NovelToon NovelToon
Dikejar Mantan Suami Kaya Raya

Dikejar Mantan Suami Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: dewisusanti

Caroline Watson mengorbankan seluruh masa mudanya demi pria yang ia cintai. Ia setia berdiri di sisi suaminya, menyingkirkan impian pribadinya sendiri. Namun pada akhirnya, pria itu justru menceraikannya dengan alasan yang kejam—Caroline tidak mampu memberinya seorang pewaris. Keputusan itu meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dengan hati hancur, Caroline memilih menghilang dari hidupnya.

Lima tahun kemudian, ia kembali menginjakkan kaki di negeri itu, ditemani seorang bocah laki-laki kecil dengan wajah polos yang menawan.

Kehidupan barunya yang selama ini tenang mulai terguncang ketika mantan suaminya mengetahui kebenaran—bahwa Caroline telah melahirkan seorang putra. Seorang anak yang memiliki darahnya.

Namun kali ini, Caroline bukan lagi perempuan lemah yang dulu pernah ia tinggalkan. Ia telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih kuat dan tak mudah disentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERCERAI

Matahari baru saja tenggelam di balik cakrawala ketika sebuah Maybach melaju kencang menuju kawasan bisnis Teracity di tengah hujan deras.

Anehnya, jalan utama tampak tidak terlalu ramai saat mobil itu mendekati Golden Restaurant.

Di kursi penumpang, seorang wanita berusia pertengahan dua puluhan tak bisa menyembunyikan senyumnya saat membaca pesan singkat dari suaminya. Betapa bahagianya dia; ini adalah pertama kalinya sang suami mengajaknya bertemu di restoran untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka.

Terlalu asyik dengan ponselnya, ia tidak menyadari bahwa mobil sudah berhenti.

“Nyonya...”

Wanita itu tersentak ketika melihat sopir membuka pintu mobil. Dengan tergesa, ia meraih tas Birkin miliknya dan turun dari mobil.

“Kau bisa pulang. Aku akan kembali bersama suamiku,” katanya pada sang sopir sebelum melangkah menuju gedung.

Dipenuhi kebahagiaan, ia berjalan menuju ruang VIP. Namun, kebahagiaan yang ia harapkan seketika berubah menjadi mimpi buruk saat ia memasuki ruangan itu.

Alih-alih suaminya, yang ia temukan justru seorang pria paruh baya yang duduk di dalam ruangan, mengenakan setelan formal—jas hitam yang biasa dipakai para eksekutif perusahaan besar.

“Apakah aku salah masuk ruangan?” suara lembut wanita itu terdengar saat ia memeriksa nomor pintu.

“Nyonya Caroline Watson, Anda berada di ruangan yang benar. Silakan masuk dan duduk,” kata pria paruh baya itu sambil berdiri.

Ia terkejut melihat wanita cantik yang pernah ia temui empat tahun lalu kini telah menjadi seorang ibu rumah tangga biasa. Berat badannya bertambah dan ia tampak tidak lagi terlalu memperhatikan penampilan, meski kecantikannya yang sempurna masih tetap ada.

“Nyonya Watson, silakan masuk—” pria paruh baya itu memberi isyarat agar Caroline bergabung dengannya di dalam ruangan.

Caroline tidak bergerak dari tempatnya. Ia enggan masuk karena tidak mengingat pernah bertemu orang ini, dan ia takut pria tersebut adalah orang jahat yang ingin menipunya.

Namun, satu pertanyaan lain mengganggu pikirannya.

Sejak menikah, Caroline hampir tidak pernah mendengar siapa pun memanggilnya dengan nama lengkapnya; mereka biasanya memanggilnya dengan nama keluarga suaminya.

Caroline tampak cemas. “Tuan, bolehkah aku tahu siapa kau?”

“Nyonya Watson, maaf aku lupa memperkenalkan diri. Aku Matt Graver, pengacara Tuan William Silverstone,” katanya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

Caroline dengan canggung menerima jabat tangannya, bingung mengapa William justru mengirim pengacaranya untuk menemuinya.

