Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangkar Samudra
Liora memacu pesawatnya rendah di atas permukaan Selat Malaka yang bergejolak. Pangkalan bawah laut yang baru saja ia tinggalkan bukanlah sekadar laboratorium tambahan itu adalah Markas Pusat yang selama ini disembunyikan di balik ribuan narasi bohong. Selama puluhan tahun, elit global melalui berbagai media massa dan forum internet sengaja memelihara mitos tentang Area 51 di Nevada atau pangkalan di kutub. Mereka membiarkan para pencari kebenaran fokus pada foto-foto satelit gurun yang sebenarnya hanya berisi gudang rongsokan pesawat, sementara di kedalaman samudera yang tak tertembus cahaya, mereka membangun peradaban mesin yang sesungguhnya.
"Mereka sangat cerdik, Liora," suara Adam kembali muncul, kali ini lebih stabil karena ia mulai menyedot energi dari situs Muara Takus yang sudah dekat. "Manusia selalu mendongak ke langit untuk mencari musuh, atau menatap ke padang pasir. Tapi mereka lupa bahwa 70 persen bumi adalah air. Lautan adalah 'blind spot' terbesar bagi satelit publik. Di sanalah, di bawah tekanan jutaan ton air, mereka melanjutkan kekejaman Unit 731 tanpa interupsi hukum atau moral."
Liora mengangguk, matanya menatap layar radar yang menunjukkan jalur kabel-kabel raksasa di dasar laut yang menghubungkan Singapura dengan pusat-pusat saraf elit di seluruh dunia. "Jadi, markas laut ini adalah 'Anchor' yang asli. Area 51 hanyalah layar teater agar orang-orang tidak melihat ke bawah kaki mereka."
"Tepat. Dan sekarang, setelah 'Deep Spine' di Malaka mulai bergejolak, mereka tidak bisa lagi bersembunyi. Mereka harus memindahkan kesadaran para Arc.hon dari server laut ke daratan. Itulah sebabnya Muara Takus menjadi sangat krusial sekarang."
Saat Liora mendekati pesisir Sumatra, ia melihat pemandangan yang mengerikan. Dari dalam laut, muncul struktur-struktur logam raksasa berbentuk menara yang naik ke permukaan. Ini bukan kapal perang; ini adalah pemancar frekuensi seluler tipe Omega yang berfungsi untuk membajak seluruh jaringan komunikasi yang masih tersisa di daratan.
Di Muara Takus, Hendrawan sedang berdiri di atas stupa bata merah, memegang antena pengarah. Di sekelilingnya, suasana nampak sangat tegang. Pasukan perlawanan lokal orang-orang yang selamat dari pembersihan sel tidur telah berkumpul dengan senjata seadanya. Mereka tidak tahu bahwa musuh yang akan mereka hadapi bukanlah manusia, melainkan sesuatu yang lahir dari kegelapan palung terdalam.
"Liora! Cepat mendarat!" teriak Hendrawan melalui transmisi radio. "Sensor bawah laut kita menangkap pergerakan massa besar yang bergerak dari dasar laut menuju pantai. Mereka menyebutnya 'The Drone infanteri hasil eksperimen Unit 731 yang telah dimodifikasi agar bisa bernapas di air dan memiliki kekuatan otot lima kali lipat manusia biasa!"
Liora mendaratkan pesawatnya di pelataran rumput Muara Takus dengan manuver yang kasar. Ia melompat keluar, membawa tas berisi sisa-sisa data dari laboratorium Singapura.
"Hendrawan! Area 51 itu bohong! Semuanya ada di bawah laut!" Liora berteriak sambil berlari menuju pusat komando darurat di dalam bangunan candi.
"Aku sudah menduganya!" sahut Hendrawan sambil mengutak-atik komputernya. "Semua anomali magnetik yang kita deteksi selama sepuluh tahun terakhir tidak pernah datang dari Nevada. Semuanya berasal dari palung laut. Dan sekarang, mereka mengirimkan 'penagih hutang' mereka ke sini karena Muara Takus adalah satu-satunya tempat yang bisa memutus koneksi antara markas laut mereka dengan Bahtera di Bulan!"
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah hutan yang berbatasan dengan sungai Kampar. Pohon-pohon raksasa tumbang seolah diterjang oleh buldoser yang tak terlihat. Dari balik kabut sungai, muncullah pasukan The Drone .Penampilan mereka mengerikan: tubuh mereka besar, kulit mereka pucat dan licin seperti kulit hiu, dengan insang mekanis yang berdenyut di leher. Mereka mengenakan zirah transparan yang berisi cairan nutrisi agar mereka tetap bisa berfungsi di daratan.
"Tembak!" perintah salah satu komandan perlawanan.
