Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 3 bagian 5
Hari Rabu datang begitu cepat. Hani saat ini menunggu Daniel di taman halaman rumahnya. Sebenarnya mereka akan pergi ber-tiga namun apa daya, ibu Andre tiba-tiba sakit dia tidak diperbolehkan pergi. Itu memang sudah pernah terjadi sebelumnya, ibu Andre akan menjadi sangat manja ketika ia sakit. Hani tidak terlalu mengerti apakah mereka sudah tinggal satu rumah dengan keluarga Dewanta lainnya. Seharusnya sih sudah, Sora tidak lagi terikat dengan keluarga mereka, ia dan ibunya saat ini hanya lah orang asing yang tidak ada kaitannya dengan keluarga Dewanta.
Ini adalah hari pertama Hani pergi berdua dengan Daniel, sebelumnya selalu ada setidaknya satu teman yang pergi bersama mereka. Hani tidak tahu apakah hari ini akan berjalan dengan baik atau tidak, yang pasti ia sudah terlalu lama menunggu. Daniel bilang dia akan datang jam 8, namun ini sudah berlalu setengah jam namun ia belum juga datang.
‘aku akan memukulnya begitu dia sampai’ gumam Hani.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Daniel datang dengan motornya. Suara deru motor besar itu menggelegar, membuat Hani sedikit menghela nafas. Ia lebih suka pergi dengan kendaraan umum daripada kendaraan besar dengan suara yang menganggu itu. Kekesalannya jadi berlipat ganda, untung saja ia tidak memilih menggunakan rok hari ini.
“Kau terlambat, ini sudah jam setengah 9” ucap Hani setelah menerima helm dari Daniel. Ia menunjukan jam tangan kecil di tangannya.
“Di mana letak keterlambatan ku? Aku bilang bersiaplah jam 8, bukan aku akan datang jam 8. Sepertinya otakmu terlalu lama istirahat jadi perlu diperbarui perangkatnya” jawab Daniel tanpa rasa bersalah. Ia malah menyerahkan beberapa buku paket yang ia bawa di balik jaketnya.
“Apa ini?” tanya Hani bingung. Ia masih tidak percaya ada orang seperti Daniel. Saat bersama teman-teman lainnya ia akan sangat manis, tapi begitu hanya berdua ia akan sangat irit kata dan seenaknya.
“Sudah bawa saja kita perlu alibi” jawab Daniel singkat.
Hani yang mendengar itu menatap Daniel dengan rasa tidak percaya, namun ia masih menerima buku-buku itu. Hani tidak menjawab sepatah kata pun, ia naik ke motor itu dengan susah payah, mengabaikan Daniel yang tengah menahan tawa atau seorang satpam yang menatap mereka dengan heran. Ini adalah kali pertama ia dijemput oleh seorang anak laki-laki kecuali Andre. Jadi wajar saja kalau mereka bertanya-tanya.
Perlu waktu 30 menit untuk sampai di alamat yang diberikan oleh Miki, namun Daniel tidak membiarkan Hani turun, dia hanya menatap rumah besar itu sebentar dan kembali menyalakan motornya untuk pergi. Mereka bahkan belum bertemu Miki, tapi Daniel sudah terburu-buru pergi. Hani benar-benar tidak mengerti.
“Kenapa langsung pergi begitu saja?” tanya Hani dengan setengah berteriak. Ini lah salah satu hal yang tidak ia suka, bepergian dengan motor membuatnya tidak bisa berbicara dengan santai. Yang membuatnya lebih kesal adalah, Daniel yang tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia dengan kesal mencubit pinggangnya dengan keras, membuat Daniel sedikit kehilangan kendali.
“Apa yang kau lakukan?” teriak Daniel kesal. Beruntung tidak ada satu pun kendaraan di dekat mereka.
“Jawab pertanyaanku” balas Hani ikut berteriak.
“Nanti saja, ini di jalan berbahaya. Sekarang diam lah dan perhatikan alamat yang diberikan gadis itu” kata Daniel. Ia kembali berkendara dengan kecepatan tinggi, membuat Hani mau tidak mau berpegang erat pada pundak Daniel. Ini gila.