Meski kebingungan, Caroline duduk berhadapan dengan Matt Graver dan memperhatikannya meletakkan selembar kertas A4 di atas meja.

Saat membaca isinya, keterkejutan menghantamnya—itu adalah surat pembatalan pernikahan. Ia kebingungan, mengapa pria ini memberinya surat seperti ini!?

Bahkan setelah membacanya berulang kali, berharap ia salah paham, suara Matt menegaskan ketakutan terburuknya.

“Nyonya Watson, surat pembatalan pernikahan ini disiapkan oleh klienku, Tuan William Silverstone. Silahkan tanda tangani jika Anda sudah selesai membacanya.”

Mendengar kata-kata Matt, pikirannya seakan kosong, seolah tersedot ke dalam lubang hitam tak kasatmata.

‘William, ingin bercerai? Kenapa? Mengapa dia melakukan ini?’

Caroline tidak bisa memahami mengapa William tiba-tiba menginginkan perceraian. Ia merasa pernikahan mereka baik-baik saja.

‘Tidak. Ini pasti kesalahan, kan!?’

Menolak mempercayai apa yang ia baca, Caroline mengangkat kepala, menyipitkan mata ke arah Matt Graver, menahan amarah dan luka di hatinya.

Beraninya pria ini dengan kasar memanggilnya dengan nama keluarga padahal ia belum menandatangani surat cerai itu?

Dia sangat ingin meluapkan amarahnya pada Matt Graver, tetapi ia menahan diri, tidak ingin memperlihatkan betapa terluka dan marahnya dirinya.

Setelah emosinya sedikit tenang dan pikirannya lebih jernih, ia meletakkan kertas itu di atas meja.

“Di mana klienmu!? Mengapa dia tidak datang sendiri dan malah mengirim kau?” tanya Caroline dengan tenang, meski hatinya terasa hancur seolah diledakkan oleh sesuatu.

“Tuan Silverstone tidak bisa datang. Dia sangat sibuk dengan pekerjaannya,” kata Matt Graver dengan tidak sabar.

“Bisakah Anda segera menandatangani surat itu tanpa menunda lagi? Jadwalku padat, Nyonya Watson.”

Caroline berusaha keras menahan amarahnya sambil mengepalkan tangan.

“Tuan Graver, izinkan aku mengingatkanmu,” katanya. “Aku belum menandatangani surat itu, artinya aku masih bagian dari keluarga Silverstone!” Matanya dipenuhi tatapan dingin.

Wajah Matt Graver menegang mendengar peringatannya. Tepat saat ia hendak berkata sesuatu, Caroline kembali berbicara dengan nada tegas dan penuh wibawa.

“Aku tidak akan menandatangani apa pun sebelum klienmu yang sibuk itu berbicara langsung denganku. Sebaiknya kau meneleponnya sekarang, atau kau akan pulang dengan tangan kosong!”

“Nyonya, aku minta maaf atas sikapku,” kata Matt Graver dengan sopan, meski dalam hati ia mengutuk Caroline. “Tuan Silverstone tidak bisa berbicara denganmu sekarang. Dia mengutus aku kesini untuk membawa surat ini sebagai wakilnya.”

Caroline tertawa kecil mendengar kata-katanya.

“Jadi sekarang kau kurir suratnya, Tuan Graver?”

Matt Graver, “...”

“Nyonya, aku—”

“Aku tidak ingin mendengar alasanmu,” Caroline tidak memberinya kesempatan berbicara. “Tuan Graver, aku hanya perlu berbicara langsung dengannya. Lebih baik kau meneleponnya sekarang, atau kau tidak akan mendapatkan apa pun dariku. Aku tidak akan menandatangani apapun,” katanya dingin.

Sangat terluka menerima surat cerai tepat di hari ulang tahun pernikahan keempat mereka, Caroline hanya ingin menanyakan alasan William. Mengapa ia menceraikannya? Namun, pengacara ini bahkan tidak berusaha menghubunginya.

