Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yayasan yang Berlumur Darah
Kelas berjalan lancar seperti biasanya. Setelah jam terakhir selesai, Alexey dan Haerim berjalan bersama menuju parkiran. Mereka tidak menuju rumah Haerim, melainkan ke apartemen Alexey di sudut kota yang sepi dan eksklusif.
Sesampainya di apartemen mewah namun minimalis itu, Alexey membuka pintu dan mempersilakan Haerim masuk. Ia melepas jasnya dan meletakkannya di sofa.
"Kamu mau makan siang?" tawar Alexey dengan nada datar sambil berjalan menuju dapur. "Aku bisa pesan makanan atau masak sesuatu. Pilih saja..."
"Aku udah makan di kampus tadi," jawab Haerim sambil duduk di sofa dengan nyaman. "Nggak mau makan lagi. Kenyang..."
Alexey berjalan ke dapur dan mengambil segelas air mineral dingin. Ia kembali ke ruang tamu dan menyerahkan gelas itu kepada Haerim.
"Kalau begitu minum ini," ucapnya datar sambil meletakkan gelas di hadapan Haerim. "Kamu tidak mau makan, setidaknya jangan sampai dehidrasi."
"Terima kasih," ucap Haerim sambil menerima gelas air mineral itu dan meminumnya sedikit.
Ia meletakkan gelas di meja, lalu menatap Alexey dengan tatapan penasaran dan sedikit khawatir.
"Alexey... apa kamu udah baca buku catatan Bibi Seoyon?" tanyanya pelan dengan nada hati-hati. "Yang Mommy kasih tadi pagi... ada sesuatu di dalamnya nggak?"
"Belum," jawab Alexey singkat. "Belum sempat membacanya."
Ia menatap Haerim dengan tatapan menyelidik.
"Apa kamu penasaran dengan isinya?" tanyanya dengan nada datar namun ada nada ingin tahu di baliknya.
"Aku... penasaran banget," jawab Haerim dengan nada serius, matanya menatap tajam ke arah buku catatan itu. "Abis dengar cerita asli tentang kematian Bibi Seoyon... aku pengen pelakunya dihukum seberat-beratnya. Mereka nggak boleh lolos gitu aja..."
"Tidak ada yang akan lolos," gumam alaxey dengan nada dingin. "Aku tidak akan membiarkan satupun dari mereka bebas. Mereka semua akan membayar... dengan cara yang paling menyakitkan..."
Haerim mengangkat tangannya dan mengusap pipi Alexey dengan lembut.
"Kamu tahu... kamu keliatan serem banget kalau lagi sedingin ini," ucapnya pelan sambil menatap mata Alexey yang tajam. "Auramu berubah total... kayak orang lain. Aku hampir takut..."
"Tidurlah di kamarku," perintah Alexey dengan nada datar sambil menunjuk ke arah kamarnya. "Kamu pasti lelah. Aku akan membangunkanmu nanti kalau sudah waktunya pulang."
Setelah Haerim masuk ke kamar dan menutup pintunya, Alexey berjalan menuju ruang kerjanya.
"Apa yang sebenarnya Mama tulis di sini?" gumamnya pelan sambil mengusap permukaan kulit buku yang sudah usang. "Apa mama sudah tahu... bahwa hari itu akan menjadi hari terakhirnya?"
Alexey membaca buku catatan ibunya dengan teliti, matanya menyapu setiap huruf yang ditulis dengan tinta tangan ibunya yang ia rindukan.
Hingga ia terhenti di sebuah tulisan.
"Aku bertemu Edward saat dia menjalankan misi di Korea. Awalnya hanya kebetulan, aku yang kebetulan menangani kasus legalitas operasi mercenary, dan dia yang kebetulan menjadi salah satu perwira lapangan. Tapi kebetulan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Kami jatuh cinta.
Tapi Ibuku melarang keras hubungan kami. Statusnya masih tentara bayaran biasa, katanya. Tidak punya finansial yang layak untuk keluarga Kim. Tidak punya nama. Tidak punya masa depan yang 'terhormat'.
Tapi aku tidak peduli. Cinta tidak butuh status."
"Jadi dari awal... kau sudah membenci Ayahku," gumam Alexey penuh kebencian. "Kim Hwaran..."
Alexey membalik halaman berikutnya, matanya menyipit membaca tulisan yang semakin gelap.
"Yayasan amal yang dikelola keluarga Kim, yang selama ini diagung-agungkan sebagai simbol kedermawanan, ternyata hanya kedok. Aku dan Mira menemukan jejak pengelapan dana yang sangat besar. Uang donasi untuk anak-anak miskin, untuk korban bencana... semuanya diselewengkan.
Kami tidak bisa diam. Aku dan Mira bekerja sama dengan Walikota untuk menuntut yayasan tersebut. Kami kumpulkan bukti, saksi, dokumen, semuanya.
