NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Wanita Besi

Rahasia Sang Wanita Besi

Status: tamat
Genre:Tamat / CEO / Kehidupan di Kantor / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Fantasi Wanita
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuah

Rahasia Sang Wanita Besi

Sebagai sekretaris pribadi, Evelyn dikenal sempurna—tepat waktu, efisien, dan tanpa cela. Ia bekerja tanpa lelah, nyaris seperti robot tanpa emosi. Namun, di balik ketenangannya, bosnya, Adrian Lancaster, mulai menyadari sesuatu yang aneh. Semakin ia mendekat, semakin banyak rahasia yang terungkap.

Siapa sebenarnya Evelyn? Mengapa ia tidak pernah terlihat lelah atau melakukan kesalahan? Saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, misteri di balik sosok "Wanita Besi" ini pun perlahan terkuak—dan jawabannya jauh lebih mengejutkan dari yang pernah dibayangkan Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Bayangan Masa Lalu

Tangki berisi cairan hijau itu berkilau di bawah cahaya neon yang redup. Tubuh di dalamnya mengambang dalam keheningan, seperti boneka tanpa nyawa. Namun, Evelyn tahu lebih baik. Sosok itu bukan sekadar boneka. Itu adalah dirinya—atau seseorang yang diciptakan untuk menjadi dirinya.

Pikiran Evelyn berputar cepat. Selama ini, dia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Daya tahan tubuhnya yang luar biasa, kemampuan memorinya yang sempurna, bahkan ketidakmampuannya untuk merasakan sakit seperti manusia normal. Dia mengira itu hanyalah hasil dari disiplin dan latihan keras. Tapi kenyataan di depannya jauh lebih buruk.

“Bagaimana?” suara Leonard memecah kesunyian. “Terkejut?”

Evelyn menatapnya tajam, tangannya masih kokoh menggenggam pistol yang diarahkan ke kepala pria itu. Namun, Leonard tampak tidak terganggu sama sekali.

“Apa ini?” suara Evelyn dingin.

Leonard tersenyum. “Ah, aku sudah menunggu pertanyaan itu.” Dia melangkah mendekati tangki, menepuk kaca dengan santai. “Ini adalah eksperimen yang akhirnya sempurna. Kau tahu, menciptakan manusia buatan bukanlah hal mudah. Butuh bertahun-tahun, banyak kegagalan, banyak…” ia berhenti, seolah mempertimbangkan kata yang tepat, “…sumber daya.”

Evelyn menggertakkan giginya. “Aku bukan eksperimen.”

Leonard mengangkat alisnya. “Benarkah?”

Dengan gerakan cepat, dia menekan sebuah tombol di panel kontrol. Tangki itu mulai mengeluarkan suara berdesis, dan cairan hijau di dalamnya perlahan surut. Sosok yang ada di dalamnya mulai jatuh ke dasar, matanya tiba-tiba terbuka.

Evelyn mundur selangkah tanpa sadar.

Sosok itu—wanita yang begitu mirip dengannya—menatapnya balik.

Matanya kosong.

Tidak ada emosi.

Tidak ada kesadaran.

Namun, tubuhnya bergerak.

Tangki terbuka dengan bunyi mekanis, dan klon Evelyn—atau siapapun dia—melangkah keluar. Dia telanjang, tetapi Leonard dengan santai melemparkan sebuah jubah putih ke arahnya. Wanita itu mengambilnya tanpa ekspresi dan mengenakannya.

Liam yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. “Apa-apaan ini, Leonard?” suaranya rendah, penuh kemarahan.

Leonard menghela napas dramatis. “Sebuah proyek yang semestinya kau hargai, Liam. Kau menyadarinya, bukan? Evelyn bukan manusia biasa. Dia terlalu sempurna. Terlalu kuat. Terlalu… berbeda.”

Evelyn tidak bisa membiarkan ini berlanjut. Dengan gerakan cepat, dia menarik pelatuk dan menembak ke arah kepala Leonard.

Namun, sebelum pelurunya mencapai target, sosok klon itu bergerak.

Dalam hitungan detik, dia sudah berdiri di depan Leonard, menangkap peluru dengan tangan kosong.

Evelyn membeku.

“Ini… tidak mungkin.”

Klon itu menatapnya, lalu tangannya yang memegang peluru mulai menggenggam erat hingga peluru itu hancur.

Leonard terkekeh. “Kau tidak akan bisa membunuhku, Evelyn. Tidak selama dia ada di sini.”

Evelyn menatap sosok yang berdiri di depannya. Bentuk tubuh yang sama, tinggi yang sama, bahkan cara berdiri yang nyaris identik.

Tapi ada satu perbedaan besar.

Klon itu tidak memiliki jiwa.

Evelyn bisa melihatnya di mata hitam kosong itu.

“Kenapa?” suaranya lebih pelan sekarang. “Kenapa kau menciptakan ini?”

Leonard tersenyum puas. “Untuk menciptakan manusia sempurna, tentu saja.”

Evelyn menggelengkan kepala. “Kau gila.”

Leonard tertawa kecil. “Kau baru menyadarinya?”

