NovelToon NovelToon
Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”

Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.

Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.

Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.

Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembantaian Ming dan Fang Jin (2)

“Tolong… berikan saya satu kesempatan saja. Tidak—tidak, jika Anda meninggalkan saya di sini, saya akan mengasingkan diri di hutan, Tuan Fang.”

Fang Jin menatap pria yang berlutut di hadapannya dengan dingin.

“Kau sudah melakukan banyak hal keji di belakangku,” ucapnya pelan namun penuh tekanan. “Korupsi, kenaikan pajak yang mencekik rakyat, bahkan penjualan budak. Sepintar apa dirimu hingga berani melakukan semua itu tanpa sepengetahuanku?”

“Tidak! Saya tidak melakukannya Tuan!” Ketua Sekte itu mengguncang-guncangkan kepalanya dengan panik. “Saya terpaksa… karena Anda membatasi hal-hal yang telah dilakukan leluhur kami sejak dulu sebelum—”

Sling.

Kepala Ketua Sekte Angin Hitam melayang di udara sebelum tubuhnya roboh tanpa nyawa.

Itulah sekte kedua yang didatangi Fang Jin.

Sepuluh menit sebelumnya.

“Hm… ini Sekte Angin Hitam ya?,” gumam Fang Jin pelan. “Dulu aku dan Ming meluluhlantakkan wilayah pinggiran ini bersama. Dan sekarang mereka berani melakukan hal-hal keji seperti ini.”

Sepanjang jalan menuju kediaman utama sekte itu, ia melihat pemandangan yang membuat alisnya berkerut. Tubuh warga kurus dan lemah, gelandangan memenuhi sudut-sudut jalan, dan kejahatan terjadi terang-terangan.

Yang paling membuatnya murka adalah praktik penjualan budak yang dilakukan secara terbuka.

Padahal dalam perjanjian pertama antara dirinya dan Ming setelah menaklukkan wilayah ini adalah perdagangan manusia dilarang keras.

Fang Jin yang semula berniat memusnahkan seluruh sekte tanpa sisa, perlahan mengubah pendekatannya. Kondisi rakyat di tempat itu menunjukkan bahwa kebusukan telah mengakar sangat dalam.

Ia tiba di kediaman utama Sekte Angin Hitam.

Berbanding terbalik dengan keadaan rakyatnya, bangunan utama sekte itu berdiri dengan megah dan mewah. Pilar-pilar besar, atap berlapis emas, dan halaman luas yang dijaga ketat.

Kemarahan Fang Jin memuncak.

Tanpa sepatah kata apapun, ia mengeluarkan pedangnya dan menebas ke segala penjuru.

Sling. Sling. Sling. Sling.

Tebasan murni itu mengandung Qi yang tak terukur tingkatannya. Hanya dengan ayunan sederhana, tanpa melangkah maju sedikit pun, kediaman utama itu terbelah menjadi beberapa bagian.

Dinding mulai runtuh. Pilar pilar yang menopang kediaman itu mulai patah. Atap atap banyak terbelah.

Fang Jin bahkan tidak perlu berpindah dari tempatnya berdiri.

Pasukan sekte yang merasa terancam segera berkumpul dan menatapnya dengan wajah pucat.

“Itu… itu Tuan Fang Jin. Kenapa beliau ada di sini?” bisik salah seorang prajurit dengan gemetar.

“Bukankah Tuan Fang Jin dan Tuan Ming sedang berada dalam pengasingan?” sahut yang lain.

Rumor itu memang sengaja disebarkan oleh Ming dan Fang Jin sendiri, untuk mengalihkan perhatian para pendekar yang masih mengincar Buku Pendekar Pedang Terkuat—Ming dan Jin.

Fang Jin melangkah satu langkah ke depan.

“Kalian masih mengingatku?” ucapnya datar. “Kalau begitu, berlututlah sekarang dan panggilkan ketua sekte kalian.”

“Ba-baik…”

Para prajurit itu segera berlutut.

Mereka masih mengingat jelas kengerian saat Fang Jin dan Ming pertama kali menaklukkan sekte ini bertahun-tahun lalu. Kilas balik pembantaian masa lalu terlintas di benak mereka.

Insting mereka berteriak satu hal, jika ada yang berani menghunuskan pedangnya sekarang, maka kepalanya akan langsung terpisah dari tubuhnya.

Ketua sekte datang berlari sekuat tenaga. Tubuhnya yang gemuk membuat napasnya tersengal dan langkahnya terhuyung-huyung. Pemandangan itu justru membuat Fang Jin semakin muak.

Ketua sekte terdahulu—yang dulu dipilih langsung oleh Fang Jin dan Ming—adalah sosok yang pekerja keras, berwibawa, dan selalu memperhatikan rakyatnya. Ia tegas namun adil, serta menjaga wilayahnya dengan penuh tanggung jawab.

Namun keturunan yang kini berdiri di hadapan Fang Jin tidak memiliki satu pun sifat itu. Keserakahan dan ketamakan terpancar jelas dari wajahnya.

