NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 22 - KONTAK DAN JANJI

Minggu pagi selalu punya cara tersendiri untuk terasa berbeda dari hari-hari lainnya.

Bukan karena lebih tenang, meski memang lebih tenang. Bukan karena tidak ada alarm, meski Ara memang tidak memasang alarm hari ini. Lebih karena ada semacam izin tidak tertulis yang datang bersama hari Minggu, izin untuk bergerak lebih lambat, untuk membiarkan pikiran belum sepenuhnya aktif dulu sebelum tubuh ikut bergerak, untuk berbaring di kasur lima menit lebih lama dari yang perlu tanpa merasa bersalah tentang itu.

Ara memanfaatkan izin itu sepenuhnya.

Ia berbaring dengan selimut masih setengah menutupi bahunya, rambut blonde yang biasanya rapi sekarang menyebar di bantal dengan cara yang tidak akan pernah ia perlihatkan kepada siapa pun di sekolah, dan matanya menatap langit-langit kamarnya dengan ritme pikiran yang masih pelan dan belum meminta terlalu banyak dari dirinya sendiri.

Rasanya berbeda dari Minggu-Minggu sebelumnya.

Ara memikirkan itu sambil menatap langit-langit. Ada sesuatu yang berbeda dari cara ia bangun hari ini, sesuatu yang lebih ringan dari biasanya, seperti seseorang yang sudah meletakkan sesuatu yang berat di tempat yang tepat semalam dan sekarang bangun tanpa harus langsung mengangkatnya kembali.

Ia tidak langsung bisa menyebut dari mana ringan itu asalnya.

Tapi kalau ia jujur, dan pagi Minggu adalah waktu yang paling mudah untuk jujur dengan dirinya sendiri, jawabannya ada di bangku minimarket semalam dan percakapan yang tidak ia rencanakan tapi sudah lama ia butuhkan.

*Kalau begitu mari lanjutkan. Sampai kamu tahu apa itu.*

Ara menarik selimutnya sedikit lebih ke atas.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Ia meraihnya dengan tangan yang masih setengah malas, membuka layarnya, dan menemukan notifikasi dari Via.

*Ra, kemarin setelah pisah sama kamu dan gill, aku sama mike ke kantin. Ngobrol bentar. Terus pulang. Itu aja.*

Ara membaca pesan itu dua kali.

Lalu mengetik balasan: *Yakin cuma itu?*

Tiga detik kemudian Via membalas.

*Ya iya. Emang mau gimana. Kantin terus pulang. Titik.*

Ara tersenyum ke layar ponselnya. *Ngobrolnya soal apa?*

*Soal makanan kantin yang terlalu asin.*

*Via.*

*Iya beneran. Dia juga komplain soal ayam gorengnya kurang renyah.*

*Kalian ngobrol soal makanan kantin selama di kantin.*

*Iya. Ada masalah?*

Ara menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang berada di perbatasan antara tidak percaya dan geli. *Nggak ada masalah. Cuma... itu aja?*

Tiga titik muncul, tanda Via sedang mengetik. Berlangsung cukup lama untuk ukuran Via yang biasanya mengetik cepat. Lalu berhenti. Lalu muncul lagi. Lalu berhenti lagi.

Akhirnya: *Ra, ada hal yang lebih penting dari urusan aku. Gimana kamu sama gill semalam?*

Ara menatap pertanyaan itu.

Via yang mengalihkan topik dari dirinya sendiri ke Ara adalah Via yang sedang tidak mau dianalisis lebih lanjut, dan Ara sudah cukup lama mengenal Via untuk tahu kapan harus mendorong dan kapan harus membiarkan.

Sekarang adalah kapan harus membiarkan.

*Baik,* Ara mengetik. *Kita ngobrol. Sudah lebih jelas sekarang.*

*Sudah tukar nomor?*

*Sudah.*

Tidak ada balasan selama sepuluh detik. Lalu: *Akhirnya. Kalian aneh banget, pacaran tapi belum punya nomor satu sama lain.*

*Iya kami memang aneh.*

*Itu kata orang yang mau ngeles.*

Ara tertawa pelan, menutup mulutnya dengan ujung selimutnya karena pintu kamarnya masih terbuka dan ibunya mungkin masih di dapur.

*Sudah, aku mau bantu ibu dulu,* Via mengetik lagi. *Nanti cerita kalau ada yang penting.*

*Oke. Makasih Via.*

Tidak ada balasan untuk itu, yang sudah Ara duga karena Via tidak pernah membalas ucapan terima kasih dengan lebih dari anggukan diam, bahkan dalam bentuk teks.

Ara meletakkan ponselnya di dada, menatap langit-langit lagi.

