Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Warung Bubur Ayam "Sari Rasa" pagi itu cukup padat. Uap panas mengepul dari panci besar, membawa aroma kaldu ayam yang gurih dan menggugah selera. Di pojok warung yang sedikit terhindar dari keramaian, Alano dan Ayra duduk berhadapan. Ayra sudah berganti pakaian dengan sweater tipis berwarna biru muda yang membuatnya terlihat sangat segar.
Begitu dua mangkuk bubur ayam spesial mendarat di meja, Ayra tidak langsung menyantapnya. Dengan sangat teliti, ia menggunakan sendoknya untuk memisahkan setiap butir kacang kedelai goreng dari tumpukan bubur, kerupuk, dan suwiran ayamnya.
Satu per satu, kacang-kacang itu ia pindahkan ke mangkuk milik Alano yang masih utuh.
"Lho? Ay, ini kacang gue udah banyak, ditambah punya lo lagi ntar jadi kebon kedelai nih mangkuk gue," protes Alano sambil tertawa melihat tumpukan kacang yang kian menggunung di atas buburnya.
Ayra tidak peduli. Ia tetap fokus menyingkirkan sisa-sisa kacang terakhir dengan gerakan cekatan. "Nih, makan semuanya. Habisin jangan ada yang sisa!"
"Tumben banget lo dermawan soal makanan," goda Alano.
Ayra mendongak, menatap Alano dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara gemas dan kesal. "Ini bukan dermawan, Lano. Ini strategi. Makan tuh semua kacangnya, biar kamu jerawatan! Biar mukamu penuh bintik-bintik merah terus nggak ada lagi cewek kayak Siska atau kakak kelas genit itu yang mau lirik kamu!"
Alano tertegun sejenak, lalu tawa kerasnya pecah hingga membuat beberapa pengunjung warung menoleh ke arah mereka. "Ya ampun, Ay! Jadi lo mau nyabotase kegantengan gue pake protein nabati? Jahat banget sih!"
"Biarin! Biar cuma aku yang mau liat muka kamu. Biar kamu aman dari jangkauan 'kangen-kangenan' orang lain," jawab Ayra santai, lalu ia mulai menyuap buburnya dengan perasaan puas.
Alano menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mulai mengaduk buburnya (karena Alano adalah tim bubur diaduk, kontras dengan Ayra yang tim tidak diaduk). Ia memakan satu sendok penuh berisi tumpukan kacang "kiriman" Ayra.
"Oke, gue makan. Tapi lo tau nggak, Ay?" Alano menopang dagunya, menatap Ayra yang sedang asyik makan.
"Apa?" tanya Ayra tanpa menoleh.
"Kalo pun muka gue jerawatan se-muka-muka, emang lo beneran mau tetep liat gue? Nanti lo malah ilfeel terus balik ke Kak Rendy yang mukanya mulus kayak porselen itu lagi," pancing Alano.
Ayra menghentikan kunyahannya. Ia menatap Alano dengan serius, sendoknya masih menggantung di udara. "Kak Rendy itu cuma rekan kerja di OSIS, Lan. Mau dia mulus, mau dia pake emas di mukanya, aku nggak peduli. Dan kalau kamu jerawatan... ya aku tinggal obatin pake salep yang waktu itu. Intinya, biar kamu jelek di mata orang lain, tapi tetep jadi Alano yang aku kenal."
Alano terdiam. Jantungnya berdesir hebat. Jawaban Ayra yang lugas dan jujur itu jauh lebih mematikan daripada gombalan maut mana pun yang pernah ia dengar.
"Lo bener-bener ya... kaku-kaku tapi pinter banget bikin gue baper," gumam Alano sambil kembali menyantap buburnya dengan semangat, seolah kacang-kacang itu adalah makanan paling enak di dunia.
Baru saja mereka menikmati ketenangan, tiba-tiba sebuah mobil SUV putih yang sangat mereka kenali berhenti di pinggir jalan dekat warung. Kaca mobil turun, dan Siska menjulurkan kepalanya keluar dengan wajah cemberut.
