Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia
Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang
Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Pengampunan dan Pembebasan
Mereka keluar dari gua saat fajar benar-benar menyingsing. Langit di atas hutan berwarna jingga lembut, cahaya matahari pagi menyusup melalui celah pohon durian, menerangi wajah-wajah mereka yang lelah tapi penuh kedamaian. Desa Durian Berduri terlihat di bawah bukit, asap tipis dari dapur pagi naik ke langit, anak-anak mulai berlarian di jalan setapak—tak ada lagi ketakutan di mata mereka.
Desa resmi bebas dari kutukan. Tak ada lagi tawa serak di malam hari, tak ada lagi bau kemenyan yang menyusup ke mimpi. Hutan yang dulu menakutkan kini terasa seperti tempat yang bisa didatangi untuk berdoa, untuk mengenang, untuk meminta maaf.
Siti Aisyah berjalan di samping Sari Wangi, tangan mereka saling genggam. “Mbak Nen... terima kasih... karena kau berani,” bisik Sari, suaranya masih tersendat.
Siti Aisyah tersenyum tipis, air mata masih mengalir. “Kita semua berani, Neng. Kita semua bayar harganya. Sekarang... kita pulang. Ke anak-anak kita. Ke kehidupan yang baru.”
Daeng Tasi memeluk Sari dari samping, Kang Asep memegang tangan Siti Aisyah. Rombongan berjalan pelan menuruni bukit, langkah mereka ringan meski tubuh lelah. Di kejauhan, suara ayam berkokok pagi terdengar—suara biasa, tapi bagi mereka terasa seperti lagu kemenangan.
Dendam telah berakhir. Pengampunan telah lahir. Dan desa Durian Berduri akhirnya bisa bernapas bebas.
***
Langkah rombongan menuruni bukit terasa ringan, meski kaki mereka pegal dan baju mereka basah oleh air gua serta keringat malam panjang. Cahaya fajar semakin terang, jingga lembut berubah menjadi emas pucat yang menyentuh puncak pohon durian liar.
Duri-duri yang dulu tampak seperti taring mengancam kini hanya siluet biasa di bawah sinar pagi, seolah hutan sendiri ikut melepaskan beban yang selama puluhan tahun ia pikul. Angin pagi bertiup sepoi, membawa aroma daun basah dan tanah segar—tanpa jejak kemenyan, tanpa hembusan dingin yang dulu selalu menyusup ke tulang.
Di depan rombongan, Daeng Tasi berjalan memimpin, tangan kirinya memegang tangan Sari Wangi erat-erat, seolah takut kehilangan lagi meski kutukan sudah berakhir. Sari berjalan pelan, jarik batiknya yang robek dan basah kini terasa lebih ringan di tubuh. Ia sesekali menoleh ke belakang, memastikan Siti Aisyah dan Kang Asep masih mengikuti.
Siti Aisyah berjalan di samping suaminya, tangan kanannya memegang tasbih kayu jati yang sudah aus, jarinya menggosok-gosok butir-butir itu seperti mencari kekuatan terakhir. Kang Asep memegang tangan istrinya dengan lembut, matanya masih basah, tapi senyum kecil mulai muncul di bibirnya—senyum yang selama ini tertahan oleh rasa bersalah dan ketakutan.
Pak Kades berjalan paling belakang, tongkat kayunya mengetuk tanah setapak dengan irama pelan. Ia sesekali berhenti, menoleh ke hutan yang kini terasa berbeda—bukan lagi tempat yang menakutkan, tapi seperti saudara tua yang akhirnya berdamai. Bang Jaim berjalan di sampingnya, botol air suci yang sudah kosong ia genggam seperti benda sakral, wajahnya lelah tapi tenang. Dua hansip dan Kang Mamat, Ujang serta warga lain mengikuti dalam diam, obor mereka sudah padam, tapi cahaya pagi cukup untuk menerangi jalan pulang.
Saat mereka hampir sampai di pinggir desa, suara ayam berkokok pagi terdengar lebih jelas—suara yang biasa, tapi bagi mereka seperti lagu kemenangan yang tak pernah mereka dengar sebelumnya. Anak-anak mulai berlarian di jalan setapak tanah, tawa kecil mereka menggema seperti lonceng pagi.
Seorang bocah kecil berlari mendekat, berhenti di depan rombongan, matanya lebar melihat wajah-wajah lelah tapi tersenyum itu.
“Teteh Sari! Teteh Nen! Kalian pulang!” seru bocah itu, lalu berlari kembali ke rumah sambil berteriak memanggil ibunya.
