“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Tok. Tok.
“Assalamu’alaikum.”
Pak Hasto membuka pintu lebih lebar. Seorang pria berdiri di ambang—kemeja biru muda, celana kain rapi, wajahnya tegang namun sopan.
“Ridho?” Pak Hasto terkejut. “Masuk.”
Ridho melangkah masuk. Tatapannya langsung tertuju ke arah ruang tamu, ke Dewi yang duduk dengan wajah berbinar.
"Mas Ridho!?"
Bu Sumi yang langsung berdiri, "Oh, nak Ridho. Ada apa? Masuk dulu."
Pandangan Ridho lalu bergeser… ke arah pintu kamar Ning yang tertutup.
“Ada apa malam-malam begini, Dho?” tanya Pak Hasto.
Ridho menelan ludah. "Ning ada, Pak?"
"Ning!? Ngapain kamu masih nyari-nyari Ning?" suara Bu Sumi langsung tinggi. "Sudah ibu bilang, dia itu mewarisi darah pelakor ibunya! Lihat! Sekarang malah mau merebut calon kakaknya! Terlalu memang!"
"Buk! Jangan begitu!" tegur Pak Hasto. "Dari pada marah-marah, lebih baik ibu buatkan minum untuk tamu kita."
"Aku?" Mata bu Sumi mendelik, bibirnya manyun. Lalu berteriak keras, "Ning! Keluar kamu! Buatkan minum buat tamu kita! Jangan mau enak nya aja kamu numpang di sini!"
Ning muncul dari kamar dengan bantuan Kruk di bawah ketiaknya.
"Iya, buk?"
"Buatkan minum! Jangan jadi benalu di sini!"
Ning menunduk, lalu berlalu ke dalam. Ridho ingin menahan, tapi hanya sampai di ujung lidah.
"Biar aku awasi, Buk. Takutnya dia kasih pelet biar Mas Ridho terjerat sama dia," ujar Dewi beranjak dan masuk ke dalam, menyusul.
Ridho hanya menggeleng.
"Dewi!" tegur Pak Hasto. "Ning tidak begitu."
"Terus saja bela anak perempuan sundal itu!"
Pak Hasto memejamkan mata, tangannya mengepal di bawah meja. ia memang sekuatnya menahan amarah. Ia membuka mata, lalu menanyakan maksud Ridho datang.
"Ada apa kamu kemari, Nak?"
“Saya mau bicara. Soal lamaran saya.”
Udara mendadak berat.
Bu Sumi langsung menoleh, tatapannya jadi lebih tajam.
Ridho menarik napas panjang. “Saya mau dengar langsung dari Ning, Pak. Apa dia mau menerima lamaran saya.”
Bu Sumi terkekeh sinis. “Dengar? Buat apa dengar lagi. Sudah jelas Ning itu cuma bikin masalah.”
“Ning bukan masalah, Bu,” Ridho menahan emosi. “Saya datang baik-baik.”
“Baik-baik?” Dewi muncul dengan membawa baki dan air minum. “Mas Ridho sadar enggak sih? Selama ini yang temenan sama Mas di kantor itu aku. Yang sering Mas temui di rumah juga aku. Tapi sekarang Mas malah datang buat dia?” tanyanya sambil meletakkan baki itu di atas meja.
Ridho menatap Dewi. “Perasaan itu enggak bisa dipaksa, Wi.”
“Jadi kamu nuduh aku maksa?” suara Dewi meninggi. “Atau… dia yang rayu kamu, Mas?!”
Ning keluar dengan langkah pincang pelan, membawa beberapa toples makanan, matanya menunduk.
Ridho langsung berdiri. “Ning…”
“Ning ngapain keluar?” Dewi menyentak. "Tadi kan udah kubilang jangan keluar! Kamu tempatnya di dapur!"
"Wi!" pak Hasto menegur lagi.
"Apa Yah? Mau bela Ning lagi!?" sambar Dewi yang sudah terlalu tersulut emosi. Ia menatap Ning penuh amarah. “Dengerin ya! Jangan sok lemah di depan Mas Ridho!”
Pak Hasto membentak, “Dewi, cukup!”
"Sikap kasar mu ini yang aku enggak suka, Wi!" ujar Ridho tajam. Ia melangkah mendekat ke Ning. “Ning, Mas mau dengar dari kamu. Apa kamu mau jadi istri Mas?”
Hening.
"Ning, lihat Mas... Mas pernah janji bakal bawa kamu pergi dari keluarga ini. Ning... Biarkan Mas tunaikan janji Mas Ning."
"Apa? Jadi emang kalian diam-diam ketemu di belakangku!?" sela Dewi. Dia makin kalap menatap menyalang pada adiknya. "Kamu! Ningsih! Dasar iblis!"
Tangan Dewi sudah terulur ke depan. Namun, Pak Hasto sudah menahannya dengan cepat.
