NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Runtuhnya topeng sang dewi.

Surat somasi bersampul putih dengan logo emas Aska & Co. itu tergeletak di atas meja kaca apartemen Elli seperti bom waktu yang baru saja meledak. Tangan Elli gemetar hebat saat ia mencoba menyesap anggur merahnya, namun cairan itu justru terasa seperti cuka yang membakar tenggorokannya. Ia baru saja menyadari satu hal yang fatal: nafsunya untuk menghancurkan Nana telah membutakannya dari fakta bahwa Aska bukanlah pria yang bisa dipermainkan dengan gosip murahan.

"Bagaimana bisa dia tahu? Aku sudah menggunakan jasa buzzer profesional. Akun itu anonim!" teriak Elli frustrasi, menyapu gelas anggurnya hingga pecah berantakan di lantai.

Di tengah kepanikannya, hanya satu nama yang muncul di benaknya sebagai sekoci penyelamat: Tris. Ia segera menyambar ponselnya dan menelepon pria itu dengan suara yang sengaja dibuat tersedu-sedu, memeras sisa-sisa kemampuan aktingnya sebagai wanita yang teraniaya.

"Tris... tolong aku... Kak Aska ingin menghancurkanku!"

Dua jam kemudian, Tris datang menemui Elli di sebuah taman yang sepi. Wajah Tris tampak masih kuyu, namun ada gurat kecemasan saat melihat Elli menangis sesenggukan di bangku taman. Tris, yang masih merasa memiliki kewajiban untuk melindungi "dewi"-nya, langsung duduk di sampingnya.

"Tenanglah, El. Ada apa? Kenapa Bang Aska sampai mengirim somasi padamu?" tanya Tris sambil mencoba merangkul bahu Elli.

"Aku tidak tahu, Tris... aku hanya tidak sengaja mengunggah pemikiranku tentang kedekatan Nana dan Kak Aska di media sosial, lalu tiba-tiba Kak Aska mengirimkan surat ini. Dia menuduhku melakukan pencemaran nama baik. Aku takut, Tris... aku bisa masuk penjara," isak Elli, menyembunyikan wajahnya di dada Tris.

Tris mengernyit. "Kau mengunggah sesuatu tentang Nana dan Bang Aska? Yang mana?"

Elli ragu sejenak, lalu menunjukkan tangkapan layar unggahan yang sudah ia hapus, namun ia tidak menyadari bahwa Tris sudah melihat versi lengkapnya yang sempat viral. Tris terdiam. Meskipun ia bodoh dan egois, ia tahu persis gaya bahasa Elli. Kata-kata "jalur belakang" dan "ranjang pengacara" itu terlalu spesifik.

"El... kau yang memulai fitnah ini?" tanya Tris, suaranya mendadak rendah dan dingin.

Elli mendongak, matanya yang basah menatap Tris dengan kaget. "Aku hanya ... aku hanya cemburu melihatmu menderita karena Nana! Aku ingin dia tahu rasa karena sudah mempermainkanmu!"

Tris melepaskan rangkulannya perlahan. Untuk pertama kalinya, ia melihat Elli bukan sebagai sosok wanita sempurna yang hilang kabar, melainkan sebagai wanita yang licik dan berbahaya. Fitnah itu tidak hanya menyerang Nana, tapi juga menghina kakaknya sendiri, pria yang paling Tris segani.

"Kau menghina Bang Aska sebagai pria yang tidur dengan calon adik iparnya sendiri?" suara Tris bergetar karena marah. "Kau tahu Bang Aska seperti apa, El! Dia hampir gila kerja, dia tidak pernah menyentuh wanita sembarangan. Dan kau membawa-bawa namanya ke dalam lumpur?"

"Aku melakukannya untukmu, Tris!"

"Bohong!" bentak Tris hingga Elli tersentak. "Kau melakukannya untuk dirimu sendiri. Kau takut Nana jadi lebih sukses darimu. Sepertinya kau menginginkan Bang Aska. Dan sekarang kau mau aku membujuk Bang Aska mencabut somasi ini? Kau gila, El. Bang Aska tidak akan pernah berhenti sampai kau berlutut minta maaf secara publik."

Tris berdiri, meninggalkan Elli yang terpaku. "Urus masalahmu sendiri. Aku tidak mau ikut campur urusan hukum melawan abangku sendiri."

Keesokan paginya, suasana di Stellar Komik Studio berubah drastis. Sebuah pernyataan resmi telah dirilis oleh pihak studio dan firma hukum Aska & Co. yang menyatakan bahwa semua tuduhan terhadap Nana adalah fitnah tak berdasar dan proses hukum sedang berjalan bagi pelakunya.

Pintu lift terbuka, dan Nana melangkah keluar. Ia tidak lagi menunduk. Ia mengenakan setelan smart casual berwarna biru dongker yang memberikan kesan otoritas. Rambutnya diikat rapi, dan polesan lipstik merah tipis di bibirnya.

Saat ia berjalan melewati koridor divisi lain, bisik-bisik itu masih ada, namun nadanya berbeda. Bukan lagi nada sinis, melainkan nada ketakutan dan rasa hormat yang terpaksa. Mereka tahu siapa yang berdiri di belakang Nana sekarang.

"Pagi, semuanya," sapa Nana dengan suara yang jernih saat memasuki ruangannya.

Gani menyambutnya dengan senyum lebar, sesuatu yang jarang ia berikan. "Selamat datang kembali, Queen. Mejamu sudah bersih dari debu gosip."

