NovelToon NovelToon
SETELAH HUJAN BERHENTI

SETELAH HUJAN BERHENTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Romantis
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.

Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.

Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.

Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

POSISI YANG TERGESER ARLO

Pak Baskoro menimang Arlo dengan gerakan yang mulai luwes, meskipun wajahnya tetap terlihat serius. Arlo tampak tenang di dekapan tangan yang kokoh itu, seolah tahu bahwa pria di hadapannya adalah pelindung baru bagi keluarganya.

"Dengarkan aku, Arsen," ucap Pak Baskoro sambil menatap tajam ke arah Arsen, namun nada suaranya sedikit lebih melunak. "Menjadi ayah itu bukan cuma soal memberi nama dan membelikan baju lucu. Kamu harus menjamin masa depannya. Kamu harus daftarkan Arlo asuransi kesehatan dan pendidikan secepatnya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, dan aku ingin dia punya jaring pengaman."

Arsen mengangguk mantap. "Baik, Om. Saya akan segera mengurusnya. Kebetulan saya sudah mulai menabung kembali sejak kembali bekerja."

"Satu lagi," tambah Pak Baskoro, "karirmu juga harus kamu perbaiki. Jangan cuma sekadar bekerja. Kamu punya bakat, jangan biarkan dua tahun masa kelammu menghambat posisi yang seharusnya bisa kamu capai. Kamu sekarang punya istri dan anak yang bergantung padamu."

Arsen tertegun mendengar kata "istri". Pak Baskoro secara tidak langsung sudah memberikan restunya.

"Terima kasih, Om. Saya janji akan bekerja lebih keras lagi," jawab Arsen dengan penuh tekad.

Pak Baskoro kemudian menatap Rosa sebentar, lalu kembali ke Arsen. "Nah, sekarang... setelah ini kalian ke rumah orang tua kamu kan? Mereka harus tahu. Jangan sampai mereka mendengar berita pernikahan kalian dari orang lain atau dari media sosial. Itu akan sangat menyakiti hati mereka."

Rosa mengangguk, ia bergeser sedikit lebih dekat ke Arsen. "Iya, Yah. Rencananya setelah makan siang di sini, kami langsung berangkat ke rumah Ayah dan Ibu Arsen."

"Bagus," jawab Pak Baskoro. Ia lalu mencium kening Arlo dengan lembut sebelum menyerahkannya kembali kepada Rosa. "Ibu sudah masak banyak di belakang. Makan dulu, isi tenaga kalian. Menghadapi orang tua Arsen mungkin tidak akan semudah menghadapi aku."

Ibu Rosa tersenyum senang mendengar suaminya sudah luluh. "Ayo, semuanya ke meja makan! Arlo juga harus makan buburnya, kan?"

Suasana di ruang tamu yang tadi tegang kini berubah menjadi hangat. Meskipun tantangan berikutnya sudah menanti di rumah orang tua Arsen, setidaknya mereka sudah mengantongi dukungan penuh dari pihak Rosa.

“Arsen masih 5 bulan bu belum maakan”ucap Rosa

Ibu Rosa yang sudah hampir menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya sendiri langsung terhenti. Ia menepuk jidatnya pelan sambil tertawa kecil, menyadari kekeliruannya.

"Ya ampun, iya! Ibu lupa. Arlo kan masih lima bulan, ya? Belum waktunya makan bubur nasi yang berat-berat begini," ucap Ibu Rosa sambil membelai pipi Arlo yang sedang asyik mengenyut jarinya sendiri. "Pantas saja badannya masih empuk begini, masih murni ASI atau susu formula ya?"

"Masih susu, Bu. Rencananya bulan depan baru mulai MPASI (Makanan Pendamping ASI) pelan-pelan," jelas Rosa sambil membenarkan posisi duduk Arlo di pangkuannya.

Pak Baskoro yang duduk di kepala meja memperhatikan interaksi itu dengan saksama. Ia berdeham, membuat suasana kembali sedikit formal. "Sen, kalau Arlo masih lima bulan, artinya dia butuh perhatian ekstra. Kamu sudah siap kalau malam-malam harus bangun bantu Rosa? Karir yang aku maksud tadi jangan sampai bikin kamu abai sama urusan rumah tangga."

