Definisi takdir yang tidak bisa kita tebak.
Kehidupan terus berjalan, hanya bersama ketika bersekolah di sekolah menengah pertama, itupun menjadi musuh yang tidak berujung damai meskipun sudah lulus.
Lama tak jumpa, tanpa kabar, tanpa melihat sosial media, karena sama-sama merasa tidak perlu.
Suatu hari seperti biasanya, gadis bernama Kenzie itu pulang ke rumah ibunya karena libur akhir pekan, namun, kepulangannya kali ini justru berbeda, ia harus menerima pernikahan yang tidak ia inginkan, karena dijodohkan dengan musuhnya saat SMP.
Keduanya sama-sama memiliki kekasih, apa mereka menerima pernikahan tanpa cinta itu?
Kalaupun pernikahan itu terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : BOCAH TENGIL
Seperti pasangan yang harmonis dan kompak, Kenzo dan Kenzie saling bekerja sama dalam membersihkan rumah. Setelah selesai menyapu dan membersihkan dinding-dinding, tahap akhir adalah mengepel lantai.
"Itu ada pel-pelan 2, kamarmu kamu sendiri yang ngepel, aku nggak mau masuk kamarmu!" suruh Kenzie.
"Ya," jawab Kenzo nurut.
"Takut banget gue sandera kah?!" bathin Kenzo.
Keduanya sama-sama serius, setelah selesai mengepel kamar masing-masing, mereka lanjut berbagi tugas. Kenzo mengepel lantai dari ruang tamu sampai belakang, sementara Kenzie membersihkan kamar mandi. Untuk halaman depan sudah bersih karena tidak luas dan belum ada tanaman yang besar.
"Dasar cewek tengil! bikin pinggang gue sakit gara-gara ngepel!" gerutu Kenzo.
Kenzie mengintip Kenzo untuk memastikan apakah laki-laki itu benar-benar melakukan pekerjaan sesuai kesepakatan.
"Haha! biar tau rasa! biar nggak gampang meremehkan orang lain!" gumam Kenzie merasa puas.
Kenzie langsung kembali ke dalam karena takut ketahuan oleh Kenzo.
"ANJ!" seru Kenzo.
"Aduh pantat gue sakit!" rintih Kenzo sembari mengusap-usap pantatnya dengan posisi telentang.
"Kenapa dia?" gumam Kenzie terkejut mendengar suara keras dan sesuatu yang jatuh.
Kenzie langsung bergegas keluar setelah mendengar suara keras dan bahasa kasar itu.
"Eh, kamu kenapa selonjoran di lantai basah?" tanya Kenzie.
"Dengkulmu itu yang selonjoran!" balas Kenzo.
"Gue kepleset, arrgh!" lanjut Kenzo masih mengusap pantatnya.
Kenzie sudah paham, tetapi ia ingin menggodai Kenzo yang sedang kesakitan akibat terpeleset, ternyata berhasil membuatnya ingin tertawa.
"Ya sudahlah kalau nggak sanggup, sini tak terusin aja." ujar Kenzie.
Kenzo melirik tajam, ia langsung berusaha berdiri karena Kenzie tidak berinisiatif untuk membantunya, justru mau mengambil alih pekerjaan yang sedang ia kerjakan.
"Aaa!"
Disaat yang bersamaan, ternyata dilantai itu memang sangat licin akibat tetesan pembersih lantai yang tercecer sehingga membuat Kenzie ikut terpeleset dan Kenzo yang masih berusaha berdiri kembali jatuh.
Hal tidak disangka, Kenzie spontan menarik kotak pembersih lantai sampai airnya tumpah, dan kakinya menendang Kenzo yang membuat suaminya itu kembali jatuh hingga menindihnya sampai keduanya sama-sama shock karena benar-benar menempel.
Plak!
Beberapa detik kemudian suara tamparan itu mendarat tepat di pipi kiri Kenzo. Kenzo langsung tersadar dan duduk dengan jantung yang berdegup kencang.
"Ma-maaf, aku nggak bermaksud nampar kamu!" ucap Kenzie menjelaskan agar tidak disalahpahami. Ia langsung bergeser dengan posisi duduk, meskipun pantat sampai punggungnya masih terasa sakit.
Kenzo hanya menoleh sekilas sambil mengangguk cepat.
"Gil4! bisa-bisanya gue berdebar-debar gini!" bathin Kenzo.
"Nggak bisa! ini kecerobohan! gue hanya membayangkan Gita, bukan cewek tengil ini!" lanjutnya.
Kenzo masih menepis bayangan tentang Kenzie.
"Lu ganti baju aja, biar gue yang lanjut ngepel," ujar Kenzo.
"Aku benar-benar nggak sengaja, maaf ya, maaf banget." ucap Kenzie dengan tulus.
"IYA-IYA, UDAH SONO!" usir Kenzo.
Kenzie mengangguk, ia langsung ke kamar sampai Kenzo selesai mengepel masih belum keluar.
Kenzo menatap pintu kamar itu setelah menyimpan peralatan kebersihan. Ia tidak menyangka akan berdebar-debar saat berdekatan dengan musuhnya itu.
"Bocah itu kok nggak keluar-keluar?" gumam Kenzo penasaran.
"Jangan-jangan dia pingsan?" gumam Kenzo semakin penasaran.
"OH MY GOD! kalau meninggal gimana?" lanjutnya semakin jauh dalam menduga.
