NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Tidak Berdarah

Keheningan yang menggantung di atas Laut Selatan malam itu terasa lebih berat daripada badai manapun. Tidak ada sorak sorai kemenangan. Tidak ada tiupan terompet kerang tanda berakhirnya perang. Yang ada hanyalah suara napas ribuan makhluk yang tertahan, seolah mereka takut jika menghembuskan napas terlalu keras, realitas yang rapuh ini akan pecah kembali.

Sekar masih terbaring di atas "tangan" air yang menopangnya. Tubuhnya tidak basah, tapi keringat dingin membanjiri seluruh pori-porinya. Lehernya terasa panas dan berdenyut, jejak jari-jari raksasa Poseidon tercetak jelas di sana dalam warna ungu kebiruan yang mengerikan.

Di sekelilingnya, pasukan Merman masih mengambang di permukaan air. Tombak-tombak mereka terkulai di tangan. Mereka saling berpandangan, bingung. Raja mereka—Dewa yang mereka sembah selama ribuan tahun sebagai simbol kekuatan mutlak—baru saja melarikan diri dari seorang gadis manusia yang bahkan tidak bisa menampar seekor nyamuk.

"Pulanglah..."

Sekar berbisik. Suaranya serak, nyaris hilang. Tapi Jantung Samudra di lehernya masih menyala redup, mengirimkan bisikan itu ke setiap telinga yang ada di sana.

"Laut ini... tidak butuh penjajah. Laut ini butuh... saudara."

Salah satu Hippocampus, yang tadi kulitnya gosong terbakar amarah Poseidon, berenang mendekat dengan ragu. Makhluk buas itu menundukkan kepalanya yang besar, mendengus pelan di dekat kaki Sekar. Matanya tidak lagi merah menyala, tapi hitam kelam dan lelah. Ia seperti anjing yang dipukuli tuannya dan kini mencari perlindungan pada orang asing yang memberinya makan.

Sekar ingin menyentuhnya, tapi tangannya terlalu lemah untuk diangkat.

Tiba-tiba, air di sampingnya bergolak pelan. Empat ekor naga laut muncul ke permukaan, menarik sisa-sisa kereta kerang yang sudah hancur separuh. Simbah tukang getek masih bertengger di sana, meski capingnya sudah hilang dan rambut putihnya acak-acakan seperti sarang burung.

"Gusti Pangeran Welas Asih..." gumam Simbah saat melihat kondisi Sekar. Ia melompat turun dari kereta, berlari di atas air dengan langkah ringan, lalu berlutut di samping Sekar.

"Nduk? Masih napas, to?" tanya Simbah cemas. Ia menempelkan telinganya ke dada Sekar.

Sekar tersenyum tipis, sangat tipis. "Masih, Mbah. Cuma... leher saya sakit."

Simbah menghela napas lega, lalu matanya berkaca-kaca. "Sampeyan itu edan. Benar-benar gila. Simbah kira tadi kepala Sampeyan sudah copot. Siapa yang ngajarin nyanyi Dhandhanggula pas lagi dicekik Titan? Itu bukan nekat namanya, itu ngawur!"

Simbah mengomel panjang lebar, tapi tangannya dengan lembut mengangkat tubuh Sekar dari permukaan air. Ia membaringkan gadis itu di sisa jok beludru kereta yang masih utuh.

"Ayo pulang. Ibu Ratu pasti sudah nunggu sambil deg-degan," kata Simbah pada naga-naganya.

Kereta itu perlahan menyelam kembali ke dalam laut, meninggalkan ribuan pasukan Yunani yang masih terombang-ambing tanpa pemimpin di bawah sinar bulan purnama. Mereka tidak mengejar. Mereka kehilangan alasan untuk bertarung.

Perjalanan turun kembali ke Bale Sokawati terasa sunyi. Sekar tertidur, atau mungkin pingsan, sepanjang jalan. Saat ia membuka mata, ia sudah kembali berada di kamar tanpa jendela itu.