Arsen mengangguk mantap sambil menyendok lauk ke piringnya. "Sudah mulai, Om. Tadi malam saja saya yang jaga Arlo sampai pagi supaya Rosa bisa istirahat. Saya sadar, memperbaiki karir dan jadi ayah itu harus jalan beriringan."

Mendengar jawaban Arsen, Pak Baskoro hanya bergumam pendek, tanda ia cukup puas dengan komitmen itu.

"Makan yang banyak, Sen," tambah Pak Baskoro singkat. "Rumah orang tuamu di pinggir kota kan? Perjalanan bakal jauh, apalagi bawa bayi. Jangan sampai kamu mengantuk di jalan."

Makan siang itu berlangsung jauh lebih santai dari yang Arsen bayangkan sebelumnya. Meskipun ada bayang-bayang kegugupan tentang bagaimana reaksi orang tuanya nanti, dukungan dari keluarga Rosa memberinya kekuatan tambahan.

Setelah makan siang selesai, suasana di teras rumah orang tua Rosa terasa begitu emosional. Pak Baskoro yang tadi terlihat sangat kaku, kini tak henti-hentinya menggoda Arlo. Ia bahkan sempat menggendong bayi itu sekali lagi, membiarkan jemari mungil Arlo menarik-narik kerah kemejanya.

"Jaga kesehatan ya, Jagoan. Nanti kalau sudah bisa lari, kakek ajak keliling kebun," bisik Pak Baskoro pelan, sebuah pengakuan tulus bahwa ia telah menerima Arlo sebagai cucunya sendiri.

Ibu Rosa bahkan lebih berat lagi melepaskan mereka. Ia sudah menyiapkan satu tas kecil berisi bekal untuk Arsen dan Rosa di jalan, serta beberapa kain bedong baru yang sempat ia simpan di lemari.

"Hati-hati di jalan ya, Sen. Jaga Rosa, jaga Arlo. Kabari Ibu kalau sudah sampai di sana," ucap Ibu Rosa sambil menciumi pipi gembil Arlo berkali-kali. "Aduh, rasanya pengen Ibu tahan saja kalian di sini biar Arlo sama Ibu terus."

Arsen tersenyum haru melihat pemandangan itu. "Terima kasih banyak, Om, Tante. Dukungan kalian sangat berarti buat saya."

Mereka akhirnya berpamitan. Saat mobil mulai melaju meninggalkan halaman, Arsen melihat dari spion tengah kedua orang tua Rosa masih berdiri di depan pintu, melambaikan tangan sampai mobil mereka hilang di tikungan jalan.

Di Dalam Mobil Menuju Rumah Orang Tua Arsen

Keheningan sempat menyelimuti kabin mobil. Rosa fokus menenangkan Arlo yang mulai rewel karena mengantuk, sementara Arsen memegang kemudi dengan pikiran yang berkecamuk.

"Mereka sayang banget sama Arlo, ya?" gumam Arsen memecah kesunyian.

"Iya," jawab Rosa lembut sambil mengelus kepala Arlo hingga bayi itu tertidur lelap. "Anak ini punya magnet, Sen. Siapa pun yang melihatnya pasti ingin melindungi. Sekarang, tinggal tugas kita menghadapi bagian yang paling sulit."

Arsen menarik napas panjang. "Rumah orang tuaku sudah dekat. Ibuku... dia orangnya sangat perasa. Aku takut dia pingsan atau malah marah besar karena aku menghilang dua tahun dan tiba-tiba pulang membawa cucu tanpa kabar pernikahan."

Rosa menggenggam tangan kiri Arsen yang menganggur sejenak. "Kita hadapi bareng-bareng, Sen. Seperti kata Ayahku tadi, yang penting kita jujur."

