NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uutami

"Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?"
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

Tok. Tok.

"Assalamu’alaikum."

Pak Hasto membuka pintu lebih lebar. Seorang pria berdiri di ambang, kemeja biru muda, celana kain rapi, wajahnya tegang namun sopan.

"Ridho?" Pak Hasto terkejut. "Masuk."

Ridho melangkah masuk. Tatapannya langsung tertuju ke arah ruang tamu, ke Dewi yang duduk dengan wajah berbinar.

"Mas Ridho!?"

Bu Sumi yang langsung berdiri, "Oh, nak Ridho. Ada apa? Masuk dulu."

Pandangan Ridho lalu bergeser… ke arah pintu kamar Ning yang tertutup.

"Ada apa malam-malam begini, Dho?" tanya Pak Hasto.

Ridho menelan ludah. "Ning ada, Pak?"

"Ning!? Ngapain kamu masih nyari-nyari Ning?" suara Bu Sumi langsung tinggi. "Sudah ibu bilang, dia itu mewarisi darah pelakor ibunya! Lihat! Sekarang malah mau merebut calon kakaknya! Terlalu memang!"

"Buk! Jangan begitu!" tegur Pak Hasto. "Dari pada marah-marah, lebih baik ibu buatkan minum untuk tamu kita."

"Aku?" Mata bu Sumi mendelik, bibirnya manyun. Lalu berteriak keras, "Ning! Keluar kamu! Buatkan minum buat tamu kita! Jangan mau enak nya aja kamu numpang di sini!"

Ning muncul dari kamar dengan bantuan Kruk di bawah ketiaknya.

"Iya, buk?"

"Buatkan minum! Jangan jadi benalu di sini!"

Ning menunduk, lalu berlalu ke dalam. Ridho ingin menahan, tapi hanya sampai di ujung lidah.

"Biar aku awasi, Buk. Takutnya dia kasih pelet biar Mas Ridho terjerat sama dia," ujar Dewi beranjak dan masuk ke dalam, menyusul.

Ridho hanya menggeleng.

"Dewi!" tegur Pak Hasto. "Ning tidak begitu."

"Terus saja bela anak perempuan sundal itu!"

Pak Hasto memejamkan mata, tangannya mengepal di bawah meja. ia memang sekuatnya menahan amarah. Ia membuka mata, lalu menanyakan maksud Ridho datang.

"Ada apa kamu kemari, Nak?"

"Saya mau bicara. Soal lamaran saya."

Udara mendadak berat.

Bu Sumi langsung menoleh, tatapannya jadi lebih tajam.

Ridho menarik napas panjang. "Saya mau dengar langsung dari Ning, Pak. Apa dia mau menerima lamaran saya."

Bu Sumi terkekeh sinis. "Dengar? Buat apa dengar lagi. Sudah jelas Ning itu cuma bikin masalah."

"Ning bukan masalah, Bu," Ridho menahan emosi. "Saya datang baik-baik."

"Baik-baik?" Dewi muncul dengan membawa baki dan air minum. "Mas Ridho sadar enggak sih? Selama ini yang temenan sama Mas di kantor itu aku. Yang sering Mas temui di rumah juga aku. Tapi sekarang Mas malah datang buat dia?" tanyanya sambil meletakkan baki itu di atas meja.

Ridho menatap Dewi. "Perasaan itu enggak bisa dipaksa, Wi."

"Jadi kamu nuduh aku maksa?" suara Dewi meninggi. "Atau… dia yang rayu kamu, Mas?!"

Ning keluar dengan langkah pincang pelan, membawa beberapa toples makanan, matanya menunduk.

Ridho langsung berdiri. "Ning…"

"Ning ngapain keluar?" Dewi menyentak. "Tadi kan udah kubilang jangan keluar! Kamu tempatnya di dapur!"

"Wi!" pak Hasto menegur lagi.

"Apa Yah? Mau bela Ning lagi!?" sambar Dewi yang sudah terlalu tersulut emosi. Ia menatap Ning penuh amarah. "Dengerin ya! Jangan sok lemah di depan Mas Ridho!"

Pak Hasto membentak, "Dewi, cukup!"

"Sikap kasar mu ini yang aku enggak suka, Wi!" ujar Ridho tajam. Ia melangkah mendekat ke Ning. "Ning, Mas mau dengar dari kamu. Apa kamu mau jadi istri Mas?"

Hening.

"Ning, lihat Mas... Mas pernah janji bakal bawa kamu pergi dari keluarga ini. Ning... Biarkan Mas tunaikan janji Mas Ning."

"Apa? Jadi emang kalian diam-diam ketemu di belakangku!?" sela Dewi. Dia makin kalap menatap menyalang pada adiknya. "Kamu! Ningsih! Dasar iblis!"

