NovelToon NovelToon
Trapped in You

Trapped in You

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:50.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jamilah Prita

Lila tak pernah benar-benar mencintai Ryan, ia hanya mendekati Ryan karena alasan membalas dendam terhadap mantan kekasih yang sudah berkhianat padanya. Semua itu berubah ketika Ryan justru mulai menunjukkan ketertarikannya pada Lila.

Ryan hanyalah cowok dingin tampan yang selalu menjadi topik hangat di kampus, tapi tak ada satu gadis pun yang berhasil menarik perhatiannya kecuali Lila.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jamilah Prita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Tujuh tahun kemudian…

“Malam semakin larut, canda dan tawa juga semakin hangat, apakah kalian dalam pelukan kehangatan itu? Ataukah masih berjuang untuk mencari pelukan hangat disertai canda dan tawa itu? Apapun itu, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Semoga apapun yang sedang kalian kerjakan atau sudah di kerjakan untuk malam ini, semuanya berjalan lancar…”

“…Tak peduli seberapa banyak masalah yang sedang kalian hadapi, semua pasti akan kembali seperti semula lagi. Tak ada kesedihan yang bertahan lama, kenapa tak ubah kesedihan itu menjadi sesuatu yang membahagiakan?”

Suara baritone pria yang mengalun di ponselnya menemani gadis itu menyelesaikan pekerjaan yang tak sempat ia kerjakan sedari siang. Ini adalah hari dimana ia selalu melakukan lembur. Jika karyawan lain bisa lembur sesuai jumlah banyaknya pekerjaan mereka, maka gadis ini akan lembur hanya tiga kali dalam satu minggu.

Alasannya?

Karena acara radio yang sedang di bawakan oleh pria yang saat ini sedang berceloteh. ‘Melodi Memori’ adalah nama acara yang di bawakan oleh DJ Prad. Acara itu hanya berisi tentang membacakan surat-surat serta puisi yang di kirimkan oleh pendengar ke Spoon Radio. Surat itu bisa berisi tentang apapun, tentang kecemasan pendengar, kerinduan pada sosok yang mungkin jauh dari mereka, apapun itu akan di bacakan.

Hanya sebuah acara yang sangat sederhana, tapi gadis itu sangat menyukainya. Mungkin ia menyukai suara khas DJ tersebut yang entah kenapa selalu membuatnya tenang. Alasan tak masuk akal yang selalu di ciptakan gadis itu ketika rekan-rekan kerja selalu bertanya tentang kesukaannya terhadap acara radio tersebut.

“Lembur, La?”

Gadis itu mendongak, dan mendapati Anggara—senior serta pemilik firma arsitek tempatnya bekerja—sedang memperhatikan gadis itu yang masih berkutat dengan laptop serta beberapa kertas yang berserakan di mejanya.

“Eh, iya, Mas. Mas lembur juga?”

Gadis itu—Lila—tersenyum sopan pada pria yang lebih tua tujuh tahun darinya itu. Dari sekian banyak firma arsitek tempat gadis itu melamar kerja, Anggara Archieteam adalah salah satu Firma yang menerima lamaran gadis itu. Saat ini Anggara Archieteam sudah menjadi langganan banyak klien yang ingin membangun bangunannya sendiri.

“Iya, ada kerjaan yang belum sempet selesai tadi. Kamu belum mau pulang?”

“Sebentar lagi, Mas.”

“Nunggu acara radio itu selesai?”

Seisi kantor itu sudah tahu tentang kecintaan Lila dan acara ‘Melodi Memori’ itu, jadi mereka sudah tak heran lagi ketika gadis itu lembur dengan suara radio yang menemaninya.

Lila hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan sang senior. Lila juga tak mengerti kenapa dirinya bisa sangat tergila-gila pada acara radio itu, mungkin karena suara sang DJ yang terkesan lembut tapi selalu mudah masuk ke memori seseorang? Entahlah, Lila hanya menyukai acara itu tanpa alasan yang pasti.

