NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:22.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Yang Bandel Gak Munafik

Fahri memiringkan tubuhnya, motor ikut rebah, ban menggesek aspal tajam. Dalam sepersekian detik, ia menyusup di sela kolong gandeng, tepat di belakang roda truk yang melaju.

Suara besi dan aspal bergesekan memekakkan telinga.

Di belakangnya, motor-motor lain tak seberuntung itu. Ada yang membanting setir ke trotoar. Ada yang menghantam batang pohon di pinggir jalan.

Reza mengerem mendadak. "Astaga ..." gumamnya. Dadanya naik turun. Beberapa meter di depannya, sebuah motor berhenti sesaat, lalu tegak kembali.

Reza mengenali bodinya. Tapi motor itu sudah kembali melaju, menjauh.

"Fahri..." geramnya, tangannya mencengkeram stir hingga buku jarinya memutih. "Sepertinya aku benar-benar harus memberimu pelajaran."

***

Garis finis hanya ditandai lampu hazard dan teriakan liar muda mudi di sekitarnya.

Motor Fahri meluncur lebih dulu melewati garis finis. Rem ditarik keras membuat bannya mencicit, bergesekan dengan aspal. Mesin meraung sebelum akhirnya mati.

“GILA, RIIII!”

"KERENNN!"

"Gue bilang juga apa. Fahri pasti menang."

Gadis finis dipenuhi sorak sorai para penonton.

Beberapa motor berhenti menyusul, berhenti di samping Fahri. Teriakan kembali pecah. Tepukan mendarat di helm dan bahunya.

“Lo gila, sumpah!” teriak Bagus. “Masuk kolong truk, anjir! GUE KIRA LO MATI!”

Fahri melepas helmnya. Rambutnya basah oleh keringat, napasnya masih memburu, tapi wajahnya tak menunjukkan ketegangan meski baru saja menantang maut. Tidak pula tersenyum karena menang.

“Gue liat sendiri!” timpal Fikri, matanya membelalak. “Motor lo miring gitu, gesek aspal, terus ilang di bawah gandeng! GUE MERINDING! SUMPAH!”

Yang lain ikut ribut. Ada yang menirukan gerakan Fahri, ada yang tertawa sambil mengumpat ngeri.

“Lo bukan manusia, Ri.”

“Lo kebal maut.”

“Anak setan!”

Fahri cuma menyeringai tipis. Tidak bangga apalagi puas.

Seseorang menyodorkan gulungan uang.

“Nih.” Lembaran merah dirapikan kasar. “Sepuluh jeti. Bersih.”

Fahri menerimanya. Tangannya terasa berat. Biasanya jumlah segini bikin dadanya berdebar, bikin senyum lebar, bikin malam terasa miliknya. Tapi kali ini… kosong.

Suara tawa di sekelilingnya terdengar jauh, seperti dari balik air. Yang muncul malah bayangan yang tak diundang.

Bukan dirinya yang nyaris mati nabrak truk gandeng, tapi bayangan kakaknya di depan minimarket. Tangan melingkar di pinggang perempuan lain dengan santai, tanpa rasa bersalah. Laki-laki yang di rumah paling keras bicara soal tanggung jawab, tapi di luar?

Munafik.

Fahri menggenggam uang itu lebih keras. Bukan karena senang, tapi karena marah.

“Kenapa, Ri?” tanya Bagus. "Kok ekspresi lo gak kayak orang yang baru saja menang?"

Bagus menimpali. "Bener. Kenapa lo kayak gak senang?”

Fahri mendongak. “Menang apaan?” gumamnya.

“Hah?”

Bagus dan Fikri saling lirik.

Fahri tertawa pendek, kering. “Uang doang.”

Ia melipat uang itu, memasukkannya ke saku jaket tanpa menghitung lagi.

Dalam hatinya, satu kalimat bergema dingin. "Gue bandel, iya. Tapi gue gak pura-pura suci."

Ia menyalakan kembali motornya, menggebernya keras.