"LANOOO!! Tega banget sih ninggalin aku!" teriak Siska dari dalam mobil. Ternyata dia benar-benar membuntuti mereka dengan bantuan sopir Om Ryan.
Ayra langsung meletakkan sendoknya dengan bunyi denting yang cukup keras di mangkuk porselen. Nafsu makannya mendadak drop ke titik nol.
Siska turun dari mobil dan menghampiri meja mereka. Ia melihat ke arah mangkuk Alano yang penuh kacang. "Ih, Lano! Kamu kan nggak suka kacang banyak-banyak, katanya bikin jerawatan? Kok itu dimakan?"
Alano berdehem, ia melirik Ayra yang sudah memasang wajah "mode tempur". "Ini... ini spesial, Sis. Pemberian orang spesial, jadi rasanya lebih enak dari biasanya."
Siska mendengus, lalu ia menarik kursi di samping Alano tanpa izin. "Aku mau ikut sarapan! Pak, bubur satu nggak pake seledri!"
Ayra tidak mau kalah. Ia tahu Siska sedang mencoba mencari perhatian. Ayra mengambil kerupuk dari piring kecil dan menyuapkannya langsung ke arah mulut Alano.
"Lan, makan nih kerupuknya. Biar nggak denger suara berisik di samping kamu," ucap Ayra dengan suara yang sangat lembut, namun matanya menatap tajam ke arah Siska.
Alano hampir tersedak, tapi ia menerima suapan kerupuk itu dengan senang hati. "Makasih, Ayang. Enak banget kerupuknya."
Siska yang melihat interaksi itu langsung merasa terasingkan. "Lano, besok kita ke mall ya? Aku mau beli sepatu baru, kamu harus temenin!"
"Besok gue ada latihan basket tambahan sama Bima, Sis. Terus sorenya mau nemenin Ayra beli buku," jawab Alano cepat, tanpa ragu sedikit pun.
"Buku apa sih? Kan bisa beli online! Temenin aku aja, plis..." Siska mencoba merengek, tangannya hendak menyentuh lengan Alano.
Namun, sebelum tangan Siska sampai, Ayra sudah lebih dulu memindahkan botol sambal ke antara Alano dan Siska. "Hati-hati, Kak Siska. Sambalnya pedas banget, jangan sampe kena tangan terus kena mata, nanti perih. Kayak hati orang yang suka ganggu urusan orang lain."
Siska tertegun. Ia menatap Ayra dengan kesal, tapi ia sadar bahwa ia tidak punya kekuatan untuk melawan lidah tajam sang Sekretaris OSIS.
Setelah menyelesaikan sarapan yang penuh drama itu, Alano segera membayar semuanya dan mengajak Ayra pergi sebelum Siska sempat merengek lebih jauh. Di atas motor, Ayra merasa jauh lebih puas daripada saat ia menghabiskan buburnya tadi.
"Hebat juga lo ya, pake taktik sambal," goda Alano saat mereka sudah jauh dari warung.
"Aku cuma ngingetin, Lan. Kebersihan dan keamanan itu penting," jawab Ayra sambil memeluk pinggang Alano dengan erat. "Lagian, kacangnya udah abis kan? Besok kalo beneran jerawatan, jangan nangis ke aku ya."
Alano tertawa lepas, suaranya terbawa angin pagi yang sejuk. "Nggak akan, Ay. Jerawat dari lo mah gue anggap tanda cinta. Makasih ya, udah mau 'jagain' gue hari ini."
Ayra menyandarkan kepalanya di punggung Alano. Ia tahu rintangan seperti Siska akan selalu ada, tapi pagi ini ia membuktikan bahwa ia bukan lagi Ayra yang hanya diam saat miliknya diganggu. Dengan taktik kacang dan sambal, ia sudah menegaskan wilayah kekuasaannya.