Sari Wangi tersenyum lebar, air mata bahagia jatuh lagi. Ia melepaskan tangan Daeng Tasi sejenak, berlutut di tanah, dan memeluk bocah itu yang berlari kembali mendekat. “Iya... Teteh pulang. Semua pulang.”
Di rumah-rumah, pintu-pintu terbuka satu per satu. Ibu-ibu keluar membawa bayi dan anak kecil, wajah mereka penuh kelegaan saat melihat rombongan kembali utuh. Lilis sudah bangun di gendongan neneknya, matanya besar menatap ibunya. Sari berlari kecil, mengambil bayinya dari pelukan ibu, mencium kening Lilis berulang kali. “Ibu pulang, sayang... ibu pulang... kau aman... kita aman...”
Siti Aisyah berlari ke rumahnya sendiri. Cecep, Ratih, dan Lila sudah berdiri di teras, mata mereka berbinar melihat ibu mereka. Cecep berlari pertama, memeluk pinggang Siti Aisyah erat-erat. “Ibu! Ibu pulang! Cecep takut tadi malam...” Siti Aisyah berlutut, memeluk ketiga anaknya sekaligus, air matanya jatuh ke rambut mereka. “Ibu pulang... ibu tidak akan pergi lagi... kita aman sekarang...”
Mas Karta dan Mbak Wulan berdiri di belakang, tangan mereka saling genggam. Mbak Wulan menangis pelan, tapi kali ini air mata itu penuh syukur. “Nen... terima kasih... kau selamatkan kami semua...”
Siti Aisyah menggeleng, suaranya tersendat. “Bukan aku, Mak. Kita semua. Doa kita, air mata kita... itu yang selamatkan.”
Desa mulai hidup kembali. Warga berkumpul di lapangan kecil depan masjid, tak ada lagi ketakutan di mata mereka. Anak-anak berlarian bebas, ibu-ibu membawa makanan pagi—nasi liwet, ikan asin, sambal terasi—seperti pesta kecil yang tak direncanakan. Pak Kades berdiri di depan, suaranya bergetar saat berbicara.
“Saudara-saudara... malam ini kita bebas. Kutukan yang selama puluhan tahun mengikat kita sudah lepas. Bukan karena kekuatan badik, golok atau mantra, tapi karena hati yang akhirnya terbuka. Kita minta maaf pada Mbah Saroh. Kita akui kesalahan leluhur kita. Dan dia... dia memaafkan. Desa Durian Berduri resmi bebas dari dendam. Mulai hari ini, hutan bukan lagi tempat menakutkan. Ia tempat kita berdoa, mengenang, dan meminta ampun.”
Warga bertepuk tangan pelan, tapi tepuk tangan itu penuh air mata. Beberapa berpelukan, beberapa sujud syukur di tanah. Sari Wangi duduk di tanah dengan Lilis di pangkuan, Daeng Tasi di sampingnya memeluk mereka berdua. Sari mencium kening Lilis, lalu menoleh ke Daeng Tasi, suaranya pelan tapi penuh cinta. “Kita pulang, Daeng... kita benar-benar pulang.”
Siti Aisyah duduk di samping Kang Asep, anak-anaknya bermain di sekitar mereka. Cecep mendekat, pipinya tembem masih merah karena cubitan Sari kemarin. “Ibu... Teteh Sari bilang Cecep gemes. Tapi Cecep sudah besar, kan?” Siti Aisyah tertawa kecil, mencubit pipi anaknya pelan. “Iya... sudah besar. Tapi tetap anak ibu.”
Hutan di belakang desa terasa berbeda. Pohon durian liar masih berdiri tegak, tapi duri-durinya tak lagi mengancam—seperti penjaga yang akhirnya bisa beristirahat. Sungai kecil yang dulu penuh ilusi kini mengalir jernih, airnya berkilau di bawah sinar pagi. Tak ada lagi kabut gelap, tak ada lagi suara tawa serak. Hanya suara angin, suara daun bergoyang, dan suara anak-anak bermain—suara kehidupan yang lama tertahan.
Malam itu, desa tidur dengan tenang. Tak ada lagi mimpi buruk, tak ada lagi bau kemenyan menyusup ke hidung. Hanya suara ayam berkokok pagi yang datang lebih awal, seperti menyambut hari baru yang benar-benar baru.
Desa Durian Berduri akhirnya bernapas bebas. Pengampunan telah lahir dari air mata, dari pelukan, dari kata maaf yang tulus. Dan di suatu tempat di alam gaib, roh Mbah Saroh—bukan lagi Nenek Gerandong—beristirahat dengan damai, senyuman tipis di bibirnya, seperti orang yang akhirnya bisa pulang setelah perjalanan panjang yang penuh luka.
Desa itu hidup lagi. Dan kali ini, hidupnya penuh cahaya.
***