“Lo mau ke mana?” teriak Fikri.

“Pulang,” jawab Fahri singkat.

“Sekarang?”

Fahri mengenakan helmnya. “Iya.”

Mesin kembali digeber. Motor melesat pergi, meninggalkan sorak sorai dan lampu-lampu liar di belakang.

Gelap malam menelan punggungnya, angin malam menampar kulitnya.

Di balik helm full face-nya Fahri tersenyum pahit. "Sekarang gue sadar. Yang paling berbahaya bukan kecepatan, tapi rasa muak pada orang yang seharusnya jadi contoh."

Di area finis balapan, Bagus dan Fikri saling tatap.

"Lo ngerasa gak sih Fahri hari ini aneh?" tanya Fikri.

Bagus mengangguk. "Iya, gue juga ngerasa. Biasanya dia cium uang taruhan terus bilang bakal traktir kita."

Ia terdiam sejenak mengingat ekspresi Fahri. "Tapi tadi mukanya datar banget, malah kayak ada sorot muak di matanya."

Fikri mengernyit, menatap ujung jalan tempat siluet Fahri ditelan malam. "Sejak di minimarket tadi gak sih?"

Bagus menatap Fikri. "Maksud lo, sejak dia lihat kakaknya pelukan mesra sama cewek di minimarket tadi?"

"Benar," sahut Fikri.

"Jangan bilang Fahri naksir cewek itu?" ucap Bagus menebak asal.

"Gak tahu," sahut Fikri. "Tapi selama kita temenan sama dia, setahu gue dia gak pernah naksir cewek."

Mereka hanya saling tatap, tak tahu apa yang bikin mood Fahri buruk.

***

Reza duduk di ruang tamu yang gelap. Lampu sengaja dimatikan. Hanya lampu teras yang menyusup masuk dari celah gorden.

Setelah duduk cukup lama, akhirnya ia mendengar suara motor Fahri memasuki pekarangan rumah.

"Akhirnya pulang juga bocah itu," gumam Reza, menegakkan punggungnya.

Tak lama, suara kunci diputar dan pintu terbuka. Begitu Fahri selesai mengunci pintu dan berbalik --

Klik.

Lampu ruang tamu tiba-tiba menyala terang.

Fahri refleks memicingkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Ruangan ini terlalu terang setelah gelap di pekarangan.

Tangannya masih memegang kunci dan helm ketika ia menangkap siluet seseorang duduk di sofa.

Pria itu duduk diam, tegak, tak bergerak.

“Lo…?” suara Fahri terdengar lebih rendah dari yang ia niatkan. "Ngapain lo di situ?" tanyanya sinis.

Reza belum beranjak dari duduknya. Jasnya sudah dilepas, kemeja digulung sampai siku. Wajahnya datar, tatapannya lurus, tajam, menunggu.

“Kemari,” katanya singkat.

Fahri menatap Reza datar. Langkahnya maju satu, dua, lalu berhenti. Ia berdiri beberapa meter dari Reza.

“Dari mana?” tanya Reza datar.

“Keluar bentar.” Fahri menatapnya malas.

Reza berdiri perlahan. Gerakannya tenang, dan seharusnya membuat Fahri tegang, tapi nyatanya tidak. Reza berjalan mendekat, berhenti tepat di depan adiknya, terlalu dekat.

“Keluar bentar pakai motor itu?” Reza menunjuk ke arah luar rumah dengan dagunya.

Fahri tak menjawab, bukan karena takut. Malas. Tapi wajahnya tetap datar.

Reza tersenyum tipis, bukan senyum hangat. “Kamu kira aku nggak kenal motor kamu?”

Fahri mendengus kecil. “Terus?”

Plak.

Bukan tamparan. Reza menepuk keras helm Fahri yang masih tergantung di lengannya. Suaranya menggema di ruang tamu yang sunyi.

“Jangan main api di jalan,” kata Reza rendah. “Kamu mau mati?”