Hingga 30 menit kemudian mereka sampai ke alamat yang diberikan oleh Yulia. Mereka berada tepi jalan yang berseberangan langsung dengan rumah itu, ini pasti rumah Yulia karena mobil yang biasanya mengantar Yulia tengah terparkir di halaman depan, seperti hendak pergi. Namun sekali lagi Daniel tidak memperbolehkan Hani turun dulu, dia malah memarkirkan motornya di dekat trotoar. Dari titik ini mereka dapat melihat rumah itu secara keseluruhan, tapi orang yang ada di dalam rumah pasti tidak dapat melihat mereka. Hani tidak mengerti apa yang diinginkan Daniel jadi ia hanya ikut memandang rumah besar itu dengan penasaran.
Rumah itu sangat besar, itu bahkan terlihat lebih besar dari rumah Miki. Namun suasananya sangat sepi dan tampak tidak bersih. Pos jaga dibiarkan kosong dengan gerbang yang terbuka lebar, halamannya dipenuhi dedaunan kering yang berjatuhan dan beberapa pagar besi pun dibiarkan rusak. Seperti rumah yang tidak terurus.
Mereka menunggu selama beberapa menit di sana, dan begitu melihat kedua orang tua Yulia keluar dari rumah Daniel segera menyalakan motornya dan masuk ke halaman rumah itu. Kedua orang tua Yulia yang belum masuk mobil segera mengalihkan pandanganya pada mereka. Hani yakin ada sedikit perasaan sinis dan terkejut dalam diri mereka, namun mereka bisa menyembunyikannya dengan baik.
“Pagi, Om Tante. Kami temannya Yulia mau mengerjakan tugas bersama” sapa Daniel dengan suara yang benar-benar ramah. Sekarang Hani tahu apa fungsi dari buku paket yang ia bawa dan alibi yang Daniel maksud.
Hani hanya tersenyum melihat kedua orang tua Yulia menatap mereka dengan meneliti. Mereka tidak pernah bertemu jadi hal yang wajar kalau mereka tidak tahu.
“Yulia tidak mengerjakan tugas dengan Harry dan Miki?” Tanya ayah Yulia.
“Untuk tugas ini sementara kelompok Yulia berganti Om, agar tidak itu-itu saja” jawab Daniel lagi, masih dengan senyum manisnya. Hani benar-benar harus menahan diri untuk tidak memutar kedua matanya bosan.
“Oh ya sudah, masuk saja Yulia sudah ada di ruang depan kok” ucap Ibu Yulia. Dia mengalihkan pandangannya pada suaminya dan bergegas masuk ke dalam mobil. Daniel masih dapat mendengar apa yang mereka bicarakan sebelum mobil itu pergi dari halaman. Sesuatu tentang pentagram yang tidak simetris dan kegagalan ritual.
Daniel melangkah seolah tidak peduli, Hani yang tidak mengerti apa pun hanya mengikuti di belakangnya. Mereka belum sempat mengetuk pintu, bersamaan dengan itu Yulia membuka pintu.
“Kalian datang lebih cepat dari yang aku perkirakan, apa kalian bertemu dengan orang tuaku? Mana Andre?” Tanya Yulia, ia melihat ke belakang mereka dan hanya menemukan satu motor.
“Iya tadi kami bertemu dengan orang tuamu, dan Andre tidak ikut ibunya sakit jadi kami tidak mengajaknya pergi. Kami juga sudah sampai depan rumah Miki, tapi Daniel langsung mengajakku kesini. Tidak tahu apa yang ada dalam otaknya” jawab Hani menyinggung Daniel.
“Kau tau apa itu efisiensi waktu, rumah itu terlihat kosong. Kenapa hal sesepele itu tidak bisa kau pikirkan?” sahut Daniel tidak mau kalah.
“Ah, aku lupa bilang kalau pagi ini sepertinya Miki dan keluarganya tidak ada di rumah. Dia bilang ada acara kumpul keluarga di tempat neneknya, jadi semua orang pasti ikut” sahut Yulia begitu mendengar perdebatan mereka berdua.
Daniel menyeringai menang begitu melihat Hani mulai cemberut. Yulia hanya tersenyum kecil melihatnya dan mempersilahkan kedua tamunya masuk. Namun dia tidak segera ikut masuk, ia malah berlari keluar untuk menutup gerbang depan. Tidak ada satpam di luar jadi tidak ada orang yang akan menutup gerbang.
“ART dan satpamnya libur Yul. Enak sekali ya libur di tanggal merah” ucap Hani begitu melihat Yulia masuk ke rumah. Ia mengabaikan Daniel yang tampak memikirkan sesuatu sambil menatap foto keluarga besar yang terpajang di atas meja kecil di sisi kanan ruangan.
