NovelToon NovelToon
Negeri Para Penyihir

Negeri Para Penyihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Sistem / Epik Petualangan / EXO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Karena pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasihnya, Bumi terlempar ke dunia penyihir, tempat dimana kekuatan sangat di perlukan untuk bertahan hidup.

Bumi diangkat menjadi anak seorang penyihir wanita paling berbakat era itu. Hidupnya mulai mengalami perubahan, berpetualang menantang maut dan berperang.

Meski semuanya tak lagi sama, Bumi masih menyimpan nama kekasihnya dalam hatinya, dia bertekad suatu hari nanti akan kembali dan meminta penjelasan.

Namun, gejolak besar yang terjadi di dunia penyihir membuat semuanya menjadi rumit. Masih banyak rahasia yang di simpan rapat, kabut misteri yang menyelimuti Bumi enggan menghilang. Lantas saat semuanya benar-benar tidak terkendali, masih adakah setitik harapan yang bisa diraih?

*

cerita ini murni ide author, jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu hanyalah fiktif belaka.

ig: @aca_0325

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Hari ini adalah hari pendaftaran untuk masuk akademi Langit Hitam, akademi paling bergengsi seantero Terra. Sejak malam tadi hujan salju mengguyur sebagian besar pemukiman warga, sebagai awal dari musim dingin yang akan melanda negeri ini selama tiga bulan ke depan.

Cuaca paling ekstrim memang saat musim dingin, membuat orang-orang malas pergi keluar rumah. Namun karena hari ini adalah hari penting untuk para penyihir pemula, tidak ada yang bermalas-malasan. Anak-anak muda yang akan mendaftar bahkan sudah mengemasi barang-barangnya sejak malam tadi.

Di dalam kamarnya Bumi memakai mantel tebal yang dibelikan oleh ibunya. Mantel berwarna biru gelap bercampur hitam itu cocok sekali dengan perawakan Bumi yang tinggi dan wajahnya yang tenang. Dia dapat merasakan ada kabut hangat yang keluar dari dalam lapisan mantel membuat orang yang memakainya tidak akan kedinginan.

Kriettt....

Pintu terbuka lebar, Analika muncul disana membawa satu kotak berukuran sedang. Dia duduk di kursi belajar Bumi, dan membuka kotak tersebut, isinya ternyata sepasang liontin biru dengan permata indah berwarna senada.

"Kalung ini aku dapatkan di kawah terdalam pegunungan Kuantum, benda ini akan melindungimu dan menjagamu. Pakailah,"kata Analika menyerahkan kalung itu ke tangan Bumi.

"Kenapa ibu memberikannya kepadaku?"Tanya Bumi menatap lama kalung tersebut tanpa ada niatan untuk mengambilnya.

Analika meraih tangan Bumi lalu meletakkan kalung itu diatas telapak tangannya, "Karena selama di Akademi, aku tidak akan bisa melindungimu. Orang luar selain pengajar dan para murid dilarang masuk kesana, bahkan jika kecelakaan besar terjadi, tidak ada yang boleh mencampuri urusan di tempat itu."

Setelah mengatakan itu, Analika buru-buru keluar meninggalkan Bumi yang masih berdiri diam. Pria itu menatap lagi kalung tersebut lalu perlahan mulai memakainya di lehernya.

Saat kalung terpasang sempurna di lehernya, Bumi merasa ada hawa aneh yang keluar lalu masuk kedalam dagingnya dan mengalir ke seluruh tubuhnya.

"Ternyata dia tidak sedingin yang terlihat,"Gumam Bumi mengusap lembut kalung yang melingkar sempurna di lehernya. Meski hanya sekilas, setidaknya hari ini Bumi bisa melihat bahwa Analika peduli dan tidak membiarkan dia celaka selama belajar di tempat jauh yang dia tidak mengerti apa-apa tentang tempat itu.

Setelah itu Bumi membawa kopernya dan menghampiri ibunya yang sudah menunggu di teras depan. Tak hanya itu, disana juga sudah ada Anina dan paman Severus, kedua orang yang jarang terlihat dan hari ini Bumi melihat mereka lagi.

"Kemarilah," panggil Nina, wajah garangnya agak melunak pagi ini.

Bumi mendekat, berdiri dua langkah di depan Anina, dengan jarak sedekat ini Bumi bisa melihat beberapa kerutan samar di wajahnya meskipun tidak bisa menyembunyikan kecantikannya. Wanita berambut pendek ini berparas garang dan bahkan nampak lebih tidak berperasaan.