“Tapi jangan sampe kemaleman, abis kerjaan kamu selesai langsung pulang,” ucap Anggara tegas. Tujuh tahun merintis sendiri firma arsitek miliknya bukan hal yang mudah, apalagi bisa bertahan selama waktu yang cukup panjang itu. Itulah kenapa ia selalu memperlakukan karyawannya dengan baik, bahkan tak segan untuk berbaur bersama mereka.

Anggara sangat tahu, tanpa kerja keras karyawannya, firma arsitek ini takkan mampu berdiri untuk waktu yang lama. “Siap, Mas. Mas Anggara juga hati-hati pulangnya.”

Anggara segera berlalu dari meja kerja Lila dan segera pulang, sekarang hanya tersisa Lila dan juga acara radio yang sebenarnya sudah selesai sejak tadi ketika Anggara menghampirinya. Lila segera membereskan meja kerjanya yang cukup berantakan, besok hari sabtu dan pekerjaannya sampai senin nanti sudah selesai. Ia berharap agar Anggara atau seniornya yang lain tak menelponnya dengan tiba-tiba di hari liburnya.

Setidaknya ia butuh waktu sendiri setelah selama lima hari berhadapan dengan klien dan juga membuat sketsa. Sejauh ini hal seperti itu belum terjadi dalam pekerjaannya, pernah beberapa kali, tapi ia harap kali ini tak terjadi. Ia benar-benar butuh istirahat.

**

Satu tahun yang lalu, Lila kembali dari Singapor, negara pelariannya. Setelah lulus kuliah ia bekerja di beberapa firma arsitek di Singapor, lalu setelah cukup lama tinggal di negara asing, Lila mendapatkan kesempatan lagi kembali ke Jakarta setelah di terima bekerja di Anggara Archieteam satu tahun yang lalu juga.

Enam tahun bersembunyi adalah waktu yang cukup lama, dan ia selalu memiliki alasan untuk kembali ke Jakarta. Begitupun dengan sang Ibu, mereka akhirnya kembali setelah enam tahun berlalu. Beruntungnya Lila ketika ia kembali ke Jakarta, bahkan setelah satu tahun berlalu, ia belum bertemu Ryan ataupun orang-orang dari masa lalunya. Hanya Icha yang rutin ia temui, sahabatnya itu bekerja di salah satu perusahaan konsultan.

Mungkin takdir belum menyatukan mereka kembali, ataupun memang takdir sudah tak ingin menyatukan mereka lagi. Lila sama sekali tak tahu tentang kabar Ryan, walaupun ia sangat ingin mengetahuinya. Ia rindu. Bohong jika ia tak merindukan pria itu, walaupun ia tahu seharusnya perasaan itu tak boleh ia miliki.

Lila tinggal di salah satu apartemen yang letaknya tak jauh dari kantor, besok pagi ia akan pulang ke rumah Ibunya dan menghabiskan akhir pecan di sana. Hal yang rutin Lila lakukan sejak satu tahun lalu. Ibunya sangat melarang keras Lila yang ingin pulang pergi ke kantor dan rumah Ibunya. Jaraknya hampir satu jam jika mengendarai mobil, belum terhitung dengan macet yang selalu terjadi.

Sebenarnya itu wajar, tapi Ibunya tak mengizinkan. Ia lebih memilih anaknya untuk fokus pada pekerjaan dan juga kehidupan pribadinya.

“Ini Jum’at malem, La, dan kamu duduk di sini bareng aku. Jomblo banget, sih, kita,” gerutu Icha. Ia lagi-lagi berakhir dengan menemani Lila makan malam di warung pinggir jalan di seberang apartemen Lila.

“Emangnya kalo gak sama aku, kamu mau keluar sama siapa?” tanya Lila geli.