“Sebenarnya kami tidak memperkerjakan orang lain di rumah, makanya tempatnya berantakan. Kedua orang tuaku sangat sulit mempercayai orang lain, mereka juga orang yang cemburuan. Itu membuat mereka tidak punya orang lain di sekitar mereka, termasuk ART. Maaf untuk ke tidak nyamannya” jawab Yulia sedikit malu. Ia hendak masuk untuk menyiapkan minuman tapi Daniel sudah menyela.
“Di mana tepatnya kamu melihat arwah itu?” tanya Daniel.
“Di kamarku. Apakah kalian mau melihatnya sekarang? Aku bahkan belum mengambilkan kalian minum” jawab Yulia salah tingkah.
“Tidak perlu sungkan, kami memang datang untuk membantumu. Bisakah kamu menunjukkannya segera, sebenarnya agak terburu-buru dan cuaca di luar juga agak mendung takutnya tiba-tiba hujan. Kami menggunakan motor” jawab Daniel dengan nada yang sedikit memaksa. Hani dapat mendengar ada penekanan di setiap kata yang dia katakan.
“Baik, cepat aku tunjukkan” ucap Yulia.
Yulia membimbing kedua tamunya ke kamarnya yang terletak di lantai atas. Beruntung Daniel datang bersama Hani, jika tidak ini akan menjadi masalah besar. Seorang gadis yang berteman dengan laki-laki saja terkadang sudah dipandang tidak baik, apalgi yang membawa laki-laki ke kamarnya. Itu pasti akan menimbulkan fitnah. Gosip selalu beredar seperti udara beracun, tidak sehat dan terkadang menyiksa.
Hani memperhatikan kamar besar yang menjadi ruang pribadi Yulia. Ini jelas lebih besar dari kamarnya. Dindingnya dicat dengan warna biru lembut dengan plafon berwarna putih bersih, memberikan kesan yang cerah dan tidak ternoda. Bagaimana caranya Yulia membersihkan ruangan sebesar ini tanpa bantuan orang lain? Itu yang saat ini ada dalam benak Hani. Ruangan itu bersih dan tertata rapi, tidak seperti kamarnya yang penuh dengan buku berserakan. Beruntung ia punya ART yang membantunya, jika tidak ia yakin kamarnya akan menjadi kapal pecah.
“Wah, Yulia rajin sekali, sampai tidak ada satu pun kain yang tidak terlipat” puji Hani.
“Di mana kamu melihat penampakannya?” tanya Daniel menimbun pujian Hani.
“Di balkon. Saat itu jendelanya terbuka dan gerimis, namun saat aku mencoba memastikan dia sudah pergi.Saat itu lah ibuku masuk” jawab Yulia.
Daniel menatap balkon itu dengan tatapan yang rumit. Saat ini memang tidak ada arwah seseorang yang ada di sana, tapi mungkin saja dia adalah arwah yang pemalu seperti Yuan. Arwah itu pergi saat ibunya masuk mungkin ia hanya ingin bertemu dengan Yulia saja. Ia menatap ruangan itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, sampai tatapannya jatuh pada sebuah meja rias yang diletakan dekat dengan meja belajar.
“Siapa itu Danila?” tanya Daniel memecah keheningan.
“Dia kakak perempuanku. Dia seharusnya sudah di rumah sejak tanggal 23 Desember kemarin, namun karena itu sudah masuk libur semester ia memutuskan untuk pulang setelah malam tahun baru. Tapi sampai saat ini dia tidak kembali” jawab Yulia.
“Apa orang yang datang ke mimpi mu juga dia?” Tanya Daniel lagi.
“Ya, sebenarnya tidak datang karena adegan dalam mimpi itu memang pernah terjadi di dunia nyata. Itu saat kami ada di puncak, saat itu aku tengah memperhatikan punggung kakakku yang tengah bermain di bawah pohon bunga Magnolia. Yang menjadi pembeda adalah di realita dia membanting mainannya dan marah padaku, namun dalam mimpi itu dia berbalik dan mendekatiku. Semakin dia dekat semakin dewasa juga wajahnya, hingga akhirnya dia sampai di hadapanku dan berkata ‘maafkan aku kau bebas’. Mimpi itu mendatangi ku sejak tahun baru hingga hari ini” jelas Yulia.
