King Jayden Wiratama, seorang mafia berdarah dingin yang memiliki wajah tampan bak malaikat. Namun, di balik ketampanan nya itu tersimpan sesuatu yang tak di ketahui orang.
Ayyara Marshka Anggita, seorang gadis yang tak sengaja masuk dan terjebak dalam kehidupan seorang Jayden, membuat nyawa nya terancam bahaya karena musuh menjadikan Ayyara sebagai target untuk membalaskan dendam pada Jayden.
Bisakah Jayden melindungi gadis yang dia cintai itu dengan aman?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sendi andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Pikiran Ayyara
Sore harinya, Ayyara pulang ke rumah dengan wajah kusut nya, dia lelah. Benar-benar lelah, karena setelah adegan mesra bersama Jayden tadi, rupanya pria itu malah meminta jatah nya. Jadi, Ayyara melayani nya hampir satu jam dan setelah itu baru dia pulang.
"Dari mana, sayang?" Tanya Agnes begitu melihat putri nya pulang.
"Ketemu temen."
"Siapa?" Tanya Agnes lagi membuat Ayyara mendelik kesal.
"Memang nya kenapa sih, Ma? Apa sekarang, Mama juga mengekang pergaulan Ayya?" Kesal Ayyara, membuat Agnes terhenyak. Bukan itu maksud nya, tapi Ayyara salah paham tentang pertanyaan nya.
"Bukan begitu, sayang."
"Lalu? Bukankah Mama dan papa sama?" Tanya Ayyara lagi.
"Sayang, bukan begitu. Dengarkan Mama dulu."
"Sudahlah, Ma. Aku capek, sekarang aku mau ke kamar terus istirahat." Jawab Ayyara, tanpa memperdulikan sang Mama. Dia sudah terlanjur muak untuk bicara berlama-lama dengan sang Mama, atau dengan papa nya. Bagi Ayyara, kedua nya sama-sama egois dan abai tentang anak mereka.
Agnes menatap sendu kepergian putri nya, dia memang menyadari letak kesalahan nya, tapi dia benar-benar tidak menyangka kalau putri nya akan membenci nya seperti ini. Sungguh, ini bukan keinginan nya, di benci oleh putri nya sendiri.
"Maafkan Mama, tak bisa melimpahi mu dengan kasih sayang, Ayya." Gumam Agnes. Dia menyeka air mata nya, dia harus kuat. Perlahan, dia harus merebut kembali hati sang putri.
Tak lama, David datang dengan wajah garang nya. Begitu melihat sang istri yang sedang berdiri mematung di ruang tengah, seketika itu dia mengubah tatapan nya.
"Bikinin kopi."
"Baik, Mas." Jawab Agnes, dia pun pergi ke dapur dengan cepat. Sebelum pria itu mengeluarkan suara nya lagi untuk yang kedua kali nya, karena bersamaan dengan perintah itu, pasti tangan nya juga ikut melayang.
Tak lama kemudian, Agnes datang dengan secangkir kopi di tangan nya. Dia meletakan nya di meja, tepat di depan sang suami.
"Ayyara sudah pulang?"
"Sudah, dia ada di kamar nya. Capek katanya, mau tidur." Jawab Agnes.
"Dia darimana?"
"Katanya sih dari kampus terus ketemu temen."
"Temen yang mana?" Tanya David sambil menyeruput kopi yang masih panas itu dengan perlahan.
"Aku gak tahu, Mas. Tadi udah aku tanyain, tapi Ayya nya gak jawab."
"Oh." Jawab David acuh, seolah tak peduli tapi dia bertanya.
"Mas, apa kamu berpikir kalau Ayyara sekarang jauh dari kita?" Tanya Agnes dengan perlahan, tentu nya dia takkan memancing amarah pria itu.
"Biarkan saja."
"T-tapi, Mas.."
