Nathan Hayes adalah bintang di dunia kuliner, seorang chef jenius, tampan, kaya, dan penuh pesona. Restorannya di New York selalu penuh, setiap hidangan yang ia ciptakan menjadi mahakarya, dan setiap wanita ingin berada di sisinya. Namun, hidupnya bukan hanya tentang dapur. Ia hidup untuk adrenalin, mengendarai motor di tepi bahaya, menantang batas yang tak berani disentuh orang lain.
Sampai suatu malam, satu lompatan berani mengubah segalanya.
Sebuah kecelakaan brutal menghancurkan dunianya dalam sekejap. Nathan terbangun di rumah sakit, tak lagi bisa berdiri, apalagi berlari mengejar mimpi-mimpinya. Amarah, kepahitan, dan keputusasaan menguasainya. Ia menolak dunia termasuk semua orang yang mencoba membantunya. Lalu datanglah Olivia Carter.
Seorang perawat yang jauh dari bayangan Nathan tentang "malaikat penyelamat." Olivia bukan wanita cantik yang akan jatuh cinta dengan mudah. Mampukah Olivia bertahan menghadapi perlakuan Nathan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN DIBALIK KEJATUJAN NATHAN
Di sebuah restoran mewah yang redup pencahayaannya, Vincent duduk dengan ekspresi penuh kebencian. Ia ditemani oleh dua orang rekannya, Lawrence dan Greg, yang sama-sama memiliki kepentingan dalam industri kuliner. Malam itu, mereka tidak hanya berbincang santai, melainkan merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar yaitu kejatuhan Nathan Hayes.
"Nathan Hayes... selalu dia yang merajai dunia kuliner. Setiap kali kita berusaha mendobrak pasar, namanya selalu lebih unggul. Aku sudah muak," Vincent mendengus, meletakkan gelas anggurnya dengan kasar.
Greg menyeringai. "Itu karena dia punya reputasi yang sempurna. Orang-orang melihatnya sebagai jenius kuliner, bukan sebagai manusia biasa yang juga punya masa lalu kelam. Jika kita bisa menggali sesuatu yang bisa menghancurkannya, maka selesai sudah riwayatnya."
Lawrence mengangguk setuju. "Aku pernah mendengar desas-desus tentang Nathan sebelum dia terkenal. Ada satu insiden yang tidak pernah dipublikasikan. Jika kita bisa menemukan seseorang yang tahu lebih dalam, kita bisa menggunakannya untuk menjatuhkannya."
Saat itu, seorang pria yang duduk di sudut ruangan mengangkat gelasnya, seolah baru saja menemukan kesempatan emas. Dia berjalan mendekat dan tersenyum licik. "Jika kalian mencari masa lalu Nathan, mungkin aku bisa membantu."
Vincent menyipitkan matanya. "Siapa kau?"
Pria itu duduk dan menatap mereka satu per satu. "Sebut saja aku seseorang yang pernah mengenal Nathan dengan baik. Aku tahu sesuatu yang bisa menghancurkannya baik secara pribadi maupun profesional. Tapi tentu saja, tidak ada yang gratis."
Lawrence menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menyeringai. "Apa yang kau inginkan?"
"Imbalan yang sepadan," pria itu menjawab sambil menyesap minumannya. "Dan kepastian bahwa setelah Nathan jatuh, aku mendapat bagian dari kejatuhannya."
Vincent tersenyum puas. "Kalau begitu, kita punya kesepakatan. Mari kita buat Nathan Hayes kehilangan segalanya nama, bisnis, dan kewarasannya."
Di tempat lain, Nathan tidak menyadari bahwa ada konspirasi yang sedang disusun untuk menghancurkannya. Dalam pikirannya, ia sedang berusaha menerima kehidupannya yang baru, tanpa menyadari bahwa badai besar akan segera datang menghancurkan segalanya.
Siapa pria yang duduk di sudut ruangan itu? Yang mengetahui masa lalu Nathan.
Dia bernama Jason.
