"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 19
BAB 19 — Sudut Pandang Vino
Kamar Vino di lantai dua mansion keluarga Al-Fatih lebih mirip laboratorium steril daripada kamar remaja.
Dindingnya dicat abu-abu slate. Furniturnya minimalis, terbuat dari baja dan kaca tempered. Tidak ada poster band, tidak ada foto pacar, tidak ada pernak-pernik tidak berguna.
Hanya ada rak buku setinggi tiga meter yang penuh dengan ensiklopedia, meja kerja dengan tiga monitor menyala menampilkan grafik saham real-time, dan sebuah treadmill di sudut.
Jam digital di nakas menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Vino berbaring di tempat tidurnya yang luas, menatap langit-langit. Matanya terbuka lebar. Insomnia. Teman lamanya.
Pikirannya tidak bisa diam. Otaknya seperti prosesor yang overclocking, terus memutar ulang kejadian hari ini di sekolah.
Dia melihat Naufal berteriak. Dia melihat Mayang menangis haru. Dia melihat tangan Naufal menghapus air mata di pipi Mayang.
Vino memejamkan mata, menekan pangkal hidungnya.
"Sentimental," gumam Vino pada kegelapan. "Sangat tidak efisien."
Di dunia Vino, emosi adalah inefisiensi. Menangis tidak menyelesaikan masalah. Berteriak tidak mengubah fakta. Tapi hari ini, Naufal membuktikan bahwa ledakan emosi yang tidak efisien itu justru memenangkan "pasar". Mayang luluh. Kelas bersimpati.
Vino merasa kalah. Dan dia benci kalah.
Ponselnya di nakas bergetar pelan. Notifikasi masuk.
Tokopedia: Paket Anda (Kursi Ergonomis & Suplemen) sedang diproses oleh penjual.
Vino mengambil ponselnya. Membaca notifikasi itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Lo boleh menang di drama panggung, Fal. Tapi gue menang di logistik, batin Vino.
Dia meletakkan ponselnya lagi. Dia mencoba tidur, tapi bayangan Mayang muncul lagi.
Bukan Mayang yang cantik dengan gaun hitam di pesta. Tapi Mayang yang kucel, wajah cemong debu di gudang arsip, yang berani mendebatnya soal susunan abjad.
Kenapa gadis itu? Kenapa bukan Clarissa yang lulusan London? Kenapa bukan Vivie yang—meskipun bodoh—cantik dan kaya?
Vino bangun. Dia duduk di tepi ranjang, menyalakan lampu tidur.
Dia mengambil jurnal kulit hitam di laci nakas. Jurnal pribadinya.
Dia membuka halaman baru. Menulis dengan pulpen Montblanc.
Hipotesis: Gadis-gadis di lingkaran sosial gue adalah produk pabrikan. Mereka diprogram untuk bicara sopan, berpakaian modis, dan mencari suami kaya. Output-nya bisa diprediksi. Membosankan.
Mayang Sari adalah anomali. Dia raw data. Data mentah. Dia tidak dipoles. Dia bereaksi berdasarkan insting bertahan hidup, bukan etiket. Reaksinya tidak bisa diprediksi.
Kesimpulan sementara: Gue tidak jatuh cinta. Gue cuma... terhibur. Gue butuh hiburan di tengah kebosanan ini.
Vino menutup jurnalnya. Penyangkalan yang rapi. Dia membohongi dirinya sendiri di atas kertas.
Keesokan Harinya. Kantin Sekolah.
Vino duduk di meja VIP di balkon atas, bersama Adrian (Ketua OSIS) dan beberapa elite sekolah lainnya.
Di meja itu tersaji pasta Aglio Olio, Steak, dan jus segar.
"Vin, lo denger nggak?" tanya Adrian sambil memutar garpunya. "Si Naufal katanya mau daftar les di Zenius. Dia mau ngejar ketertinggalan materi biar bisa ngimbangin Mayang."
Vino tidak mendongak dari tabletnya. "Bagus. Peningkatan SDM. Sekolah untung kalau rata-rata nilai naik."
"Bukan itu poinnya, Bro," Adrian tertawa. "Poinnya adalah, si Mayang ini influence-nya gila juga. Anak basket yang otak otot kayak Naufal bisa tobat. Lo nggak takut?"
"Takut apa?"
"Takut Mayang beneran jadian sama Naufal. Chemistry mereka kuat lho kemarin pas drama 'mimisan' itu."
Tangan Vino yang sedang scroll layar berhenti.