Caroline tidak ingin menunggu lebih lama. Ia menekan nomor William, tetapi wajahnya perlahan menggelap. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan amarahnya saat mengetahui William telah memblokir nomor teleponnya.

‘William Silverstone!! Kau benar-benar kejam! Beraninya kau melakukan ini padaku?’

Menekan amarahnya, Caroline mengepalkan tangan dengan kuat, menyimpan ponselnya, lalu berdiri, siap pergi. Ia tidak bisa tinggal di ruangan itu lebih lama lagi.

“Nyonya, tolong tandatangani surat itu sebelum Anda pergi,” Matt Graver berdiri dan mengikutinya, menghalangi jalannya. “Anda tidak bisa pergi sebelum menandatanganinya, Nyonya.” Tatapannya tajam menyorot dirinya.

Wajah Matt Graver yang sebelumnya ramah berubah garang. Ia tidak lagi tampak seperti pengacara berkelas, melainkan seperti preman bersetelan jas.

“Tuan Graver, minggir! Jangan menghalangi jalanku...” Caroline sangat marah melihat Matt Graver menghadangnya.

“Anda tidak akan pergi ke mana pun sebelum menandatangani surat itu, Nyonya. Tolong, tanda tangani saja surat sialan itu!” suara Matt terdengar mengancam, tetapi Caroline tidak gentar dengan nada suaranya yang meninggi.

Caroline terkekeh. “Tuan Graver, apakah kau benar-benar seorang pengacara?”

Matt Graver mengernyit mendengar pertanyaannya. “Tentu saja. Apakah Anda ingin melihat kartu identitasku?”

“Tidak perlu. Aku hanya bingung karena kau terlihat lebih seperti bandit rendahan daripada pengacara!?” Ia tersenyum.

Ekspresi wajah Matt langsung jatuh, seolah baru saja melihat seseorang meludahi makanannya. Mendengar ucapannya, ia membuka mulut untuk membalas, tetapi sekali lagi wanita ini menghentikannya.

“Baiklah, Tuan Graver, aku sudah menyatakan alasanku dengan jelas. Aku tidak akan menandatangani apa pun sampai aku berbicara dengan klienmu!”

“Nyonya, mengapa bersikeras menemui klienku ketika dia tidak ingin bertemu denganmu lagi?” tanya Matt Graver dengan sopan, tetapi bagi Caroline, kata-kata itu terasa seperti tamparan.

Caroline mengepalkan tangan erat-erat sambil menahan keinginan untuk membalasnya, namun pada detik terakhir ia menahan diri.

Dia menarik napas dalam-dalam sebelum berkata dengan tenang, “Tuan, jika kau terus menghalangi aku, aku akan menghitung sampai tiga... aku akan berteriak dan mengaku bahwa kau melecehkan aku!”

Matt Graver tidak mempercayai ancaman wanita ini. Ia tahu Caroline hanya menggertak.

Melihat itu, Matt Graver tidak bergerak dan malah tersenyum padanya, membuat kejengkelan Caroline semakin memuncak.

“Baiklah kalau kau tidak mau minggir. Tapi, Tuan Graver, jangan salahkan aku nanti jika kau berakhir di kantor polisi,” sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyum dingin yang jahat namun memikat sebelum ia berteriak, “Tiga... TOLONG... TOLONG... ADA—”

‘Sialan!’ Matt Graver mengumpat dalam hati. ‘Apakah dia bodoh? Kenapa langsung lompat ke tiga? Apa di tidak bisa menghitung?’

“Nyonya, tolong berhenti. Tolong jangan berteriak... Baik, baik... aku akan menelepon Tuan Silverstone sekarang,” Matt Graver tidak punya pilihan lain selain menghubungi atasannya.

Caroline merasa terhibur melihat ekspresi terkejut di wajah Matt Graver.

“Tuan Graver, seharusnya kau melakukan itu sejak awal. Mengapa harus membuatku membuang energi berteriak dan melukai tenggorokanku?” kata Caroline sambil mengusap lehernya yang halus. “Aku bisa menuntutmu jika pita suaraku rusak.”

