Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. SEBELUM PERJALANAN
Kastil Ravens tidak pernah sesibuk ini.
Lorong-lorong yang biasanya tenang kini dipenuhi langkah tergesa, suara perintah bersahut-sahutan, dan derap sepatu para kesatria yang berlalu-lalang membawa peti persediaan. Bau logam dari senjata yang baru diasah bercampur dengan aroma kain kulit dan minyak pelindung zirah.
Keberangkatan Duke Alaric ke wilayah timur bukan perjalanan biasa.
Itu adalah perburuan.
Dan semua orang di kastil tahu, perburuan ini bisa memakan waktu lama, bahkan mungkin lebih lama dari yang mereka duga.
Di ruang kerja Duke, tumpukan dokumen menjulang di atas meja besar dari kayu hitam. Peta-peta terbentang, laporan keuangan terbuka, dan surat-surat dengan segel kerajaan menunggu tanda tangan.
Di hadapan semuanya, Gideon berdiri dengan kedua tangan di pinggang, wajahnya tegang.
"Yang Mulia," kata Gideon untuk kesekian kalinya, "jika Anda tidak menyelesaikan dokumen-dokumen ini hari ini, maka saya yang akan mati kelelahan menggantikan Anda."
"Aku harus istirahat untuk perjalanan. Bekerja terlalu banyak tidak baik untukku," ujar Alaric santai.
"Istirahat apa yang Anda maksud?! Anda bahkan melakukan duel dengan Colton dan kesatria lain sejak pagi! Bilang saja kalau Anda malas mengerjakan dokumen-dokumen itu!" seru Gideon kesal.
Tidak ada jawaban.
Kursi besar di balik meja entah sejak kapan sudah kosong.
Gideon menghela napas panjang, sangat panjang, lalu memijat pelipisnya.
"Tentu saja," gumam Gideon. "Kabur lagi."
Gideon berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja dengan langkah cepat, sudah tahu persis ke mana Duke-nya akan pergi.
Dan benar saja ...
Di area tengah kastil, dekat jendela-jendela tinggi yang membiarkan cahaya siang masuk dengan bebas, Alaric berdiri santai dengan tangan disilangkan di dada.
"Yang Mulia?!" panggil Gideon masih memasang wajah kesal
"Ssstt ... lihat mereka," tunjuk Alaric dengan wajahnya ke depan sana.
Di ruang tengah yang ditunjuk Alaric, Liora dan Rowan duduk berdampingan di kursi empuk, berhadapan dengan seorang pedagang Ravens yang membentangkan kain beludru berisi perhiasan.
Alaric tidak sadar dirinya tersenyum. Melihat Liora dan Rowan dengan ekspresi wajah yang nyaris sama.
Kepala Liora dan Rowan sedikit miring. Alis berkerut halus. Tatapan kritis yang terlalu serius untuk situasi sepele.
"Ini jelek," kata Rowan dengan cadelnya, menunjuk sebuah kalung berpermata besar. "Tidak belcinal tantik."
Liora mengangguk setuju. "Hmm ... terlalu mencolok."
Pedagang itu tersenyum kaku, lalu menggeser kain beludru lainnya. "Kalau yang ini, Nyonya Duchess?"
Rowan menyipitkan mata, menilai kalung yang ditunjuk oleh pedagang, "Ini telalu belebihan. Jelek."
Liora kembali mengangguk. "Aku juga pikir begitu."
Gideon, yang berdiri di belakang Alaric, tertawa kecil.
"Bukankah keponakan Anda terlalu lucu, Yang Mulia?" kata Gideon tak bisa menahan diri melihat gelagat bocah menggemaskan itu.
Alaric menyeringai. "Bertindak seperti orang dewasa padahal masih bayi."
"Tuan Muda Rowan bukan bayi lagi, Yang Mulia," sanggah Gideon ringan.
"Bagiku dia masih bayi," kata Alaric.
Rowan mendengus kesal dengan kalung di depannya, lalu menunjuk sebuah kalung sederhana dengan permata berkilau lembut di sisi lain.
"Yang ini tantik. Belcinal dan cedelhana. Lilola akan tantik kalau pakai ini," kata Rowan.
Alaric mengusap dagunya, memerhatikan pilihan itu. "Dia punya selera yang bagus."
Liora tersenyum, mengelus kepala Rowan yang kini membusungkan dada penuh kebanggaan.
Saat itulah Liora menyadari keberadaan dua pria di belakang mereka.
"Alaric?" ucap Liora terkejut akan kehadiran suaminya itu.
Alaric melangkah mendekat, berdiri di belakang kursi Liora, lalu menaruh tangannya di pundak istrinya dengan gerakan protektif yang alami.
"Kalian terlihat serius sekali hanya untuk memilih satu kalung," kata Alaric.
"Rowan ingin memilihkan yang bagus untukku," jawab Liora.
Alaric mengangkat alis. "Hmm ... memilihkan satu? Pilihan yang bagus, kulihat."