“Aku punya banyak gebetan buat di ajak jalan, gak kayak kamu yang seneng banget sendirian.”

Lila tertawa, ia tahu Icha memiliki banyak teman pria. Bahkan Icha sering menjodohkan Lila dengan salah satu temannya yang tentu saja Lila tolak mentah-mentah. “Kamu itu udah mau dua delapan, La, masa iya kamu gak mau mulai cari pacar. Keburu tua, tahu gak?”

Lila hanya mengangkat bahu lalu melanjutkan menyantap ayam goreng di hadapannya. Ini bukan ceramah pertama Icha tentang masa depannya terhadap pria, dan bukan juga yang terakhir tentu saja. Icha sangat suka perannya yang selalu menasehati Lila, dan Lila tak pernah peduli dengan semua itu. Sejak kuliah mereka selalu seperti itu, kan?

“Aku lebih suka kayak gini, Cha, kamu udah tahu jawabannya tapi gak bosen-bosen banget ngomong hal yang sama. Kamu mau atur kencan buta lagi buat aku?”

“Tadinya gitu, tapi kasihan temen-temenku yang gak sanggup ngadepin kamu.” Icha menghela nafasnya. Lila selalu keras kepala sejak dulu dan sekarang belum juga berubah, padahal niat Icha sangat baik.

Icha sudah mengetahui kisah tentang keluarga Lila, serta alasan Lila yang lebih memilih sendiri selama tujuh tahun ini. Icha tak pernah memaksa Lila untuk menceritakan kisahnya, sahabatnya itu tiba-tiba menceritakan semuanya tanpa detail yang tak tertinggal. Dari sana, Icha bisa paham kenapa Lila lebih memilih lari dari masalahnya. Walaupun Icha sangat yakin kejadian di Universitas dulu takkan pernah terulang lagi di saat ini, tetap saja masih ada kesedihan dalam diri Lila.

“Kamu gak bisa kayak gini terus-terusan kali, La, Ibu kamu juga pasti berharap kamu bisa bawa cowok yang bisa di kenalin.”

Percayalah, Lila juga memikirkan hal yang sama seperti Icha. Ia takut Ibunya akan berpikir kalau anaknya trauma dengan pria karena kejadian masa lalu orang tuanya, walaupun memang itu yang sebenarnya terjadi. Lila sedang berusaha menghilangkan ketakutannya pada pria, tapi sampai saat ini belum berhasil. Sekeras apapun ia mencoba, bayangan tentang sakitnya pengkhianatan dan juga patah hati selalu menakutinya.

Resiko dari jatuh cinta memang patah hati, dan itu hal yang lumrah. Tapi, Lila ingin sekali saja ia melewati fase patah hati itu. Ia sudah mengalaminya sekali dan rasanya lebih dari yang ia bayangkan, jika ia harus merasakannya lagi, entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Tujuh tahun ini sudah baik-baik saja, apa harus ia merusak semua itu untuk Ibunya dan orang-orang terdekat yang sangat ingin melihat Lila menikah dan bahagia?

Tapi, apakah bahagia hanya di ukur dari pernikahan? Lila juga sudah bahagia tanpa pernikahan, jika bisa, Lila ingin melewatinya saja. Ia sudah bahagia dengan dirinya sendiri dan juga Ibu yang selalu menjadi penyemangatnya.

“Aku mencoba, Cha, beri aku waktu.

**

Lila membaringkan tubuh lelahnya di kasur apartemennya, sudah pukul sepuluh malam setelah Lila dan Icha menyelesaikan makan malam mereka. Itulah rutinitas yang Lila jalani selama satu tahun ini. Tak pernah ada yang spesial ataupun berubah dari kebiasaannya, hidupnya terkesan monoton dan juga sepi.