"Dewi! Kendalikan dirimu!"
"Aaarrrhhhh!"
Ning menggenggam ujung gamisnya erat. Dadanya berdebar. Ia menyukai Ridho—diam-diam, dalam doa, dalam harapan yang tak pernah ia ucapkan. Tapi ia juga tahu, siapa dirinya. Pincang. Selalu jadi bayangan. Selalu yang harus mengalah.
Sebelum Ning sempat membuka mulut, Dewi menyela cepat, “Dia enggak mau.”
Semua menoleh.
Ning terkejut. “Mbak—”
“Dia mau nikah!” Dewi menatap Ridho tajam. “Ning sudah mau menikah sama orang lain.”
Ucapan itu seperti tamparan.
“Apa?” Ridho terpaku. “Ning?”
Ning menatap Dewi. Pandangan kakaknya itu tajam, mengancam, bibirnya terkatup rapat seperti memberi peringatan tanpa suara.
“Ning…” suara Ridho bergetar. “Saya mau dengar dari kamu.”
Ning menelan ludah. Kepalanya pening. Tangannya gemetar. Perlahan… ia mengangguk.
“Iya, Mas,” suaranya nyaris tak terdengar. “Ning… mau menikah.”
Ridho terhuyung satu langkah. “Sama siapa?”
Ning diam.
“Jawab!” Dewi mendesis.
Ning menunduk lebih dalam. “Sama… orang lain.”
Ridho tertawa kecil, pahit. “Mas tau kamu cuma… bohong, kan?”
“Enggak!” sambar Bu Sumi. Ridho menoleh padanya. "Dia memang mau menikah sama tukang ojek online. Dia sudah datang melamar sebelum kamu."
Ning menunduk, air matanya jatuh.
“Ning, katakan kalau ini bohong, Ning?” suara Ridho pecah.
Dewi maju satu langkah. “Dia emang mau nikah sama orang yang selevel sama dia. Tukang ojek, memang pantasnya sama cewek pincang ini!”
Pak Hasto membentak, “Cukup!”
Ridho menatap Ning lama. Ada harapan di matanya. "Katakan Ning," pintanya.
Ning mengangguk. "Iya, Mas," lirihnya.
keyakinan yang runtuh di mata Ridho. Ada kehancuran yang dalam di dadanya. Ia menggeleng, menolak. Lalu Ridho pergi. Pintu tertutup dengan bunyi pelan—tapi rasanya seperti dentuman besar di dada Ning.
Begitu pintu tertutup, Dewi meledak.
“Lihat tuh!” Dewi menuding Ning. “Ini semua gara-gara kamu, Ning! Ngapain kamu ada di rumah ini!?”
Bu Sumi ikut berdiri. “Dasar anak pembawa sial!”
“Ning enggak salah!” Pak Hasto membela.
“Salah!” Dewi berteriak. “Dia yang hancurin kebahagiaan Dewi! Ayah terus saja bela dia! Memang ayah enggak pernah sayang Dewi!”
“Dewi! Bagaimana bisa kamu punya pikiran seperti itu!?” Pak Hasto terkejut.
“Nikah!” Dewi menatap Ning penuh amarah. “Nikah sama si tukang ojek itu!!”
Ning terkejut. “Mbak…”
“Kamu enggak boleh ambil apa pun dari aku!” Dewi mendesis. “Mana nomor dia?! Yang dulu aku lempar ke kamu!”
Ning terdiam. Kepalanya tertunduk.
“Jawab!” Dewi mendorong bahu Ning.
Dewi makin geram, lalu berbalik cepat menuju kamar Ning. “Kalau gitu biar aku yang cari!”
“Dewi!” Pak Hasto mengejar, tapi Dewi sudah menutup membuka kamar Ning keras-keras.
Di dalam kamar, Dewi mengobrak-abrik. Laci dibuka, bantal dilempar, buku-buku jatuh. Hingga sebuah kertas kecil terlipat jatuh ke lantai.
Nomor telepon.
Dewi tersenyum dingin. “Ketemu.”
Ia langsung menelepon.
****
Di tempat lain, Bastian menatap layar laptop dengan kening berkerut.
“Yud,” katanya serius. “Gua dapet data rumah sakit.”
Yuda yang sedang berdiri di depan jendela menoleh. “Kenapa?”
“Dua tahun lalu, kecelakaan di lokasi itu… yang dirawat resmi cuma Dewi.”
“Terus?”
“Tapi saksi bilang… yang ketabrak itu gadis lain. Dan nama yang muncul di laporan internal—Ningsih.”
Yuda membeku.
“Dewi cuma luka ringan,” lanjut Bastian. “Yang luka parah… Ning.”
Telepon Yuda berdering.
Nomor asing.
Yuda mengangkat perlahan. “Halo?”