Rentetan peluru menghujam pasukan dari laut itu, namun peluru-peluru tersebut hanya bersarang di lapisan lemak tebal mereka tanpa memberikan dampak berarti. Pasukan The Drone terus maju dengan langkah yang berat namun pasti, mata mereka yang kuning bercahaya menatap lurus ke arah stupa Muara Takus.
"Liora, jangan gunakan peluru!" suara Adam berteriak di kepala Liora. "Gunakan frekuensi 'Resi'! Di dalam tasmu ada alat pemancar kecil berwarna biru. Itu adalah kunci untuk mensimulasikan tekanan air yang hilang. Jika kau mengaktifkannya, zirah mereka akan meledak karena perbedaan tekanan internal!"
Liora segera merogoh tasnya dan menemukan alat yang dimaksud. Ia memanjat stupa utama, mengabaikan tembakan laser dari drone-drone elit yang mulai berdatangan dari langit. Di puncak stupa, ia menekan tombol aktivasi.
Sebuah gelombang ultrasonik berbentuk lingkaran biru meluas dari pusat Muara Takus. Saat gelombang itu menyentuh pasukan The Drone, terjadi pemandangan yang sangat brutal. Zirah transparan mereka pecah secara serentak. Cairan di dalamnya meledak, dan tubuh-tubuh hasil eksperimen Unit 731 itu menggelembung sebelum akhirnya hancur karena tidak mampu menahan tekanan atmosfer daratan yang jauh lebih rendah daripada dasar laut.
"Berhasil!" Hendrawan bersorak.
Namun, kemenangan itu hanya sementara. Dari langit, sebuah objek raksasa berbentuk piringan perak jauh lebih besar dari pesawat pengintai Liora mulai turun. Ini bukan drone; ini adalah salah satu kapal komando dari Bahtera Bulan yang memutuskan untuk turun langsung.
"Mereka mengirimkan 'The Over seer'," bisik Mpu Barada yang entah sejak kapan sudah berada di samping Hendrawan. "Si Pemegang Kendali tidak lagi percaya pada budaknya di dasar laut. Dia datang untuk menjemput 'Benih' itu sendiri."
Kapal raksasa itu menggantung di atas Muara Takus, menciptakan bayangan yang menelan seluruh komplek candi ke dalam kegelapan. Sebuah pintu besar di bawah kapal terbuka, melepaskan pilar cahaya ungu yang mulai menyedot batu-batu candi dan orang-orang di sekitarnya.
"Adam... apa yang harus kita lakukan?" Liora berpegangan pada stupa agar tidak tersedot ke atas.
"Liora... Muara Takus adalah pusat transmisi. Jika mereka berhasil menguasai tempat ini, mereka akan membalikkan perisai bumi menjadi penjara global. Kau harus masuk ke dalam kapal itu. Kau harus menghancurkan pusat gravitasinya dari dalam. Aku akan menggunakan sisa energi Borobudur untuk menahan pilar cahaya itu agar kau bisa menyusup."
"Lalu bagaimana denganmu, Adam? Borobudur sudah mulai retak!"
"Arsitektur yang baik adalah arsitektur yang tahu kapan harus roboh agar penghuninya bisa selamat, Liora. Pergilah! Hendrawan akan membimbingmu dari bawah!"
Dengan bantuan tarikan gravitasi pilar cahaya itu, Liora justru melompat masuk ke dalam arus energi ungu tersebut. Ia tidak lagi melawan, ia mengikuti arusnya. Dalam sekejap, ia tersedot masuk ke dalam perut kapal komando elit.
Di sana, ia tidak menemukan teknologi mesin yang dingin. Sebaliknya, ia menemukan hutan buatan yang megah, dengan sungai-sungai air jernih yang mengalir di langit-langit. Ini adalah replika "Taman Firdaus" yang ingin dibangun elit di Bulan. Dan di tengah hutan itu, duduk sang Pemegang Kendali di atas kursi melayangnya, menatap Liora dengan senyum yang sangat tenang.
"Area 51 memang alibi yang bagus, bukan?" tanya sang Pemegang Kendali. "Bahkan sampai detik ini, agen-agenmu di daratan masih mengira Nevada adalah kunci. Padahal, kuncinya selalu berada di dalam darahmu, Liora. Darah yang diwarisi dari ayahmu, subjek terbaik Unit 731 yang pernah kami miliki."
Liora mengangkat senjatanya, namun sang Pemegang Kendali hanya melambaikan tangan, dan senjata Liora terlepas dari tangannya, seolah-olah ditarik oleh magnet raksasa.
"Selamat datang di rumah yang sebenarnya, Putri Samudera. Sekarang, mari kita lihat apakah Arsitekmu di bawah sana bisa menyelamatkanmu dari kehampaan yang akan aku ciptakan."
Pertempuran di Muara Takus baru saja berubah dari perang darat menjadi perang di dalam jantung kekuatan musuh. Dan rahasia tentang markas bawah laut ternyata hanyalah satu lapisan dari kebohongan elit yang jauh lebih dalam.