Nana terkekeh dan segera duduk di kursinya. "Terima kasih, Gani. Maaf sudah membuat repot kemarin."

"Repot apanya? Kita justru dapat promosi gratis. Pembaca komik kita melonjak dua kali lipat karena penasaran dengan 'artist' yang dibela pengacara galak itu," gurau Gani sambil menyodorkan segelas kopi.

"Para penggemar Bang Aska pasti tahu siapa aku."

Kesibukan kembali normal. Nana bekerja dengan sangat intens, seolah ingin membuktikan bahwa ia layak mendapatkan semua pembelaan ini. Namun, di tengah kesibukannya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Aska.

Aska: [Pihak studio meminta perpanjangan kontrak konsultasi. Aku akan mengirim stafku ke sana siang ini. Pastikan kau tidak terganggu dengan kehadirannya.]

Nana tersenyum tipis. Ia tahu "staf" yang dimaksud Aska adalah sinyal bahwa pria itu tetap memantau perkembangannya dari jauh.

***

Siang itu, Aska benar-benar datang sendiri ke gedung studio dengan alasan ada dokumen yang perlu ditandatangani oleh manajemen secara langsung. Ia tidak langsung menuju ruang rapat, melainkan melewati area kerja Nana.

Dari balik dinding kaca, Aska berhenti sejenak. Ia melihat Nana sedang tertawa kecil sambil menunjuk layar monitor bersama Gani. Posisi Gani yang sedikit membungkuk di samping Nana, dengan tangan yang sesekali menyentuh bahu gadis itu untuk menunjukkan detail gambar, membuat rahang Aska mengeras secara otomatis.

Ia tidak suka pemandangan itu. Sangat tidak suka.

Aska melangkah masuk ke ruangan dengan aura dingin yang langsung menurunkan suhu ruangan secara drastis. Staf yang lain langsung terdiam dan pura-pura sibuk.

"Nana," panggil Aska singkat.

Nana menoleh, matanya berbinar melihat Aska. "Bang? Katanya cuma kirim staf?"

Aska tidak menjawab pertanyaan itu. Matanya beralih ke arah Gani yang masih berdiri cukup dekat dengan Nana.

Aska memperhatikan Gani dari ujung rambut hingga ujung kaki, memberikan tatapan menilai yang sangat rendah. "Lain kali, jika ingin mendiskusikan gambar, gunakan penunjuk atau proyektor. Jangan terlalu dekat, itu mengganggu fokus artist-mu."

Gani mengernyit bingung, namun ia hanya mengangguk sopan. "Baik, Pak."

"Ada dokumen tambahan untukmu," ujar Aska sambil menyodorkan map tipis pada Nana. Sebenarnya dokumen itu bisa dikirim lewat kurir, tapi Aska merasa perlu memastikan sesuatu. "Ikuti aku ke kafe bawah. Ada yang ingin kubicarakan tentang somasi Elli."

Nana mengangguk, ia membereskan mejanya dengan cepat. Ia berjalan di samping Aska menuju lift.

"Bang, Gani itu orang baik. Dia sudah banyak membantuku di sini," ujar Nana pelan.

Aska tetap menatap lurus ke depan. "Aku tidak peduli dia baik atau tidak. Aku hanya tidak suka orang yang tidak profesional dalam menjaga jarak fisik di lingkungan kerja."

"Oh, begitu? Aku pikir Abang cemburu," celetuk Nana berani.

Langkah Aska terhenti tepat di depan lift yang masih tertutup. Ia menoleh ke arah Nana, menatapnya dengan pandangan yang sangat intens hingga Nana merasa oksigen di sekitarnya menipis.

"Jangan terlalu percaya diri, Nana. Aku hanya sedang melindungi 'investasiku'. Jika kau terlibat skandal lagi dengan rekan kerjamu, reputasi firmaku yang akan kena dampaknya," sahut Aska datar.

Namun, saat pintu lift terbuka dan Nana masuk lebih dulu, Aska menatap punggung gadis itu dengan tatapan yang jauh dari kata "profesional". Ia menyadari bahwa tantangan yang ia berikan pada Nana untuk "mengejar langkahnya" ternyata mulai berbalik menyerang hatinya sendiri.

Di sisi lain, Nana yang berdiri di dalam lift tersenyum lebar. Ia tahu, langkahnya sudah mulai mendekati punggung pria itu, dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Elli atau Tris, menghalangi jalannya lagi.

Bersambung....

1
jekey
lama" emosi sm aska 😡
Desi Santiani
lanjut thor seruu bgttt
jekey
akhirnyaa 😌😌
jekey
sinting tusi
jekey
thank you thor
Ayu
/Coffee/
Ayu
hahaa sukurin semoga kapok 🤭
Ayu
aku ga bisa kasih banyak ulasan tapi yang pasti bagus bangetttt
Ayu
kayak ginilah nyeseknya kalo baca novel yg baru up ,, mana bagus lagi ceritanya 😍
Ayu
/Coffee/ yuk
Ayu
kalo aku jadi kamu Na ... pasti aku bakalan cepet move on dari Tris🤭
Nilasartika Yusuf
😍
Ayu
hai Thor aku mampir ya
Rinnaya: Silahkan
total 1 replies
jekey
nunggu up thor
Rinnaya: Aman, up tiap hari.
total 1 replies
jekey
mampus eli
Nilasartika Yusuf
suka ceritanya😍
jekey
smngt update thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!