Saat itu juga, suara ledakan terdengar dari lantai atas. Tim mereka sedang bertarung di luar. Waktu mereka hampir habis.

Liam menyentuh alat komunikasinya. “Sophia, status?”

Suara Sophia terdengar di telinga mereka. “Tidak bagus. Pasukan mereka lebih banyak dari yang kita duga. Kita harus keluar sekarang!”

Evelyn tahu mereka harus pergi. Tapi dia tidak bisa membiarkan Leonard dan klon itu tetap hidup.

Dia menatap Leonard. “Ini belum berakhir.”

Leonard menyeringai. “Aku berharap begitu.”

Dengan cepat, Evelyn menekan tombol di ikat pinggangnya—memicu peledak mini yang telah dia tanam di jalur masuk mereka. Ledakan terjadi, mengguncang bangunan itu. Asap memenuhi ruangan, memberikan mereka kesempatan untuk melarikan diri.

Liam menarik tangan Evelyn. “Ayo pergi!”

Evelyn menatap klon dirinya sekali lagi. Sosok itu hanya diam, tidak bereaksi sama sekali.

Untuk sekarang, mereka harus mundur.

Tapi ini belum selesai.

Mereka akan kembali.

Dan kali ini, dia akan memastikan Leonard tidak akan bisa bermain-main dengan hidupnya lagi.

.

.

.

Asap masih memenuhi ruangan, memantulkan cahaya merah dari alarm yang terus meraung. Evelyn dan Liam bergerak cepat di antara reruntuhan, menghindari pecahan kaca serta puing-puing yang berjatuhan akibat ledakan yang baru saja terjadi. Napas mereka berat, tetapi adrenalin membuat mereka tetap fokus.

“Lewat sini!” Liam menarik lengan Evelyn, membawanya ke sebuah lorong kecil yang belum runtuh.

Namun, baru beberapa langkah, sebuah bayangan melesat ke arah mereka. Evelyn refleks mengangkat pistolnya, tetapi sebelum dia bisa menarik pelatuk, sesuatu mencengkeram lengannya dengan kekuatan luar biasa.

Klon dirinya.

Wanita itu menatapnya dengan mata kosong, wajahnya tetap tanpa ekspresi meskipun tangannya kini menggenggam pergelangan Evelyn dengan kekuatan yang hampir menghancurkan tulangnya.

“Lepaskan!” Evelyn memutar tubuhnya, mencoba melepaskan diri dengan gerakan bela diri yang selama ini dia kuasai. Tapi klon itu lebih cepat. Dalam sekejap, dia sudah berbalik dan melempar Evelyn ke dinding dengan kekuatan yang tidak masuk akal.

Bugh!

Evelyn terhempas, punggungnya menghantam beton keras. Rasa nyeri menjalar di tubuhnya, tetapi dia memaksa dirinya untuk bangkit. Liam segera bergerak, menembakkan peluru bertubi-tubi ke arah klon itu.

Dorr! Dorr! Dorr!

Tiga peluru mengenai dada wanita itu, tetapi dia bahkan tidak bergerak sedikit pun. Seolah-olah peluru hanyalah gangguan kecil baginya.

“Tidak mungkin…” Liam bergumam, ekspresi keterkejutannya jelas terlihat.

Klon itu memiringkan kepala, seolah sedang mempelajari mereka. Lalu, tanpa peringatan, dia melesat dengan kecepatan luar biasa. Liam tak sempat menghindar—tangannya ditangkap dalam sekejap, dan dalam gerakan yang brutal, klon itu memelintirnya.

Krek!

Liam berteriak. Tulang di lengannya patah.

“Bajingan!” Evelyn menggeram, melompat maju dan menendang kepala klon itu dengan kekuatan penuh. Kali ini, serangannya berhasil. Klon itu terdorong ke belakang, melepaskan cengkeraman pada Liam.

Tanpa membuang waktu, Evelyn menarik granat asap dari sabuknya, menarik pinnya, dan melemparkannya ke lantai.

Ledakan kecil terdengar, dan asap tebal segera memenuhi ruangan. Evelyn meraih Liam yang masih meringis kesakitan, lalu menariknya untuk lari.

“Kita harus pergi sekarang!” Dengan napas terengah-engah, mereka berlari melewati lorong-lorong sempit yang mulai runtuh. Evelyn tahu mereka tidak bisa bertarung dengan sesuatu yang tidak bisa dilukai. Untuk saat ini, bertahan hidup lebih penting.

Di belakang mereka, langkah kaki klon itu masih terdengar.

Tak terpengaruh. Tak terhentikan.

Mereka mencapai pintu keluar darurat, dan tepat saat Evelyn mendorong pintu baja berat itu, suara dentuman keras terdengar dari belakangnya. Dia menoleh.

Klon itu berdiri di ujung lorong, menatapnya.

Kemudian, tanpa emosi, wanita itu berbicara untuk pertama kalinya.

“Evelyn Carter. Kau adalah aku. Dan aku adalah kau.” Evelyn merasa darahnya membeku.