“Aku paham” gumam Daniel.
“Apa yang membuatmu faham?” Tanya Hani penasaran. Namun Daniel sekali lagi mengabaikannya. Dia menatap Yulia dengan tatapan yang datar.
“Seperti apa yang dikatakan oleh teman-temanku, kasusnya tidak akan menjadi semudah itu. Tapi yang pasti perasaan seperti diawasi ketika sendiri atau mengingat sesuatu yang kita lihat itu adalah hal yang wajar. Terkadang itu berakar dari perasaan paranoid atau stress. Kasus penemuan mayat itu adalah hal baru bagi kalian, tentu tidak akan mudah melupakannya. Dan untuk arwah yang kau lihat di balkon aku perlu waktu lebih lama untuk memecahkan kasusnya. Yang pasti selama kamu di ruangan ini, kamu akan baik-baik saja” jelas Daniel.
“Jadi benar-benar ada arwah yang tinggal di kamarku?” Tanya Yulia.
“Tidak bisa dibilang tinggal juga sih, mungkin dia memang ingin mengatakan sesuatu padamu. Yang pasti arwah itu tidak akan melukai mu. Aku akan memberi mu kabar jika membutuhkan sesuatu yang berkaitan dengan hari ini” jawab Daniel. Ia melihat ke luar ruangan yang mulai sangat mendung.
“Ah, sepertinya sudah mulai mendung. Mungkin sebaiknya kita pamit, yang penting ingat saja kau akan baik-baik saja jika berada di ruangan ini” ucap Daniel sambil melangkah keluar dari ruangan.
“Kenapa begitu terburu-buru? Aku bahkan tidak memberi kalian minum” tanya Yulia berusaha menahan langkah Daniel.
“Tidak perlu repot-repot, kami sudah sarapan kok. Sepertinya kamu sangat sibuk hari ini, jangan sampai kami menghambat pekerjaanmu” jawab Daniel. Ia menatap sekumpulan alat kebersihan yang diletakan di samping tangga, sepertinya Yulia hendak menggunakannya.
“Ah, ayah dan ibuku masih ada rapat kok tidak perlu sungkan. Tapi jika kalian terburu-buru mau berkencan juga tidak apa-apa maaf merepotkan kalian ya” ucap Yulian dengan senyum yang sedikit jahil. Daniel mengabaikannya dan melangkah terlebih dahulu, meninggalkan Yulia dan Hani di ujung anak tangga teratas.
“Tidak perlu dipikirkan yul, sepertinya mood Daniel sedang tidak baik. Aku pergi dulu ya sebelum dia mengamuk, ingat saja apa yang ia katakan semuanya akan baik-baik saja” jawab Hani sambil berlari mengejar Daniel. Meski tidak berlari Daniel adalah orang yang tinggi, langkah kakinya lebar, dia sudah menunggu di depan pintu masuk saat ini
“Kura-kura” ucap Daniel pada Hani sebelum beranjak pergi.
Hani menatapnya dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin ia menjadi kura-kura? Ia tidak berjalan lambat, Daniel saja yang berjalan terlalu cepat. Yulia bahkan masih tertinggal di belakang. Bentuk kesopanan macam apa ini, pemilik rumah bahkan belum memperbolehkan mereka pergi, bisa-bisanya Daniel keluar terlebih dahulu.
“Kau ini tidak sopan sekali sih, Yulia belum mengucapkan salam perpisahan. Tunggu sebentar” ucap Hani. Ia menahan lengan Daniel.
Sebenarnya Hani tidak mengerti dengan perubahan suasana hati Daniel. Ia merasa kalau Daniel tidak menyukai tempat ini, mungkin ia melihat sesuatu yang tidak ingin ia lihat jadi buru-buru pergi. Tapi bukan berarti pergi begitu saja, Yulia pasti merasa tidak enak karena tamunya tidak nyaman. Setidaknya biarkan dia mengucapkan selamat tinggal dulu.
“Sebentar aku buka kan gerbangnya, kalian hati-hati di jalan ya. Jangan macam-macam” ucap Yulia dengan senyum menggoda. Ia segera berlari menuju gerbang dan membukanya separuh.
Daniel sekali lagi mengabaikan kalimat itu dan Hani hanya tersenyum tidak senang. Sebenarnya apa yang ada dalam otak Yulia, mereka tidak berkencan. Untuk apa dia mengoda seperti itu?