Sejak saat itu, hidupku berubah total.
Minsook mulai menekanku untuk berhenti. Dia datang berkali-kali, memohon, mengancam, memintaku untuk tidak melanjutkan kasus ini. Dia bilang ini akan menghancurkan keluarga Kim.
Tapi yang paling mengerikan... Mira hampir mati. Mobilnya kecelakaan karena sabotase rem. Aku tahu itu bukan kecelakaan biasa. Seseorang mencoba membunuhnya.
Dan aku tahu... aku bisa jadi yang berikutnya."
Alexey berhenti membaca, napasnya memberat.
"Jadi mereka sudah mencoba membunuh Nyonya Kang dulu..." gumamnya dengan nada dingin. "Dan akhirnya... mereka berhasil membunuh Ibuku..."
Alexey menutup buku catatan dengan perlahan, tangannya masih gemetar menahan amarah yang mendidih. Ia menatap kosong ke depan dengan rahang yang mengeras.
"Nama Minsook tertulis berulang kali di buku Ibu," gumamnya dingin dengan nada penuh curiga. "Walaupun dia tidak memberikan ancaman langsung... tapi tekanannya terlalu konsisten. Terlalu sering. Terlalu mencurigakan..."
Ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju investigator board-nya, menatap foto Rektor Minsook yang terpampang di sana.
"Aku harus menyelidikinya," putusnya dengan nada tegas dan berbahaya. "Minsook tahu sesuatu. Dan aku akan membuatnya bicara... dengan cara apapun..."
Alexey mengambil ponselnya dan langsung menelepon Thomas tanpa buang waktu. Begitu tersambung, ia langsung berbicara dengan nada dingin dan tegas.
"Thomas, selidiki yayasan keluarga Kim," perintahnya tanpa basa-basi. "Terutama kasus pengelapan dana yang terjadi delapan tahun lalu. Aku butuh semua dokumen, saksi, dan jejak transaksi yang masih tersisa. Secepatnya."
"Baik, Tuan Muda," jawab Thomas dari seberang dengan nada tegas dan patuh. "Saya akan segera mengerjakannya. Tidak akan memakan waktu lama."
"Satu lagi," tambah Alexey dengan nada yang lebih dingin. "Suruh Hunter segera terbang ke Icheon. Bawa beberapa anggota mercenary yang bisa dipercaya. Aku mungkin butuh mereka segera. Jangan tanya alasan just do it."
"Understood, Tuan Muda," jawab Thomas tanpa ragu. "Hunter akan segera berangkat hari ini juga."
Alexey memutuskan sambungan dan masuk ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah Haerim dengan lembut.
"Kamu tidur dengan sangat tenang," gumamnya pelan sambil tersenyum tipis. "Padahal saat pertama kali bertemu... kamu sangat galak. Ambisius, kompetitif, seperti ratu es kecil yang siap menerkam siapa saja..."
Senyumnya melebar sedikit, sesuatu yang sangat langka.
"Tapi sekarang... kamu seperti anak kucing yang rapuh," tambahnya sambil menyelimuti Haerim dengan lebih rapat.
Haerim yang sebenarnya sudah terbangun sejak tadi menarik selimut menutupi wajahnya.
"Jangan ngejek aku terus, Alexey," rengeknya dengan suara serak habis tidur. "Aku emang galak gimana? Menyebalkan banget sih kamu..."
Ia mengintip dari balik selimut dengan wajah merah padam dan mata yang masih setengah terpejam.
"Lagian... aku nggak segalak itu kan?"
"Bangunlah," perintah Alexey sambil menepuk pelan bahu gadis itu. "Sudah waktunya pulang."
"Diam dulu," ucap Haerim sambil cepat-cepat meraih ponselnya dari meja samping tempat tidur dan mengetik sesuatu dengan semangat.
Setelah menekan tombol kirim, ia menatap Alexey dengan senyum kemenangan.
"Aku nggak mau pulang," ucapnya sambil menunjukkan layar ponselnya. "Udah minta izin sama Mommy kok buat nginep di sini. Jadi aku nginep ya, Alexey!"
"Gadis nakal," gumam Alexey sambil tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.
"Tapi tetap bangun sekarang," perintahnya sambil menarik selimut Haerim. "Kita keluar makan malam. Aku lapar, dan kamu juga pasti belum makan dengan benar sejak tadi siang."
"Hehehe... baiklah, baiklah," kekeh Haerim pelan sambil turun dari ranjang dengan cepat.
Ia berlari lucu menuju kamar mandi dengan rambut yang masih berantakan. "Tunggu aku bentar ya,"
Pintu kamar mandi langsung ditutup dengan bunyi blam yang keras, meninggalkan Alexey yang hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis.