Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
“Tuan muda, Kakek Anda sudah menunggu Anda.”
Suara pengawal itu terdengar rendah dan terkendali, nyaris seperti bagian dari rutinitas yang sudah ia ulang ratusan kali. Tangannya yang bersarung hitam mendorong perlahan pintu besar yang terbuat dari tembaga berwarna hitam pekat. Pintu itu tidak berderit, hanya mengeluarkan bunyi gesekan berat yang dalam, seolah sedang membuka mulut suatu makhluk tua yang sudah terlalu lama tertidur.
Pengawal itu menunduk hormat, punggungnya membungkuk pada sudut yang sempurna. Tidak terlalu rendah, tidak pula setengah-setengah. Sebuah gestur yang menunjukkan kesetiaan, ketakutan, dan disiplin dalam satu waktu.
Zivaniel berdiri tepat di ambang pintu.
Wajahnya datar. Tidak ada ekspresi terkejut, tidak pula ragu. Sorot matanya tenang, dingin, seperti permukaan danau di malam hari. Ia tidak menjawab sapaan itu. Tidak mengangguk. Tidak mengeluarkan satu kata pun.
Ia melangkah masuk.
Langkahnya pelan, terukur, seolah lantai di bawah kakinya bukan sekadar marmer mahal, melainkan wilayah yang sudah ia kenal luar dalam sejak kecil. Setiap tapak sepatunya nyaris tak bersuara. Bahunya tegak, dagunya sedikit terangkat, namun bukan dengan kesombongan—lebih kepada kebiasaan.
Pintu itu tertutup di belakangnya.
Bunyi klik dari mekanisme pengunci terdengar jelas. Lalu hening.
Hening yang berat.
Di dalam ruangan itu, cahaya berasal hampir sepenuhnya dari layar-layar monitor yang terpasang di dinding. Puluhan pantauan CCTV menampilkan berbagai sudut kota: lorong gelap, gudang, pelabuhan, jalan utama, bahkan gang sempit yang nyaris tak dikenal publik. Beberapa alat modern berkilau samar—panel kontrol, perangkat komunikasi, peta digital yang terus bergerak perlahan mengikuti denyut sistem.
Udara di ruangan itu dingin. Terlalu dingin untuk sekadar kenyamanan. Dingin yang disengaja.
Zivaniel berhenti beberapa langkah dari pintu. Matanya bergerak perlahan, mengamati layar demi layar tanpa terlihat benar-benar fokus pada satu titik. Namun sebenarnya, ia mencatat semuanya. Jumlah kamera. Posisi. Sudut pandang. Detail kecil yang luput dari mata orang biasa.
“Kakek menyuruhmu kemari saat pulang sekolah.”
Suara itu akhirnya terdengar.
Datar. Berat. Tidak tinggi, tidak pula keras. Namun setiap kata menggema, seolah ruangan itu sendiri tunduk pada pemilik suara tersebut.
“Kenapa baru datang?”
Zivaniel menghela napas kasar. Bukan karena marah, bukan pula karena lelah fisik. Lebih seperti napas seseorang yang tahu bahwa percakapan ini tidak akan singkat, dan tidak akan mudah.
Ia menyandarkan punggungnya ke dinding dingin di dekat monitor. Dingin logam menembus seragam sekolahnya, tapi ia tidak bereaksi. Tangannya masuk ke saku celana, bahunya sedikit mengendur.
“Ada urusan.”
Jawabannya singkat. Terlalu singkat.
Di kursi besar di tengah ruangan, sang kakek tidak langsung menjawab. Sebaliknya, satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Sebuah senyum kecil, nyaris tak terlihat, tapi penuh makna. Senyum seseorang yang sudah hidup terlalu lama untuk percaya pada jawaban sederhana.
“Urusan dengan gadis itu?”
Nada suaranya berubah sedikit. Bukan marah. Bukan mengejek terang-terangan. Lebih seperti sindiran halus yang disengaja untuk menusuk.
“Rupanya lebih penting,” lanjutnya tanpa jeda, “daripada misi yang akan kakek bahas ini.”
Zivaniel mendengus pelan. Bunyi napas keluar lewat hidungnya, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk menunjukkan kejengkelannya. Rahangnya mengeras.
“Jangan dibahas lagi.”
Nada suaranya rendah, tegas, hampir seperti perintah—meski ia tahu betul kepada siapa ia berbicara.
Kakeknya mengalihkan pandangan sejenak ke salah satu monitor, memperhatikan pergerakan truk di layar. Lalu ia kembali menatap cucunya.
