Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 ~ Jika Bisa, Aku Saja Yang Pergi
Langit mendung, rintik hujan yang mulai membasahi bumi. Seorang wanita berdiri di depan jendela kamarnya, menatap keluar jendela dengan air mata yang mengalir. Baru saja dia menelepon Ayahnya jika dia gagal mendapatkan apa yang Ayahnya inginkan. Marvin tidak memberikan itu.
"Dasar anak sialan! Tidak pernah berguna bagi siapapun! Sebaiknya, mati saja kau!"
Kalimat yang berhasil membuatnya runtuh, rasa sakit satu belum sembuh, dan sekarang harus kembali dengan luka baru yang lebih menyakitkan.
"Ya, sejak awal aku memang tidak pernah berguna bagi siapapun"
Hanya memandangi rintik hujan di luar jendela dengan tatapan yang kosong. Hujan yang terus berjatuhan, membasahi bumi. Langit sedang menunjukan rasa sedihnya, seperti yang di alami oleh Raina saat ini.
Pintu kamar terbuka, sebuah figura foto terlempar tepat mengenai keningnya hingga berdarah. Raina tertegun dengan foto pernikahan yang hancur berantakan di atas lantai saat ini. Mendongak dan menatap Marvin yang terlihat marah.
"Siapa yang menyuruhmu memajang foto sialan ini di ruang tamu, Hah!"
Raina beringsut ketakutan, tangannya bergetar melihat tatapan Marvin yang begitu tajam. Bahkan darah yang mengalir dari keningnya, tidak sama sekali dia hiraukan.
"Kau tahu, foto ini hanya membuatku teringat jika pernikahan ini seharusnya bersama dengan Amira. Namun kau ... menghancurkan semuanya. Membunuh Amira! Kenapa bukan kau saja yang mati!"
Raina terisak, tubuhnya luruh ke atas lantai. Menangis sejadi-jadinya. Mendongak dan menatap Marvin yang berdiri di depannya.
"Hiks... Jika bisa di tukar, biarkan aku saja yang menggantikan Kak Amira. Aku juga tidak pernah mau Kak Amira meninggalkan aku"
Marvin ikut berjongkok di depannya, dia memegang bahu Raina dan mengguncangnya dengan kasar. Air mata tanpa sadar ikut luruh. "Kau tahu betapa banyak rencana diantara aku dan Amira. Semuanya sudah kita susun sedemikian rupa untuk kebahagiaan kita, kebersamaan kita setelah menikah. Dan kau menghancurkan semuanya"
"Hiks.. Maaf Kak, tapi ini juga bukan keinginan aku. Jika boleh meminta, aku akan memilih untuk aku saja yang pergi, bukan Kak Amira"
Marvin menunduk dan bahunya cukup bergetar karena tangisan. Ditinggalkan perempuan yang sangat dia cintai, membuat Marvin benar-benar hancur. Amira adalah satu-satunya perempuan yang dapat membuatnya jatuh cinta.
Raina ikut menangis, dia memegang bahu Marvin. Mengelus punggungnya yang bergetar. Melihatnya begitu terluka seperti saat ini, tentu saja membuat Raina semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku Kak... hiks.. maaf"
Marvin mendorong tubuh Raina yang memeluknya. Membuat tangan Raina terkena dengan pecahan figura foto tadi. Marvin berdiri dan menginjak foto pernikahan mereka dengan kejam, sengaja ingin menghancurkannya.
"Kata maafmu tidak akan pernah bisa mengembalikan Amira! Bahkan jika di bayar dengan nyawamu sekalipun!"
Raina tidak menjawab apapun, dia hanya menatap kepergian suaminya dengan air mata yang mengalir. Mengambil selembar foto yang sudah terlepas dari figuranya, bagian wajahnya sudah rusak karena injakan kaki Marvin. Raina mengusapnya dengan pelan, air mata mengalir jatuh mengenai foto itu.
"Ya, seharusnya yang ada di foto ini adalah Kak Amira"
Semua orang menyalahkannya, merasa jika dirinya paling tersakiti atas kepergian Amira. Tanpa mereka tahu, jika Raina lebih terluka. Karena satu-satunya orang tempat dia bersandar, pergi meninggalkannya untuk selamanya. Seolah semua hal dalam hidup Raina runtuh dalam seketika.
Namun, yang terlihat oleh orang-orang adalah Raina yang salah, Raina yang berdosa. Tanpa tahu seberapa hancur perasaannya.