Tangan Dewi sudah terulur ke depan. Namun, Pak Hasto sudah menahannya dengan cepat.

"Dewi! Kendalikan dirimu!"

"Aaarrrhhhh!"

Ning menggenggam ujung gamisnya erat. Dadanya berdebar. Ia menyukai Ridho, diam-diam, dalam doa, dalam harapan yang tak pernah ia ucapkan. Tapi ia juga tahu, siapa dirinya. Pincang. Selalu jadi bayangan. Selalu yang harus mengalah.

Sebelum Ning sempat membuka mulut, Dewi menyela cepat, "Dia enggak mau."

Semua menoleh.

Ning terkejut. "Mbak..."

"Dia mau nikah!" Dewi menatap Ridho tajam. "Ning sudah mau menikah sama orang lain."

Ucapan itu seperti tamparan.

"Apa?" Ridho terpaku. "Ning?"

Ning menatap Dewi. Pandangan kakaknya itu tajam, mengancam, bibirnya terkatup rapat seperti memberi peringatan tanpa suara.

"Ning…" suara Ridho bergetar. "Saya mau dengar dari kamu."

Ning menelan ludah. Kepalanya pening. Tangannya gemetar. Perlahan… ia mengangguk.

"Iya, Mas," suaranya nyaris tak terdengar. "Ning… mau menikah."

Ridho terhuyung satu langkah. "Sama siapa?"

Ning diam.

"Jawab!" Dewi mendesis.

Ning menunduk lebih dalam. "Sama… orang lain."

Ridho tertawa kecil, pahit. "Mas tau kamu cuma… bohong, kan?"

"Enggak!" sambar Bu Sumi. Ridho menoleh padanya. "Dia memang mau menikah sama tukang ojek online. Dia sudah datang melamar sebelum kamu."

Ning menunduk, air matanya jatuh.

"Ning, katakan kalau ini bohong, Ning?" suara Ridho pecah.

Dewi maju satu langkah. "Dia emang mau nikah sama orang yang selevel sama dia. Tukang ojek, memang pantasnya sama cewek pincang ini!"

Pak Hasto membentak, "Cukup!"

Ridho menatap Ning lama. Ada harapan di matanya. "Katakan Ning," pintanya.

Ning mengangguk. "Iya, Mas," lirihnya.

keyakinan yang runtuh di mata Ridho. Ada kehancuran yang dalam di dadanya. Ia menggeleng, menolak. Lalu Ridho pergi. Pintu tertutup dengan bunyi pelan, tapi rasanya seperti dentuman besar di dada Ning.

Begitu pintu tertutup, Dewi meledak.

"Lihat tuh!" Dewi menuding Ning. "Ini semua gara-gara kamu, Ning! Ngapain kamu ada di rumah ini!?"

Bu Sumi ikut berdiri. "Dasar anak pembawa sial!"

"Ning enggak salah!" Pak Hasto membela.

"Salah!" Dewi berteriak. "Dia yang hancurin kebahagiaan Dewi! Ayah terus saja bela dia! Memang ayah enggak pernah sayang Dewi!"

"Dewi! Bagaimana bisa kamu punya pikiran seperti itu!?" Pak Hasto terkejut.

"Nikah!" Dewi menatap Ning penuh amarah. "Nikah sama si tukang ojek itu!!"

Ning terkejut. "Mbak…"

"Kamu enggak boleh ambil apa pun dari aku!" Dewi mendesis. "Mana nomor dia?! Yang dulu aku lempar ke kamu!"

Ning terdiam. Kepalanya tertunduk.

"Jawab!" Dewi mendorong bahu Ning.

Dewi makin geram, lalu berbalik cepat menuju kamar Ning. "Kalau gitu biar aku yang cari!"

"Dewi!" Pak Hasto mengejar, tapi Dewi sudah menutup membuka kamar Ning keras-keras.

Di dalam kamar, Dewi mengobrak-abrik. Laci dibuka, bantal dilempar, buku-buku jatuh. Hingga sebuah kertas kecil terlipat jatuh ke lantai.

Nomor telepon.

Dewi tersenyum dingin. "Ketemu."

Ia langsung menelepon.

****

Di tempat lain, Bastian menatap layar laptop dengan kening berkerut.

"Yud," katanya serius. "Gua dapet data rumah sakit."

Yuda yang sedang berdiri di depan jendela menoleh. "Kenapa?"

"Dua tahun lalu, kecelakaan di lokasi itu… yang dirawat resmi cuma Dewi."

"Terus?"

"Tapi saksi bilang… yang ketabrak itu gadis lain. Dan nama yang muncul di laporan internal, Ningsih."

