Ardan, seorang dosen tampan yang menjadi penerus keluarga Adinata sedang menatap pada seorang gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya.
Gaun yang dikenakan olehnya menunjukkan bahu dan leher jenjang milik Sasha, membuat jiwa lelaki Ardan meronta. Namun ia harus menahan segala hasrat yang sedang mencapai puncaknya, karena mengingat akan kontrak pernikahan yang membatasi sentuhan fisik diantara mereka.
Pernikahan mereka yang akan berlangsung dalam beberapa hari tersebut diakibatkan kebohongan yang dilakukan Ardan dan membuat seluruh keluarganya percaya bahwa Sasha adalah kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka dimulai?
Happy reading guys
follow ig author
@kak.ofa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak Khitbah
Paradise Residence
Wanita setengah baya itu nampak sibuk dengan aktivitasnya. Sepertinya rencana yang ia buat untuk Ardan, benar-benar menguras tenaga, pikiran dan waktunya.
Pagi itu, semua persiapan telah dilakukan. Baik Nyonya Nasyila maupun Tuan Bagus sudah bersiap dengan dandanannya. Tak lupa Bu Selvi juga akan bergabung dengan mereka.
Tampak Nyonya Nasyila menghitung kembali bawaan yang akan dibawanya.
"Dua puluh tiga... dua puluh empat... dua puluh..." ia menghentikan kata-katanya karena seseorang menepuk pundak.
"Dua puluh lima... sudah pas... " Tuan Bagus terkekeh menjaili istrinya.
"Bukankah dari kemarin kau sudah menghitungnya?" Tanya Tuan Bagus.
"Aku hanya takut ada yang tertinggal" jawab Nyonya Nasyila dengan muka masam pada suaminya.
"Ayo kita masuk ke mobil kita, atau kamu mau naik truk barang?" Goda Tuan Bagus.
Nyonya Besar itu memonyongkan mulutnya. Ia mengikuti kemana suaminya melangkah dan mereka pun akhirnya masuk pada salah satu mobil.
Mobil Tuan Bagus dan Nyonya Nasyila berada di tengah, diiringi dengan truk barang, juga mobil para pengawal dan pelayan, tak lupa Bu Selvi juga termasuk dalam iring-iringan yang mengantar om dan tantenya itu.
Bu Selvi merupakan orang yang cukup sibuk untuk menjalankan rencana Nyonya Nasyila. Dia menjadi tangan kanan tantenya untuk melakukan banyak hal dan mewujudkan rencananya.
Tampak ia gelisah dalam hati "akankah ini berhasil?" gumamnya sendiri.
Ia sendiri tidak yakin, namun ia berharap kali ini Ardan tidak banyak memberontak. Dan semoga Sasha adalah wanita pilihan yang tepat.
*****
Perumahan Wijaya Kusuma di saat yang sama
"Hari ini kamu tidak akan pergi kemana-mana kan sayang?" Tanya Ahmad pada putrinya.
"Enggak yah, kan ini Sabtu. Memang Sasha mau kemana?" Tanya Sasha balik.
"Oh syukurlah nak, kalau begitu kamu segera mandi dan bersiap ya, pakai baju yang dipilihkan ibu" Ucap Yati pada anak sambungnya itu.
Sasha hanya menurut saja, entah apa yang akan dilakukan orang tuanya, tiba-tiba saja kemarin dia dibelikan sebuah gaun sederhana yang cantik dan sekarang ia diminta untuk menggunakannya.
Dari kemarin, orang tuanya memintanya untuk berhenti melakukan pekerjaan dan selalu menyuruhnya untuk duduk saja. Sasha tidak langsung menurut, ia tetap membuat pesanan kuenya, namun setelah ia tetap menurut untuk istirahat.
Sejak semalam, orang tua Sasha sibuk menyiapkan banyak makanan. Entah akan ada acara apa, Sasha sendiri kurang begitu mengerti.
*****
Iring-iringan mobil milik Nyonya Nasyila dan Tuan Bagus tiba di depan sebuah rumah sederhana dengan kios galon di depannya.
Sasha yang mendengar keramaian di luar segera beranjak dari tempatnya dan hendak melihat keluar. Namun ibu tirinya mencegahnya. Dia meminta agar Sasha tetap duduk di tempatnya.