Memang apa yang ia harapkan lagi? Seorang pacar yang akan selalu ada di sisinya, menghiburnya, mengatakan kalau semuanya baik-baik saja, dan lainnya? Lila sudah kehilangan gairahnya akan semau itu. Bukan berarti ia menjadi penyuka sesama jenis, itu sangat menjijikkan. Tak masalah jika orang lain, Lila akan menghormatinya, tapi itu bukan dia.

Inilah kenapa ia butuh mengerjakan banyak hal. Jika sudah berada di apartemennya seorang diri, Lila cenderung memikirkan banyak hal yang membuat otak dan pikiran seketika pusing. Sebenarnya Lila tak se-apatis itu dengan pria, mungkin karena pria itu bukan Ryan. Setelah tujuh tahun berlalu pun Lila masih memikirkan pria itu.

Tujuh tahun berlalu, apa yang di harapkan? Bisa saja Ryan sudah menikah dan memiliki keluarga kecilnya. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, dan lagi, tujuh tahun bukan waktu yang singkat.

Padahal Lila sudah mencegah diri sendiri untuk berhenti memikirkan Ryan. Pria itu bukan untuknya, kalaupun mereka bertemu lagi, Lila tak bisa berkeinginan memiliki pria itu. Itu seperti keinginan yang sangat mewah untuknya. Lila bisa memiliki pria lain, asal itu bukan Ryan.

Lila berjalan menuju balkon kamarnya. Ia berada di lantai lima belas, cukup tinggi untuk melihat pemandangan lampu warna warni di Jakarta. Anggap saja itu merupakan pemandangan langka kota metropolitan ini. Setiap malam Lila merasakan rindu itu yang semakin menggebu-gebu, tapi tak bisa melepaskan semua itu.

Ia selalu meneriakkan nama Ryan dalam hati sekuat tenaga sebagai ganti dari semua rasa rindu yang ia tahan selama ini. Rasanya seperti akan meledak jika menahan semua perasaan itu seorang diri. Sifatnya sudah sedikit berubah, bahkan Lila sudah sedikit terbuka pada Icha, tapi tetap saja ia belum bisa jika harus merubah semuanya.

**

“Kerja bagus semua hari ini!”

Seorang pria masuk ke dalam ruangan yang sudah di penuhi oleh timnya. Sebenarnya total hanya ada lima orang di dalam ruangan itu termasuk pria yang baru saja masuk tadi. Mereka semua bertepuk tangan dengan hasil yang sudah mereka dapat hari ini. Ini adalah pencapaian terbesar mereka setelah selama tiga bulan menjalankan program ‘Melodi Memori’. Mereka adalah orang-orang di balik program yang  sudah banyak pendengarnya itu.

“Jadi ada kabar baik, Mas?” tanya seorang wanita yang berpenampilan tomboy itu. Namanya Jessica tapi ia lebih suka di panggil dengan J.

“Lebih dari kabar baik. Kita gak perlu bikin proposal buat nyari sponsor lagi, karena sponsor dengan sendiri datengin kita,” ucap pria itu. Ia menunjukkan tiga map di tangannya.

Semua yang ada di ruangan itu kembali bersorak lagi dengan pencapaian yang mereka dapatkan. Di jaman yang serba digital ini, kebanyakan orang sudah jarang mendengarkan radio. Sudah banyak aplikasi yang menyediakan musik, berbayar maupun gratis. Semua serba mudah saat ini, dan radio perlahan mulai di tinggalkan, hanya segelintir orang saja yang menjadi peminatnya.

“Sebenarnya ini berkat Ryan juga, semua ide acara ini berasal dari Ryan,” ucap pria itu lagi. Ia menunjuk pria yang hanya diam sejak tadi di kursi yang di dudukinya.

“Padahal tetep aku juga yang nulis naskahnya, tapi gak pernah di sebut, cukuup tahu aja, sih.” Jessica memajukan bibirnya, ia adalah satu-satunya wanita dalam tim mereka. Karena gayanya yang tomboy, ia bisa dengan mudah berbaur dengan keempat pria lainnya.

