NovelToon NovelToon
ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.

Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.

Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.

Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.

"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."

Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.

Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5. AKIBAT

Kastil Ravens kembali hidup setelah hampir satu minggu berada dalam keheningan yang aneh.

Derak roda kereta perang berhenti di halaman depan, disambut barisan pelayan yang menunduk serempak. Bendera keluarga Ravens berkibar pelan tertiup angin senja ibukota, kelabu, tegas, tanpa hiasan. Seperti tuannya.

Duke Alaric Ravens turun dari kereta dengan mantel hitam masih melekat di bahunya, pedang perang tergantung di pinggang. Wajahnya dingin seperti biasa, mata baja yang sama sekali tak menunjukkan rasa lelah meski baru kembali dari urusan militer yang menguras tenaga.

"Panggil Gideon ke ruang kerjaku," perintah Alaric singkat.

Pelayan membungkuk. "Segera, Yang Mulia."

Tanpa menoleh ke kiri atau kanan, tanpa bertanya satu pun tentang istrinya, Duke Ravens melangkah masuk ke kastil yang kini ... telah berubah tanpa ia sadari.

Butuh beberapa saat bagi Gideon datang ke ruang kerja sang Duke tersebut.

Gideon masuk beberapa menit kemudian. Pria berambut perak dengan wajah tenang itu menutup pintu di belakangnya. Gerakannya halus, nyaris tanpa suara, jejak masa lalunya yang tak pernah benar-benar hilang.

"Anda memanggil saya, Yang Mulia?" ujar Gideon sopan ketika sudah berada di ruangan kerja Duke Alaric.

Alaric berdiri membelakangi jendela besar, tangan bersedekap. "Laporkan."

Gideon mengangkat alis tipis. "Tentang urusan militer ... atau tentang Nyonya Duchess?"

Alaric menoleh tajam. "Tentang istriku."

Satu kata itu terasa asing di lidah sang Duke namun terkesan ... memiliki.

Gideon tersenyum, bukan senyum mengejek, tapi seperti seseorang yang akhirnya mendengar hal yang ditunggu.

"Baik." Gideon berdeham pelan untuk memulai laporannya. Ia melangkah sedikit mendekat, sikapnya formal namun suaranya jujur.

"Nyonya Duchess sangat tenang selama hampir satu minggu ini," lanjut Gideon.

Alaric mengernyit. "Tenang?"

"Iya," jawab Gideon mantap. "Sangat tenang."

Hening jatuh di ruangan.

Alaric tidak percaya dengan yang ia dengar. Perempuan yang terkenal selalu berbuat ulah dan kasar justru Gideon bilang tenang? Apa Gideon sudah tidak waras?

Gideon melanjutkan, "Beliau ramah kepada para pelayan. Tidak pernah meninggikan suara. Bahkan ketika beberapa pelayan awalnya bersikap canggung, atau jujur saja, ragu ... Nyonya Duchess hanya tersenyum dan memperkenalkan diri seolah tidak ada apa-apa."

Alaric memutar tubuh sepenuhnya menghadap Gideon.

"Dia .... tidak membuat masalah?" tanya Alaric seolah menunggu bagian itu sejak seminggu lalu.

"Tidak sama sekali," jawab Gideon langsung.

"Tidak marah? Tidak mengamuk?" tanya Alaric lagi, memastikan.

"Tidak," Gideon menjawab tanpa memudarkan senyumnya.

"Tidak mengeluh?"

“Tidak.”

Alaric terdiam.

Gideon menambahkan dengan nada yang sedikit lebih serius, "Beliau bahkan menolak pelayan pribadi yang telah ditunjuk."

"Kau bercanda. Mana mungkin seorang Lady apalagi seperti Putri Count tanpa pelayan," decih Alaric tak percaya.

"Tidak, Yang Mulia. Saya ingat jelas Nyonya Duchess berkata, 'Aku terbiasa mengurus diriku sendiri. Jangan memaksakan keramahan.' Aku jadi merasa sedih ketika mendengarnya, seolah orang-orang di sini hanya ramah sebagai formalitas saja kepada Duchess."

Alaric menghela napas perlahan, seperti seseorang yang baru saja menerima laporan yang bertentangan dengan semua yang ia dengar selama ini.

"Bagaimana dengan urusan kediaman? Kau mengurusnya dengan baik?" tanya Alaric.

Gideon tersenyum senang. "Justru itu yang paling mengejutkan."