"Kau urusi saja anak mu itu, aku sibuk dengan pekerjaan ku." Jawab David.
"Justru karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan mu itu, Mas. Kita sudah terlalu abai dengan perkembangan putri kita."
"Ya, lalu? Kau ingin menyalahkan aku, begitu?"
"Mas, bukan begitu.."
"Lalu? Jangan memancing emosi ku, Agnes. Aku sudah lelah dengan pekerjaan, jadi jangan membuat aku lelah pikiran juga." Jawab David dengan suara bernada tinggi nya. Agnes terdiam, kalau sudah begini lebih baik dia diam saja. Tak mungkin dia bisa melawan suami nya yang arrogant dan tempramental ini.
Sedangkan di kamar, Ayyara tengah menikmati semilir angin di balkon. Di meja kecil, tersedia beberapa susu rasa buah kesukaan nya, laptop tempat dia mengerjakan tugas dari kampus, dan ada ponsel yang sengaja dia taruh di dekat dinding. Karena di layar ponsel nya itu, ada wajah Jayden yang tengah memperhatikan gadis nya belajar.
Ya, Ayyara dan Jayden sedang melakukan panggilan video. Lebih tepatnya, Ayyara yang meminta pria itu untuk menemani nya, siapa tahu karena di temani oleh pria itu dia jadi lebih semangat untuk mengerjakan tugas nya.
Jayden menatap wajah cantik Ayyara yang sedang fokus dengan tugas nya, kacamata bening bertengger rapi di hidung bangir nya. Entah kenapa, wajah Ayyara yang sedang fokus belajar itu nampak jauh lebih cantik. Kecantikan nya bertambah berkali-kali lipat dari biasa nya.
"Sayang.."
"Yes, Daddy. Apa Daddy bosan menemani aku belajar?" Tanya Ayyara, dia memalingkan sejenak tatapan mata nya dari laptop ke arah Jayden.
"Daddy tidak suka di abaikan, sayang."
"Maaf, Daddy. Tapi kan niat aku tadi juga buat ngerjain tugas dan Daddy setuju untuk menemaniku." Jawab Ayyara.
"Iya, Baby."
"Lalu kenapa memanggil ku?"
"Maaf, Daddy tak bisa menemani kamu belajar sampai selesai. Daddy ada pekerjaan yang harus di kerjakan sekarang juga."
"Apa itu penting, Dad?" Tanya Ayyara.
"Sayang nya iya, Baby."
"Ohh, ya sudah kalau begitu Daddy kerja aja."
"Kamu gapapa kan?"
"Enggak kok, Dad." Jawab Ayyara sambil tersenyum.
"Baiklah, setelah pekerjaan Daddy selesai, Daddy janji akan segera menghubungi mu, sayang." Ucap Jayden.
"Iya, Daddy. Kalau Daddy kecapean, gapapa langsung istirahat aja gak usah ngabarin aku dulu."
"Iya, sayang. Daddy berangkat dulu ya, Jack sudah menunggu. See you, my angel."
"See you, Daddy." Jawab Ayyara, dia melambaikan tangan nya dan membiarkan Jayden mematikan sambungan telepon nya.
"Jack? Daddy pergi bersama Om Jack? Apa mungkin ini pekerjaan mafia nya Daddy?" Gumam Ayyara, dia mulai berpikiran aneh-aneh sejak dia mendengar ucapan Jack tentang siapa Jayden.
"Semoga Daddy baik-baik saja." Gumam gadis itu, dia benar-benar khawatir akan keselamatan sang Daddy. Bagaimana pun, mereka sudah saling terikat satu sama lain meskipun Jayden tidak pernah mengutarakan cinta atau semacam nya.
Ayyara dan Jayden menjalin hubungan tanpa status, mereka hanya saling nyaman satu sama lain. Sedangkan Ayyara, dia malah memiliki kekasih, yakni Rendy.
......
🌻🌻🌻🌻🌻