“Kurang susuk kali, J, atau gak kamu pelet aja Mas Bima. Dia gampang banget nempelnya kalo masalah pelet gitu,” ucap Dio. Pria dengan rambut pendek yang berdiri di samping kursi yang di duduki oleh Ryan.

“Mas Bima gampangan, kok, J. Mau aku anterin ketemu dukunnya?” Ryan mengamini ucapan Dio.

Sejak tim mereka di bentuk dua tahun lalu, sejak saat itu mereka menjadi sangat dekat. Mereka benar-benar berusaha dari bawah untuk sampai pada kesuksesan mereka saat ini. Bima adalah produser yang sangat bertanggung jawab terhadap empat anak buahnya, usianya sudah tiga puluh lima tapi masih setia dengan kesendiriannya.

“Baek-baek kalian, aku bisa motong bonus kalian kalo kayak gini,” ucap Bima dengan tegas. Setegas apapun Bima ketika berbicara, mereka semua tahu kalau itu hanya gertakan belaka. Dua tahun sudah membuat mereka saling mengenal satu sama lain.

Tak ada yang menanggapi ucapan Bima, mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan tak minat. “Jadi, kita mau makan malam dimana buat ngerayain ini?” tanya Bima.

“Wah, kita bahkan bisa milih mau makan malam di mana, padahal paling jauh juga kita ke warung pecel lele di seberang kalo gak nasi goreng di mamang-mamang sebelah pecel lele.” Baskara sangat takjub dengan pemikirannya sendiri.

Mereka sering mengadakan makan malam bersama untuk merayakan proyek mereka, tapi memang lebih sering mereka memilih warung pecel lele di seberang gedung perkantoran mereka. Bukan karena pelit, mereka hanya

mencoba untuk menekan pengeluaran yang tak terlalu penting.

Saat ini, berkat program ‘Melodi Memori’ yang di ajukan Ryan, mereka mampu meraih kesuksesan cukup besar. Program itu sempat di tolak oleh Bima, tapi Ryan bersikeras dengan ide yang ia miliki itu, dan ternyata sekarang sudah terbukti dengan hasil yang mereka dapat.

“Aku absen, ada acara lain soalnya.” Ryan mengacungkan tangannya dan berbicara dengan tenang. Sama seperti tujuh tahun lalu.

“Kencan lagi pasti, diem-diem gini ternyata ceweknya banyak ni anak,” celetuk Baskara yang setia di hadapan laptopnya.

Ryan memberi tatapan kesalnya pada Baskara. Baskara adalah yang terdekat dengan Ryan yang kadang sifatnya sangat menyebalkan hingga membuat Ryan ingin menyerah pada temannya itu. Selain ceplas ceplos, Baskara juga tak terlalu peduli dengan siapa ia berbicara hingga kadang beberapa orang yang tak mengenal Baskara dengan baik akan sakit hati.

“Hari ini resepsionis gedung depan kita, cantik banget katanya setara Dian Sastro.” Ryan menaik turunkan alisnya pada Baskara, bermaksud untuk menggoda pria itu yang masih setia menjomblo, atau lebih tepatnya ia masih dalam suasana galau karena baru saja di putuskan oleh kekasihnya.

Bima, Jessica, dan juga Dio hanya mampu melihat kedua pria yang sedang saling meledek itu dengan pandangan datar. Pasalnya, ini adalah pemandangan yang sangat biasa dan mereka sudah sangat bosan dengan kelakuan dua pria ini.

“Oke, jadi kita berempat. Satu jam lagi kita berangkat, ya?” ucap Bima kembali menegaskan.

Jessica dan Dio bertepuk tangan kegirangan, diantara ketiga orang di studio itu, hanya Dio dan Jessica yang paling berisik dan juga cerewet. Sepertinya ada keuntungan mereka di satukan dalam satu studio untuk memproduksi acara radio, mereka memiliki sifat yang hampir sama, blak-blakan dalam menyampaikan pendapat yang kadang membuat Bima pusing sendiri menghadapi timnya.