Jason bukan sekadar pegawai biasa dalam lingkup bisnis kuliner Nathan Hayes. Dia pernah menjadi salah satu tangan kanan Nathan, seseorang yang dipercaya menangani operasional di beberapa restoran milik Nathan. Namun, kepercayaan itu bukanlah sesuatu yang ia hargai, melainkan sebuah bahan bakar untuk dendam yang perlahan membara di dalam dirinya.
Jason awalnya adalah seorang sous chef berbakat yang bekerja keras untuk mendapatkan posisi di industri kuliner. Ia mengidolakan Nathan di awal kariernya menganggap Nathan sebagai seorang mentor yang bisa membawanya ke puncak dunia kuliner. Namun, sifat Nathan yang kasar, perfeksionis, dan tanpa filter sering kali mempermalukan Jason di depan banyak orang.
Di mata Nathan, ia hanya sedang "mengasah" kemampuan Jason dengan kritik tajam dan tuntutan yang tinggi. Tetapi bagi Jason, itu adalah penghinaan yang terus-menerus ia telan.
Jason adalah pria yang ambisius dan cerdas, tetapi tidak memiliki kesabaran dan mental baja seperti Erick. Jika Erick tetap setia meski sering bentrok dengan Nathan, Jason justru menyimpan luka dalam diam. Ia mulai menaruh dendam, apalagi setelah Nathan lebih mempercayai Erick untuk urusan yang lebih penting.
Ketika Nathan mengalami kecelakaan dan terpuruk, Jason seharusnya bisa merasa puas. Namun, melihat Nathan masih bisa perlahan bangkit, ia justru merasa tidak terima. Baginya, Nathan harus jatuh lebih dalam, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara mental dan profesional.
---
Jason mulai menggerakkan langkahnya. Dia tidak terburu-buru, karena ini bukan soal balas dendam sesaat ini tentang kehancuran yang sistematis. Nathan telah meremehkannya terlalu lama, dan sekarang saatnya dia membalas.
Dia menghubungi seseorang dari masa lalu, seseorang yang dulu memiliki konflik pribadi dengan Nathan. Percakapan mereka berlangsung di tempat tersembunyi, jauh dari perhatian siapa pun.
"Apa kau masih menyimpan bukti itu?" tanya Jason dengan suara rendah.
Di seberang sana, suara seorang pria terdengar ragu. "Kau yakin ingin menggali ini lagi? Bukankah sudah berlalu?"
Jason tersenyum dingin. "Nathan mungkin sudah lupa, tapi aku tidak. Kali ini, dia akan jatuh tanpa bisa bangkit lagi."
Dia tahu betul bahwa skandal ini, jika terungkap, bisa menghancurkan sisa harga diri Nathan yang masih bertahan. Masalahnya bukan hanya tentang bisnis, tapi juga integritas dan kepercayaan publik.
Sambil menutup telepon, Jason merasa puas. Langkah pertama telah dimulai. Dia hanya perlu menunggu momen yang tepat untuk menjatuhkan bom ini ke dunia luar.
Jason tidak terburu-buru. Dia tahu bahwa permainan ini harus dimainkan dengan cermat. Skandal yang akan dia ungkap bukan hanya sesuatu yang bisa membuat Nathan kehilangan reputasinya, tetapi juga menghancurkan mentalnya yang mulai bangkit kembali setelah kejatuhannya.
Malam itu, Jason duduk di meja kerjanya, membuka sebuah folder lama yang tersimpan rapi dalam laptopnya. Di dalamnya terdapat beberapa dokumen dan rekaman yang pernah dia simpan yaitu bukti-bukti dari masa lalu Nathan yang tidak pernah diketahui publik.
Dia menggeser kursornya ke salah satu rekaman video dan menekan tombol play. Layar menampilkan sosok Nathan beberapa tahun lalu di puncak kejayaannya sebagai seorang chef terkenal. Tapi di balik kesuksesan itu, ada satu insiden yang hanya segelintir orang tahu, dan Jason adalah salah satunya.
Senyum licik terukir di wajahnya. “Kau pikir bisa melupakan ini begitu saja, Nathan? Aku akan pastikan semua orang melihat siapa kau sebenarnya.”
