Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Keributan di Pagi Hari
.
Almira bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai atas, mengunci pintu rapat-rapat, menyandarkan punggung pada pintu, mengatur napas yang tiba-tiba terasa sesak. Rasa jijik menyelimuti dirinya. Ia benci harus berpura-pura baik di depan Gilang, benci ketika pria itu menyentuhnya, meski sekadar mengecup keningnya.
"Sebentar lagi, sebentar lagi semua ini akan berakhir," bisik Almira pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan diri. Berjalan ke arah ranjang dan duduk bersandar. Tangannya meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Sebuah senyum sinis terukir di bibirnya saat membaca kembali pesan yang tadi dikirim oleh Mbak Rini.
"Mbak Rini memang bisa diandalkan," gumamnya, meletakkan kembali ponselnya kemudian berbaring menyelimuti tubuhnya lalu memejamkan mata. Waktunya istirahat.
Sementara itu, Gilang dengan langkah malas menuju kamar tamu. Ia merasa kesal dengan sikap Lila yang berlebihan. Kenapa istrinya itu tidak bisa pengertian seperti Almira? Hanya karena masalah jaket saja, Lila membuat keributan yang tidak perlu. Tapi, ia tidak bisa berbuat banyak. Ada anak yang dikandung Lila, dan ia tidak ingin perdebatan mereka mempengaruhi kandungan wanita itu.
Dengan pelan, Gilang membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Lila sudah berbaring di ranjang, memunggunginya. Gilang menghela napas, menghampiri dan duduk di tepi ranjang.
"Sayang," panggil Gilang yang sebenarnya malas, mengelus rambut Lila sekilas. "Kamu sudah tidur?"
Lila tidak menjawab, tetap memunggunginya. Gilang memutar bola matanya, merasa semakin kesal.
"Ya sudah, aku minta maaf deh," ucap Gilang dengan nada datar. "Aku tahu aku salah. Udah kan?"
Lila tetap diam. Gilang mendengus kesal, namun ia menahan emosinya. Ia mencoba memeluk Lila dari belakang, namun wanita itu menepis tangannya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku!" bentak Lila dengan nada ketus.
Gilang menghela napas panjang. "Ya ampun, Lila, lebay banget sih," gumam Gilang pelan, namun masih bisa didengar oleh Lila.
"Apa kamu bilang?" tanya Lila berbalik cepat menghadap Gilang. Matanya melotot.
"Enggak," jawab Gilang cepat. "Aku cuma bilang maaf. Udah kan? Mau apa lagi?"
Lila menatap Gilang dengan tatapan tajam. "Kamu tahu apa yang membuatku marah, Mas?" tanya Lila dengan nada sinis. "Bukan karena jaket itu. Tapi karena kamu perhatian sama wanita lain!"
Gilang memutar bola matanya lagi, merasa jengah dengan sikap Lila yang belakangan terlalu posesif. "Ya ampun, Lila, aku cuma kasihan sama dia," ucap Gilang dengan nada malas. "Gak ada maksud apa-apa."
"Alah, alasan!" balas Lila dengan sinis. "Aku gak percaya sama kamu!"
"Ya sudahlah terserah. Mau percaya atau enggak, terserah kamu," ucap Gilang kesal. "Yang penting aku sudah minta maaf. Sekarang aku mau tidur. Aku capek. Besok masih harus kerja."
Gilang berbaring memunggungi Lila, Dalam hati, ia menggerutu. “Kenapa sih dia gak bisa bijaksana kaya Mira?"
Lila menatap punggung Gilang dengan tatapan kesal. Bukannya merayunya atau membujuknya, pria itu malah langsung tidur memunggunginya. Bahkan, tidak ada sedikit pun usaha untuk membuatnya merasa lebih baik.
"Ini semua gara-gara pembantu sialan itu," gumam Lila dalam hati. "Lihat saja besok, aku pasti akan memberikan pelajaran."
Arah mata angin berputar. Yang ada di otaknya kini bukan lagi bagaimana membuat Almira buruk di mata Gilang. Tapi bagaimana membuat Rini tak bisa mendekati Gilang.
*
Keesokan harinya, mentari belum lagi menyapa bumi saat Almira membuka matanya. Kamarnya masih remang-remang, hanya diterangi sedikit cahaya yang menyusup dari celah gorden.
Tangan Almira terulur menggapai ponsel yang tergeletak di atas nakas. Kalender kecil yang terlihat menunjukkan tiga minggu sudah sejak Gilang pulang membawa racun mematikan itu. Sejak hari itu pula jadwal hariannya berubah.
