Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELANGGAR KESEPAKATAN
Bram, memeluk erat Belinda, takut Belinda akan menangis lagi. Belinda memang menangis, tapi menangis yang entah bercampur rasanya. Meraka lalu tertidur dalam pelukan.
....
Setelah bangun dia meminumkan obat tidur dan obat penghilang nyeri pada Belinda. Lalu diulanginya lagi perbuatannya semalam. Menikmatinya sendiri. Ini adalah malam yang kelima sejak kejadian itu, Bram tidak mau menyentuh Belinda lagi.
Dia tidak mau merusak Belinda lagi. Belinda yang sudah mau makan sendiri dan mandi sendiri.
Sudah tidak marah lagi padanya, bahkan Belinda membaca buku yang tersimpan di atas lemari.
Bram tahu, pasti rasa sakit masih mendera di badannya sejak kejadian malam itu. "Paman siapa namamu?" Belinda memaksa Bram menjawabnya."Paman jawablah, kamu sudah dua hari mendiamkanku."
Belinda kembali memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. "Kamu umur berapa paman?" "Kalau dilihat-lihat kamu tidak terlalu tua paman!" "Paman, jawablah." Belinda memandang penuh harap pada Bram, berharap Bram meladeninya.
Bram mengeluarkan suara beratnya. "Aku Bram, pembunuh bayaran!" Bram memandangi Belinda."Kamu tidak takut,hah?"
"Aku 32 tahun"
"Nahhh, betul kan, paman belum tua, paman masih seumuran pengawal di rumahku."
"Kamu tidak takut padaku?"
"Dia tersenyum pada Bram.
"Untuk apa takut, kan paman akan jadi suami aku."
" Paman lihat itu ada kapal datang!"
"Paman.. Aku memanggilmu kakak kali ini, yah!"
"Kakak Bram, lihat ada kapalll"
Bram mengulur waktu untuk pengembalian Belinda, kesepakatan sudah disetujui oleh menteri pertahanan Belva. Itu artinya ia harus mengembalikan gadis itu untuk dibebaskan. Tapi Bram, merasa berat untuk melepaskannya. Dia sudah mengulur waktu dua hari pembebasan.
***
"Setan!!! Kau lepaskan sekarang juga tawanan!"
"Aku berubah pikiran!"
"Bagianmu bukannya sudah kamu dapatkan!"
"Ya, aku ingin mengubahnya!"
"Kamu harus ikuti kesepakatan!"
"Aku kembalikan uangmu!"
"Setan kunyukkkk! Mati kauuuu!!!"
"Tidak usah memakiku!"
"Kau apakan gadis itu? Kesepakatannya tidak begitu. Gadis itu tawanan bukan jadi milik kamu!"
"Dia kini jadi milikku!"
"Setan!!!!"
Bram menutup telpon dari Raja yang membayar mahal dirinya. Dia sudah gila. Ya dia sudah gila karena gadis itu.
Dilihatnya kembali gadis itu. Gadis itu adalah gadis yang membuat pikirannya menjadi sesat.
Lelaki berdarah dingin itu sudah hilang akal, ia ingin melarikan diri bersama gadis itu, malam yang menggairahkan itu ingin diulanginya lagi.
Gadis perawan ini ingin dimilikinya, ini lebih dari sekedar nafsu, ini karena ia mulai menyukai gadis itu. Ia bukanlah pencinta anak-anak, anak ini sudah remaja, 17 tahun.
Ia berhasrat memilikinya dan gadis ini membuatnya hilang akal.
Ia akan kabur membawa gadis ini. Ia akan mengulangi malam menggairahkan itu sekali lagi.
Dia bergegas. Untuk membereskan yang diperlukan. Ia membawa gadis itu menuju kapal yang sudah dipersiapkan.
Beberapa kaki tangannya berjaga-jaga.
Beberapa ada yang menaiki kapal dan ada yang masih berjaga di dermaga.
Sekarang ialah yang menjadi buronannya, dialah yang menjadi sasaran para pemburu bayaran.
Ia mau mengawini tawanannya, terdorong rasa kasihan dan nafsunya ingin mengulang malam itu.
"Paman...eehhh kakak, kita ke mana?"
Belinda memegangi tangan Bram. "Kak, aku nanti diantar pulang kah?"
"Iyaa, nanti, tapi kita pergi dulu ke suatu tempat."
"kakak ingat tidak dua hari lalu, sakitnya tidak terasa lagi kak sekarang!"
"Oh, ya?" Bram tersenyum menahan malu mendengar ucapan Belinda.
"Sudah hilang, kak!"
Belinda mengangkat kedua tangannya merasakan lembut angin yang menerpa di atas kapal itu.
kaki tangan Bram saling berpandangan mendengar ucapan polos Bram. Mereka tersenyum, mereka menyimpulkan sendiri apa yang terjadi pada bos mereka.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