Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Gaib
Dalam kebingungan Joko masih menurut saja .
Namun yang ia pikirkan adalah siapa yang akan menikah dengannya, dan bagaimana ia akan menghidupinya, sedangkan ia masih sekolah.
Usianya juga masih terlalu muda untuk menikah, namun Pranyoto dan sang kakek merasa ia sudah cukup dewasa untuk melakukannya.
"Kamu sudah selesai menjalani ritual tirakat sembilan puluh hari, tapi kamu harus sabar untuk menjalani satu malam lagi," ucap Eyang kakung
Selesai menggunakan pakaian pengantin, Eyang kakung memberikan keris Ghaib yang di awal perjalanan memilih Joko untuk melakukan tirakat.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi dewasa, apa yang bisa kamu lihat lihatlah, apa yang bisa kamu dengar, dengarkanlah. Lakukan saja semuanya dengan ikhlas," ucap Pranyoto
Joko mengangguk. Pranyoto kemudian memberikan sebuah amalan yang harus dilakukan dan di baca oleh Joko di hari ke sembilan puluh satu
Pria itu kemudian, mengeluarkan makanan yang dibawanya. Satu puluk ( suap ) nasi yang di bungkus daun pisang kemudian ia menyuapi Joko dengan tangannya.
"Sudah ya le, sekarang kamu kami tinggal lagi, besok kamu baru boleh pulang ke rumah!" ucap Pranyoto berpamitan
Ia dan Eyang kakung kembali meninggalkan Joko sendirian di Alas Roban.
Joko kembali duduk di tempat tirakatnya. Setelah matahari terbenam, Dewi Menjangan muncul. Kali ini ia muncul bukan sebagai Menjangan dengan kepala manusia lagi, melainkan dengan wujud manusia seutuhnya. Ia terlihat begitu cantik dengan pakaian khas pengantin Jawa di dampingi oleh beberapa pengawalnya.
Kali ini untuk pertama kalinya ia memperkenalkan dirinya kepada Joko.
"Punwasta sendiko dalem kulo Dewi Poncowati ( Perkenalkan saya Dewi Poncowati)," ucapnya dengan anggun
Tak hanya memperkenalkan diri, Dewi Poncowati juga mengajak Joki untuk berbincang walaupun cuma sebentar.
Setelah itu dua orang pengawalnya mendekati Joko dan mengajaknya pergi menuju Pancuran Poncowati. Para pengawal menyuruhnya untuk membuka baju, kemudian mengajarinya sebuah mantera untuk di baca saat mandi.
Mereka kemudian memandikan Joko layaknya seorang pengantin Jawa. Ia melakukan prosesi mandi siraman dengan begitu khidmat.
Setelah selesai mandi, Para pengawal kembali memakaikan pakaian pengantin kepada Joko. Kemudian dua orang pengawal menggendongnya dan ia di dudukan di sebuah pelaminan.
Sebuah pelaminan yang berdiri megah di ujung ruangan dihiasi kain-kain lembut berwarna emas dan putih yang menjuntai anggun dari atas panggung. Lampu-lampu kristal berkilau memantulkan cahaya hangat membuat seluruh sudut tanpa berpedar seperti mimpi. Rangkaian bunga kantil dan juga melati segar tersusun rapi di sisi kanan dan kiri kursi pengantin mengeluarkan aroma yang harum dan menenangkan.
Di tengah pelaminan dua Kursi besar berukir indah seperti singgasana yang terbuat dari emas. Dewi poncowati tersenyum simpul menyambut kedatangannya.
Kemudian ia di suguhi makanan khas untuk pengantin, seperti ayam cemani bakar, dan makanan lainnya.
Joko dipersilahkan untuk menikmati hidangan itu bersama Dewi Poncowati. Untuk pertama kalinya setelah sembilan puluh hari Ia memakan daging. Karena selama ritual ia dilarang memakan daging.
Selesai melakukan ritual makan bersama, seorang pria dengan dandanan khas seperti seorang penghulu menghampiri mereka. Ia kemudian menuntun Joko mengucapkan sebuah ikrar pernikahan atau akad nikah jika di dunia nyata. Entah kenapa Joko hanya menurut dan mengikuti setiap ucapan pria itu.
Angin dingin tiba-tiba berhembus lembut padahal tak ada jendela yang terbuka. Suasana yang semula hening berubah terasa semakin mistis seolah batas antara alam manusia dan alam gaib mulai menipis. Di hadapan altar sederhana itu Joko duduk bersimpuh dengan wajah tegang dan pucat. Ia tidak berani banyak bergerak, hanya menundukkan kepala dengan penuh hikmat. Ia menyadari bahwa ritual yang sedang berlangsung bukan sekedar pernikahan biasa melainkan sebuah ikatan suci yang menghubungkan dua dunia yang berbeda.