"Mereka nggak compatible," kata Vino datar. "Naufal itu impulsif. Mayang itu analitis. Dalam jangka panjang, gesekan kepribadian bakal bikin hubungan mereka crash."
"Yaelah, cinta mah nggak pake logika, Vin," sahut teman lain. "Cinta itu buta."
"Cinta buta itu kecelakaan lalu lintas," balas Vino tajam.
Vino menutup tabletnya. Selera makannya hilang.
Dia melihat ke bawah, ke area kantin umum.
Dia melihat Mayang. Gadis itu sedang duduk di meja pojok, makan bekalnya. Kursi di depannya kosong (Naufal mungkin sedang bimbel).
Mayang terlihat tenang. Dia membaca buku sambil mengunyah pelan. Tidak ada yang mengganggunya hari ini. Efek pembelaan Naufal masih terasa. Vivie dan gengnya menjaga jarak.
Tapi Vino melihat sesuatu yang lain.
Mayang terlihat... nyaman.
Terlalu nyaman.
Vino tidak suka itu. Kenyamanan membuat pertumbuhan berhenti. Jika Mayang merasa sudah "aman" karena dilindungi Naufal dan dijauhi Vivie, dia akan berhenti berjuang. Dia akan stagnan di level ini.
Dan Vino, dengan segala arogansinya, merasa Mayang ditakdirkan untuk level yang lebih tinggi. Level di mana dia bisa berdiri di samping Vino, bukan di bawah perlindungan Naufal.
Dia butuh tekanan baru, pikir Vino. Tekanan yang memisahkan dia dari zona nyaman Naufal.
"Yan," panggil Vino ke Adrian.
"Yo?"
"Siapa sekretaris panitia Field Trip ke Puncak bulan depan?"
"Si Sindy. Kenapa?"
"Sindy kerjanya lambat. Proposal transportasi kemarin banyak typo. Gue mau ganti."
Adrian melongo. "Ganti? Acara tinggal dua minggu lagi, Vin. Siapa yang sanggup ngerjain administrasi segunung dalam waktu mepet?"
Vino menunjuk ke bawah dengan dagu. Ke arah meja pojok.
"Dia."
Adrian mengikuti arah pandang Vino. "Mayang? Lo gila? Dia anak baru. Dia nggak ngerti birokrasi sekolah. Dan Vivie pasti ngamuk kalau Mayang masuk kepanitiaan inti."
"Biarin Vivie ngamuk. Itu ujian mental buat Mayang. Dan soal birokrasi... dia cepet belajar. Gue udah tes dia di gudang arsip."
Vino berdiri. Dia merapikan jasnya.
"Gue turun. Siapin SK Penunjukan Sementara. Gue mau tanda tangan lo sore ini."
"Vin, sumpah lo sadis," Adrian geleng-geleng kepala. "Lo mau melempar domba ke kandang serigala."
Vino tersenyum miring.
"Dia bukan domba, Yan. Dia serigala yang belum sadar taringnya. Gue cuma mau bangunin dia."
Ruang OSIS. Jam 14.00.
Mayang dipanggil lagi. Kali ini bukan ke ruang arsip yang berdebu, tapi ke ruang rapat utama yang dingin dan formal.
Vino duduk di ujung meja panjang. Di hadapannya ada tumpukan berkas setinggi jengkal.
Mayang masuk, menutup pintu. Dia merasa atmosfer ruangan ini berbeda. Lebih serius.
"Duduk," perintah Vino.
Mayang duduk. Dia melihat Vino tidak menatapnya. Vino sibuk membaca dokumen.
"Gue denger lo dapet 98 di Matematika," kata Vino tanpa basa-basi. "Selamat."
"Makasih. Berkat 'les privat' di gudang arsip," jawab Mayang, mencoba bercanda sedikit.
Vino akhirnya menatapnya. Wajahnya serius. Tidak ada senyum tipis seperti biasanya.
"Nilai akademis bagus. Tapi di dunia nyata, nilai 98 di kertas nggak ada gunanya kalau lo nggak punya soft skill. Kepemimpinan. Manajemen krisis. Diplomasi."
Vino mendorong tumpukan berkas itu ke hadapan Mayang.
"Ini berkas Field Trip Angkatan ke Puncak. Acaranya dua minggu lagi. Sekretaris lama gue pecat karena inkompeten."
Jantung Mayang berdegup. Dipecat?
"Gue tunjuk lo jadi Sekretaris Pengganti. Sementara."
Mayang terbelalak. "Saya? Tapi saya anak beasiswa, Vino. Saya nggak punya pengalaman organisasi sebesar ini."
"Makanya gue kasih kesempatan biar punya pengalaman. Lo tolak?"
