NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Microwave yang Nyaris Meledak

Matahari pagi Jakarta menyelinap masuk melalui jendela kaca setinggi langit-langit di penthouse mewah itu, menyinari wajah Lana yang masih tampak kebingungan. Sudah dua jam sejak Arka meninggalkannya di ruang tengah untuk menghadiri rapat mendadak di kantornya. Penghuni lainnya—Jeno dan Ezra—tampaknya sudah kembali ke gua mereka masing-masing, entah tidur lagi atau tenggelam dalam dunia mereka sendiri.

Perut Lana berbunyi nyaring. Sejak semalam ia hanya makan sepotong roti yang dibelinya di terminal bus. Dengan langkah ragu, ia menyeret kakinya menuju dapur yang luasnya hampir menyamai luas rumah ibunya di desa. Semuanya di sini serba logam, kaca, dan marmer. Tidak ada tungku kayu, tidak ada kompor gas berkarat, apalagi jelaga hitam yang menempel di dinding.

"Lana laper banget," bisiknya pada diri sendiri.

Ia membuka tas anyamannya yang diletakkan di sudut meja makan marmer. Di dalamnya, masih tersisa rendang kering buatan Ibu yang dibungkus plastik dan sebuah piring kaleng kecil berwarna putih dengan pinggiran biru yang sudah sedikit terkelupas. Piring kesayangannya sejak kecil.

Lana menatap sekeliling dapur, mencari alat untuk memanaskan makanannya. Matanya tertuju pada sebuah kotak hitam mengilap yang tertanam rapi di dalam kabinet kayu. Bentuknya kotak, depannya kaca gelap, dan ada banyak tombol angka digital yang menyala biru.

"Ini mungkin oven yang sering dibilang orang kota itu ya?" gumam Lana. "Tapi kok nggak ada apinya?"

Lana meletakkan rendangnya di atas piring kaleng, lalu membuka pintu kotak kaca itu. Ia memasukkannya ke dalam, menutup pintunya dengan pelan, dan mulai menekan tombol-tombolnya secara acak. Ia menekan angka 9-9-9, berharap kotak itu segera memberikan panas yang cukup untuk daging rendangnya.

Wuuuuunnnnggg...

Mesin itu mulai menderu halus. Piring kaleng di dalamnya mulai berputar di atas piringan kaca. Lana tersenyum kecil, merasa bangga karena akhirnya bisa mengoperasikan satu teknologi di rumah ini tanpa bantuan siapapun. Namun, senyum itu hanya bertahan tiga detik.

Ctek! Ctek! BLARRR!

Tiba-tiba, kilatan cahaya biru keputihan menyambar-nyambar di dalam kotak kaca itu. Percikan api muncul dari pinggiran piring kaleng Lana, menghantam dinding dalam mesin dengan suara berisik yang mengerikan. Bau sangit plastik terbakar langsung memenuhi indra penciuman Lana.

"Aduh! Keluar petir! Kotaknya marah!" teriak Lana panik. Ia mundur teratur, tangannya menutupi mulut karena ketakutan. "Kak Arka! Tolong! Kotaknya meledak!"

Lana terus mundur hingga punggungnya menabrak kulkas dua pintu yang dingin. Air mata kepanikan mulai mengalir. Ia takut seluruh gedung ini akan terbakar hanya karena ia ingin memanaskan sepotong rendang.

"Woi! Apaan nih? Bau angus banget, nyet!"

Sebuah suara bariton yang terdengar tegas namun santai muncul dari arah koridor. Seorang pria dengan kacamata berbingkai hitam, rambut yang tertata rapi meski hanya memakai kaos rumah, dan sebuah buku tebal di tangannya berlari kencang menuju dapur. Itu Rian. Sang dosen muda yang biasanya selalu tenang kini tampak sangat waspada.

"Gila! Lo ngapain, hah?!" seru Rian kaget saat melihat kilatan api di dalam microwave.

Rian dengan sigap menekan tombol pembatalan dan mencabut kabel daya yang tersembunyi di balik kabinet dengan gerakan cepat. Mesin itu mati seketika. Asap tipis berwarna abu-abu keluar dari celah pintu microwave yang terbuka otomatis. Piring kaleng kebanggaan Lana kini menghitam di beberapa sudut, dan rendangnya tampak kering mengenaskan.

Rian mengibas-ngibaskan asap dengan tangannya, lalu menoleh ke arah Lana yang sudah meringkuk di pojok kulkas sambil gemetaran.

"Lana, lo waras nggak sih? Lo mau bikin kita semua jadi sate apa gimana?" cecar Rian dengan nada tinggi, khas orang yang baru saja kena serangan jantung karena kaget. "Kenapa lo masukin besi ke dalem microwave, hah? Lo nggak tau kalau itu bisa bikin rumah ini kebakar?"

Lana menunduk dalam, bahunya naik turun karena isak tangis yang mulai pecah. "Maafin Lana, Kak Rian... Lana nggak tau. Lana cuma mau panasin rendang dari Ibu. Lana pikir itu kotak buat masak, jadi Lana masukin aja piringnya."

Melihat Lana yang menangis sesenggukan dengan wajah yang sangat pucat, amarah Rian yang tadinya meluap tiba-tiba surut begitu saja. Logikanya sebagai dosen yang biasanya keras pada mahasiswa seketika luntur melihat kegaduhan yang jujur ini. Ia menghela napas panjang, meletakkan bukunya di meja, dan berjalan mendekati Lana.