Alaric mengangkat sebelah alisnya.

Gideon mengambil map tipis dari balik jasnya dan meletakkannya di meja.

"Nyonya Duchess meminta laporan keuangan kediaman Duke. Hanya sekali membaca. Tidak sampai satu jam," kata Gideon dengan senyum lebar.

Alaric menatap map itu. "Liora?"

"Beliau langsung memahami alur pemasukan dan pengeluaran. Menunjukkan ketidakseimbangan di bagian logistik musim dingin. Bahkan memberi saran untuk memangkas biaya tanpa mengurangi kesejahteraan pelayan," lanjut Gideon penuh kebanggaan.

Alaric menatap Gideon tidak percaya. "Liora Montclair melakukan semua itu?"

Gideon mengangguk. Lalu wajahnya berubah sedikit tidak senang. "Yang Mulia, sekarang dia adalah Duchess Liora Ravens, istrimu, jangan lupakan itu. Dan izinkan saya berkata jujur."

Alaric menyipitkan mata. "Katakan."

"Saya rasa rumor tentang Nyonya Duchess itu tidak benar," ujar Gideon.

Kalimat itu jatuh berat.

"Bahkan," lanjut Gideon dengan nada dingin, "bagi saya, itu sudah termasuk penghinaan. Menjatuhkan nama baik seorang Lady sampai ke titik itu adalah tindakan keji."

Alaric terdiam lama. Ia mengenal Gideon lebih dari siapa pun. Pria ini tidak akan berbohong. Tidak akan memihak tanpa alasan.

"Kalau begitu," ucap Alaric akhirnya, suaranya rendah, "kenapa semua laporan tentangnya begitu buruk?"

Gideon tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia menatap Duke-nya dengan tajam.

"Pertanyaan yang lebih tepat sekarang, Yang Mulia," kata Gideon pelan, "adalah kenapa Anda meninggalkan resepsi pernikahan dan malam pertama Anda?"

Alaric tersentak. "Apa maksudmu?"

"Karena tindakan Anda itu justru membuat nama Nyonya Duchess semakin buruk. Anda pergi tanpa penjelasan. Baru kembali satu minggu setelahnya. Dan selama itu, Beliau menanggung semua bisik-bisik sendirian," lanjut Gideon tanpa gentar,

Alaric mengepalkan tangan. "Itu urusan-"

"Itu urusan kehormatan seorang perempuan," potong Gideon tajam. "Dan Anda gagal menjaganya, terlebih kehormatan istri Anda sendiri."

Suasana berubah tegang.

"Anda tahu rumor yang beredar?" Gideon melanjutkan, suaranya lebih dingin. "Mereka bilang Anda jijik pada tubuh Nyonya Duchess karena dia gendut."

Alaric langsung membentak, "Aku tidak pernah mengatakan apa pun tentang tubuhnya!"

"Benar. Tapi sikap Anda berbicara lebih keras dari kata-kata," papar Gideon tanpa rasa takut.

Keheningan menghantam ruangan.

"Berani sekali kau," geram Alaric.

"Tentu saja saya berani," balas Gideon. "Karena Anda membuat Duchess dipermalukan. Dan itu bukan sikap seorang pria, apalagi Duke. Beruntung orang tua Anda tidak dapat hadir di pernikahan karena masalah kesehatan, jika tidak mereka akan memenggal kepala Anda karena memperlakukan istri Anda seperti itu."

Alaric mendesis. "Kau pikir aku pria serendah itu?"

Gideon menatapnya lurus "Benar. Karena Anda membiarkan orang lain menginjak-injak Duchess dengan kelakuan Anda."

Alaric menggeram, hendak membalas,

Namun suara tawa dari luar jendela menghentikannya.

Ringan. Jernih. Dan penuh kebahagiaan.

Alaric menoleh refleks.

Di halaman samping kastil, seorang bocah kecil berambut cokelat berlari-lari mengejar kupu-kupu, tawanya pecah tanpa beban. Di atas kain piknik, seorang wanita bertubuh berisi duduk sambil tertawa riang, wajahnya cerah, matanya hangat.

"Ah," Gideon berkata sambil tersenyum, "Tuan Rowan sedang bersama Duchess lagi."

Alaric membeku. "Rowan?" ulangnya pelan.

"Iya," jawab Gideon.

"Keponakanku?" konfirmasi Alaric.