“Kakek tidak mempermasalahkannya.”
Kalimat itu diucapkan dengan tenang. Terlalu tenang.
“Kakek tahu kamu suka sama dia,” lanjutnya. “Dan kakek tidak pernah melarang kamu memiliki hubungan dengan dia, terlepas dari asal-usulnya.”
Zivaniel menegakkan kepalanya sedikit. Matanya bergerak, menatap wajah tua di depannya. Ada kilatan waspada di sana.
“Tapi kamu ingat, Niel,” suara sang kakek mengeras tipis, seperti besi yang ditekan perlahan, “jangan jadikan dia kelemahan kamu.”
Kata kelemahan menggantung di udara.
“Kamu pewaris dunia bawah ini setelah ayah kamu!”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan. Bukan karena volumenya, tapi karena bobotnya. Karena sejarah panjang yang terkandung di dalamnya.
Zivaniel memejamkan matanya. Hanya sebentar. Namun cukup lama untuk menunjukkan bahwa kata-kata itu mengenai sasaran. Rahangnya mengeras, otot di pipinya menegang.
“Kek…” suaranya keluar pelan. Ada sesuatu di sana. Permohonan? Peringatan? Atau sekadar kelelahan?
“Hubungan bisa melemahkan semuanya,” potong sang kakek tanpa memberi ruang. “Ayahmu pernah melakukannya.”
Ia berhenti sejenak.
“Termasuk kakek.”
Pengakuan itu jatuh begitu saja, tanpa dramatisasi. Seperti fakta lama yang sudah diterima, tapi tidak pernah benar-benar dilupakan.
“Tapi kakek tidak pernah melarang kamu memiliki seseorang,” lanjutnya. “Terserah.”
Ia menghela napas kecil.
“Tapi ingat, Niel… dia belum tahu siapa keluarga kita.”
Zivaniel membuka matanya.
“Dia bahkan tidak tahu,” suara sang kakek semakin rendah, semakin berat, “kalau kamu adalah Black Wolf yang selama ini dia takutkan.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Zivaniel terdiam. Tidak ada bantahan. Tidak ada penyangkalan. Kata-kata itu benar. Terlalu benar.
Cherrin tidak tahu. Tidak pernah tahu.
Cherrin hanya tahu bahwa ia diangkat oleh orang kaya yang berkuasa di kota ini. Bahwa ia hidup di rumah besar, bersekolah di tempat elit, dikelilingi kemewahan yang tampak bersih. Ia tidak tahu darah apa yang mengalir di balik nama besar itu. Tidak tahu bayangan gelap yang mengikuti setiap langkah Zivaniel sejak ia lahir.
Zivaniel mengalihkan pandangannya ke monitor. Cahaya layar memantul di matanya, membuat sorotnya tampak lebih dingin dari biasanya.
“Sudah,” suara sang kakek memecah keheningan. “Jangan bahas dia lagi.”
Ia berdiri dari kursinya. Tubuhnya yang tua bergerak dengan wibawa yang tidak luntur oleh usia.
“Kakek tidak mau kamu sampai kepikiran.”
Ia menunjuk ke arah monitor di depannya.
“Malam ini ada misi yang lebih berbahaya.”
Zivaniel mengikuti arah jarinya. Di layar itu terlihat sebuah pelabuhan. Kontainer-kontainer besar berderet rapi. Aktivitas terlihat normal—terlalu normal.
“Barang-barang ini,” lanjut sang kakek, “akan dikirim ke seorang pembeli berbahaya.”
Zivaniel menatapnya lekat. Matanya yang tajam bergerak cepat, menangkap detail demi detail. Sudut kamera. Pola pergerakan. Waktu jeda yang tidak wajar.
Ia tidak berbicara. Ia mengamati.
“Papamu,” suara sang kakek kembali terdengar, kali ini lebih pelan, “tengah malam ini ada pertemuan dengan klien di Hongkong.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Zivaniel lurus-lurus.
“Ia tidak bisa melakukan misi ini.”
Kata-kata itu menggantung.
Dan di dalam keheningan ruangan penuh layar itu, sebuah takdir perlahan bergerak, sangat pelan, menuju titik yang tidak bisa lagi dihindari.
"Kamu siap?"
Zivaniel menganggukkan kepalanya, "Siap." Sahut Zivaniel membuat De Luca tersenyum tipis.
"Kakek bangga dengan kamu jika kamu menyelesaikan misi ini."