Mobil akhirnya memasuki sebuah kompleks perumahan yang asri dan berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar putih. Jantung Arsen berdegup dua kali lebih kencang daripada saat di rumah Pak Baskoro. Ia mematikan mesin, menatap pintu rumah masa kecilnya itu dengan perasaan campur aduk.

Gemini berkata

Arsen berdiri di depan pintu rumah masa kecilnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menarik napas panjang, bersiap untuk menghadapi ribuan pertanyaan atau bahkan omelan panjang dari sang ibu. Namun, begitu ia mengetuk pintu, sebuah kejutan besar telah menantinya.

Pintu terbuka dengan cepat, seolah sang penghuni memang sudah menunggu di balik daun pintu. Alih-alih mendapatkan pelukan rindu atau rentetan pertanyaan, Ibu Arsen justru mengabaikan putranya yang sudah dua tahun menghilang itu. Matanya langsung terkunci pada bayi di gendongan Rosa.

"Aduh, ya ampun! Gantengnya cucu Ibu!" seru Ibunya sambil langsung meraih Arlo dari dekapan Rosa tanpa permisi lagi. "Ayah! Ayahnya Arlo datang! Cepet sini!" teriaknya ke arah dalam rumah.

Arsen berdiri terpaku di ambang pintu, tangannya masih menggantung di udara. Ia benar-benar bingung. "Ibu... Ibu tahu dari mana kalau kami bawa bayi?"

Ibu Arsen tertawa renyah sambil menciumi pipi gembil Arlo yang tampak bingung namun tenang. "Mama Rosa tadi langsung telepon Ibu! Katanya kalian baru saja berangkat dari sana. Begitu dapat kabar, Ibu langsung suruh Ayahmu mandi biar bersih, biar bisa langsung gendong bayi!"

Belum sempat Arsen mencerna penjelasan itu, suara derap langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah tangga. Ayah Arsen berlari keluar dari kamar dengan rambut yang masih agak basah, diikuti oleh Dana—kakak laki-laki Arsen—dan adik perempuannya yang paling kecil.

"Mana? Mana cucu Ayah?" seru Ayah Arsen. Tanpa menyapa Arsen terlebih dahulu, ia langsung mencoba mengambil alih Arlo dari tangan istrinya. "Gantian, Bu! Kamu kan sudah pegang tadi. Sini sama Opa, Jagoan!"

"Eh, enak saja! Aku baru pegang sebentar!" bantah Ibunya tak mau kalah.

Dana dan adik Arsen pun tidak mau ketinggalan. Mereka berdua mengerumuni bayi mungil itu, membuat suasana teras rumah menjadi sangat riuh.

"Wah, parah sih ini. Mukanya kenapa bisa mirip Arsen banget waktu bayi?" celetuk Dana sambil mencubit pelan kaki Arlo. "Sen, kok kamu bisa punya anak selucu ini tanpa kabar?"

Arsen hanya bisa melongo melihat keluarganya yang biasanya tenang kini saling berebut menggendong Arlo. Ia menoleh ke arah Rosa yang hanya bisa tertawa kecil melihat kegaduhan itu.

"Sepertinya," bisik Rosa ke telinga Arsen, "kamu sudah resmi tergeser posisinya oleh Arlo di rumah ini."

Arsen tersenyum lega. Ketakutan yang membayanginya sepanjang jalan tadi luruh seketika melihat betapa hangat keluarganya menerima kehadiran Arlo, seolah-olah bayi itu memang sudah lama mereka nantikan untuk melengkapi kembali potongan-potongan keluarga yang sempat hancur.

1
Susilawati Arum
Ganti panggilannya dong thor,, masa sama suami sendiri msh panggil nama..kan nggak sopan
nanuna26: baik ka
total 1 replies
falea sezi
keluarga nya kompak bgt meski! tau itu anak mantan arsen mereka ttep sayang sama. arlo/Sob/
falea sezi
q ksih hadiah karena dedek Arlo
falea sezi
apa ini anak mantan arsen
falea sezi
moga Rosa jdoh nya arsen ya
falea sezi
kok bs tinggal di rmh berdebu
nanuna26: kan arsen depresi dittinggal nikah mantannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!