Matt terdiam.

Caroline mengabaikannya dan kembali masuk ke ruangan. Ia duduk di kursinya sambil melirik Matt.

Senyum pahit terbentuk di bibirnya saat ia samar-samar mendengar Matt Graver berbicara di telepon.

Ia masih tidak percaya William telah memblokir nomor teleponnya.

Merasa kesal, ia meneguk habis segelas air untuk meredam amarahnya sambil menunggu Matt Graver selesai berbicara dengan William.

Tak lama kemudian,

Caroline melihat Matt mendekatinya.

Detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya tanpa alasan yang jelas, dan ia merasa gugup untuk berbicara dengan William.

“Nyonya,” kata Matt Graver sambil menyodorkan ponselnya kepada Caroline. “Anda bisa berbicara dengan Tuan Silverstone...”

Tangan Caroline sedikit gemetar saat menerima ponsel itu. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia menempelkan ponsel ke telinganya.

Sebelum Caroline sempat berkata apa pun, ia mendengar nada dingin William dari seberang, “Katamu ingin berbicara denganku. Mengapa sekarang kau diam?”

Sikap William membuat Caroline mengurungkan niatnya untuk memintanya membatalkan perceraian.

Ia menggenggam ponsel dengan erat, menahan amarahnya.

“Mengapa kau mengirim pengacaramu untuk memberiku surat cerai ini?”

“Langsung ke inti saja. Apakah kau membutuhkan lebih banyak uang sebagai tunjangan?” tanya William dengan santai, tetapi kata-katanya terasa seperti paku yang menusuk hati Caroline.

Caroline menahan keinginan untuk memakinya.

“Apakah kau pikir aku menikahimu demi uangmu?” tanyanya dingin.

1
mytripe
semoga terus konsisten torr👍👍
broari
semangat kk
july
hadir torr
Afifah Ghaliyati
mantap torr moga moga cray up pagi torr
Afifah Ghaliyati
aku lega banget kakeknya nggak beneran sakit
tapi juga kasian Caroline dibohongin 😢
keluarga ini ribet banget
Afifah Ghaliyati
Caroline keren banget
ditampar → bangkit → balas semuanya
ini baru definisi wanita kuat 😭
Benjamin kelihatan panik tapi masih sok kuasa
Afifah Ghaliyati
sumpah adegan ini bikin dada sesak 😭
Caroline kuat banget, ditampar tapi masih bisa berdiri dan melawan
keluarga Watson ini toxic parah
eva
pintar banget kakek Caroline🤣🤣
eva
terimakasih torr crazy up nya💪💪💪
Uba Muhammad Al-varo
ingat Caroline atas kesakitan mu yang diberikan William makanya kamu jangan mau balik kembali ke William
Uba Muhammad Al-varo
kakek Sebastian nggak tahu Caroline itu pembisnis hebat dan sukses
tia
sudah crazy update oq masih kurang thor
Uba Muhammad Al-varo
ternyata kakek Sebastian pintar juga ngebohongin anak mantu dan cucunya Caroline
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya kakek Bastian sadar dan ini juga awal semuanya memahami kesalahan nya sendiri 🤔🤔
Uba Muhammad Al-varo
good........ Caroline apa yang kamu lakukan sekarang dengan menjawab semua ocehan ayah dan keluarga besar, supaya mereka sadar semua yang terjadi ini akibat dari ketidak mampuan mereka berbisnis
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
wahhh keren update banyak nih tetap semangat terus ya 👍🏻💪🏻😍
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
astagaaa ternyata kakek Caroline ngeprank dan berhasil membuat Caroline pulang dan beliau tahu sendiri anak anaknya pada menyalahkan Carol
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
pasti itu kakeknya Caroline dan salut buat keberanian Caroline mengungkapkan isi hatinya tenang dan tegas tanpa takut
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
bagus Caroline ungkapkan saja apa yang ada dalam hatimu seenaknya saja keluargamu sendiri menyalahkan kamu padahal mereka semua tidak becus bekerja
Dolphin
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!