Tapi suasananya berbeda.

Bau bunga sedap malam di ruangan itu begitu kuat hingga terasa pahit. Dan di sudut ruangan, duduk sosok yang belum pernah Sekar lihat sebelumnya.

Bukan Nyai Ruminah.

Wanita itu duduk membelakangi Sekar, menghadap cermin besar. Rambutnya panjang terurai hingga menyentuh lantai, hitam berkilau seperti tinta. Ia mengenakan kemben hijau pupus sederhana, tanpa perhiasan, tanpa mahkota.

Sekar mencoba bangun, tapi rasa sakit di lehernya menahannya. Ia mendesis pelan.

Wanita itu berbalik.

Wajahnya... wajahnya adalah definisi dari kecantikan yang menyakitkan. Ia tidak terlihat tua, tidak juga muda. Ia terlihat abadi. Matanya seperti dua palung laut terdalam, menyimpan rahasia jutaan kapal karam dan doa-doa yang tak terkabul.

Ratu Kidul.

Sekar reflek ingin turun dari tempat tidur untuk bersujud, tapi sang Ratu mengangkat tangannya pelan. Gerakannya menahan tubuh Sekar tanpa menyentuh.

"Jangan bergerak, Cah Ayu," suara Ratu terdengar seperti gema di dalam gua kristal. "Urat lehermu bengkak. Kalau banyak gerak, nanti suaramu hilang selamanya."

Sang Ratu berjalan mendekat, langkahnya tidak berbunyi. Ia duduk di tepi tempat tidur Sekar, lalu mengulurkan tangannya yang dingin untuk menyentuh leher Sekar.

"Sakit?" tanya Ratu.

"Sedikit, Gusti," jawab Sekar jujur. Ia tidak berani menatap mata Ratu secara langsung.

"Bagus. Rasa sakit itu pengingat," Ratu mengoleskan semacam salep berbau amis—mungkin minyak hati ikan hiu—ke leher Sekar. "Pengingat bahwa kamu masih manusia. Bahwa kamu belum menjadi hantu laut seperti kami."

Ratu tersenyum sedih. Ia memandang Sekar dengan tatapan seorang ibu yang bangga sekaligus menyesal.

"Maafkan aku, Sekar. Seharusnya bukan kamu yang menanggung beban ini. Tapi... para ksatria laki-laki itu, Pangeran Suryo dan yang lainnya, mereka terlalu keras. Jika mereka yang maju tadi, laut ini sudah merah oleh darah. Hanya perempuan yang mengerti bahwa perang terbesar kadang dimenangkan tanpa menghunus pedang."

"Poseidon... dia lari, Gusti," lapor Sekar pelan. "Dia malu."

Ekspresi Ratu berubah menjadi serius. Wajah cantiknya mengeras.

"Ya. Dia malu. Dan itulah yang aku takutkan."

Ratu berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Kain panjangnya menyapu lantai kayu.

"Bagi laki-laki seperti dia, rasa malu (wirang) itu lebih menyakitkan daripada kematian. Jika kamu membunuhnya, perangnya selesai. Tapi karena kamu mempermalukannya... kamu menciptakan monster baru."

Ratu berhenti di depan cermin. Ia menyentuh permukaannya, dan gambar di cermin berubah. Bukan lagi pantai Parangtritis, melainkan sebuah palung gelap di antah berantah. Tidak ada cahaya di sana.

"Dia tidak pulang ke Olympus," bisik Ratu. "Dia bersembunyi di Palung Jawa. Di tempat yang paling gelap, di mana cahaya matahari tidak pernah masuk."

Sekar memaksakan diri untuk duduk, meski lehernya protes. "Apa yang akan dia lakukan di sana, Gusti?"