Di akhir acara seorang pria membaca mantera. Suasana tiba-tiba menjadi tegang saat mantra mencapai puncaknya. Udara di sekitar terasa semakin dingin. Satu persatu lampu mulai padam, dan bayangan-bayangan samar seperti bergerak di balik kepulan asap dupa yang tiba-tiba muncul. Satu persatu tamu undangan yang hadir pun menghilang hingga yang tersisa hanyalah Joko dan Dewi Poncowati saja.
Joko merasakan ia berpindah tempat. Ia ditarik dari pelaminan ke sebuah kamar gelap yang dipenuhi dengan bunga kantil.
Malam pengantin itu seharusnya dipenuhi kehangatan dan kebahagiaan, namun yang terasa justru keheningan yang aneh dan menyesakkan.
Angin Malam berhembus pelan dari celah jendela membuat tirai putih bergoyang perlahan seperti sosok yang sedang mengintai. Cahaya lampu temaram di sudut kamar hanya mampu menerangi sebagian ruangan meninggalkan bayangan panjang yang tampak bergerak-gerak di dinding.
Di atas ranjang yang dihiasi oleh bunga kantil kuning gading sesosok pengantin perempuan duduk diam dengan nafas tertahan.
Udara malam semakin menekan ketika suara langkah kaki samar terdengar dari luar kamar lalu berhenti tepat di depan pintu. Tak ada yang mengetuk hanya keheningan panjang yang membuat jantung berdegup semakin kencang.
Joko nyaris berteriak saat lampu kamar tiba-tiba mati. Untungnya ia dengan sigap menutup mulutnya. Udara berubah dingin jauh lebih dingin dari sebelumnya aroma bunga kantil yang sejak tadi harum kini bercampur dengan bau lembab yang aneh seperti tanah basah dari kuburan yang baru digali.
Bulu kuduk Joko berdiri, saat menatap Sang Dewi Poncowati yang tiba-tiba menatapnya tajam. Tubuhnya seketika menegang saat wanita itu membuka satu persatu pakaiannya dan menariknya.
Suara kokok ayam membuat Joko terjaga. Saat ia bangun semuanya sudah berubah. Dewi Poncowati sudah menghilang, bersama dengan penglihatan mata kiri Joko yang kembali normal.
Jadi saat menjalani sedemi Joko memiliki dua penglihatan berbeda. Mata kanannya khusus untuk melihat sesuatu yang hanya berkaitan dengan dunia manusia, sedangkan mata kirinya hanya bisa melihat dunia gaib. Namun setelah pernikahan gaib itu selesai mata kiri Joko kembali bisa melihat dunia manusia.
Senyum Joko mengembang saat melihat kedatangan ayah dan eyang kakung yang menjemputnya.
Ia memeluk Pranyoto dengan erat untuk melepaskan rasa kangennya.
Pranyoto kemudian mengajaknya berganti pakaian sebelum pulang.
Pria itu tersentak kaget saat membuka kain yang di pakai oleh putranya. Ia berteriak keras hingga membuat Joko ikut kaget.
"Kenapa pak??" tanya Joko penasaran
"Lho, kamu gak tahu toh??" tanya Pranyoto
"Tahu apa??" Joko semakin penasaran
"Loh emang kamu gak sadar, ada yang berubah pada dirimu!" seru Pranyoto
Joko menggeleng.
"Di tubuh kamu ada yang berubah,"
Netra Joko membulat. Sampai saat itu ia memang tidak merasa ada yang berubah dalam dirinya. Sampai ketika Telunjuk Pranyoto menunjuk kearah bawah tubuhnya. Joko reflek menurunkan pandangannya kebawah.
"Tuh!"
Seketika Joko berteriak histeris saat mengetahui kemaluannya berubah.
Tabarakallah....
Alhamdulillah....
setelah mengetahui Joko merasa kepanasan maka Maryati reflek membacakan doa sambil mengusap kepala Joko
karena Maryati sering membaca ayat-ayat Al Qur'an seeeh
padahal saat itu, Pranyoto bukan lah berasal dari kaum bangsawan atau pejabat lhooo tapi bisa memperistri Maryati yang berasal dari bangsawan
ada apa gerangan yang terjadi dengan rumah Maryati ??
kenapa mendadak hawa di rumah nya menjadi sejuk meski tak ada AC
pake maen bisik-bisik segala neeeh
kita-kita kan jadi ikutan keeepooo 🏃🏃
lalu kamu mau apalagi lhooo Joko ???
kenapa kamu masih aja belum merasa puas👉👈
jaadiiii.... secara tak langsung Maryati juga ikutan menelan darah itu donk😱😱😱
selama 2 bulan, mata kanan Joko mengeluarkan darah lalu dokter juga udah memvonis jika matanya Joko membusuk😭😭😭
tentu aja hal ini yang membuat Maryati semakin sedih
kenapa mata kanan Joko terus-menerus mengeluarkan darah saat barusan dilahirkan 👉👈