"Duh, jangan nangis dong. Gue nggak bermaksud bentak lo, Lan," ucap Rian, suaranya kini jauh lebih lembut. "Sumpah, gue cuma kaget doang. Jangan baper gitu lah, ntar gue dikira ngapa-ngapain lo sama Arka."

Rian berdiri tepat di depan Lana, menghalangi pandangan gadis itu dari dapur yang berasap. "Udah, hapus air mata lo. Sini, gue kasih tau biar lo nggak bego-bego amat soal ginian."

Lana mendongak dengan mata sembab. "Lana minta maaf, Kak Rian. Lana janji nggak akan bikin Kak Rian bingung atau marah lagi. Lana bakal hati-hati."

Rian terdiam menatap mata jernih itu. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya, rasa ingin melindungi yang tiba-tiba muncul tanpa diundang. Ia berbalik menuju microwave yang sudah bersih dari asap.

"Sini lo, deketan. Biar lo paham," perintah Rian.

Lana melangkah maju dengan ragu, berdiri di samping Rian. Rian kemudian mengambil sebuah piring keramik putih bersih yang sangat cantik dari rak atas. Ia memindahkan rendang Lana ke piring keramik itu.

"Dengerin gue ya, Lana. Ini namanya microwave. Dia itu kerjanya pakai gelombang mikro, bukan api langsung kayak di kampung lo," jelas Rian sambil mulai menata rendang itu. "Benda logam, apalagi kaleng rombeng kayak piring lo tadi, itu musuh utamanya. Kalau lo masukin besi, gelombangnya mantul, dan ya itu tadi... keluar petir. Paham nggak lo?"

Lana mengangguk pelan, meskipun sebenarnya ia hanya paham separuhnya. "Paham, Kak Rian. Jadi harus pakai piring yang kayak gitu ya?"

"Iya, keramik atau kaca yang tebel. Kayak gini," Rian memasukkan piring keramik itu ke dalam microwave.

Tiba-tiba, Rian melangkah ke belakang Lana. Sebelum Lana sempat bereaksi, Rian melingkarkan kedua lengannya dari belakang, seolah-olah sedang memeluk Lana dalam dekapan yang sangat erat. Tangan kanan Rian mengarah ke panel digital, sementara tangan kirinya bertumpu pada pinggiran meja, mengunci posisi Lana di antara tubuhnya dan meja dapur.

Lana bisa merasakan dada bidang Rian menempel di punggungnya. Aroma parfum Rian yang seperti bau buku lama dicampur dengan aroma jeruk segar menyeruak masuk ke hidungnya, membuat kepala Lana sedikit pening namun nyaman.

"Sini, tangan lo," bisik Rian tepat di samping telinga Lana. Napasnya yang hangat membuat bulu kuduk Lana meremang.

Lana memberikan tangan kanannya yang gemetar. Rian menggenggam jemari Lana, menuntun jari telunjuk gadis itu untuk menekan tombol '30 seconds'.

"Tekan yang ini kalau cuma mau manasin sebentar. Terus tekan start di sini," Rian membimbing jari Lana dengan gerakan yang sangat pelan, seolah-olah sedang mengajarinya menulis alfabet. "Jangan pernah asal tekan angka sembilan kayak tadi, lo kira ini lagi main lotre?"

Lana hanya bisa mengangguk kaku. Jantungnya berdegup sangat kencang, jauh lebih kencang daripada saat microwave itu mengeluarkan percikan api tadi. "I-iya, Kak Rian. Makasih ya udah kasih tahu aku."

"Sama-sama," jawab Rian pendek. Ia tidak segera melepaskan dekapannya. Ia justru sedikit mencondongkan wajahnya, memperhatikan profil samping wajah Lana yang memerah. "Lo kalau dibilangin tuh dengerin, jangan cuma bengong. Lo cantik-cantik tapi polosnya kelewatan, bisa bahaya kalau lo dilepas sendirian di Jakarta."

Rian akhirnya melepaskan dekapannya setelah microwave berbunyi ting!. Ia mengambil piring rendang yang sudah hangat dan memberikannya pada Lana.

"Nih, makan. Jangan sampai lo pingsan di sini, ntar gue yang repot harus kasih napas buatan," celetuk Rian dengan nada bercanda khas pria kota, namun ada kilat serius di matanya.

Lana menerima piring itu dengan malu-malu. "Makasih banyak, Kak Rian. Kak Rian baik banget sama Lana."

Rian mendengus, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya. "Yaudah, gue balik ke kamar dulu. Ada jurnal yang harus gue periksa. Kalau ada apa-apa, lo teriak aja, tapi jangan bikin ledakan lagi. Ngerti nggak lo?"

"Ngerti, Kak Rian!" jawab Lana dengan senyum kecil yang mulai muncul di bibirnya.

Rian berjalan pergi, namun sebelum benar-benar menghilang di balik lorong, ia sempat bergumam pelan yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri, "Sial, kok gue jadi deg-degan sendiri ya sama bocah desa itu? Gak asik banget lo, Rian."

Lana duduk di meja makan, menyantap rendangnya dengan perasaan yang campur aduk. Hangat rendang itu tidak sebanding dengan hangatnya dekapan Rian tadi. Ia mulai sadar, bahwa hidup di penthouse ini bukan hanya soal teknologi canggih yang membingungkan, tapi juga soal perasaan-perasaan baru yang mulai menyusup ke dalam hatinya.

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!