NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Sudut Kelas

Satu tahun berlalu, namun setiap pagi di depan gerbang sekolah tetap terasa seperti hukuman mati bagi Lauren. Ia belajar untuk menundukkan kepala, berjalan cepat melewati koridor, dan menghindari kontak mata dengan siapa pun. Ia ingin menjadi bayangan. Ia ingin menjadi tidak terlihat agar dunia berhenti menyakitinya.

Di dalam kelas 2-A, udara terasa pengap oleh aroma sisa pembersih lantai dan debu kapur. Bu Sri, guru matematika dengan kacamata tebal yang bertengger di ujung hidungnya, sedang menuliskan deretan angka di papan tulis. Suara decit kapur itu terdengar seperti gergaji yang membelah keheningan bagi telinga Lauren.

Tujuh ditambah lima sama dengan dua belas. Simpan satu di atas angka delapan.

Lauren membatin, mencoba mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh. Jemarinya yang kecil menggenggam pensil begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia memfokuskan pandangannya pada buku tulis bergaris di depannya. Ia harus fokus. Ia tidak boleh melihat ke samping. Tidak boleh melihat ke belakang.

"Lauren, kerjakan nomor dua di bukumu. Jangan melamun terus," tegur Bu Sri tanpa menoleh.

"Iya, Bu," sahut Lauren pelan.

Baru saja ia hendak menjumlahkan angka di baris kedua, sebuah suara gesekan halus terdengar dari arah jendela kaca di sebelah kirinya. Srak... srak... srak...

Lauren mematung. Ia tahu suara itu. Itu bukan suara dahan pohon yang tertiup angin. Itu adalah suara kuku yang menggaruk permukaan kaca. Ia mencoba mengabaikannya, terus menghitung dalam hati, namun suara itu semakin keras, kini disertai dengan ketukan ritmis yang menuntut perhatian.

Tok. Tok. Tok.

Tanpa bisa dicegah, mata Lauren melirik ke arah jendela. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Di balik kaca jendela lantai dua itu, sesosok anak laki-laki dengan wajah pucat pasi sedang menempelkan wajahnya. Kulitnya tampak transparan, menampakkan urat-urat biru yang menghitam. Anak itu tidak memiliki bola mata, hanya menyisakan lubang hitam pekat yang mengucurkan cairan kental berwarna gelap.

Anak itu menyeringai, menunjukkan barisan gigi yang runcing dan berkarat. Ia mulai membenturkan kepalanya ke kaca dengan kekuatan yang tidak masuk akal.

Dug! Dug! Dug!

Lauren menutup telinganya dengan kedua tangan. Tubuhnya gemetar hebat. Pergi. Tolong pergi, teriaknya dalam hati. Namun, sosok itu justru semakin beringas. Kaca jendela mulai menampakkan retakan halus seiring dengan benturan kepala sang makhluk yang kini mulai mengeluarkan suara tawa melengking yang hanya bisa didengar oleh Lauren.

"Lauren? Kamu kenapa?" suara Bu Sri terdengar menuntut dari depan kelas.

Lauren tidak mendengar. Di matanya, sosok itu kini sedang merangkak naik di atas kaca, jemarinya yang panjang dan kurus menyelinap masuk melalui celah kecil di bingkai jendela. Tangan pucat itu terulur ke arah Lauren, mencoba menggapai bahunya.

"Jangan! Jangan mendekat!" teriak Lauren histeris.

Ia berdiri dari kursinya dengan gerakan mendadak hingga meja kayu itu bergeser keras. Suara teriakannya memecah kesunyian kelas, melengking tinggi hingga membuat beberapa teman sekelasnya terjengkang kaget. Lauren mundur hingga menabrak lemari buku di belakangnya, matanya melotot tajam ke arah jendela yang bagi orang lain nampak kosong melompong.

"Pergi! Kamu jelek! Pergi!" jerit Lauren lagi, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah udara kosong.

Seketika, kelas menjadi sunyi senyap. Puluhan pasang mata menatap Lauren dengan ekspresi antara terkejut dan jijik. Bu Sri meletakkan kapur tulisnya dengan bantingan keras, wajahnya memerah karena emosi yang tertahan.

"Lauren! Cukup!" bentak Bu Sri. Langkah kakinya yang berat mendekati meja Lauren.

"Apa-apaan kamu ini? Berteriak di tengah pelajaran seperti orang kesurupan!"

"Bu... ada anak laki-laki itu... dia mau masuk..." isak Lauren, air mata mulai mengalir deras di pipinya. Ia menunjuk ke arah jendela, namun sosok itu sudah lenyap, hanya menyisakan bayangan samar yang memudar di udara.

Bu Sri menoleh ke arah jendela yang tertutup rapat.

"Tidak ada siapa-siapa di sana, Lauren! Ini lantai dua! Siapa yang bisa berdiri di luar sana?"

"Tapi saya lihat, Bu! Dia tidak punya mata!"

"Sudah cukup fantasinya!" Bu Sri memukul meja Lauren dengan penggaris kayu panjang. Plak! Suara itu membuat Lauren tersentak.

"Kamu hanya ingin mencari perhatian, kan? Karena kamu tidak bisa mengerjakan soal matematika, kamu membuat keributan agar pelajaran terhenti!"