"Apakah otak Anda rusak karena terlalu banyak bertarung," sarkas Gideon karena sejak tadi Alaric terus mengulang pertanyaan.

"Aku hanya memastikan. Rowan yang tidak suka dekat dengan orang asing justru dekat dengan Liora?"

"Benar, mereka bahkan sangat lengket," jawab Gideon ringan.

Alaric menatap halaman itu lama.

Rowan berlari ke arah Liora, terjatuh, lalu tertawa sendiri. Liora segera bangkit setengah berdiri, menepuk lutut bocah itu dengan penuh perhatian, lalu memeluknya singkat.

Tidak ada canggung. Tidak ada jarak.

Hanya kehangatan.

"Mereka ... akrab," gumam Alaric.

"Sejak hari pertama,Rowan menyukai Duchess. Dan Rowan menjadi satu-satunya yang dekat dengan Duchess di kediaman in," jawab Gideon.

Alaric menelan ludah. Ia menyadari sesuatu yang ganjil. Bagaimana bisa perempuan yang dikenal kejam justru bisa memerlihatkan senyum sehangat itu?

"Gideon," ucap Alaric pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari jendela, "beritahu pelayan ... malam ini aku akan datang ke kamar Liora."

Gideon menoleh tajam. "Apa?"

"Aku akan menunaikan tugasku sebagai suami," kata Alaric.

Untuk sesaat, Gideon tidak mampu berkata apa pun.

Ia hanya menatap Duke-nya, pria dingin yang akhirnya mulai menyadari bahwa perempuan yang ia abaikan bukan seperti yang dunia katakan.

Di luar, tawa Liora kembali terdengar.

Dan entah kenapa Duke Alaric Ravens merasa gelisah mendengar tawa di luar sana.

1
hanachi_🌷
lalu .. hal besar apa yang sebenarnya diincar oleh kerajaan Varkhiel di wilayah timur kalau bukan pertambangan dan lahan pertanian ?
hanachi_🌷
suasana feodal yang kental banget.
aryuu
liora ini definisi bego di piara 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 udah dewasa cari kerja kek buat kabur rumah neraka itu🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Lah sudah tamat...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
penyihir hitam bawa pesan bahwa mereka datang lagi untuk menghancurkan semua kerjaan dan menciptakan kekuasaan mereka.. tapi yang jadi masalahnya adalah si pahlawan utamanya kayaknya si kecil.Elara yang bisa menghancurkan musuh .
kalau Elara punya kekuatan sihir merah terus Evan kira² punya kekuatan apa.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
si Twins punya kekuatan tersembunyi, dengan adanya kejadian ini mungkin Alaric dan Liora jadi akan lebih bisa mengontrol, melatih mereka biar si Twins bisa ke kontrol untuk mengeluarkan kekuatannya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Di bikin dagdigdug, eh si kecil Elara nyelamatin semua tanpa sadar dan di ketahui yang lain... apa teka teki dari si anak perempuan dulu tentang matahari itu adalah kekuatan si kecil Elara ya.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Istrinya Arram ke mana, kok ga ikut cuma berdua dengan Aaron.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Weh weh weh jangan bilang Aron yar jadi pasangannya Elara dan Alaric besanan sama Arram dong.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
si kembar Penghidup suasana.👏👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hihihiii... Gideon jadi paman favorit si Twins, ya meskipun kasihan sering jadi korban keusilan mereka tapi menjadi ciri khas kasih sayang mereka sama Gideon.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Gideon pawang Alaric sampe si Twins juga jadi lebih dekat ke Dia karna Gideon yang di bikin repot dan selalu menuhin saat masa ngidamnya Liora.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Lidahnya di tarik Rowan biar jelas bilang huruf R-nya./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selamat datang Twins, ternyata sepasang sesuai ucapan naka kecil perempuan waktu itu.👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Eh si Bodel baru nongol... Perut bibi mu besar karna ada sodaramu di sana.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selalu ada Gideon sebagai pemutus debat Alaric, Liora./Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Weh bakal ada anggota baru teman bermainnya Rowan.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sang Bulan dan Matahari sudah hadir kah di perut Liora.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Gass lah langsung saja eksekusi di situ di depan para bangsawan dan lainnya biar para ksatria yang sudah menjadi korban ga sia² mengorbankan nyawanya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ya ampun baru tau nama ayahnya Liora Count Bernard kayak tokoh film anak² si mata bulat, hidung hitam./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!