Dan begitulah semuanya berakhir—dengan pemenggalan Ketua Sekte Angin Hitam, sebagaimana yang telah terjadi di awal bab tadi.

Fang Jin meninggalkan sekte itu tanpa menunjuk seorang pengurus baru. Sebelum pergi, ia hanya meninggalkan beberapa patah kata, suaranya terdengar seperti bayangan yang berbisik di antara reruntuhan.

“Siapa pun yang berani menjarah harta ditempat ini atau berpindah dari posisi kalian sekarang, akan mati besok. Utusan dari Aliansi Murim dan Keluarga Fang akan segera datang. Bereskan bangkai babi menjijikkan itu.”

Setelah itu, tubuhnya menghilang seolah ditelan kehampaan.

Padahal kenyataannya, teknik yang ia gunakan hanya memperlambat persepsi penglihatan orang-orang di sekitarnya, membuat gerakannya tampak seperti teleportasi.

Dua sekte pengkhianat telah selesai ia tangani.

Satu sekte musnah, hanya menyisakan sebagian kecil warga yang tidak terkena serangan mematikan Fang Jin.

Satu lagi tetap utuh, namun kehilangan ketua sekte beserta para antek korupnya.

Tanpa menoleh lagi, Fang Jin berlari menggunakan teknik langkah kaki yang teratur dan ringan, membelah angin menuju hutan tempat ia dan Ming sepakat untuk bertemu.

“Ming mungkin sudah mengantuk karena menungguku… Tak kusangka aku sudah tumpul begini seiring berjalannya waktu,” gumam Fang Jin pelan.

Sore mulai datang ketika ia akhirnya tiba di lokasi.

Di bawah rindangnya pepohonan, Ming terlihat duduk bersandar sendirian pada batang pohon besar. Sebotol kendi alkohol berada di tangannya. Ia meminumnya sendirian, wajahnya menunjukkan ekspresi putus asa bercampur kecewa.

Ada sedikit rasa hampa di sorot matanya.

Seolah olah apa yang ia bangun bersama Fang Jin selama ini sempat terasa sia-sia.

“Hei, bodoh. Kenapa kamu minum sendirian dan tidak mengajakku?” ucap Fang Jin sambil mendekat.

Ming menoleh perlahan.

“Ah… siapa kamu? Apakah kamu malaikat maut?” katanya dengan suara sedikit berat.

“Berhentilah bercanda seperti itu. Itu tidak lucu sialan. Apa-apaan juga ekspresimu itu?” balas Fang Jin ketus.

Ming tertawa kecil.

“Haha… mungkin candaanku berhasil membuatmu kesal, Jin.”

Panggilan itu—“Jin”—adalah sesuatu yang istimewa.

Tidak banyak orang yang tetap hidup setelah berani memanggil Fang Jin hanya dengan nama belakangnya. Mereka semua mati pada awal perkenalan, mereka harus benar benar akrab seperti saudara bagi Fang Jin untuk bisa memanggil nama belakangnya. Namun bagi Fang Jin, Ming adalah pengecualian karena sudah sangat lama mereka bersama.

Begitulah secuil kisah tentang awal terciptanya buku karya Ming dan Fang Jin yang telah mengisi dua bab sebelumnya.

Kembali ke situasi Fang Yi.

Malam itu, ia berhasil memahami sepenuhnya makna Dao dari halaman pertama buku tersebut. Indranya pun mengalami sedikit peningkatan—pendengarannya lebih tajam, persepsinya lebih jernih.

“Ah… aku bisa merasakan Qi.”

Fang Yi segera duduk bersila. Ia memejamkan mata dan mencoba memahami prinsip Dao dengan sikap pasrah, membiarkan pikirannya tenang tanpa paksaan.

Qi di sekitarnya yang semula terasa berceceran dan liar, seakan bocor ke segala arah, perlahan mulai berkumpul. Aliran energi itu menyatu, lalu sedikit demi sedikit memasuki tubuh Fang Yi melalui pori-porinya.

Napasnya menjadi lebih teratur, tubuhnya juga terasa hangat.

Setengah jam lamanya telah berlalu.

Fang Yi perlahan membuka matanya.

“In—ini menakjubkan… Aku benar-benar bisa merasakan Qi di dalam tubuhku sekarang,” gumamnya tak percaya. “Tapi aku tidak tahu seberapa banyak Qi yang berhasil kukumpulkan… mungkin setara lima tahun? Atau bahkan sepuluh tahun?”

Perasaan takjub bercampur bingung memenuhi dadanya.

Namun rasa lelah yang sejak tadi ia tahan akhirnya menyerang kembali. Tubuhnya yang masih belum terbiasa menampung energi sebanyak itu mulai terasa berat.

Tak mampu menahannya lebih lama, Fang Yi akhirnya tertidur.

Kepalanya perlahan terjatuh di atas buku yang masih terbuka di hadapannya.

1
sutrisno akbar
lanjut thor lg seru
Hasan Basri
ceritanya semakin menarik👍
Rania: Terima kasih, semoga betah😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!