Lalu teringat sesuatu.

Ia mengambil ponselnya kembali. Membuka daftar kontak. Menggulir sampai menemukan nama yang baru ditambahkan semalam.

*Gill (Jangan Minta Hotspot Lagi)*

Foto profilnya, yang Ara lihat untuk pertama kalinya sekarang karena semalam sudah terlalu malam untuk memperhatikan detail seperti itu, adalah foto seekor kucing oranye kecil yang sedang duduk di atas meja dengan ekspresi datar sambil mengacungkan satu kaki depannya ke kamera dengan cara yang sangat menyerupai jari tengah kalau dilakukan oleh manusia.

Ara menatap foto profil itu beberapa detik.

Lalu mengetik pesan pertama yang akan ia kirim ke nomor itu.

*Pagi.*

Ia kirim.

Lalu meletakkan ponselnya di dada sambil menatap langit-langit dan menunggu.

Satu menit berlalu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Ara mengambil ponselnya. Belum ada centang biru. Masih satu centang abu-abu yang artinya pesan belum terkirim, atau dua centang abu-abu yang artinya terkirim tapi belum dibaca.

Dua centang abu-abu.

Terkirim tapi belum dibaca.

Ara meletakkan ponselnya kembali.

Baik. Mungkin Gill masih tidur. Atau mungkin sedang mengantar Fio ke suatu tempat. Atau mungkin sedang sarapan. Ada banyak kemungkinan yang masuk akal untuk menjelaskan kenapa seseorang tidak langsung membaca pesan di pagi hari.

Dua puluh menit kemudian centangnya berubah menjadi biru.

Ara menatap layar.

Menunggu.

Tiga puluh detik.

Satu menit.

Tiga menit.

Balasan muncul.

*hm*

Ara menatap satu suku kata itu selama lima detik penuh.

Satu huruf H. Satu huruf M. Tanpa titik, tanpa tanda seru, tanpa emoji, tanpa kata lain yang menyertai.

*hm.*

Ara mengambil napas satu kali yang sangat panjang dan sangat terkontrol.

Lalu mengetik: *Gill.*

Balasan datang lebih cepat kali ini, hanya sekitar dua puluh detik. *Apa.*

*Itu doang balasannya?*

*Balasan untuk apa.*

*Untuk pagi.*

*Kamu bilang pagi. Aku balas hm. Itu respons.*

*Hm bukan respons untuk pagi.*

*Hm adalah respons universal untuk segala situasi.*

Ara menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang sudah menyerah pada logika tertentu dari orang tertentu. *Balas dengan pagi juga. Itu namanya membalas sapaan.*

Tiga detik. *Pagi.*

*Terima kasih.*

*Sama-sama. Kamu perlu apa.*

Ara membaca kalimat terakhir itu. Bukan pertanyaan, tidak ada tanda tanya, hanya kalimat yang menyampaikan bahwa Gill sudah memproses bahwa ada alasan di balik pesan pertama tadi dan sekarang menunggu alasan itu disampaikan.

*Nggak perlu apa-apa,* Ara mengetik. *Cuma kirim pesan supaya kamu punya nomorku. Seperti yang aku bilang semalam.*

Tidak ada balasan selama dua menit.

Lalu: *Oh.*

Satu huruf O. Satu huruf H.

Ara meletakkan ponselnya di meja dengan bunyi yang sedikit lebih keras dari yang perlu. Bukan marah. Hanya ekspresi fisik dari sesuatu yang tidak bisa dikeluarkan dengan cara lain terhadap seseorang yang membalas chat dengan dua huruf.

Ia bangkit dari kasur.

Kalau menunggu balasan dari Gill adalah ukuran produktivitasnya hari Minggu, hari ini tidak akan berjalan dengan baik.

---

Hari Minggu Ara berjalan dengan ritme yang lebih lambat dari hari sekolah tapi tidak kosong.

Mencuci pakaiannya sendiri dulu, kebiasaan yang sudah terbentuk sejak kelas delapan ketika ibunya bilang bahwa cewek yang hanya bisa bergantung kepada orang lain untuk urusan dasarnya sendiri adalah cewek yang tidak punya fondasi. Ara tidak selalu setuju dengan cara ibunya menyampaikan sesuatu, tapi untuk hal itu ia tidak punya bantahan yang cukup kuat.

Setelah mencuci, membantu ibunya membereskan ruang tamu yang sudah rapi tapi selalu ada satu dua hal yang bisa lebih rapi. Mengelap meja, memindahkan buku-buku yang terletak agak miring di rak, menyapu bagian dekat jendela yang ibunya sering lupa.