Fahri mendongak, menatap kakaknya dengan tatapan menantang. “Lo takut kehilangan adik… atau takut repot ngurus mayat?”

Untuk sesaat, rahang Reza mengeras. “Apa maksudmu?”

Fahri terkekeh pendek. “Santai aja, Kak. Lo 'kan jago ngatur hidup orang. Harusnya satu anak bandel kayak gue bukan masalah.”

Reza mencengkeram pergelangan tangan Fahri. Tidak sampai menyakiti, tapi cukup kuat untuk mengunci.

“Malam ini bukan hanya dirimu sendiri yang kau buat hampir celaka, tapi juga orang lain,” ucapnya pelan, tapi tiap katanya ditekan. “Termasuk aku.”

Fahri menatapnya tajam. “Oh ya?” Ia menyeringai miring. “Atau lo yang hampir nabrak karena sibuk mikirin meluk cewek lain? Padahal di rumah udah punya istri.”

Genggaman Reza mengendur sesaat, tapi Fahri merasakannya.

Sejenak yang terdengar hanya suara jangkrik di luar rumah.

“Kamu nguntit aku?” tanya Reza dingin.

 

...🔸🔸🔸“Lebih mudah mengatur hidup orang lain daripada jujur pada diri sendiri.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
phity
tentu sja zahra tdk akan mau merawatmu krn kerjaannya lbh penting drpd mo merawat orng sakit nanti tangan nya jd kasar kuku cantiknya jadi rusak...
asih
cantik Karna visual akan rapuh saat bertambahnya usia
LibraGirls
Oh my god gk sangup sampai ayza tau wlpn dia gk ada perasaan sm rezza tp dia udah bertangung jwb sebagai istri sirih nya reza
LibraGirls
Km percaya dia tertidur pules bisa² dia clubbing ma teman² nya dunia model begitu kenapa elo bego banget si za gk suruh org ngikutin si Zahra 😤
Dew666
💎🌹
Dek Sri
lanjut
Anitha Ramto
tentu saja si Zahra menghindar buru² karena tidak mau merawatmu dan kamu akan menjadi beban buat si Zahra.

Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍
Mundri Astuti
emang y love is blind, jadi bikin org ilang ke warasannya macam si Reza
Hanima
lama amat Thor sadarrrr nya 🤭
Diana Dwiari
dr situ dah keliatan kan bahwA wanita yg kamu kejar hanya mau senangnya saja.....makan tuh jalangmu
Felycia R. Fernandez: tapi sayangnya Reza kuat nafsu kk,bukan cari yang beneran tulus 😆😆😆
total 1 replies
Jumi Saddah
nah kapan semua akan terungkap,,,pasti kita bilang wow gitu😄
Sugiharti Rusli
karena sekali lagi apa yang diucapkan oleh Fahri menemukan kebenaran, dia hanya berperan sebagai art bagi Reza,,,
Sugiharti Rusli
entah bagaimana nanti kali Ayza lebih memilih lepas dari si Reza setelah dia sembuh,,,
Sugiharti Rusli
dan Ayza tahu ini bukan awal akan tumbuhnya perasaannya terhadap suaminya itu sih,,,
Sugiharti Rusli
sedang Ayza istri yang dipilihkan oleh kedua ortu kamu yang tidak pernah kamu anggap, dia tetap hadir ke rumah sakit meski sudah tengah malam
Sugiharti Rusli
kita lihat nanti tanggapan perempuan pilihan kamu sendiri Reza yang katanya sangat kamu cintai sampai mau berzinah
Puji Hastuti
Ayza kenapa kamu masih mau peduli sih!
Puji Hastuti
Siapa yang nelpon reza? Zahra kah?
Sugiharti Rusli
entah apa nanti yang akan Ayza tanggapi dengan kejadian yang menimpa 'suami' nya itu, bahkan si Zahra yang sudah pernah Reza sentuh belum tentu mau merawatnya
Sugiharti Rusli
ternyata Allah memiliki takdirnya sendiri dengan apa yang menimpa si Reza sekarang yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!