Sebelum menyebarkan informasi ini, Jason harus memastikan bahwa semua sudah diatur dengan sempurna. Dia tidak bisa gegabah. Dia butuh media yang tepat, orang-orang yang bisa diandalkan untuk menyebarkan skandal ini tanpa menghubungkannya langsung dengan dirinya.
Tangannya lantas mengambil ponsel, menghubungi seseorang yang telah lama menjadi bagian dari permainan kotor ini. "Aku punya sesuatu yang bisa membuat media heboh. Tertarik?"
Di seberang sana, suara seseorang tertawa kecil. "Selalu tertarik dengan berita besar. Kirimkan detailnya."
Jason menutup telepon dengan puas. Ini hanya permulaan. Nathan mungkin tidak menyadari bahaya yang sedang mengintainya. Tapi segera, dia akan tahu bahwa tidak semua orang di sekelilingnya setia.
Jason menatap layar ponselnya, memastikan bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana. Dengan kontak yang tepat di dunia media, dia tahu bahwa skandal ini akan dengan mudah menyebar. Namun, dia ingin lebih dari itu dia ingin menghancurkan Nathan sepenuhnya, menghancurkan segala sesuatu yang telah dia bangun dengan susah payah.
Di ruang kerjanya yang minim cahaya, Jason memutar kembali rekaman yang ada di tangannya. Rekaman itu adalah potongan gambar dari sebuah acara pribadi, acara yang tidak pernah disiarkan ke publik, di mana Nathan terlibat dalam argumen keras dengan beberapa kolega di belakang panggung, memaki-maki mereka dengan kata-kata kasar yang mengungkap sisi lain dari dirinya yang sangat jauh dari gambaran publik. Jason tahu ini bisa menjadi senjata yang ampuh. Nathan, yang selama ini dikenal sebagai sosok yang sukses dan menawan di mata dunia, akan terlihat sangat berbeda dengan rekaman ini.
Dia tersenyum licik, membayangkan wajah-wajah orang yang selama ini mendukung Nathan, yang akan tercengang melihat siapa sebenarnya Nathan di balik ketenaran dan kekayaannya. Tidak hanya reputasi Nathan yang akan rusak, tetapi juga kariernya yang bisa hancur seketika.
Jason berpikir sejenak. Ada satu orang yang bisa menjadi kunci untuk menyebarkan rekaman ini. Orang itu adalah Daniel, seorang wartawan investigasi yang terkenal selalu berhasil mengungkap sisi gelap seseorang.
Jason tahu bahwa Daniel bisa menjadi alat yang sempurna untuk membuat berita ini tersebar luas mengungkapkan sisi gelap Nathan dengan cara yang tidak bisa dibantah.
“Begitu rekaman ini ada di tangan Daniel, tak ada yang bisa menyelamatkanmu, Nathan,” gumamnya, memandangi rekaman itu satu kali lagi sebelum mengirimnya melalui email kepada Daniel.
Tidak lama setelahnya, ponsel Jason berdering. Dia melihat nama Daniel muncul di layar.
“Jason,” suara Daniel terdengar serius, “Aku sudah menerima rekaman yang kau kirim. Ini menarik, sangat menarik. Tapi aku butuh lebih. Ada yang lain?”
Jason menghela napas panjang. "Kau akan mendapatkannya. Percayalah, aku punya lebih banyak lagi yang bisa membuat Nathan jatuh lebih dalam."
"Baiklah," jawab Daniel, terdengar puas. "Kami akan menunggu."
Setelah menutup telepon, Jason bersandar pada kursinya, merasa sedikit lebih dekat dengan tujuan utamanya menghancurkan Nathan. Semua usaha keras Nathan untuk bangkit dari keterpurukannya hanya akan menjadi sia-sia. Ini adalah permainan besar, dan Jason yakin dia akan keluar sebagai pemenang.
Namun di balik semua itu, Jason merasa sedikit cemas. Keputusan yang dia buat ini bisa saja berbalik menyerangnya. Tetapi pada titik ini, dia merasa sudah terlalu dalam terlibat untuk mundur. Dia tahu betul bagaimana permainan ini bisa berakhir dan dia siap untuk membayar harga yang diperlukan.
Apakah Nathan akhirnya berani mengungkapkan perasaannya??