"Dia sedang merenung. Dia sedang menguliti egonya sendiri," jelas Ratu. "Dia sadar bahwa wujud manusianya, wujud dewanya yang gagah dan tampan itu, tidak berguna di sini. Wujud itu punya hati nurani, punya rasa malu. Jadi... dia akan membuangnya."

Gambar di cermin bergetar. Dari kegelapan palung itu, terlihat sepasang mata kuning raksasa terbuka. Bukan mata manusia. Bukan mata dewa. Itu mata binatang purba.

"Dia akan kembali ke wujud aslinya sebelum peradaban Yunani memolesnya menjadi patung marmer yang indah," lanjut Ratu, suaranya memberat. "Dia akan menjadi Leviathan. Dia akan menjadi gempa bumi murni. Tanpa emosi. Tanpa rasa malu. Hanya kehancuran."

Sekar merinding. Ia pikir ia sudah menang. Ternyata ia hanya membuka babak baru yang lebih mengerikan.

"Lalu... apa gunanya saya menari tadi?" tanya Sekar putus asa. "Apa gunanya saya hampir mati kalau dia cuma berubah jadi lebih jahat?"

Ratu berbalik, menatap Sekar tajam.

"Gunanya adalah waktu, Sekar. Kamu memberiku waktu."

Ratu berjalan kembali ke arah Sekar, menggenggam tangan gadis itu erat-erat.

"Selama ini aku menahan diri. Aku tidak bisa mengerahkan seluruh kekuatanku karena aku harus menjaga keseimbangan alam. Jika aku mengamuk, pesisir selatan akan hancur juga. Tapi sekarang... karena dia sudah membuang 'kemanusiaannya', aku pun tidak perlu lagi bermain sopan."

Ratu melepaskan tangan Sekar. Di telapak tangan Sekar, tertinggal sebuah kunci kecil yang terbuat dari tulang.

"Kamu sudah melakukan tugasmu dengan sempurna sebagai 'wajah' yang lembut. Sekarang, giliranmu beristirahat. Pulanglah ke darat. Temui Pangeran Suryo. Berikan kunci ini padanya."

"Kunci apa ini, Gusti?"

"Kunci gudang pusaka Sarasengara," jawab Ratu. "Itu adalah gudang senjata terlarang yang dikubur di bawah Gunung Merapi. Senjata-senjata yang dulu dipakai leluhur tanah Jawa untuk mengurung para Raksasa."

"Gusti mau... perang terbuka?"

"Bukan perang," Ratu menggeleng. Ia berjalan menuju pintu, tubuhnya mulai memudar menjadi kabut hijau. "Ini adalah eksekusi."

"Tunggu, Gusti!" panggil Sekar. "Kalau saya pulang... apakah saya masih bisa melihat Gusti lagi?"

Ratu berhenti sejenak. Ia tidak menoleh, tapi suaranya terdengar lembut di telinga Sekar.

"Selama kamu masih bisa mendengar ombak, kamu tidak pernah sendirian, Nduk. Tapi ingat... jangan pernah melihat ke belakang saat kamu naik ke permukaan nanti. Apapun yang kamu dengar. Apapun yang memanggil namamu."

Sosok Ratu menghilang sepenuhnya, meninggalkan aroma sedap malam yang perlahan memudar, digantikan bau laut yang dingin dan asin.

Sekar menatap kunci tulang di tangannya. Kunci itu terasa berat, seolah menyimpan jeritan ribuan tahun.

Ia selamat dari satu dewa, hanya untuk menjadi kurir bagi perang dewa lainnya. Dan kali ini, Ratu Kidul tidak lagi berniat untuk menari. Ibu Ratu berniat untuk membunuh.

Di luar dinding Bale Sokawati, suara paus yang bernyanyi tadi sudah berhenti. Laut menjadi sunyi senyap. Ikan-ikan bersembunyi di balik karang.

Mereka tahu. Sang Ratu sedang melepaskan sanggulnya. Rambutnya akan terurai menjadi badai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!