"Bukan, Bu... saya tidak bohong..."

"Keluar! Berdiri di depan kelas sampai jam istirahat!" perintah Bu Sri dingin.

"Ibu bosan dengan tingkah anehmu setiap hari. Kamu mengganggu teman-temanmu yang ingin belajar!"

Lauren menunduk, bahunya terguncang oleh tangis yang tertahan. Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu kelas dengan kaki yang terasa berat. Saat ia melewati barisan bangku teman-temannya, ia mendengar bisikan-bisikan tajam yang lebih menyakitkan daripada benturan kepala hantu tadi.

"Tuh kan, dia kumat lagi."

"Dasar anak gila. Harusnya dia masuk RSJ saja."

"Jangan lihat matanya, nanti kita ikut stres."

Siska, teman sebangkunya yang dulu sempat menyapanya, kini menutup hidungnya seolah-olah Lauren membawa bau busuk. Lauren mempercepat langkahnya, keluar ke koridor sekolah yang sunyi. Ia berdiri di samping pintu kelas, menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang dingin.

Dunia luar terasa sangat kejam. Logika orang dewasa dan ejekan teman-teman sebayanya membentuk tembok tinggi yang mengisolasinya. Ia merasa seperti makhluk asing yang terdampar di planet yang salah. Tidak ada yang percaya. Tidak ada yang mengerti bahwa setiap hari adalah medan perang baginya.

Tiga jam kemudian, saat bel pulang berbunyi, Lauren tidak menunggu Maria menjemputnya di depan gerbang. Ia berlari keluar dari area sekolah, menerobos kerumunan orang tua tanpa peduli pada seruan ibunya yang baru saja tiba. Ia terus berlari hingga napasnya terasa terbakar, hingga ia sampai di depan pintu rumahnya.

"Lauren! Tunggu Mama!" teriak Maria yang mengejar dengan napas terengah.

Lauren masuk ke dalam rumah, mengabaikan Bram yang sedang membaca koran di ruang tamu. Ia berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.

Brak!

Pintu kamar dibanting keras dan dikunci dari dalam. Lauren melemparkan dirinya ke atas tempat tidur, menenggelamkan wajahnya di bantal. Ia menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan semua rasa malu, frustrasi, dan benci yang menumpuk di dadanya.

"Lauren, buka pintunya, Sayang. Bicara sama Mama," suara Maria terdengar lembut dari balik pintu, disertai ketukan pelan.

"Pergi! Lauren mau sendiri!" teriak Lauren parau.

"Ada apa lagi kali ini? Apa gurumu menelepon?" terdengar suara Bram yang mulai meninggi.

"Maria, sudah kubilang anak ini butuh disiplin, bukan dimanjakan terus!"

"Bram, tolong, jangan sekarang," bisik Maria, namun suaranya tetap terdengar oleh Lauren.

Lauren menutup telinganya dengan bantal. Suara perdebatan orang tuanya di luar sana hanya menambah beban di kepalanya. Ia merasa tidak diinginkan. Ia merasa kehadirannya hanya membawa masalah bagi semua orang.

Suasana kamar itu tiba-tiba menjadi sangat gelap, meski matahari masih bersinar di luar sana. Bayangan di sudut lemari mulai memanjang, merayap perlahan menutupi lantai. Hawa dingin yang akrab mulai menyentuh kaki Lauren yang tidak beralas.

Lauren mengangkat kepalanya sedikit. Di sudut kamar yang paling gelap, sepasang mata merah yang pernah ia lihat saat balita kini kembali muncul. Mata itu tidak menyerangnya. Mata itu hanya menatapnya dengan diam, seolah sedang menunggu saat yang tepat untuk menelan kesedihan Lauren bulat-bulat.

"Kamu juga mau menertawakanku?" bisik Lauren pada kegelapan itu.

Mata merah itu berkilat. Untuk pertama kalinya, Lauren tidak merasa takut. Ia justru merasakan semacam kekosongan yang dalam. Jika dunia manusia menolaknya, mungkin dunia gelap ini adalah satu-satunya tempat di mana ia benar-benar memiliki tempat.

Lauren meringkuk seperti janin di tengah tempat tidur. Ia memejamkan mata erat-erat, membiarkan kegelapan di dalam kamarnya terasa lebih nyata daripada cahaya di luar sana. Ia tidak ingin keluar lagi. Ia tidak ingin melihat siapa pun lagi. Baginya, dunia sudah berakhir di balik pintu kamar yang terkunci ini.

Namun, di tengah kesunyian itu, sebuah bisikan baru terdengar. Bukan suara parau hantu yang marah, bukan pula suara ejekan teman-temannya. Itu adalah suara desisan dingin yang menyebut namanya dengan nada yang sangat manis, seolah-olah sedang menawarkan jalan keluar yang mematikan.

Lauren... kemarilah... jangan takut pada kegelapan... karena kegelapan adalah rumahmu...

Lauren tersentak, matanya terbuka lebar. Di dalam lemari yang sedikit terbuka, ia melihat sebuah tangan besar dengan kuku hitam yang panjang perlahan-lahan menyembul keluar, seolah sedang memanggilnya untuk masuk ke dalam keabadian yang sunyi.

1
`|aley|`
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!