Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. AKIBAT
Kastil Ravens kembali hidup setelah hampir satu minggu berada dalam keheningan yang aneh.
Derak roda kereta perang berhenti di halaman depan, disambut barisan pelayan yang menunduk serempak. Bendera keluarga Ravens berkibar pelan tertiup angin senja ibukota, kelabu, tegas, tanpa hiasan. Seperti tuannya.
Duke Alaric Ravens turun dari kereta dengan mantel hitam masih melekat di bahunya, pedang perang tergantung di pinggang. Wajahnya dingin seperti biasa, mata baja yang sama sekali tak menunjukkan rasa lelah meski baru kembali dari urusan militer yang menguras tenaga.
"Panggil Gideon ke ruang kerjaku," perintah Alaric singkat.
Pelayan membungkuk. "Segera, Yang Mulia."
Tanpa menoleh ke kiri atau kanan, tanpa bertanya satu pun tentang istrinya, Duke Ravens melangkah masuk ke kastil yang kini ... telah berubah.
Butuh beberapa saat bagi Gideon datang ke ruang kerja sang Duke tersebut.
Gideon masuk beberapa menit kemudian. Pria berambut perak dengan wajah tenang itu menutup pintu di belakangnya. Gerakannya halus, nyaris tanpa suara, jejak masa lalunya yang tak pernah benar-benar hilang.
"Anda memanggil saya, Yang Mulia?" ujar Gideon sopan ketika sudah berada di ruangan kerja Duke Alaric.
Alaric berdiri membelakangi jendela besar, tangan bersedekap. "Laporkan."
Gideon mengangkat alis tipis. "Tentang urusan militer ... atau tentang Nyonya Duchess?"
Alaric menoleh tajam. "Tentang istriku."
Satu kata itu terasa asing di lidah sang Duke namun terkesan ... memiliki.
Gideon tersenyum kecil, bukan senyum mengejek, tapi seperti seseorang yang akhirnya mendengar hal yang ditunggu.
"Baik." Gideon berdeham pelan untuk memulai laporannya. Ia melangkah sedikit mendekat, sikapnya formal namun suaranya jujur.
"Nyonya Duchess sangat tenang selama hampir satu minggu ini," lanjut Gideon.
Alaric mengernyit. "Tenang?"
"Iya," jawab Gideon mantap. "Sangat tenang."
Hening jatuh di ruangan. Alaric tidak percaya dengan yang ia dengar. Perempuan yang terkenal selalu berbuat ulah dan kasar justru Gideon bilang tenang? Apa Gideon sudah tidak waras?
Gideon melanjutkan, "Beliau ramah kepada para pelayan. Tidak pernah meninggikan suara. Bahkan ketika beberapa pelayan awalnya bersikap canggung, atau jujur saja, ragu, Nyonya Duchess hanya tersenyum dan memperkenalkan diri seolah tidak ada apa-apa."
Alaric memutar tubuh sepenuhnya menghadap Gideon.
"Dia .... tidak membuat masalah?" tanya Alaric seolah menunggu bagian itu sejak seminggu lalu.
"Tidak sama sekali," jawab Gideon langsung.
"Tidak marah? Tidak mengamuk?" tanya Alaric lagi, memastikan.
"Tidak," Gideon menjawab tanpa memudarkan senyumnya.
"Tidak mengeluh?"
“Tidak.”
Alaric terdiam.
Gideon menambahkan dengan nada yang sedikit lebih serius, "Beliau bahkan menolak pelayan pribadi yang telah ditunjuk."
"Kau bercanda. Mana mungkin seorang Lady apalagi seperti Liora tanpa pelayan," decih Alaric tak percaya.
"Tidak, Yang Mulia. Saya ingat jelas Nyonya Duchess berkata, 'Aku terbiasa mengurus diriku sendiri. Jangan memaksakan keramahan.' Aku jadi merasa sedih ketika mendengarnya, seolah orang-orang di sini hanya ramah sebagai formalitas saja kepada Duchess."
Alaric menghela napas perlahan, seperti seseorang yang baru saja menerima laporan yang bertentangan dengan semua yang ia dengar selama ini.
"Bagaimana dengan urusan kediaman? Kau mengurusnya dengan baik?" tanya Alaric.
Gideon tersenyum tipis. "Justru itu yang paling mengejutkan."
Alaric mengangkat sebelah alisnya.
Gideon mengambil map tipis dari balik jasnya dan meletakkannya di meja.
"Nyonya Duchess meminta laporan keuangan kediaman Duke. Hanya sekali membaca. Tidak sampai satu jam," kata Gideon dengan senyum lebar.
Alaric menatap map itu. "Liora?"
"Beliau langsung memahami alur pemasukan dan pengeluaran. Menunjukkan ketidakseimbangan di bagian logistik musim dingin. Bahkan memberi saran untuk memangkas biaya tanpa mengurangi kesejahteraan pelayan," lanjut Gideon penuh kebanggaan.
Alaric menatap Gideon tidak percaya. "Liora Montclair melakukan semua itu?"