" Ini cincin sihir berwarna biru menandakan benda ini milik keluarga Caeruleus, di dalamnya ada sedikit koin hitam yang dapat kau gunakan untuk belanja. Berhati-hatilah selama disana."Kata Anina, tanpa aba-aba dia menarik Bumi untuk memeluknya, dia berbisik sangat pelan hingga hampir menyerupai hembusan angin, "di perpustakaan rahasia ada sepasang pedang biru, jika memungkinkan ambil pedang itu."

Meski tidak mengerti, Bumi tetap memberi anggukan samar.

"Meski kau tidak terlahir dari rahim Analika namun darahnya sudah mengalir didalam tubuhmu, kau adalah anggota keluarga kami. Kembalilah dengan selamat."kata paman Severus.

Bumi tidak mengerti, dia hanya akan pergi belajar namun mengapa semua orang menyuruhnya berhati-hati? Apa ada sesuatu yang seharusnya ia tahu tetapi tidak diberitahu oleh mereka.

"Ayo! Kita harus segera berangkat, agar tidak ketinggalan bus."ajak Analika meraih tangan anak itu.

Keduanya berjalan cepat menyusuri jalan yang tertutup salju, bumi bisa melihat segala sesuatu di depannya memutih tertutup salju setebal betis orang dewasa.

Jejak-jejak semata kaki memenuhi sebagian besar jalan, stasiun bus tidaklah terlalu jauh dari rumah mereka, hanya butuh waktu sepuluh menit berjalan kaki mereka sudah sampai di stasiun. Bangunan yang dibangun memanjang itu sudah dipenuhi oleh para remaja dari berbagai klan. Beberapa orang tua juga ikut mengantarkan anak-anak mereka.

"Selamat pagi,bibi,"

"Selamat pagi, Bibi,"

Orang-orang yang melihat Analika menyapa dengan hormat, banyak juga yang menggigil ketakutan, hal ini tidak luput dari perhatian Bumi. Dia ingat kembali dengan artikel yang dia baca, betapa bengis dan kejamnya Analika, barangkali inilah yang menjadi penyebab orang menghormatinya.

Atau mungkin mereka melakukannya karena takut?

"Apa kau akan menjadi murid langit hitam kembali, Lika?" Seorang wanita seumuran Analika bertanya mencemooh. Tentu saja, tidak semua orang takut, masih ada beberapa yang tidak peduli dengan keberadaan Analika, mungkin saja.

"Ah, ku pikir siapa tadi, rupanya nyonya Sabila Erythro."Analika menyahut datar, "wajahmu menjadi semakin tua dan jelek, aku hampir tidak mengenalinya."

Tidak hanya kekuatannya saja yang mengerikan, mulutnya bahkan bisa menyulut pertikaian dalam sekali bicara.

"Kurang ajar." Nyonya Sabila memerah, dia melangkah maju, tangannya mulai mengeluarkan bola-bola api yang ganas, sihir Erythro tingkat tujuh yang hendak dia luncurkan. Bola-bola itu terbang menuju Analika.

"Sihirmu belum membaik? Tentu saja, karena kau pasti sibuk mengurus anak-anakmu yang nakal dan suami mu yang suka menebar benih."Selesai dia bicara, bola-bola api terhenti dua jengkal dari bajunya, meluruh jatuh ke tanah dalam keadaan berubah warna, bola-bola itu pecah saat menyentuh lantai dan mencair.

"Sabila nampaknya masih dendam dengan Analika,"

"Wajar saja, tapi yang seharusnya dia tuding bukan Analika tetapi suaminya."

"Kau benar, suaminya yang mengejar Analika meskipun sudah di kalahkan ribuan kali."

"Tapi, siapa anak laki-laki yang bersama Analika?"

Dalam sekejap diskusi pecah, para orang tua mulai memperhatikan Bumi dan mempertanyakan jati dirinya. Tidak mudah untuk melihat Analika berdekatan dengan seorang laki-laki, apalagi masih tergolong sangat muda.

"Ibu, mereka..."

"Tidak usah di pikirkan. Mereka tidak penting untuk masa depanmu."potong Analika cepat, dia membawa Bumi duduk di bangku panjang yang masih kosong.

Sabila sendiri kembali duduk sambil mendumel, bahkan keempat anaknya yang mencoba menenangkan dia semprot.

***

Like, komen dan vote.

1
biruu
💯
Ega
👍👍
Kevin
⭐⭐⭐⭐⭐
Alya
💯👍
Lunaire astrum
karya bagus
☠ᵏᵋᶜᶟ❤️⃟Wᵃf 𝐊𝐢𝐤𝐲𝐀⃝🥀
bisa" lu mikir gitu bumi haha
☠ᵏᵋᶜᶟ❤️⃟Wᵃf 𝐊𝐢𝐤𝐲𝐀⃝🥀
hah? cepet banget metong, dan lu makan kah isi perut dia del, makanya ilang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!