*
Sebuah acara yang harus dihadiri oleh Marvin minggu ini, Raina sudah bersiap untuk pergi karena Marvin sendiri yang mengajaknya untuk pergi.
"Aku membawamu karena Papa dan Mama juga ada disana"
Raina tidak menjawab, dia hanya mengangguk saja. Ketika sampai di rumah mewah, Raina melihat ada banyak orang yang datang. Semua teman Marvin yang waktu itu pernah dia temui, juga ada disana.
"Rain, sini sama Mama Nak"
Mama Sonia datang menghampirinya, membawa Raina untuk pergi ke kumpulan para perempuan disana. Raina merasa canggung karena dia tidak pernah datang ke acara orang-orang kalangan atas seperti ini.
"Wah ini menantumu ya, cantik sekali Bu Sonia"
"Ya, kenalkan ini menantuku, Raina"
Raina menoleh dan menatap Mama Sonia yang dengan bangga memperkenalkannya pada semua orang. Seperti memang dia bangga jika menantunya adalah Raina,
"Ayo duduk Nak, biarkan suamimu bersama dengan para pria lainnya. Mereka hanya membahas bisnis"
Raina mengangguk pelan, dia ikut duduk bersama yang lainnya. Memperlihatkan interaksi dari semua orang dan gaya mereka yang terlihat sangat berkelas dan berwibawa.
"Raina, kenapa dengan tanganmu?"
Raina yang baru saja akan mengambil minum di atas meja, membuat dia langsung terhenti. "Em, tidak sengaja terkena pecahan gelas"
"Ya ampun hati-hati dong Nak"
"Iya Ma, tidak papa kok"
Raina membenarkan poni rambutnya, menutupi luka di keningnya juga. Karena dia tidak ingin membuat semua orang bertanya-tanya tentang kehidupan pernikahannya.
"Em, permisi dulu ya semuanya. Raina mau ke toilet dulu"
Raina pergi ke bagian belakang rumah ini, duduk sendirian di sebuah bangku disana. Berada dalam keramaian memang bukan kebiasaan baginya, karena Raina tidak terlalu suka untuk berada dalam keramaian.
"Loh, Raina ya? Ya ampun, sampe takut salah orang tadi"
Raina menoleh, cukup tertegun juga melihat pria yang berdiri di sampingnya. "Kak Haris, kenapa Kakak bisa berada disini?"
"Aku datang bersama orang tuaku kesini, tidak menyangka juga bisa bertemu denganmu"
Raina tersenyum, Haris adalah seorang Dokter muda di salah satu rumah sakit terkenal. Keluarganya juga tergolong dari keluarga pebisnis yang terkenal.
"Boleh aku duduk disini"
"Silahkan Kak"
Sejenak mereka hanya diam saja, sudah lama sejak pertemuan terakhir mereka di rumah sakit. Haris mungkin tidak tahu tentang kabar kecelakaan yang menimpa Raina dan Amira.
"Raina, bagaimana dengan kondisi matamu?"
Raina menoleh dan tersenyum, seolah tidak ada beban. Padahal yang akan dia ceritakan mungkin sebuah hal yang sangat menyedihkan.
"Kak Haris tahu kecelakaan yang menimpa aku dan Kakakku?"
"Ya, aku juga tidak menyangka jika Amira akan begitu cepat meninggalkan kita semua"
"Ternyata Kak Haris sudah tahu ya, aku pikir Kak Haris tidak tahu tentang berita itu. Dan karena kecelakaan itu aku harus menggantikan Kak Amira, sekarang aku sudah menikah dengan Kak Marvin, yang seharusnya menjadi suaminya Kak Amira. Dan ya ... sejak kecelakaan itu, sebelah mataku benar-benar gelap Kak"
Haris cukup tertegun mendengarnya, dulu dia yang menangani kondisi Raina. "Rain, seharusnya kamu segera periksakan diri. Jika saraf matamu sudah benar-benar mati, maka meski melakukan donor, akan tetap seperti itu"
Raina tersenyum tipis, tatapannya lurus dengan kosong. Seolah tidak ada lagi harapan dalam dirinya saat ini. "Bahkan jika semuanya harus berubah gelap, aku ikhlas Kak. Karena sejak awal hidupku sudah tidak berarti apa-apa"
"Raina!"
Suara bariton itu membuatnya terkejut dan membeku di tempat seketika.
Bersambung
👍
pergi dari rumah Marvin,,