Kenzo berjalan dengan berjinjit karena lantai masih basah, ia mengetuk pintu yang tidak di tutup itu tanpa menatap ke dalam.
"Aku cuma bawa baju kerja!" seru Kenzie.
Mendengar suara Kenzie, perasaan Kenzo menjadi lega karena istrinya itu masih bernyawa.
Kenzie tidak membawa baju biasa di dalam tas. Baju kerja itu ia bawa karena rencana awal berangkat hari Selasa pagi dan langsung menuju ke tempat bekerjanya. Sedangkan saat pulang seperti ini, ia terbiasa tidak membawa baju-baju lagi agar tidak repot. Untuk langsung menuju ke rumah Kenzo tentu saja bukan tujuannya sehingga tidak ada persiapan membawa baju ganti.
"Bilang dong! biar nggak dikira m4ti!" ujar Kenzo.
"Mulutmu!" protes Kenzie.
Kenzo langsung ke kamarnya dan mencari kaos oblong yang sekiranya pantas untuk dipakai Kenzie.
"Kenapa tadi pas belanja nggak sekalian minta beli baju sih!" gerutu Kenzo.
Setelah mendapatkan satu kaos dan celana kolornya yang paling kecil, ia langsung mengantarkan ke kamar Kenzie.
"Lu pakai itu dulu, jangan pakai baju basah! awas kalau sampai sakit di sini!" ancam Kenzo.
Kenzie menatap dari dalam, tangan yang menyodorkan satu stel pakaian itu terlihat berotot. Tapi, ia sedang tidak tergoda dengan pemandangan itu.
"TERIMA KASIH!" ucap Kenzie sambil merebut pakaian dari tangan Kenzo.
Kenzo langsung menarik tangannya dengan menatap Kenzie yang tidak sopan.
Saat Kenzie di kamar mandi, Kenzo langsung buru-buru keluar karena pesanannya datang.
"Terima kasih ya, Bang." ucap Kenzo.
Set meja dan lemari itu langsung diletakkan ke dalam kamar. Lantai yang kembali kotor langsung di sapu lagi oleh Kenzo agar kembali bersih. Sedangkan Kenzie juga sudah selesai, tetapi ia memilih untuk bersembunyi di belakang karena malu berada di sini meskipun kedatangan orang tidak dikenal.
"Kemana dia?" gumam Kenzo setelah menyadari Kenzie belum kembali setelah ganti baju.
Kenzo langsung keluar dari kamar itu setelah memastikan lemari dan meja tersusun rapi. Ruangan yang tidak banyak sehingga membuat Kenzo langsung bisa menebak keberadaan Kenzie.
"Ngapain lu?" tanya Kenzo.
"Nambal ban!" jawab Kenzie asal.
Kenzie sedang menunggu pakaiannya yang sedang dikeringkan. Ia melihat cuaca masih cerah, sehingga digunakan untuk mencuci agar nanti bisa dipakai lagi.
"Jam berapa motorku diantar ke sini?" tanya Kenzie.
"Papa cuma bilang perkiraan sore sampai sini, sabar!" jawab Kenzo.
Kenzie membuka ponselnya untuk melihat waktu yang terasa lama.
"Kenapa masih di situ?" protes Kenzie saat selesai menjemur bajunya.
"Gue mau ngomong," jawab Kenzo.
Kenzie melirik bangku santai di belakang, ia langsung duduk di sana.
"Ngomong apa?" tanya Kenzie.
"Kita harus saling menyimpan nomor, kalau sewaktu-waktu ada perlu," ujar Kenzo.
Kenzie menyodorkan ponselnya dan menunjukkan kode.
"Sudah," ujar Kenzo.
"Kalau gitu, aku juga punya usulan, tapi, kamu jangan kepedean," ujar Kenzie.
Kenzo tidak langsung menjawab karena masih bingung dalam memberikan nama untuk nomor Kenzie, akhirnya ia kasih nama "BOCAH TENGIL".
"Usulan apa?" tanya Kenzo sambil menutup ponselnya.
"Bisa nggak kamu itu jangan pakai lu gue lu gue?" balas Kenzie dengan serius.
"Kamu yang ngajak bermain drama ini, tapi, kamu juga yang nggak totalitas," protes Kenzie.
"Di keluargaku nggak terbiasa pakai lu gue, orangtuamu juga nggak pakai begitu 'kan?" lanjut Kenzie.
Kenzo manggut-manggut ragu, ia memang menggunakan kata itu untuk sesama temannya. Dengan Kenzie karena mereka seumuran dan ditambah dengan perselisihan yang tak kunjung reda diantara mereka, sehingga bagi Kenzo tidak perlu ada sopan santun.
"Ya," jawab Kenzo langsung meninggalkan Kenzie yang masih duduk di belakang.
"Ya! Ya!" gerutu Kenzie meniru jawaban Kenzo yang sangat menyebalkan.
klau kemaren sampek terjadi...aku pasti kecewa sama dia....
untung aja gagal...tapi aku gak suka kalau si kenzo masih nyium nyium si cewek itu.
sedang kenzi masih ori..belum tersentu...
Karena ada kendala dan saat itu author tidak bisa melanjutkan, akhirnya terpaksa dihapus dulu.
In syaa Allah nanti akan di update lagi, untuk saat ini sekalian mau direvisi dulu dan mau fokus ke judul ini dulu ya 🙏
Terima kasih 😍