"Eh mau kemana sayang?" Ucap Yati pada Sasha.
"Mau liat ke depan bu, itu ada apa kok ribut-ribut?" Tanya Sasha.
"Sudahlah, duduk saja. Ayahmu sedang menanganinya, kau tidak perlu mengkhawatirkan yang bukan-bukan" ucap Yati menenangkan Sasha.
"Sebenarnya ada apa sih bu? Kenapa kalian begitu sibuk seperti sedang menyiapkan sesuatu, namun kalian sama sekali tidak meminta bantuanku" Sasha menjelaskan keheranannya pada ibu sambungnya.
"Sasha, sejujurnya kami ingin memberikan kejutan untukmu nak! Kamu selama ini sudah begitu baik pada kami, kamu sangat berbakti pada kami sebagai orang tuamu, kamu bahkan sangat menyayangi ibu seperti ibu kandungmu sendiri. Ibu terkadang sampai merasa bersalah padamu, karena hingga detik ini ibu masih belum bisa memberikan yang terbaik untukmu. Ibu harap hal kecil yang ibu dan ayahmu lakukan bisa membawamu pada kebahagiaan" jelas Yati dengan air mata yang berlinangan.
Sasha langsung mendekap ibu tirinya yang sedang terisak.
"Ibu bicara apa? Kenapa harus merasa bersalah? Ibu sudah mengurusi Sasha dan ayah dengan baik. Kehadiran ibu dan Kak Fariz sangat disyukuri oleh Sasha. Kenapa ibu merasa bersalah?" Sasha balik bertanya pada ibu tirinya.
"Sasha, kamu memang gadis yang sangat baik. Ini hanya hal kecil yang bisa ibu dan ayah lakukan, semoga kamu bahagia" Yati kemudian berdiri dan meminta Sasha juga berdiri.
"Ayo berdiri, kita keluar ikut menyambut tamu" ajak Yati pada Sasha.
Sasha hanya menurut, ia tak mengerti mengapa ada banyak tamu yang datang ke rumahnya di akhir pekan.
Saat ia keluar dari kamarnya, betapa terkejutnya ia melihat banyak orang yang membawa hantaran datang ke rumahnya. Dan yang paling mengejutkan adalah, adanya Bu Selvi dan Nyonya Nasyila diantara mereka.
"Ini Sasha sudah siap" ucap Yati pada semua orang yang ada.
Sasha tak mengerti dengan apa yang terjadi, ia hanya berdiri di samping ibu tirinya. Lalu kemudian Nyonya Nasyila dan seorang laki-laki paruh yang belum Sasha ketahui itu siapa menghampirinya.
"Perkenalkan saya Bagus dan ini istri saya, Nasyila" Tuan Bagus mengulurkan tangannya pada kedua orang tua Sasha dan Sasha sendiri. Mereka berlima berjabat tangan, kemudian mereka duduk berdekatan.
"Saya sudah mendengar mengenai Sasha dari istri saya, dan katanya Pak Ahmad dan Ibu Yati sudah melakukan pembicaraan dengan istri saya sebelum ini, dan kalian menyetujui lamaran ini?" Tanya Tua Bagus.
Sasha tidak mengerti, namun ia tidak berani untuk menyela. Ia hanya terdiam mencoba mencerna semuanya.
Hingga akhirnya Bu Selvi pun berkata "Pak Ahmad, Ibu Yati, Kami selaku keluarga besar Adinata ingin mengkhitbah Sasha untuk Putra dari Tuan dan Nyonya Adinata, yakni Ardan Adinata. Menurut bapak, ibu, dan Sasha, apakah kalian berkenan menerima lamaran dari keluarga kami?"
Sasha merasa telinganya berdengung mendengar perkataan Bu Selvi. Ia mencoba mencerna kembali apa yang terjadi. Saat ia hendak berkata, tiba-tiba ayahnya berkata. "Sasha sudah menjadi pacarnya nak Ardan sejak lama, itu artinya dia pasti bersedia untuk mendampingi nak Ardan diseluruh sisa hidupnya, Saya selaku kepala keluarga dan wali yang sah dari Sasha, menyatakan bahwa kami menerima lamaran keluarga Adinata"
"Tunggu ayah!" Sasha mencoba menyela pembicaraan.
