Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6.Kenangan Masa Lalu
HAPPY READING!!!!
Begitu sampai di dalam kamar, Lora terdiam di ambang pintu.
Devon sudah berlumuran permen. Bajunya yang tadi bersih kini penuh warna-warni lengket dari lolipop raksasa yang mereka beli di mal—mal yang sama tempat Lora menghabiskan waktu berjam-jam memilih gaun mahal dan perhiasan berkilau, seperti yang kini melingkar anggun di leher dan pergelangan tangannya. Tentu saja semua itu dibayar dengan kartu kredit Devon yang berjejer rapi di dompetnya.
Lagi pula Sayang sekalikan jika ia ke mal hanya membeli lolipop untuk Devon.
Anggap saja seperti balasan kecil untuk laki-laki yang dulu meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan.Bahkan seharusnya ia membunuh laki- laki itu sekarang bukan malah terjebak dalam pernikahan balas dendam seperti ini.
Kepala pelayan segera berdiri saat Lora melangkah masuk.
“Nona, karena sekarang nona adalah istri Tuan Devon, berarti nona yang akan bertanggung jawab atas semua pengurusan Tuan Devon, termasuk memandikan dan menjaganya,” jelas kepala pelayan itu tenang.
“Apa? Memandikan?” ucap Lora terkejut. Yang benar saja. Ia harus memandikan laki-laki dewasa itu? “Kenapa tidak kamu saja yang memandikannya? Bukankah lebih baik seperti itu? Kamu tidak lihat? Aku adalah seorang wanita. Bagaimana mungkin?” ucap Lora sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Kenapa tidak, Nona? Kamu sekarang adalah istri dari Tuan Devon. "kepala peyan menatap Lora tajam.
"Kamu yang memutuskan untuk menikahi Tuan Devon. Tidak ada yang memaksamu sama sekali. Itu keputusan dari dirimu sendiri, yang berarti kamu siap menerima keadaan Tuan Devon dan mengurusnya mulai sekarang,” jelas kepala pelayan tersebut tanpa mengubah nada suaranya.
“Jika memerlukan hal lain atau ada yang ingin dibicarakan, kamu bisa memanggilku, Nona.Karna aku akan mempersiapkan beberapa berkas yang mungkin perlu kamu pelajari selama kamu menjadi istri dari Tuan Devon.”
Ia melangkah mendekat.
Tatapannya berubah.
Tak lagi lembut dan penuh hormat seperti tadi. Kini tajam. Dingin. Mengiris.
“Masuk ke dalam rumah ini dan menikahi Devon tidak sesederhana yang kamu pikirkan, Lora. Setelah ini kehidupanmu tidak akan sama lagi. Banyak yang perlu kamu pelajari. Semoga kamu masih tetap hidup sampai kamu mempelajari semuanya.”
Nada suaranya penuh tekanan. Ancaman yang terselubung rapi.
“Kalau begitu, aku permisi dulu, Nona,” ucapnya kembali dengan wajah sopan, seolah-olah yang baru saja berbicara penuh ancaman itu adalah orang yang berbeda.
Pintu tertutup perlahan.
Lora mengedipkan mata beberapa kali, jantungnya berdetak tak menentu.
“Apa yang baru saja aku dengar?” gumamnya pelan, mencoba memastikan dirinya tidak sedang berhalusinasi.
“Queen…!” teriak Devon riang.
Ia memainkan lolipop raksasa itu di atas lantai, menepuk-nepuknya ke karpet hingga suara lengket terdengar setiap kali permen itu terangkat dan kembali jatuh.
“Devon…!” Lora segera mengambil permen tersebut. “Aisss… semuanya jadi berantakan seperti ini.”
Ia memegang lantai dan karpet yang sudah belepotan, jari-jarinya ikut lengket oleh gula cair. Namun bukannya merasa bersalah, Devon justru tertawa lepas—tawa polos yang tidak mengenal situasi.
Tiba-tiba ia memeluk Lora.
Tubuhnya yang lengket menempel pada gaun mahal Lora, meninggalkan noda warna-warni di kain lembut itu.
“Ayoo, Queen, kita mandi sekarang. Kata kepala pelayan, Queen akan memandikan Epon. "ucap Devon menarik-narik tangan Lora masuk kedalam kamar mandi.
"Yeey!..... Epon mandi bareng Queen sekarang. Jangan lupa bawa bebek Epon ya, Queen, biar kita bisa main bebek bareng di bathtub. Queen juga ikut mandi berendam sama Epon ya.”Ucap Devon yang membuat mata Lora membelalak.
Di dalam kamar mandi, suasananya jauh berbeda.
Uap hangat memenuhi ruangan, aroma sabun lembut bercampur dengan wangi gula yang masih menempel di tubuh Devon. Lora berdiri kaku di hadapannya, kebingungan.
Bagaimana cara membuka pakaian Devon?Haruskah ia membuka semuanya sekarang… atau membiarkannya mandi dengan pakaian lengkap?.Jantungnya berdetak tidak karuan.
Devon terus melirik ke arah Lora yang sejak tadi mondar-mandir di hadapannya. Tatapannya polos, tak mengerti kegelisahan wanita itu.
“Queen jangan mondar mandir gitu Epon pusing, ayoo Queen mandi… mandi… mandi,” ucap Devon menarik-narik tangan Lora agar segera masuk ke dalam bathtub. “Bebek Epon udah stay dari tadi, Queen!!”
Ia menunjuk mainan bebek kecil yang sudah mengapung di air hangat, seolah benar-benar menunggu mereka.
Lora mengangguk gugup.
“Iya… iya, sebentar ya. Queen bukakan bajunya dulu.”
Tangannya gemetar saat membuka kemeja Devon satu per satu. Kancing terakhir terlepas.
Napasnya tercekat.
Dada bidang itu tersingkap. Perut six-pack yang tegas terlihat jelas di hadapannya. Tubuh yang sama yang dulu pernah begitu dekat dengannya… sebelum semuanya berubah.
Pipi Lora langsung memerah.
Pikiran-pikiran yang tak seharusnya muncul tiba-tiba menyerbu benaknya. Tanpa sadar, tangannya menyentuh otot perut itu—kulit hangat, keras, nyata.
Sekejap ia terpaku.
Namun tiba-tiba ia tersadar.
Tangannya terangkat dan memukul kepalanya sendiri pelan.
“Lora, sadarlah… apa yang kamu pikirkan?” gumamnya.
“Queen kenapa Queen memukul kepala Queen sendiri?” ucap Devon refleks. Tangannya langsung mengelus kepala Lora dengan lembut.
Seketika Lora membisu.
Elusan itu membuat tubuhnya melemah. Jantungnya terasa sesak oleh sesuatu yang tak ingin ia akui.
Kenangan masa lalu bersama Devon muncul begitu saja,memenuhi kepalanya.
FLASHBACK
8 tahun yang lalu…
Lora sudah mempersiapkan semuanya dengan penuh cinta. Malam itu bukan hanya perayaan tiga tahun hubungan mereka, tetapi juga perayaan kelulusan Devon dari universitas—sebagai pengacara termuda dengan nilai terbaik.
Semua masakan kesukaan Devon telah ia buat dengan tangannya sendiri. Kue yang ia panggang sejak subuh kini berdiri manis di atas meja kecil kontrakan mereka. Ruangan sederhana itu dihias dengan pita-pita murah dan lampu kecil yang ia beli dari sisa gajinya sebagai pelayan restoran.
Sejak lulus SMA, Lora menyusul Devon ke kota. Mereka tinggal bersama di kontrakan kecil itu. Devon kuliah, sementara Lora bekerja siang dan malam, mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya sendiri nanti.
Baginya, berjuang bersama adalah bentuk cinta paling tulus.
Begitu suara motor Devon terdengar di luar, jantung Lora langsung berdegup kencang. Ia segera mematikan lampu dan bersembunyi di balik meja.
Ceklek
Pintu terbuka.
Dalam hitungan detik, lampu menyala kembali.
Lora muncul membawa kue dengan lilin menyala di atasnya.
“Happy anniversary ke 3 tahun, sayang….” ucap Lora dengan senyum kegembiraan, menatap Devon yang terdiam.
“Selamat juga atas kelulusan kamu sebagai pengacara termuda yang berhasil lulus dengan nilai terbaik. Aku tahu kamu memang begitu hebat.”
Lora mendekatkan wajahnya, senyumnya semakin merekah.
“TIdak hanya tampan, tapi kamu juga sangat pintar. Tidak salah jika aku begitu mencintaimu.”
Ia mengecup bibir Devon dengan lembut, penuh rasa bangga dan cinta. Lalu menyodorkan kue itu agar Devon meniup lilinnya.
Devon meniupnya.
Namun senyumnya terasa dipaksakan.
Dan di balik cahaya lilin yang padam, matanya berkilat oleh air mata yang ia tahan.
Lora begitu bahagia. Ia tidak melihat keretakan itu. Baginya, malam ini adalah awal dari masa depan yang lebih cerah.
Namun saat mereka hendak duduk untuk makan malam, Devon justru menatapnya lama. Tangannya terangkat, mengelus kepala Lora dengan lembut.
Sentuhan yang selalu membuat Lora merasa dicintai.
“Lora….” ucap Devon dengan suara lembut.
“Iya…” jawab Lora dengan senyuman merekah. Ia begitu nyaman, begitu merasa disayang kala Devon mengelus kepalanya seperti itu.
"Mari kita akhiri hubungan kita, aku sudah tidak bisa lagi bersamamu."
.
.
.
💐💐💐Bersambung 💐💐💐
Auto terkasima sama perut sixpack nya ya Lora ,otak tahan otak🤣😂
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