Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Keesokan harinya, matahari di lokasi proyek terasa lebih menyengat dari biasanya. Debu beterbangan di antara raungan mesin berat, tapi Arga berdiri di sana dengan kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku, mengamati progres pembangunan.
Namun, fokusnya terpecah. Matanya terus melirik ke arah seorang gadis yang sedang berjongkok di dekat tumpukan pipa baja, mencoba mencari sudut pandang terbaik dengan kamera besarnya.
Ayu tampak sangat berbeda saat bekerja. Tidak ada kecerewetan yang tidak perlu. Rambutnya diikat asal, wajahnya sedikit kotor terkena debu, namun matanya memancarkan fokus yang luar biasa.
"Panas begini, kenapa Bapak malah berdiri di tengah lapangan? Nanti bos gengsian ini bisa meleleh," celetuk Ayu tanpa mengalihkan pandangan dari lubang bidik kameranya.
Arga tersentak, tertangkap basah sedang memerhatikannya. "Saya sedang mengecek struktur, bukan memerhatikanmu."
"Oh, struktur ya? Sejak kapan struktur bangunan pindah ke punggung saya?" Ayu bangkit berdiri sambil terkekeh, lalu mengelap keringat di dahi dengan punggung tangannya, meninggalkan coretan abu-abu di kulitnya yang bersih.
Arga terdiam. Entah dorongan dari mana, ia melangkah mendekat. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar sapu tangan kain berwarna biru tua.
"Wajahmu kotor," ucap Arga kaku, menyodorkan sapu tangan itu.
Ayu menatap sapu tangan itu, lalu menatap Arga bergantian. Ia tidak mengambilnya, melainkan justru memajukan wajahnya sedikit. "Tangan saya kotor semua, Pak. Tolong bersihkan, dong?"
Jantung Arga serasa berhenti berdetak sesaat. Ia tahu Ayu sedang menggodanya, tapi suasana di sekitar mereka,deru mesin yang bising dan terik matahari,mendadak terasa sunyi. Dengan ragu, Arga mengangkat tangannya. Ia mengusap pipi Ayu dengan sapu tangannya, sangat perlahan.
Gerakannya yang kaku perlahan melembut. Untuk sedetik, mata mereka bertemu. Jarak yang sangat dekat itu membuat Arga bisa mencium aroma samar parfum jeruk dari tubuh Ayu yang bercampur dengan bau matahari.
"Nah, sudah," ucap Arga cepat-cepat menarik tangannya saat menyadari ia telah mengusap pipi Ayu terlalu lama.
Ayu mengerjapkan matanya, tampak sedikit terkejut dengan kelembutan Arga yang tidak terduga. Ia berdehem, mencoba menguasai keadaan. "Terima kasih, Pak Bos. Sapu tangannya saya simpan ya, buat kenang-kenangan kalau es kutub utara ternyata bisa perhatian juga."
Ayu kembali berlari menuju sisi lain lapangan sambil melambaikan tangan, meninggalkan Arga yang masih berdiri mematung memegang sisa kehangatan di ujung jarinya.
Tanpa Arga sadari, di kejauhan, sebuah mobil hitam terparkir. Di dalamnya, Andrea,ibunya tersenyum lebar sambil menurunkan teropong kecilnya.
"Papa harus lihat ini," gumam Andrea ke ponselnya dengan nada girang.
Arga masih mematung, menatap punggung Ayu yang menjauh dengan langkah ringan. Ujung jarinya yang tadi menyentuh pipi Ayu terasa panas bukan karena terik matahari, tapi karena sebuah sensasi yang sudah bertahun-tahun ia kunci rapat dalam peti besi: debar jantung.
Ia mengepalkan tangannya, mencoba menghalau perasaan itu. Namun, aroma jeruk yang samar tadi seolah masih tertinggal di udara, bertarung dengan bau debu dan solar di lokasi proyek.
"Jangan berlebihan, Arga. Itu cuma sapu tangan," bisiknya pada diri sendiri, suaranya tenggelam oleh deru crane di atas kepala.
Sore harinya, Arga kembali ke kantor sementaranya di site proyek. Ruangan itu dingin karena AC yang dipasang maksimal, kontras dengan panas di luar tadi. Ia duduk di kursi kerjanya, namun matanya tertuju pada sebuah bingkai foto kecil yang selalu ia letakkan terbalik di sudut meja.
Dengan ragu, ia membalik bingkai itu.
Foto Yura. Gadis itu tersenyum tipis di bawah pohon pinus, matanya menyimpan kesedihan yang dulu gagal Arga baca. Seketika, rasa hangat dari pipi Ayu tadi berubah menjadi hantaman rasa bersalah yang dingin.
"Bagaimana bisa aku merasa berdebar untuk orang lain, sementara kamu sekarang entah dimana Yura?"
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.
"Pak Arga? Ini hasil foto-foto lapangan tadi. Sudah saya pindahkan ke flashdisk," Ayu melongokkan kepalanya dari balik pintu. Wajahnya sudah bersih, rambutnya kini digerai, membuatnya tampak lebih lembut di bawah lampu neon.
Arga buru-buru membalikkan kembali foto Yura ke posisi semula. Gerakannya terlalu kasar hingga bingkai itu beradu keras dengan meja kayu. Takk!
Ayu terdiam di ambang pintu. Matanya yang tajam menangkap kegugupan Arga. Senyum jahil yang biasanya menghiasi bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan penuh selidik yang dewasa.
"Bapak... oke?" tanya Ayu pelan. Ia melangkah masuk, meletakkan flashdisk di meja, namun matanya melirik bingkai foto yang terbalik itu.
"Saya baik-baik saja. Taruh saja di situ, kamu boleh pulang," jawab Arga dingin, kembali ke mode 'Es Kutub Utara' miliknya.
Ayu tidak segera pergi. Ia berdiri di sana sejenak, merasakan ketegangan yang menyesakkan di ruangan itu. "Pak, saya nggak tahu siapa yang ada di foto itu. Tapi kalau mengingat seseorang membuat Bapak jadi sekaku ini, mungkin Bapak perlu berhenti melihat ke belakang sejenak."
"Kamu tidak tahu apa-apa, Ayu. Keluar," potong Arga tanpa menatapnya.
Ayu menghela napas panjang, tidak marah, justru terdengar simpati. "Saya memang nggak tahu. Tapi satu hal yang saya tahu,anda akan terus terpuruk jika terus saja melihat ke belakang."
Setelah Ayu menutup pintu dengan lembut, Arga menyandarkan punggungnya ke kursi. Kalimat Ayu barusan menghantamnya lebih keras daripada mesin pemancang paku bumi di luar sana.
Di kejauhan, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari ibunya, Andrea:
"Jangan lupa untuk pulang lebih cepat malam ini ya nak.Kakakmu Alvin pulang dari Singapura."
Arga memijat pelipisnya. Malam ini dia pasti akan terus di tanya kapan menikah dan tetek bengek lainnya.
Arga menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong.Setidaknya dengan adanya Alvin, mungkin akan sedikit mengurangi bebannya.Alvin akan membantu memberikan alasan jika orang tuanya bertanya 'kapan akan menikah?'
"Menikah, ya?" gumam Arga sinis. Ia melirik kembali foto Yura yang masih tertelungkup. "Bagaimana bisa aku menjanjikan masa depan pada orang lain, kalau masa laluku saja entah ada dimana?'
Bersambung...
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it