyimpanan terenkripsi.”
Nayla menatap kertas itu.
“Kalau Ark Group tahu?” tanyanya.
“Mereka pasti tahu kamu bergerak,” jawab Adrian. “Tapi mereka tidak boleh tahu ke mana kamu bergerak.”
Sementara itu, di kantor pusat Ark Group, Arka berdiri di ruang rapat yang kosong. Di dinding besar terpampang peta kota dengan beberapa titik merah kecil.
“Ini rute Nayla hari ini,” lapor seorang staf.
Arka mengangguk pelan. “Dan titik ini?”
“Kedai kopi lantai dua, ruko tua.”
Arka tersenyum tipis.
“Dia mulai cari udara,” katanya pelan. “Itu bagus.”
“Perlu kita hentikan?” tanya staf itu ragu.
Arka menggeleng. “Tidak. Biarkan dia merasa ada jarak. Jarak membuat orang ceroboh.”
Ia berbalik.
“Dan ceroboh selalu membuka pintu.”
Sore hari, Nayla keluar dari kedai dengan langkah lebih cepat. Ia merasakan ada sesuatu yang berubah — bukan di sekelilingnya, tapi di dalam dirinya. Ia tidak lagi hanya bereaksi. Ia mulai merencanakan.
Namun saat ia menunggu lampu merah di perempatan, sebuah mobil hitam berhenti terlalu dekat di belakangnya.
Mesinnya tetap menyala.
Nayla tidak menoleh.
Ia tidak perlu.
Ia sudah tahu siapa yang sedang menandai jalannya.
Dan ia juga tahu:
permainan ini baru saja naik level.
Lampu lalu lintas akhirnya berubah hijau. Nayla melangkah menyeberang dengan langkah terukur, berusaha menahan dorongan untuk menoleh ke belakang. Ia tidak ingin memberi siapa pun kepuasan itu. Angin sore membawa debu tipis, dan klakson terdengar samar, seolah kota tetap berjalan seperti biasa, tak peduli ada perang sunyi yang sedang dimulai di dalam dirinya.
Ia sampai di halte kecil di seberang jalan. Beberapa orang berdiri menunggu, kebanyakan sibuk dengan ponsel mereka. Nayla berdiri di sisi paling luar, memilih posisi yang memberinya ruang. Mobil hitam itu masih ada di sana, sedikit menjauh, tapi cukup dekat untuk terasa.
Ia merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel lama—yang dikirimkan tanpa nama tadi pagi. Ia menyalakannya lagi, menatap layar yang bersih, lalu memasukkan kartu SIM baru yang baru saja ia beli di minimarket.
Sinyal muncul.
Tidak ada pesan. Tidak ada notifikasi.
Ia membuka catatan dan menulis satu kalimat:
“Ini nomor baru. Pakai hanya untuk urusan penting.”
Ia menutup catatan itu, menyimpannya, lalu mematikan ponsel tersebut. Ia tidak akan menggunakannya sembarangan. Bukan karena takut—tapi karena ia mulai mengerti bahwa disiplin adalah satu-satunya senjata yang ia miliki.
Bus datang. Nayla naik, memilih kursi dekat jendela. Dari balik kaca, ia melihat mobil hitam itu berbelok di persimpangan, tidak mengikuti rutenya. Jantungnya berdetak sedikit lebih pelan, meski pikirannya tetap waspada.
Di dalam bus, Nayla memejamkan mata sebentar. Ia mengingat suara Mira, tangan yang gemetar saat menyerahkan flashdisk, dan kalimat Adrian tentang identitas digital baru. Semua itu terasa nyata, berat, tapi juga… memberi arah.
Ia tidak lagi bergerak tanpa peta.
Sore menjelang malam ketika Nayla sampai di apartemennya. Ia masuk, mengunci pintu dua kali, lalu duduk di lantai ruang tamu. Ia membuka laptop, menyambungkannya ke penyimpanan terenkripsi yang direkomendasikan Adrian, dan mulai memindahkan catatan-catatan penting.
Folder baru ia buat:
SAFEHOUSE_01
Di dalamnya, ia menyusun daftar:
Protokol komunikasi
Daftar saksi potensial
Jadwal pertemuan aman
Catatan hukum awal
Ia berhenti sejenak, menatap nama folder itu. Tempat aman pertama. Bukan bangunan, bukan ruangan—tapi sebuah pusat kecil yang kelak bisa menjadi pelindung bagi banyak orang.
Ponsel utamanya bergetar.
Satu pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Kamu mulai rapi sekarang.
Itu bagus.
Orang yang rapi… biasanya juga sedang bersiap pergi.
Nayla menatap layar, jari-jarinya menegang.
Ia tidak membalas.
Ia hanya mengunci ponselnya, lalu kembali menatap layar laptop.
Di luar, lampu kota mulai menyala satu per satu.
Dan di dalam apartemen yang hening itu, Nayla menyadari:
Ia tidak lagi hanya menunggu badai.
Ia sedang membangun tempat berlindung sebelum badai datang.