Siang hari ia mencoba memasak.

Bukan memasak sungguhan, lebih seperti mengikuti resep sederhana yang sudah ibunya tempel di pintu kulkas dengan tulisan tangan yang sudah memudar, resep telur dadar gulung yang sama dengan yang ia masukkan ke bekal Gill kemarin. Hasilnya tidak serapi milik ibunya, dua kali ia harus menggulung ulang karena permukaannya sobek di tengah, dan satu kali tepiannya sedikit gosong karena ia tidak memperhatikan api kompor.

Tapi tetap bisa dimakan.

Ibunya mencicipinya dan berkata tidak buruk, yang dalam bahasa ibunya berarti cukup bagus karena ibunya bukan tipe yang memberi pujian berlebihan untuk hal-hal yang seharusnya memang bisa dilakukan.

Siang itu, setelah makan, Ara duduk di kursi ruang tamu dengan buku yang sudah setengah ia baca sejak minggu lalu dan belum selesai karena selalu ada sesuatu yang lebih mendesak untuk dipikirkan daripada cerita di dalam buku itu.

Ia membaca tiga halaman sebelum teringat untuk mengecek ponselnya.

Belum ada pesan dari Gill sejak *oh* tadi pagi.

Ara menutup bukunya.

Baik.

Kali ini ia yang akan memulai lagi.

*Lagi apa?* ia mengetik.

Menunggu.

Lima belas menit berlalu.

Dua puluh menit.

Balasan masuk: *game*

Satu kata. Huruf kecil semua. Tanpa tanda baca.

Ara menatap kata itu.

*Game apa,* ia balas.

*Yang biasa.*

*Aku tidak tahu game apa yang biasa kamu mainkan.*

Tiga menit. *Mobile. RPG. Sedang di dungeon.*

*Di dungeon berarti sibuk.*

*Iya.*

*Tapi masih sempat balas chat.*

Tidak ada balasan untuk itu selama hampir sepuluh menit. Lalu: *Sudah selesai dungeonnya.*

*Menang?*

*Hampir mati tapi menang.*

Ara meletakkan bukunya sepenuhnya, memberikan perhatian penuhnya ke percakapan ini dengan cara yang ia sendiri tidak rencanakan ketika membuka ponselnya tadi. *Hampir mati karena terdistraksi chat aku?*

Tiga detik. *Tidak.*

*Yakin?*

*Aku terbiasa multitasking.*

*Berarti chat aku tidak mengganggu dungeonmu.*

*Benar.*

*Berarti kamu sengaja lama balasnya.*

Hening selama dua menit yang cukup panjang untuk Ara membaca itu sebagai konfirmasi tanpa kata.

Lalu: *Kamu pintar.*

Ara menatap dua kata itu.

Lalu mengetik, dengan kecepatan dan keyakinan yang tidak ia rencanakan tapi sudah ada sebelum jarinya selesai bergerak: *Aku tahu. Kamu juga sengaja lama buka chat tadi pagi kan. Bukan karena belum baca.*

Tiga puluh detik berlalu.

Balasan yang datang bukan kata-kata. Hanya satu emoji. Satu-satunya emoji yang ada di seluruh percakapan mereka hari ini.

Emoji kucing dengan ekspresi datar yang mengacungkan satu kaki.

Sama persis dengan foto profil Gill.

Ara menatap emoji itu selama beberapa detik.

Lalu tertawa. Sungguhan, tertawa yang keluar begitu saja, ditutup cepat dengan telapak tangan karena ibunya ada di kamar sebelah dan Ara tidak mau menjelaskan kenapa ia tertawa sendirian di kursi ruang tamu sambil menatap ponsel.

Ia mengetik: *Foto profil kamu itu kucing yang mau bilang sesuatu yang tidak sopan.*

*Ekspresi default.*

*Kucing itu atau kamu?*

*Keduanya.*

Ara tersenyum ke layar ponselnya, bukan senyum yang ia bentuk untuk orang lain tapi yang muncul sendiri karena tidak ada alasan untuk tidak membiarkannya ada.

Lalu mengetik satu hal lagi, lebih iseng dari yang ia rencanakan: *Gill.*

*Apa.*

*Selamat pagi.*

Dua detik. Tiga. Lima.

*...Pagi.*

Ara menyimpan ponselnya ke saku bajunya dengan perasaan yang sudah tahu namanya sendiri meski pemiliknya belum sepenuhnya siap untuk mengucapkannya dengan keras.

---

Malam itu Ara bertemu Gill di minimarket.

Bukan karena direncanakan. Ibunya meminta tolong dibelikan sabun mandi yang stoknya habis dan Ara berangkat tanpa terlalu banyak berpikir apakah Gill akan ada di sana atau tidak.