"Kenapa sayang? Kamu tidak usah malu-malu lagi, kami sudah tau semuanya. Kami merestui hubungan kalian" ucap ibu tiri Sasha sambil memeluk Sasha dengan berlinangan air mata.
"Ayah tidak menyangka secepat ini harus melepas kamu nak" Ahmad juga memeluk Sasha dengan mata yang berkaca-kaca.
Terlihat kebahagiaan di mata orang tua Sasha, ia tak berani memotong sesuatu yang menjadi sumber kebahagiaan orang tuanya.
"Tunggu, dimana orang itu?" Batin Sasha. Jika dia yang melamar, kenapa dia tidak menunjukkan batang hidungnya.
"Nyonya Nasyila, jika boleh saya bertanya, dimanakah Pak Ardan berada? Jika memang dia yang berniat melamar, kenapa dia sendiri malah tidak datang?" Tanya Sasha menaruh curiga.
"Sasha, calon suamimu sedang pergi ke luar negri karena ada penelitian, apa dia tidak mengatakannya padamu? Tidak baik mencurigai calon suamimu, kelak kamu harus berbakti padanya" Ibu tiri Sasha menjawab. Sasha yang mendengarkan ini pun mengerutkan dahi merasa tidak mengerti, mengapa ayah dan ibu nya sangat membela Ardan dan tidak menaruh curiga sedikitpun?
"Ardan sedang kuminta untuk menyelesaikan sebuah penilitian disertasi milik seorang dosen dari universitas Nusantara, penelitian itu ada kaitannya dengan perusahaan, kelak dia akan menjadi penerus, dia harus paham. Kami datang kesini atas permintaannya, agar kami segera meminang dirimu, agar kau tidak diambil oleh orang lain" Tuan Bagus tersenyum sambil memegang tangan istrinya.
"Iya sayang, saya juga tidak menyangka, akhirnya Ardan mau serius dengan seorang perempuan" Nyonya Nasyila berbicara dengan bahagia.
Sasha merasa aneh, namun ia tak berani menyinggung baik orang tuanya maupun keluarga Adinata yang sedang berbahagia. Dia hanya bisa memasang senyuman.
Satu-satunya orang yang harus memberi penjelasan adalah Ardan, begitu pikir Sasha. Acara lamaran pun berlangsung dengan baik.
Nyonya Nasyila menyematkan cincin di jari Sasha, terlihat air mata terurai di pipi sang nyonya besar. Sasha menjadi merasa bersalah, karena ia merasa sebenarnya tak ada hubungan istimewa apapun antara dirinya dan Ardan. Dia hanya bisa terdiam, menunggu jawaban dan penjelasan dari Ardan.
Acara lamaran berlangsung menggunakan adat tradisional. Sehingga yang menyematkan cincin di jari Sasha adalah ibunda dari pihak laki-laki. Seandainya Ardan hadir di acara tersebut, maka Ayah dari Sasha lah yang akan menyematkan cincin pertunangan di jari nya.
Setelah acara penyematan cincin selesai mereka kemudian mengobrol sambil menikmati hidangan yang ada.
"Kami akan mengadakan ulang tahun pernikahan, Saya harap Sasha bisa hadir sebagai pasangan Ardan" ucap Nyonya Nasyila.
Sasha tak menjawab ia hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Nanti, kita akan kirimkan undangannya dan menyuruh Ardan menjemputmu" Tuan Bagus menimpali.
Begitulah acara pertunangan berlangsung dengan penuh haru dan bahagia. Meski Sasha sebenarnya masih kebingungan, namun melihat raut wajah bahagia di kedua orang tuanya, ia menyimpan semua rasa tak janggal itu dihatinya. Biarlah, jika ini memang yang terbaik, semoga semuanya berjalan lancar. Namun jika ini membawa petaka baginya dan keluarganya, semoga hubungan ini bisa diakhiri secara baik-baik, begitu pikir Sasha.
*****
Bersambung...
penokohannya jg pas.
walaupun ini karya perdana sang author,tp novel ini bgs menurut sy.
semoga utk ke depannya KK author lebih sukses lg dgn menghasilkan karya2 trbaiknya.
𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂..