Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Arfan bertindak cepat, dia membawa pasukan elit yang mereka punya untuk datang ke sarang musuh, sesuai arahan dari Alex tadi.
Terjadi perkelahian sengit antara pasukan yang dibawah oleh Arfan dengan pasukan yang berada diluar rumah, suara tembakan menggema disana.
"Keluarlah, sarang kalian sudah terkepung". Ucap Arfan dengan tajam dan dingin.
Tatapan yang hampir mirip dengan tatapan Alex yang membuat siapapun pasti merasa gemetar.
Dia menendang pintu kayu itu dengan sekali hentakan, menimbulkan bunyi yang sangat nyaring membuat orang-orang yang ada didalam langsung berhamburan mencari perlengkapan mereka karena mereka pikir semua orang itu tidak akan berani masuk kedalam.
Sedangkan orang yang menjadi salah satu otak dari kecelakaan Wina dan kawan-kawannya pun tersentak dan terkejut.
"Bagaimana bisa mereka menemukan dirinya secepat ini dan bisa masuk kedalam rumah padahal anak buahnya diluar sangat banyak". Pikirnya tidak percaya.
"Kalian pikir akan lolos setelah melakukan hal yang keterlaluan dan mengancam keselamatan kesayangan bos kami dan keluarganya, jangan harap!". Ucapnya sambil menunjuk mereka semua dengan geram.
Lelaki itu langsung berdiri dari duduknya dan menatap Arfan dengan penuh emosi
"Kalian mencari mati dengan masuk kedalam sarang singa, kalian semua tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup". Ucap orang itu dengan penuh emosi dan tangan mengepal.
Dia sengaja mengancam dan membuat Naga putih itu ketakutan dengan ancamannya tapi sayangnya wajah lelaki dihadapannya ini tak menunjukkan ekspresi takut melainkan menantang dan tegas.
Arfan terkekeh pelan, dia sudah biasa menghabiskan manusia-manusia seperti mereka yang hanya bisa membual saja
"Mari kita lihat apakah yang kamu katakan itu benar adanya, kamu benar-benar bernyali besar melakukan hal itu pada kesayangan pemimpin Naga putih tuan Pramudya". Ucapnya dengan langkah mantap mendekati Pramudya yang kini menatapnya dengan ketakutan.
Pramudya segera mengeluarkan senjatanya dan berusaha menodongkan kepada lelaki ini tetapi langkahnya terhenti melihat senjata yang kini tepat berada di jidatnya.
Matanya membesar sempurna, bagaimana ada orang yang bisa bergerak secepat bayangan seperti ini padahal dia hanya menoleh belum sedetik untuk mengambil pistolnya tetapi pistol itu sudah ada di kepalanya dan siap diledakkan.
"Kami bukan lawanmu tuan, kamu akan tahu bagaimana kami menyingkirkan orang-orang yang selalu mencari gara-gara dan mengusik orang yang kami sayangi hanya karena mereka tidak senang pada orang lain yang menghalanginya".
Bugh..
Pramudya tersungkur karena pukulan keras dari Arfan, kepalanya langsung berdenyut hebat karena pukulan itu terasa sangat sakit.
Dia tidak tahu jika orang dihadapannya ini memiliki pukulan yang sangat keras karena sudah terlatih sejak remaja.
"Kamu sudah membangunkan macan tidur tuan, maka lihatlah bagaimana macan itu menerkam kamu sekarang juga dan semua yang bekerjasama denganmu akan mendapatkan gilirannya".
Arfan langsung menendang tubuh Pram dengan keras, membuat lelaki muda itu meringis dan menjerit kesakitan.
"Akh".
Dor..dor.
Terdengar suara tembakan membuat Arfan langsung menarik Pram dengan keras untuk mendekati dirinya, dia akan menjadikan Pramudya sebagai tameng ketika orang itu menembak dirinya.
"Lepaskan aku, lepaskan aku". Pramudya memberontak berusaha melepaskan tarikan Arfan padanya.
"Diam". Bentak Arfan dengan kasar.
Arfan mengalihkan pandangannya kepada orang yang baru saja mendekati mereka dengan menodongkan pistolnya, tak ada rasa takut dalam dirinya , dia sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini dalam pertarungan.
"Lepaskan adikku sialan, atau ku tembak kepalamu sekarang juga".
Hardik lelaki yang baru saja datang menembak beberapa orang pasukan Arfan walau mereka langsung menghindar dan tidak terkena tembakan itu.
Arfan terkekeh pelan, dia seolah tidak terkejut dengan bentakan dan teriakan lelaki itu, dia sengaja mempermainkan emosi orang itu agar lengah.
"Oh yah, sayangnya saya tidak berminat untuk melepaskan manusia sialan yang berada dihadapan saya ini". Arfan menodongkan senjatanya ke kepala Pramudya dengan kasar.
"Sialan, apa kamu tuli, kubilang lepaskan adikku". Lelaki bernama Prasetya itu langsung menembak tetapi Arfan menggunakan tubuh Pramudya sehingga yang tertembak adalah Pramudya pada tangannya
"Akh". Jerit Pramudya dengan kencang karena tangannya tertembak oleh kakaknya sendiri
"Dek". Teriak Pras dengan amarah sekaligus khawatir karena tembakannya malah mengenai sang adik.
Dia menatap tajam seakan ingin membunuh Arfan dengan buas.
"Sebaiknya anda belajar menembak lagi tuan Pras, anda pikir saya tidak punya tameng jika anda berusaha menembak saya lagi, semakin banyak anda menembak maka adik anda juga akan mati perlahan".
Arfan malah tertawa mengejek kearahnya dengan tatapan sangat meremehkannya.
"Kurang ajar, lepaskan aku bilang". Hardiknya mendekati Arfan dan berusaha menyerangnya
Arfan langsung menendang wajah Pras dengan menumpuhkan badannya kepada Pram dan menendang wajah itu dengan gerakan memutar membuat Pras tersungkur menabrak kursi yang ada dibelakangnya.
Arfan menyingkirkan Pram dengan kasar dan. Melemparnya dengan keras dan ditangkap baik oleh pasukannya yang sudah tahu tujuan Arfan melempar Pram seperti itu.
"Bawah dia, aku akan mengurus lelaki satu ini terlebih dahulu".
"Baik bos".
Mereka menarik paksa Pram yang memberontak karena tidak ingin dibawah sedangkan Pras langsung menoleh dan berusaha menembak mereka tapi sayangnya tembakan itu meleset dan tidak mengenai mereka sehingga mereka bisa membawa Pram keluar.
"Lepaskan adikku". Teriaknya melihat adiknya dibawah.
Arfan mendekati Pras dengan tatapan seolah ingin menunjukkan dirinya lah yang berkuasa setelah ini.
"Kamu pikir kamu bisa melukai saya yang sudah hidup dijalanan berpuluh tahun selama ini, jangan harap".
Ya Arfan memang hidup dijalanan setelah kedua orangtuanya meninggal dunia dan dia akhirnya bertemu dengan Alex dan membantunya untuk tetap bekerja dan sekolah , Alex adalah penolong dan juga malaikat untuknya, bahkan jika Alex menginginkan nyawanya maka akan dia berikan.
Arfan maju dan menyerang Pras dengan brutal hingga dia terpental karena tendangan Arfan pada perutnya.
Uhuk..
Pras mengeluarkan darah dari mulutnya saat terbentur besi yang ada dihadapannya karena tendangan Arfan barusan.
"Kamu telah mengusik orang-orang yang dicintai oleh bos kami sekaligus sahabat saya dan kau pikir saya akan diam dan akan membiarkannya begitu saja?, kamu salah besar karena sekarang saya datang untuk mengambil nyawamu untuk dibawah kehadapan bos saya".
Pras kini menatap Arfan dengan ketakutan, dia tidak pernah berpikir jika akan berurusan dengan monster yang tidak punya hati.
"Kurang ajar, tidak akan kubiarkan kau melakukan ini padaku, akan kubalas kau dengan cara apapun". Teriaknya penuh emosi
Dia berusaha menyerang Arfan tetapi kalah telak dengan satu kali pukulan keras pada perutnya.
Bugh
Dia langsung terjatuh memegangi perutnya yang terasa amat sakit.
"Bawa dia, kita jadikan dia umpan untuk membuat yang lainnya keluar dengan sendirinya".