Tapi ada.

Fio duduk di bangku dengan es krim yang sudah setengah, bercerita dengan antusias tentang pentas seni sekolahnya minggu depan bahkan sebelum Ara sempat duduk sepenuhnya.

"Kelasku mau tampil drama, Kak Ara! Cerita si kerudung merah sama serigala!"

"Wah, Fio dapat peran apa?" Ara bertanya, sudah tersenyum bahkan sebelum mendengar jawabannya.

Fio menjawab dengan ekspresi yang sangat datar untuk anak yang baru menceritakan sesuatu dengan sangat antusias. "Pohon."

Ara berkedip. "Pohon?"

"Pohon."

Ara menatap Gill yang duduk di sebelah Fio dengan ponselnya. Gill menoleh sebentar. "Pohon di tepi jalan yang berdiri selama kerudung merah lewat," ia menjelaskan. "Kelasnya butuh tiga pohon. Fio dapat satu."

"Oh." Ara memproses itu. "Itu tetap penting, Fio. Hutan tidak lengkap tanpa pohon."

Fio memandanginya dengan ekspresi yang mempertimbangkan argumen itu dengan serius. "Beneran?"

"Beneran."

Fio tampak sedikit lebih puas. "Kak Ara mau nonton?"

"Mau," Ara menjawab tanpa ragu.

Fio langsung menegak dan menoleh ke Gill dengan ekspresi yang sudah merencanakan sesuatu. "Kak Gill, minggu depan ajak Kak Ara nonton pentas Fio."

"Gamau," Gill menjawab tanpa mengangkat kepala dari ponsel.

"Kak Gilllll."

"Jauh."

"Tapi Fio mau Kak Ara nonton."

"Minta Kak Ara yang datang sendiri."

"Kak Ara nggak tau jalannya."

"Bisa pakai maps."

"Kak Gilllll."

Ara menyaksikan negosiasi itu dengan sesuatu yang hangat mengisi dadanya. Fio dengan semua strateginya yang polos dan sangat transparan tentang apa yang ia inginkan, dan Gill yang menolak dengan cara yang, kalau Ara perhatikan, tidak pernah benar-benar tegas. Selalu ada sedikit ruang yang dibiarkan terbuka, sedikit celah yang memungkinkan Fio untuk terus mencoba.

"Gill," Ara berkata.

Gill menoleh.

"Pentas seninya hari apa?"

Gill menatapnya beberapa detik. Lalu menoleh ke Fio. "Sabtu, jam berapa?"

"Jam sembilan pagi!" Fio langsung menjawab dengan kecepatan yang memperlihatkan bahwa ia sudah menyiapkan informasi ini dari tadi.

Gill kembali ke Ara. Matanya menyampaikan sesuatu yang tidak ia ucapkan tapi sudah cukup jelas untuk dibaca. Semacam: terserah kamu, kalau kamu yang mengusulkan aku tidak akan punya alasan yang kuat untuk menolak.

"Sabtu jam sembilan," Ara berkata. "Aku bisa datang."

Fio bersorak dengan volume yang tidak proporsional untuk malam hari, es krimnya bergoyang berbahaya di tangannya, dan beberapa orang yang lewat di depan minimarket menoleh sebentar ke arah mereka.

Gill menatap Fio. Lalu menatap Ara. Lalu kembali ke ponselnya dengan cara yang menyampaikan bahwa ia sudah kalah dan sudah menerima kekalahannya.

"Oke," ia berkata. Satu kata yang mengandung penyerahan diri yang sangat terkontrol.

Fio masih bersorak kecil di sebelahnya.

Dan Ara duduk di bangku minimarket itu dengan sabun mandi ibunya di dalam kantong plastik di sampingnya, mendengarkan Fio yang sekarang sudah beralih menceritakan detail kostum pohonnya yang rupanya akan dibuat dari karton dan cat hijau, dan merasa bahwa hari Minggu ini, yang dimulai dengan *hm* dan diisi dengan cucian dan telur dadar yang agak gosong dan percakapan chat yang lama balasnya, berakhir dengan cara yang lebih baik dari yang ia rencanakan.

Lebih baik dari yang ia bayangkan bisa ada untuk hari yang dimulai dengan menatap langit-langit kamar dan tidak tahu kenapa terasa lebih ringan.

Sekarang ia tahu kenapa.

Dan jawabannya ada di sebelahnya, bersama seorang anak enam tahun yang sedang menjelaskan perbedaan antara pohon pinus dan pohon beringin dengan serius karena ia belum memutuskan pohon mana yang ingin ia perankan.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!