"Bukan nolak. Tapi... risikonya besar. Vivie panitia acara, kan? Kalau saya masuk, dia bakal..."
"Bakal apa? Makan lo?" potong Vino. "Lo takut sama Vivie?"
"Saya nggak mau nambah musuh."
Vino mendengus. Dia berdiri, berjalan mengelilingi meja, dan berhenti di belakang kursi Mayang.
"Denger, May. Musuh itu tanda lo melakukan sesuatu yang penting. Orang yang nggak punya musuh berarti orang yang nggak pernah berjuang buat apa-apa."
Vino membungkuk sedikit, berbisik di dekat telinga Mayang.
"Posisi ini strategis. Lo bakal pegang kendali atas pembagian kamar, bus, dan rundown acara. Termasuk kamar Vivie. Lo bisa atur dia tidur di kamar yang view-nya tembok kalau lo mau."
Itu godaan kekuasaan. Vino sedang mengajari Mayang cara menggunakan otoritas.
"Tapi kerjanya berat," lanjut Vino. "Lo harus koordinasi sama 200 siswa manja, guru-guru rewel, dan vendor yang suka nipu. Lo harus begadang. Naufal pasti bakal ngelarang lo."
Vino menyebut nama Naufal dengan nada meremehkan.
"Kenapa bawa-bawa Naufal?" tanya Mayang defensif.
"Karena dia Guardian lo, kan? Dia pasti bilang: 'Jangan May, nanti lo capek. Jangan May, nanti lo mimisan'. Dia mau lo tetep jadi putri tidur yang lemah."
Kata-kata Vino memancing ego Mayang. Vino tahu persis tombol mana yang harus ditekan.
"Saya bukan putri tidur," kata Mayang tajam.
"Buktikan."
Vino kembali ke kursinya.
"Ambil berkas itu. Pelajari. Besok gue mau progress report pertama. Atau... lo bisa keluar sekarang, balik ke Naufal, makan bakso, dan hidup tenang jadi rata-rata."
Pilihan yang brutal. Kenyamanan atau Tantangan.
Mayang menatap tumpukan berkas itu. Tebal. Rumit. Menakutkan. Tapi di dalamnya ada kesempatan untuk membuktikan diri. Untuk berdiri setara dengan elit sekolah ini.
Mayang teringat kursi ergonomis dan vitamin mahal yang dikirim "Hamba Allah" kemarin sore. Dia tahu itu dari Vino. Vino peduli padanya, tapi dengan caranya sendiri: Cara yang mendorong, bukan memeluk.
Mayang mengulurkan tangan. Mengambil berkas paling atas.
"Saya terima," kata Mayang.
Vino menyembunyikan senyum puasnya di balik gelas kopi.
"Bagus. Rapat pleno panitia jam 4 sore ini. Siapin mental lo. Vivie bakal ada di sana."
"Siap."
Mayang berdiri, memeluk berkas itu.
"Satu lagi," kata Vino saat Mayang hendak pergi.
"Ya?"
"Jangan mimisan lagi. Kursi yang gue kirim itu ada sandaran kepalanya. Pake."
Mayang berhenti. Dia berbalik, tersenyum lebar.
"Tahu dari mana kursi itu dari 'Hamba Allah'?" goda Mayang.
Vino mengangkat bahu, pura-pura cuek. "Gue jenius. Gue tahu segalanya."
"Makasih, Hamba Allah."
Mayang keluar ruangan.
Vino bersandar di kursi kulitnya yang besar. Dia memutar kursi menghadap jendela, melihat langit sore.
"Langkah satu: Pisahkan dari Guardian," gumam Vino. "Langkah dua: Beri pedang."
Dia tidak sedang memacari Mayang. Dia sedang menempa Mayang. Karena Vino tahu, untuk menjadi pendamping seorang Raja, Mayang tidak boleh hanya menjadi Ratu yang cantik. Dia harus menjadi Jenderal Perang.
Rapat Pleno Panitia. Pukul 16.00.
Suasana ruang rapat memanas begitu Mayang masuk dan duduk di kursi sekretaris.
Vivie, yang menjabat Koordinator Acara, langsung berdiri.
"Apa-apaan ini, Vin? Kenapa dia duduk di situ?" protes Vivie.
Vino duduk di kepala meja, santai tapi mengintimidasi.
"Sindy sakit. Mayang gantiin. Ada masalah?" tanya Vino.
"Masalah lah! Dia anak baru! Dia nggak ngerti apa-apa soal Field Trip kita! Dia bahkan mungkin nggak pernah nginep di villa!" hina Vivie.