"Lowan pintal memilih," ujar Rowan bangga.
Alaric tersenyum tipis. "Kenapa harus memilih? Beli saja semuanya," katanya santai.
Keheningan.
Liora dan Rowan menoleh bersamaan menatap Alaric.
"APA?!" Liora berseru.
"Kau gila," lanjut Liora cepat. "Kenapa harus membeli semuanya? Ini permata langka, Alaric. Harganya mahal."
"Wow, Paman mau beli cemuanya," ucap Rowan melihat semua barang yang ditunjukan pedagang tadi.
Alaric menyandarkan sikunya ke sandaran kursi, ekspresi sombongnya muncul tanpa rasa bersalah.
"Walau kau membeli sepuluh atau seratus kali lipat perhiasan yang kau bilang langka ini, itu bahkan tidak mengurangi satu persen hartaku, Sayang," kata Alaric.
Mulut Liora terbuka. Benar-benar ternganga.
Alaric tersenyum semakin lebar. "Sepertinya kau lupa menikahi siapa."
"Wajah sombongmu benar-benar menyebalkan," ucap Liora.
Alaric tertawa kecil.
Rowan menatap Alaric dengan mata berbinar. "Paman kaya, ya? Bica beli cemuanya."
"Tentu saja," jawab Alaric tanpa ragu. "Aku orang terkaya di negeri ini selain Kaisar."
Rowan tampak berpikir keras, lalu berseru penuh semangat, "Kalau kaya bisa beli apa pun?"
Alaric mengangguk.
"Ohhh," Rowan mengangguk pelan, lalu menunjuk Liora. "Kalau begitu Lowan mau jadi olang kaya! Jadi bica belikan banyak hadiah untuk Lilola. Lowan akan lebih kaya dali paman dan ambil Lilola dali paman!"
Alaric tertawa pelan, lalu mengelus kepala Rowan. "Kalau begitu aku akan lebih kaya lagi agar kau tidak bisa mengambil istriku," katanya.
Rowan menggembungkan pipinya. "Paman menyebalkan."
"Terima kasih," balas Alaric santai.
Pedagang yang sejak tadi menunggu akhirnya berdeham sopan.
"Yang Mulia Duke, aku juga membawakan sesuatu yang mungkin ... lebih sesuai," kata si pedagang.
Pedagang itu menunjukan sebuah kotak kayu lalu membuka sebuah kotak kayu putih berukir itu.
Di dalamnya terbaring sebuah belati.
Bilahnya memantulkan cahaya dengan kilau dingin, indah, terlalu indah untuk sekadar senjata. Lebih seperti karya seni.
Mata Liora berbinar tanpa bisa disembunyikan.
Alaric langsung menangkap reaksi itu.
"Aku ambil," kata Alaric tanpa ragu.
Pedagang tersenyum lebar. "Terima kasih, Yang Mulia. Mata belati ini ditempa dari mitril, mineral langka. Tidak akan patah. Sangat tajam. Gagang dan sarungnya terbuat dari kulit Wyvern."
"Wyvern?" Alaric mengernyit. "Monster terbang dari wilayah terlarang."
Pedagang mengangguk. "Aku dengar begitu, walau masih meragukan apa benar ini sungguh dari bagian tubuh monster Wyvern itu atau tidak. Tapi melihat betapa indah dan kokoh belati ini, sudah cukup untuk menjualnya."
Alaric menatap belati itu lama, lalu bertanya, "Apa ada barang lain yang dibuat dari bagian tubuh monster?"
Pedagang berpikir. "Belum saat ini. Tapi di wilayah timur aku dengar ada pedagang yang memproduksi barang seperti itu."
Wajah Alaric mengeras.
Jadi bukan hanya jual beli monster sebagai peliharaan. Tubuh mereka pun diperdagangkan. Perburuan ini benar-benar akan panjang, batin Alaric.
"Terima kasih informasinya," kata Alaric dingin.
"Bukan masalah, Yang Mulia," jawab sang pedagang.
Alaric lalu menoleh ke Liora yang masih memandangi belati dengan penuh minat.
"Sepertinya istriku lebih menyukai senjata daripada perhiasan," kata Alaric.
Liora merengut dengan wajah merona, tanda kalau ucapan Alaric memang benar.
Alaric mendekat ke Gideon dan berbisik, "Siapkan perjalanan secepatnya. Wilayah timur harus dibereskan segera."
Gideon mengangguk. "Akan saya siapkan."
Namun ketika semua orang kembali sibuk, Alaric menatap Liora sekali lagi.
Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
Tawa, canda, kemewahan, semuanya terasa sementara.
Karena jauh di timur, sesuatu yang gelap sedang menunggu.
Dan perjalanan ini ... mungkin akan memisahkan mereka lebih lama dari yang ingin Alaric akui.
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣
hbs nangis ketawa ngakak saat baca
Pipi gembul kesayangan Alaric... menghilang. 🤣🤣🤣
semoga Alaric baik² saja, othor membuyku menangis lagi 😭
ommoooo