Pintu darurat akhirnya terbuka, dan udara malam yang dingin menyambut mereka. Sophia dan timnya sudah menunggu dengan kendaraan pelarian. Tanpa ragu, Evelyn dan Liam melompat masuk, dan mobil segera melaju kencang meninggalkan gedung yang sudah separuh runtuh.

Dari kaca belakang, Evelyn bisa melihat klon itu masih berdiri di sana, mengawasinya.

Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu dalam ekspresi wanita itu yang berbeda. Bukan sekadar kosong. Tapi penuh rasa ingin tahu.

Di dalam markas rahasia mereka, dokter tim segera menangani lengan Liam yang patah. Sophia berdiri di samping Evelyn, ekspresinya serius.

“Apa yang sebenarnya terjadi di sana?” Sophia bertanya.

Evelyn menghela napas, mencoba meredam pikirannya yang masih berantakan. “Mereka… membuat klon diriku.”

Ruangan menjadi sunyi seketika.

Sophia mengerutkan kening. “Klon?”

“Ya,” Evelyn mengangguk. “Bukan hanya mirip secara fisik. Tapi lebih dari itu. Dia sekuat aku. Bahkan mungkin lebih kuat.”

Liam, yang masih menahan rasa sakit, menyela, “Dan dia hampir tak bisa dilukai. Aku menembaknya tiga kali di dada. Dia bahkan tidak bergeming.”

Sophia tampak tidak percaya. “Itu tidak masuk akal. Tidak ada manusia yang bisa bertahan dari tembakan seperti itu tanpa efek apa pun.”

“Tapi dia bukan manusia biasa,” Evelyn berkata pelan.

Dia terdiam sejenak, mengingat bagaimana klon itu berbicara padanya.

‘Kau adalah aku. Dan aku adalah kau.’ Apa maksudnya?

Leonard jelas mengetahui sesuatu yang tidak dia ketahui. Tapi apa?

Sophia melipat tangan di dadanya. “Kalau begitu, kita punya masalah besar. Jika mereka bisa menciptakan satu, siapa yang bisa menjamin bahwa mereka tidak punya lebih banyak?”

Evelyn mengepalkan tangan. Itu adalah pertanyaan yang juga menghantuinya. Jika dia bukan satu-satunya…

Maka pertarungan ini baru saja dimulai.

Di suatu tempat yang tersembunyi, Leonard berdiri di depan layar holografik, mengamati rekaman kejadian di laboratoriumnya yang hancur.

Di sampingnya, klon Evelyn berdiri diam, wajahnya masih tanpa ekspresi.

Leonard menyeringai. “Menarik, bukan?” katanya pelan. “Kau bisa melihat sendiri betapa sempurnanya dia. Evelyn Carter—sang prototipe yang tak sadar akan jati dirinya.” Klon itu tidak menjawab.

Leonard melanjutkan, “Tapi kau, kau adalah versi yang lebih sempurna. Tak terhentikan. Tak terkalahkan.”

Wanita itu akhirnya menggerakkan kepalanya sedikit, menatap Leonard dengan mata dinginnya.

Lalu, untuk pertama kalinya, dia berbicara.

“Aku ingin tahu lebih banyak.”

Leonard tersenyum puas. “Tentu. Aku akan memberitahumu segalanya.”

Dan dengan itu, bayangan yang lebih besar mulai bergerak di belakang layar.

Karena Evelyn bukan satu-satunya. Ada lebih banyak lagi. Dan perang baru saja dimulai.

1
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
siapa tuh sosok yang bertopeng apakah dia suruhan leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
bnr selesai aja misi nya baru deh nanti bicara soal perasaan 🤭
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
pasti kalian bisa menghancurkan musuh² itu
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
meskipun Leo udh ditahan masih aja ada musuh lain yang mau mengalahkan lyn dan teman² nya,
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
hati hati takutnya ada jebakan disana,semoga aja kalian menang melawan leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
semoga misi nya berhasil mengalahkan leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
JD benar kah lyn itu hasil penelitian dari leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
kapan perang dimulainya udh GK sabar nih melihat lyn dan sopi menghancurkan robot yg dibuat oleh leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
semoga lyn dan sopi bisa mengatasi robot yg digunakan oleh leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
keren ceritanya nya
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
semoga aja lyn selamat dan bisa keluar dari perangkap nya leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
sebentar lagi perang akan dimulai
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
untung aja lyn udh keluar dari gedung itu coba kalau TDK pasti udh ketangkep sama Leo
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
km pasti bisa mengatasi semua ini Evelyn biar rahasia nya tak terbongkar smaa org lain
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
walaupun udh ketangkep pria misterius itu masih aja belum cerita siapa org yg nyuruh mereka buat menghancurkan evelyn
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
siapa org yg sudah mengkhianati nya
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
untung ada Adrian JD kau bisa selamat dari musuh itu
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
Adrian masih penasaran sama sekertaris nya apakah dia akan mencari info lebih dalam
ㅤㅤㅤ ㅤ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🦆͜͡ 𝐀⃝🥀✰͜͡v᭄
ada yang mata²n mereka kah ko Adrian bisa tau.
QueenRaa🌺
Keren banget ceritanya thorr✨️ Semangat up!!
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩
Mari saling mendukung🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!