"Justru itu," Vino menatap Vivie tajam. "Dia netral. Dia nggak punya kepentingan circle. Dia nggak bakal bias kasih kamar VIP ke temen gengnya."
Vino menoleh ke Mayang.
"Mayang, bacakan agenda rapat."
Mayang menarik napas. Dia membuka mapnya. Tangannya sedikit gemetar, tapi suaranya lantang.
"Agenda pertama: Finalisasi anggaran transportasi. Ada selisih lima juta rupiah antara penawaran vendor bus dengan budget yang disetujui sekolah."
Mayang menatap Vivie.
"Divisi Acara mengajukan bus dengan fasilitas karaoke dan toilet duduk. Itu memakan budget konsumsi. Pilihannya: Bus standar tanpa karaoke, atau makan malam kita diganti nasi bungkus biasa."
Vivie ternganga. Mayang langsung menyerangnya dengan data di detik pertama.
"Ya... ya harus ada karaoke dong! Masa di jalan diem-dieman!" bantah Vivie.
"Kalau begitu, anggaran Gala Dinner harus dipotong 20 persen. Tidak ada Steak. Gantinya Ayam Bakar."
Mayang menghitung cepat di kalkulator.
"Keputusan ada di forum. Hiburan di jalan, atau makanan enak di lokasi?"
Siswa lain mulai berbisik. "Mending makanan enak lah." "Ngapain karaoke, bisa pake HP." "Vivie lebay ah."
Mayang berhasil memecah suara. Dia menggunakan logika anggaran untuk menyudutkan ego Vivie.
Vino memperhatikan dari ujung meja. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.
Bagus. Dia belajar cepet. Serang logistiknya, bukan orangnya.
Naufal, yang menjabat sebagai Koordinator Keamanan (posisi yang diberikan karena dia atlet), duduk di seberang Mayang. Dia menatap Mayang dengan pandangan campur aduk.
Bangga, tapi juga sedih. Mayang di depannya ini terlihat begitu... powerful. Begitu jauh. Gadis yang dulu malu-malu minta tolong, sekarang sedang memimpin rapat dan mendebat Vivie.
Naufal melirik Vino. Vino sedang menatap Mayang dengan tatapan intens. Tatapan seorang pencipta melihat mahakaryanya.
Naufal mengepalkan tangan di bawah meja. Lo ngubah dia, Vin. Lo ngubah dia jadi kayak lo. Dingin. Penuh perhitungan.
Tapi Naufal tidak bisa menyangkal satu hal: Mayang terlihat bersinar.
Rapat itu berakhir dengan kemenangan Mayang. Anggaran karaoke dicoret. Vivie cemberut sepanjang sisa rapat.
"Rapat ditutup," kata Vino.
Saat semua orang bubar, Naufal menghampiri Mayang.
"May, lo yakin mau ambil tugas ini? Ini bakal capek banget lho," kata Naufal.
Mayang sedang merapikan notulen. Dia tersenyum pada Naufal.
"Aku seneng kok, Fal. Ternyata seru ngatur strategi gini."
"Seru?" Naufal geleng kepala. "Dulu lo bilang seru itu kalau bisa baca novel dengan tenang. Lo berubah, May."
"Orang harus berubah buat maju, Fal."
Naufal terdiam. Dia merasa jarak di antara mereka membentang ribuan kilometer.
"Oke. Kalau lo butuh bantuan... gue di Divisi Keamanan. Gue bakal jagain lo. Selalu."
"Makasih, Fal."
Naufal pergi. Mayang melihat Vino yang masih duduk di kursinya, menunggunya.
"Gimana performa saya, Bos?" tanya Mayang.
Vino berdiri, berjalan mendekat.
"7 dari 10. Lo masih terlalu sopan sama Vivie. Harusnya lo potong argumen dia lebih cepet."
"Saya masih belajar."
"Belajar lebih cepet. Field Trip nanti adalah ujian sebenernya. Di sana, di luar pengawasan guru... hutan rimba berlaku."
Vino menatap mata Mayang.
"Dan gue nggak bisa selalu ada buat ngawasin lo 24 jam. Lo harus bisa jaga diri."
Ada nada khawatir yang terselip di sana. Tipis sekali.
"Siap, Vino."
Malam itu, Mayang pulang dengan otak penuh angka dan strategi. Dia lelah, tapi dia tidak merasa kosong.
Vino benar. Dia butuh tantangan.
Dan Field Trip ke Puncak nanti akan menjadi panggung di mana segalanya dipertaruhkan. Cinta, harga diri, dan keselamatan.
Bersambung......