Tapi terkadang hal itu juga yang membuat semangat tim mereka semakin tinggi. Mereka sudah sangat solid sebagai satu tim. Sudah banyak pertengkaran yang mereka hadapi dalam menciptakan suatu program, tapi setelah

pertengkaran yang ada, mereka tetap akan kembali sebagai satu tim dan saling mendukung pendapat satu sama lain.

**

Ryan tersenyum pada seorang gadis yang sudah duduk di lobi kantor tempat Ryan bekerja. Ia sudah janji akan makan malam dengan gadis ini sejak beberapa hari yang lalu. Sudah sering Ryan menolak ajakan gadis itu, tapi gadis itu sangat keras kepala hingga Ryan mau tak mau akhirnya menyetujui ajakan itu.

Namanya Vania, dan Ryan tak bohong soal resepsionis. Gadis itu memang seorang resepsionis, tapi bukan di kantor yang berada di depan gedung radio ini. Vania merupakan resepsionis di kantor Ramona, dan Ramona memang menjadi mak comblang mereka.”

“Udah lama?” tanya Ryan ketika ia sudah berada  di hadapan gadis itu.

“Belum terlalu lama, kalaupun lama aku gak papa nungguin.” Vania tersenyum dengan polosnya di hadapan Ryan.

Vania gadis yang sangat ceria dan juga sangat polos, usianya baru dua puluh lima dan sudah menjadi sekretaris kepercayaan Ramona. Vania adalah junior Ramona ketika kuliah dulu, dan mereka juga cukup dekat dulu. Itulah

kenapa Vania bisa berakhir sebagai sekretaris Ramona dan juga di jodohkan dengan Ryan.

“Kita jalan sekarang?”

Vania hanya mengangguk dan segera menggandeng lengan Ryan dengan mesra. Mereka sudah dekat sejak tiga bulan yang lalu, berkat pemaksaan Ramona tentunya. Ryan selalu menuruti keinginan Ramona, itulah sebabnya ia sangat mudah luluh pada sepupunya itu.

Sebenarnya Ryan selalu merasa bersalah ketika bersama Vania. Selama tiga bulan tersebut, Ryan tak merasakan apapun terhadap gadis ini. Vania sangat cantik dengan wajah orientalnya, rambut ikalnya jatuh dengan sempurna di sepanjang bahunya, yang paling memikat adalah mata sipitnya yang selalu melotot dengan alami ketika penasaran dengan suatu hal, atau ketika ia sangat tertarik dengan sesuatu.

Ryan bohong jika tak menyukainya, tapi hanya sebatas itu. Hatinya tak pernah bergetar ketika berada di dekat Vania. Ryan lebih merasa sedang berjalan dengan adiknya ketika mereka berdua saja. Ia tak tahu bagaimana pendapat Vania tentangnya, tapi dari bahasa tubuh bisa menjelaskan banyak hal.

Belum ada ungkapan cinta di antara keduanya. Bagaimana mengungkapkannya jika Ryan saja tak memilikinya? Padahal Ramona sudah berkali-kali memaksanya untuk segera mengungkapkan perasaan pada Vania, karena

Vania sangat menunggu hal itu.

Perjanjiannya dengan Ramona hanay sampai enam bulan, jika dalam enam bulan itu Ryan tak memiliki perasaan apapun maka ia akan meninggalkan Ramona. Tapi ia tahu kalau Ramona menjanjikan hal lain pada Vania, karena gadis itu berusaha sangat keras membuat Ryan tertarik padanya. Ia akui Ramona sangat handal dalam berbisnis, bahkan bisnis cinta sekalipun.