Gideon mengangguk. Lalu wajahnya berubah sedikit tidak senang. "Yang Mulia, sekarang dia Liora Ravens, istrimu, jangan lupakan itu. Dan izinkan saya berkata jujur."
Alaric menyipitkan mata. "Katakan."
"Saya rasa rumor tentang Nyonya Duchess itu tidak benar," ujar Gideon.
Kalimat itu jatuh berat.
"Bahkan," lanjut Gideon dengan nada dingin, "bagi saya, itu sudah termasuk penghinaan. Menjatuhkan nama baik seorang Lady sampai ke titik itu adalah tindakan keji."
Alaric terdiam lama. Ia mengenal Gideon lebih dari siapa pun. Pria ini tidak akan berbohong. Tidak akan memihak tanpa alasan.
"Kalau begitu," ucap Alaric akhirnya, suaranya rendah, "kenapa semua laporan tentangnya begitu buruk?"
Gideon tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia menatap Duke-nya dengan tajam.
"Pertanyaan yang lebih tepat sekarang, Yang Mulia," kata Gideon pelan, "adalah kenapa Anda meninggalkan resepsi pernikahan dan malam pertama Anda?"
Alaric tersentak. "Apa maksudmu?"
"Karena tindakan Anda," lanjut Gideon tanpa gentar, "membuat nama Nyonya Duchess semakin buruk. Anda pergi tanpa penjelasan. Baru kembali satu minggu setelahnya. Dan selama itu, Beliau menanggung semua bisik-bisik sendirian."
Alaric mengepalkan tangan. "Itu urusan-"
"Itu urusan kehormatan seorang perempuan," potong Gideon tajam. "Dan Anda gagal menjaganya."
Suasana berubah tegang.
"Anda tahu rumor yang beredar?" Gideon melanjutkan, suaranya lebih dingin. "Mereka bilang Anda jijik pada tubuh Nyonya Duchess karena dia gendut."
Alaric langsung membentak, "Aku tidak pernah mengatakan apa pun tentang tubuhnya!"
"Benar," sahut Gideon tanpa gentar. "Tapi sikap Anda berbicara lebih keras dari kata-kata."
Keheningan menghantam ruangan.
"Berani sekali kau," geram Alaric.
"Tentu saja saya berani," balas Gideon. "Karena Anda membuat Duchess dipermalukan. Dan itu bukan sikap seorang pria, apalagi Duke."
Alaric mendesis. "Kau pikir aku pria serendah itu?"
Gideon menatapnya lurus "Benar. Karena Anda membiarkan orang lain menginjak-injak Duchess dengan kelakuan Anda."
Alaric menggeram, hendak membalas,
Namun suara tawa kecil dari luar jendela menghentikannya.
Ringan. Jernih. Anak-anak.
Alaric menoleh refleks.
Di halaman samping kastil, seorang bocah kecil berambut cokelat berlari-lari mengejar kupu-kupu, tawanya pecah tanpa beban. Di atas kain piknik, seorang wanita bertubuh berisi duduk sambil tertawa kecil, wajahnya cerah, matanya hangat.
"Ah," Gideon berkata sambil tersenyum, "Tuan Rowan sedang bersama Duchess lagi."
Alaric membeku. "Rowan?" ulangnya pelan.
"Iya," jawab Gideon.
"Keponakanku?" konfirmasi Alaric.
"Apakah otak Anda rusak karena terlalu banyak bertarung," sarkas Gideon karena sejak tadi Alaric terus mengulang pertanyaan.
"Aku hanya memastikan. Rowan yang tidak suka dekat dengan orang asing justru dekat dengan Liora?"
"Benar, mereka bahkan sangat lengket," jawab Gideon ringan.
Alaric menatap halaman itu lama.
Rowan berlari ke arah Liora, terjatuh, lalu tertawa sendiri. Liora segera bangkit setengah berdiri, menepuk lutut bocah itu dengan penuh perhatian, lalu memeluknya singkat.
Tidak ada canggung. Tidak ada jarak.
Hanya kehangatan.
"Mereka ... akrab," gumam Alaric.
"Sejak hari pertama," jawab Gideon. "Rowan menyukai Duchess. Dan Rowan menjadi satu-satunya yang dekat dengan Duchess di kediaman ini."
Alaric menelan ludah. Ia menyadari sesuatu yang ganjil. Bagaimana bisa perempuan yang dikenal kejam justru bisa memerlihatkan senyum sehangat itu?
"Gideon," ucap Alaric pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari jendela, "beritahu pelayan ... malam ini aku akan datang ke kamar Liora."
Gideon menoleh tajam. "Apa?"
"Aku akan menunaikan tugasku sebagai suami," kata Alaric.
Untuk sesaat, Gideon tidak mampu berkata apa pun.
Ia hanya menatap Duke-nya, pria dingin yang akhirnya mulai menyadari bahwa perempuan yang ia abaikan bukan seperti yang dunia katakan.
Di luar, tawa Liora kembali terdengar.
Dan entah kenapa Duke Alaric Ravens merasa gelisah mendengar tawa di luar sana.
besok tunjukkan kecantikan dan kuasa mu Liora