Yuda membeku.

"Dewi cuma luka ringan," lanjut Bastian. "Yang luka parah… Ning."

Telepon Yuda berdering.

Nomor asing.

Yuda mengangkat perlahan. "Halo?"

1
Rebecca Jaimin
aku cari ternyata dia masih perawan ngk ada tuh
Rebecca Jaimin
karya yang hebat..mengajar apa itu keredhaan,kemaafan dan keikhlasan serta keindahan didalam semuanya itu..teruskan berkarya yg mampu membuka mata hati nurani..moga kita hidup tidak didasari dgn kepahitan masa lalu,tapi menjadikan teladan dn pengalaman di titi usia untuk menjadi insin yg lebih baik dari kemarin,lebih dewasa hari ini untuk hari ini dan dewasa memotivasikan hari esok..
Marina Tarigan
semoga jgn yg nya lina lqqmembenci ningsih Dewi Ranu dan nenek
Marina Tarigan
lanjut yg tetbsik bagi mereka ksrena sdh kedal dipertengahan jln deh
Marina Tarigan
keyemu kuntilanak cantik. hi hi hiii aku cinta kamu zRanu jgn istri juda pantang kualat kamu nanti Ningsih juga ngeri dan jijik melihatmu . bagus pak Deni anakmu tdk normal
Marina Tarigan
rRanu lesong alias gila alias bodoh mencintai istri orang sadarlah tuan kamu tdk laku ya cinta sm idtri orang ningsih taat agama dia bukan jalang tolol kamu mau hancurkan keluargamu sendiri
Marina Tarigan
ranu gila ys dia sakitin yg di tabrak sampai pincang kamu perlu dijebloskan kepenjsra tanpa bertanggung jswab apapun sm korban tabrskanmu otakmu kemana larinya tolol
Marina Tarigan
la jut ceritanya
Marina Tarigan
lanjutkan semoga semua stroke kecuali ningdih
Marina Tarigan
ya elah Ranu sdh iistrimu pun bisa pisah diambil orang ini kamu tabrak dia menferita tdk punya kuasa pincang tdk punya dans berobat dlm segi apapun tdk afa hakmu persoalkan itu juds menjsga dan merswat sampai operadi juga srmbuh total tdk ada sedikitpun jasamu di tubuh ningsinh berpikir jernih lah demi ketenanganmu ningsih bukan barang bisa diofer sesuma hatimu Arun aneh otakmu
Marina Tarigan
salon ning akan berkembang jgn saling merebut harta kalau orang tuamu tdk bijak biarkan saja tinggalkan semua juga ibumu itu yg tdk tegas sejal awsl doa hanya mikirkan Arun bukan rmh tgha mu
Marina Tarigan
bagus tak usah punya saudara begitu ning nukan pacarmu Ranu gomans sekarang ibu zaanggun radakan akibst perbuatsnmu itu anakmu akan saling menghancurkan
Marina Tarigan
biadap kamu Ranu awal kehancuran keluargamu Anggun
Marina Tarigan
salahkan ibumu tdk berterus terang terus maksa ningsih terus bantu therapimu tuan kelusrgamu tdk punya adab ya kalau adst kami ssngst pantang dekat sm ipsr sendiri apalagi sempst pegang apapun ceritanya mknya sussh dekat sama orang tdl punya adsb khusus ibumu dua2 anaknya tetluka korban ningsih jgn mau lagi ningsih biadap mertuamu itu
Marina Tarigan
pindsh saja Ning sm suamimu ke Salon kalian Ranu tdk tahu ning idtri juda ibu Anggun cari masallah
Marina Tarigan
keluarga kaya raya tapi punya ibu biadap jgn2 anakmu berdua saling membunuh aru tahu rasa dan ning kembali pd ridho karena merema saling mencintai dulu
Marina Tarigan
mama anggun tfk benar seorang ibu wataknya menyakiti anak sendiri Ranu belum tahu Ning istri juda fan dulupun ning bukan pacar Ranu dia merasa bersalah karena menabrkaknya dia mencari diA tdk ning istri adiknya juda apa ibu mau menghilir ning ke anak ibu berdua ning bukan barang ibu apa mau ning punya dua suami atau ibu
Marina Tarigan
ning kan bukan pacar Ranu Ning istrimu biadap sia2 kamu pintar dan masa sangsi sm Ranu dan ning bukan barang tak ada masallah apapun ningsih idyrimu atau kamu mau sm zDewi cerita aneh
Marina Tarigan
ning kan sdj fisayang sangat dinikahi juda dan ning sdh dioperasi hingga mormal kembali pikiran keluarga ini kok picik kali
Marina Tarigan
kepoĺosanmu ning bisa bawa petala pd
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!