"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog: Di Antara Putusan Hati dan Takut yang Belum Mati
Jakarta, Desember 2021.
Lampu-lampu kota Jakarta dari lantai 20 sebuah restoran di Sudirman tampak seperti butiran berlian yang berserakan. Namun, bagi Afisa Anjani, keindahan itu justru terasa menyesakkan. Di depannya, sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua terbuka, menampilkan sebentuk cincin emas putih dengan mata berlian yang sederhana namun elegan.
Bintang tidak sedang berlutut. Ia duduk tepat di depan Afisa, menatap wanita itu dengan binar mata yang tidak pernah redup selama empat tahun terakhir.
"Fis," panggil Bintang lembut, suaranya mengalahkan denting piano di latar belakang. "Ini mungkin ajakanku yang ketiga. Atau keempat? Aku berhenti menghitung karena bagiku, jawabannya selalu layak ditunggu."
Afisa mengeratkan pegangannya pada tas kerja yang ia letakkan di pangkuan. Ia baru saja menyelesaikan sidang panjang hari ini, dan penampilannya sebagai associate hukum sangatlah sempurna—setelan blazer navy yang rapi dan riasan yang tegas. Namun, di dalam, ia merasa seperti mahasiswi yang dulu menangis di halte karena diabaikan.
"Bin, kamu dokter. Kariermu sedang cemerlang, duniamu penuh dengan orang-orang baru setiap hari," Afisa menjeda, tenggorokannya mendadak kering. "Apa kamu nggak akan bosan? Bagaimana kalau nanti setelah kita hidup bersama, kamu sadar kalau aku nggak semenarik yang kamu bayangkan? Bagaimana kalau... aku kembali dibuang?"
Bintang menghela napas, bukan karena lelah, tapi karena ia tahu luka itu masih meninggalkan parut yang dalam. Ia meraih tangan Afisa yang terasa dingin, mengabaikan getaran kecil yang muncul di sana.
"Luka dari masa lalumu itu bukan salahmu, Fis. Tapi membiarkan luka itu mendikte masa depan kita... itu baru kesalahan," Bintang mengusap ibu jari Afisa dengan lembut. "Aku sudah melihatmu di titik terendah. Aku sudah mengenal Afisa yang hancur, dan aku tetap di sini sampai Afisa yang sekarang berdiri tegak di firma hukum besar. Aku nggak butuh alasan untuk tidak bosan, karena mencintaimu adalah keputusanku, bukan sekadar perasaan yang datang dan pergi."
Afisa menatap cincin itu, lalu menatap Bintang. Ada kejujuran yang begitu murni di mata pria itu—sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Guntur. Namun, ketakutan akan "kebosanan" laki-laki tetap menjadi momok yang menghantui batinnya.
"Beri aku sedikit waktu lagi, Bin," bisik Afisa pelan.
Bintang tersenyum tipis, menutup kotak cincin itu tanpa setitik pun raut kecewa. Ia tahu, ia tidak sedang melamar seorang wanita biasa. Ia sedang melamar seorang penyintas yang sedang belajar percaya lagi.
"Waktuku selalu milikmu, Fis. Tapi ingat satu hal, aku nggak akan ke mana-mana. Bahkan jika kamu butuh sepuluh kali lamaran lagi untuk percaya."
Terima kasih Bin, maaf..." Kalimat itu menggantung, terasa hambar bahkan di telinga Afisa sendiri.
Bintang tidak menarik tangannya. Pria itu justru menggenggam jemari Afisa lebih erat, seolah ingin menyalurkan kehangatan ke dalam aliran darah Afisa yang mendingin karena ketakutan.
"Jangan minta maaf untuk perasaan yang belum siap, Fis. Pernikahan itu bukan tentang siapa yang lebih cepat sampai ke pelaminan, tapi tentang memastikan kita berdua melangkah tanpa ada kaki yang masih tertinggal di masa lalu," ucap Bintang tenang.
Ia memanggil pelayan, membayar tagihan tanpa mengubah ekspresi hangatnya sedikit pun. Saat mereka melangkah keluar dari restoran mewah itu, angin malam Jakarta menyambut dengan aroma hujan yang baru saja turun. Bintang melepas jas dokter yang tadinya hanya ia sampirkan, lalu memakaikannya ke bahu Afisa yang terbungkus blazer tipis.
"Dingin," gumam Bintang singkat.
Afisa menghirup aroma maskulin yang bercampur bau antiseptik khas rumah sakit dari jas itu. Aroma yang selama empat tahun ini menjadi penawarnya. "Bin, kenapa kamu begitu sabar? Aku sendiri saja terkadang lelah dengan keraguanku."
Bintang menghentikan langkahnya tepat di depan pintu lift. Ia menatap pantulan mereka di dinding lift yang mengkilap—seorang pengacara sukses dan seorang dokter residen. Secara visual, mereka adalah pasangan impian. Namun di mata Bintang, ia hanya melihat Afisa, gadis yang pernah ia temukan retak dan kini sedang berusaha menyatukan kembali kepingannya.
"Karena aku tahu, berlian yang paling indah itu dibentuk dari tekanan yang paling hebat. Kamu bukan ragu padaku, Fis. Kamu hanya belum selesai berdamai dengan dirimu sendiri. Dan aku akan menunggu sampai kamu sadar, bahwa di mataku, kamu tidak akan pernah jadi 'sampah' lagi."