Tidak lagi turun dengan buru-buru, menyiapkan sarapan untuk Gilang, menyetrika baju kerja Gilang, membersihkan rumah agar dipuji oleh Gilang, seolah hidupnya hanya berputar di sekitar kebutuhan Gilang.
Namun, kini semua itu telah berakhir. Almira tidak lagi mau menjadi budak cinta, budak rumah tangga. Ia ingin menikmati hidupnya sendiri, mewujudkan impian-impiannya yang telah lama terkubur.
Perlahan, Almira bangkit dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Ia memanjakan dirinya dengan mandi air hangat, membiarkan air itu membasahi dan membersihkan tubuhnya, sekaligus jiwa dan pikirannya.
Setelah selesai mandi sekaligus berwudhu, Almira mengenakan gamis berwarna lembut dengan hijab instan yang serasi. Kemudian, ia duduk di atas sajadah dan mulai membaca Al-Qur'an, menunggu adzan subuh tiba.
Ayat-ayat suci itu mengalun merdu, menenangkan hatinya dan mengisi jiwanya dengan kedamaian. Melepaskan beban yang menghimpit jiwanya.
Adzan subuh berkumandang, Almira menutup Al’Quran nya.
*
*
*
Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Almira yang sebenarnya masih sibuk memeriksa bisnis yang selama ini ia kelola diam-diam, terpaksa bangkit dari ranjang keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah karena mendengar suara berisik.
Keributan sedang terjadi. Lila berkacak pinggang, tangan menunjuk, berteriak.
“Kamu, ya. Dasar pembantu gak bener! Pasti kamu sengaja ingin menggoda suamiku, kan?"
"Saya… saya tidak seperti itu. Mbak Lila salah paham.” Suara Rini terdengar bergetar.
Lila maju, tangan ingin menggapai. Namun …
“Tolong saya, Pak. Saya takut…”
Mata Almira menyipit melihat pemandangan yang terlihat. Mbak Rini yang selama ini terkenal pemberani, dan tak kenal takut pada siapapun, sama sekali tidak melawan, malah bersembunyi di balik punggung Gilang. Mencari perlindungan.
“Ini sebenarnya ada apa, sih?" Bu Rosidah yang tidak paham situasi bertanya keras.
"Iya nih, Mbak Lila. Ada apa sih, Mbak? Baru bangun juga dah ribut-ribut.” Riana ikut ngedumel.
Di pertengahan anak tangga, Almira berdiri tenang, menyilangkan dada mengamati situasi.
“Lila!" bentak Gilang. “Aku bilang cukup! Kamu itu salah paham!" Sebelah tangan pria itu melingkar ke belakang.
Almira tersenyum pada akhirnya. Setelah mengetahui situasi yang terjadi. “Mbak Rini benar-benar bisa diandalkan," gumamnya, tersenyum puas.
"Aku tidak salah paham, Mas,” teriak Lila tidak terima. "Lihat saja buktinya dia nempel terus sama kamu, kan?” Lila kembali merangsek namun Gilang menghadang dengan memeluknya.
“Lepas, Mas! Biar aku kasih pelajaran sama dia!" Lila meronta, namun Gilang tak melepaskan. Pria itu malah menarik Lila dibawa ke kamar. Tak peduli wanita itu yang terus berteriak.
Almira menatap penuh cemooh pada adik madu yang tampak begitu terguncang. "Padahal iiu baru permulaan," gumamnya menghela nafas. "Kenapa orang ketiga disebut madu? Padahal jelas-jelas itu racun!"
“Apa yang sudah kamu lakukan?!" Bu Rosidah menatap tajam ke arah Mbak Rini setelah Lila dibawa pergi oleh Gilang.
“Saya juga tidak tahu, Bu," Rini menunduk mengusap air mata yang sejatinya sama sekali tidak keluar. “Tiba-tiba saja Mbak Lila seperti orang kalap menyerang saya." Suara Isak tangis yang begitu pilu menyayat hati terdengar.
"Ya sudah, sana! Langsung kerja! Saya sudah lapar,” perintah Bu Rosidah.
"Saya permisi, Bu.” Mbak Rini berlalu sambil lagi-lagi sesenggukan mengusap mata yang sebenarnya kering.
Almira tersenyum tanpa terlihat. “Seharusnya piala Oscar diberikan buat Mbak Rini," gumamnya. Tangan yang kemudian mengusap perutnya. Sebelumnya masih rata, sekarang tangannya mulai merasakan ada sesuatu yg menonjol.
"Aku harus segera menyelesaikan semuanya."
semangat thor