Permasalahannya hanya, Ryan tak tahu kapan ia bisa mencintai Vania seperti yang Ramona harapkan? Ia juga lebih memilih untuk tak jatuh cinta pada Vania jika perlu, lubuk hati terdalamnya masih menunggu seseorang yang tak ia tahu keberadaan atau keadaannya. Hatinya lebih terikat pada perjanjian yang ia buat dengan paksa tujuh tahun lalu bersama gadis itu.

**

haiii maaf ya aku agak lama updatenya, kerjaanku lumayan banyak minggu ini jadi musti nyuri-nyuri waktu buat nulis. Semoga kalian masih berkenan buat baca ya^^

1
Putri Adinda Sri Maharani
sabar
⚜️ Jade Nevya 💠
Lanjutkénn
☠ᵏᵋᶜᶟ印尼🇮🇩小姐ᗯ𝐢DYᗩ 𝐙⃝🦜
next. a
nēēsaa
Ahirnya up juga Otor Zheyeng😘😘😘
nēēsaa: Gpp, msh untung gak puluhan atw ratusan🤭😂
total 2 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ印尼🇮🇩小姐ᗯ𝐢DYᗩ 𝐙⃝🦜
OMG!!! kepencet lagi. intinya semangat terus,rajin up 🤭🤭🤭🤭🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ印尼🇮🇩小姐ᗯ𝐢DYᗩ 𝐙⃝🦜
belum selesai nulis dah kepencet ska
☠ᵏᵋᶜᶟ印尼🇮🇩小姐ᗯ𝐢DYᗩ 𝐙⃝🦜
jangan lama-lama up nya,ini
Amy Zala
lanjut
Fa Ra
ceritanya bagus lho,thor..kpn up lagi ya?..im waiting..
Elien Prita: wah makasih udah baca, ditunggu aja ya
total 1 replies
Ummu Riza
Thor bikin Kikan kena karma donk
Ummu Riza
lanjut Thor💞💞💞
Ummu Riza
semangat thor,,,
Ummu Riza
semangat thor, buat qm tergila-gila sm novel ini seperti yg novelmu yg lain
nēēsaa
Hahahaha..Sdh di ralat duluan..
Satu lagi, di chapter sblmnya tuh..
Yg bicara dg Haryo di ruang makan itu Kikan, bukan Lila..😉👌
Elien Prita: makasih kak, aku gak ngeh malah 😂
total 1 replies
Erlina vi
Lara, istri sah rasa simpanan 😐
Erlina vi: iya, 😑
total 2 replies
Fa Ra
ceritanya bagus,Thor..salut deh karena bisa berjalan tanpa ada seks vulgar sebagai pemikat..sukses dan tetap semangat.
Elien Prita: terima kasih
total 1 replies
Erlina vi
gk ada habisnya masalahnya 😑
Elien Prita: Novelku aja yg kek gini, punya orang lain gak seribet ini perasaan 😂
total 3 replies
Erlina vi
jdi,, Haryo mau menikahi Lara krn keluarganya kaya..biar dia hidup enak trus sukses.. tp krn dr awal ditolak makanya nekat bikin hamil, tp tetep aja gk diterima..malah di usir
trus pergi ninggalin Lara dan nikah (siri) sama ibunya Kikan
intinya Haryo ini mau manfaatin Lara tp gak bisa 😂😂

tp sayang Lara masih blom bisa nebak kemungkinan ini 😣

tolong Laura dan Bobby balas sampai hancur si Haryo 😁😁

maaf klo salah nebak 😊
Erlina vi: makasih kak 😅😅
total 2 replies
Leeta
Aku sih yess, pokoknya novelnya sangat menarik, puas aku pokonya baca ini😍😍, eh belum puas sih kan belum tamat 😁
Leeta: Iya emg berat udah kaya rindu
total 4 replies
Erlina vi
cepetan jujur lah,, gregetan 😆😆
Elien Prita: Wkwk itulah tujuannya 😂
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!